Pendidikan Seksualitas, Tantangan Hari Ke-5


Assalammualaikum,

Hari ini merupakan hari ke-5 menuliskan jurnal tantangan 15 hari di zona ke-7 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6. Tema yang diusung dalam zona ini adalah "pendidikan seksualitas". Hari-hari kemarin, kelompok kami yang berasal dari regional Sukabumi dan Tasikmalaya sudah mendiskusikan topik mengenai "Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan serta Solusinya". Tanggal 6 kemarin, kami sudah mengumpulkan hasil diskusi kami kepada tim Bunda Sayang.

Hari-hari berikutnya, yang akan aku tuliskan di jurnal tantangan ini adalah resume dari presentasi yang ditampilkan untuk masing-masing topik diskusi oleh setiap kelompok. Kelompok 29 atau kelompokku dan teman-teman dari Sukabumi dan Tasikmalaya tidak mendapat jatah presentasi sehingga kami hanya akan menonton siaran live yang dibawakan oleh teman-teman kemudian menuliskan apa yang kami dapat dari pemaparan mereka.

Berbicara tentang pendidikan seksualitas, aku sebagai orang tua atau mungkin banyak orang tua lain yang menghadapi tantangan serupa. Hal ini dikarenakan sejak kecil, aku tidak dibesarkan di lingkungan di mana keluargaku mengajarkan secara gamblang mengenai pendidikan seksualitas. Aku tidak pernah mendapatkan penjelasan langsung oleh kedua orang tuaku tentang banyak hal terkait dengan seksualitas ini.

Ini menjadi tantangan tersendiri untukku agar dapat bersama-sama dengan suamiku mengajarkan pada anak kami kelak mengenai pendidikan seksualitas. Beruntungnya aku, pada waktu kecil di sekolahkan di lingkungan yang cukup baik sehingga mendapat circle pertemanan yang baik juga. Pendidikan seksualitas aku dapatkan hanya dari sekolah, sisanya dari teman-teman dan lingkungan yang semakin lama semakin dewasa.

Tantangan lain selain dari diri sendiri adalah sosial media yang semakin tidak ada saringan di mana semua hal bisa kita peroleh hanya dengan melakukan pencarian di internet. Bahkan sering kali sosial media, internet dan televisi memberikan contoh atau tampilan yang tidak sesuai atau berbeda dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah.

Tantangan yang juga cukup besar adalah lingkungan pertemanan. Mungkin anak-anak yang seusia anakku sebagian besar waktunya masih dihabiskan di rumah bersama kedua orang tuanya. Orang tua pun akan lebih mudah memantau dan mengawasi kegiatan yang anak-anak lakukan. Namun, bagi orang tua yang memiliki anak yang sudah lebih dewasa terutama usia sekolah menengah atau bahkan kuliah, akan susah melakukan pengawasan pada anak-anak seperti saat mereka masih kecil dulu.

Anak yang beranjak remaja dan dewasa akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, sudah memiliki kehidupan sendiri dan mulai tidak ingin bergantung pada kedua orang tuanya. Sementara, orang tua tidak tahu apakah semua teman anak-anak kita tentu tidak semua memiliki nilai yang sama dengan yang kita ajarkan.

Untuk mencegah anak-anak kita terjerumus ke dalam pergaulan yang membuatnya melenceng dari fitrah seksualitasnya, pendidikan seksualitas sejak dini adalah jawabannya. Salah satu cara mencegah anak-anak ke penyimpangan seksualitas adalah dengan mengajarkan pada mereka sedini mungkin mengenai pendidikan seksualitas. Tentunya, hal yang dapat kita sebagai orang tua ajarkan pada anak haruslah disesuaikan dengan umur mereka seperti yang aku tuliskan di "Pendidikan Seksualitas, Tantangan Hari Ke-4".

Aku sendiri baru sadar betapa pentingnya hal ini ketika memasuki zona ke-7. Mulanya aku merasa ini terlalu dini untuk diterapkan pada anakku yang usianya masih 2 tahun, akan tetapi jika melihat materi yang diberikan dan bagaimana kita mengajarkan anak mengenai pendidikan seksualitas sesuai dengan usianya, seketika aku jadi tercerahkan. Haha.

Tentunya, peran kedua orang tua sangat dibutuhkan dalam proses ini. Semoga kita semua bisa menanamkan keimanan yang kuat serta membangun fitrah seksualitas untuk anak-anak dengan baik agar di masa depan fitrah seksualitas anak-anak kita senantiasa terjaga. Aamiin.

Sukabumi, 7 Maret 2021

Posting Komentar

0 Komentar