Jumat, 09 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-9


Mengendalikan emosi saat mengajarkan dan melatih anak untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri itu adalah suatu keharusan. Kemampuan anak untuk melakukan suatu hal tentu berbeda dengan orang biasa, terutama untuk hal yang baru pertama-tama dicoba oleh anak.

Kesalahan demi kesalahan tentu akan mereka buat, waktu tunggu yang agak lama juga pasti akan menguji kesabaran orang tua. Dari yang aku pelajari di beberapa kelas parenting, kuncinya adalah menurunkan ekspektasi dan standar orang tua.

Sebagai orang tua, kita harus bisa mengubah sudut pandang kita dan mencoba melihat dari sudut pandang anak-anak. Saat anak memakai celana ke satu lubang yang sama secara sengaja, bukan berarti ia tidak bisa memakai celana dengan benar. Mungkin ia ingin bereksperimen dan menjadi tau bahwa ia tidak akan bisa berjalan dengan memakai celana seperti itu.

Saat anak mencoba memakai jaket atau sepatu sendiri, jangan memburu-buru anak. Berikan waktu padanya untuk berkonsentrasi mencoba memakainya secara mandiri. Tawarkan bantuan apabila melihatnya masih sangat kesulitan. Ciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tenang untuk anak.

Melatih anak untuk bisa mandiri memang butuh waktu yang tidak sebentar, sehingga kesabaran adalah salah satu kunci keberhasilan dari PR yang satu ini. 

*note to myself

Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-9


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah membereskan mainan yang telah selesai ia gunakan lalu meletakkan kembali di rak mainan.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini anakku menolak bekerja sama untuk membereskan mainannya. Saat aku kinta tolong padanya untuk mengembalikan mainan yang telah selesai ia pakai ke rak, ia berkata no no sambil melengos.

Ia pun kembali mengeluarkan mainannya yang lain, kemudian aku berkata mainan sebelumnya sebaiknya disimpan kembali ke rak baru mainan yang lain dikeluarkan. Tapi, ia tidak peduli dan malah semakin menghamburkan mainannya yang lain. Err..

Aku memberikannya contoh dengan membereskan mainannya yang sangat berserakkan di lantai, aku menawarkannya untuk ikut serta bekerja sama membereskan semua. Lagi-lagi ia kabur dan bermain di area rumah yang lain.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan agar rumah tidak berantakan sepanjang hari. Selain itu, agar saat ia ingin kembali bermain ia dapat dengan mudah menemukan mainannya karena sudah tersusun rapi di rak mainannya.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Membersamai dan mendampinginya selama proses membereskan mainannya serta memberikan contoh beres-beres mainan lalu mengembalikannya ke rak mainan.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Sukses membuatnya mengacak-acak seisi rumah karena tidak mau bekerja sama membereskan mainannya. Hahaha.

Tantanganku Hari Ini

Menahan emosi saat anak menolak berkali-kali untuk diajak membereskan mainannya dan malah mengacak-acak barang di area rumah yang lain.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa merapikan mainannya dan meletakkannya kembali ke rak setelah ia selesai bermain.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku lumayan kzl tapi yasudahlah, besok atau nanti sore bisa dicoba kembali. Anakku sih happy-happy aja selama ia puas bermain. Hehe.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-9
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar