Komunikasi Produktif, Tantangan Hari Ke-8

By Imawati A. Wardhani - September 10, 2020


Menjadi orang tua berarti harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Mempersiapkan fisik dan mental sebagai orang tua sering dianggap remeh sebelum menjadi orang tua sesungguhnya, namun kenyataannya energi fisik maupun pikiran banyak terkuras untuk menghadapi tingkah laku anak-anak setelah kita merasakan menjadi orang tua.

Salah satu PR terberat yang harus aku selesaikan adalah menjaga intonasi atau nada suara agar tidak ngegas saat berbicara dengan anak. Masalah terbesar adalah, aku dilahirkan bukan sebagai orang yang bertutur kata dengan nada pelan dan lemah lembut.

Ayahku besar di Medan, Sumatera Utara. Membawa pengaruh sangat banyak terhadap gaya bicaraku. Aku pun besar di Cilegon, Banten, di mana di tempat tersebut ngomong biasa aja seperti ngajak ribut. Haha. Kebiasaan berbicara seperti ini tentu terbawa hingga dewasa. Aku betul-betul takjub saat bertemu dengan wanita yang bisa berbicara halus, pelan dan lemah lembut.

Setelah menjadi seorang ibu, tentu aku tidak bisa terus menerus berbicara ceplas ceplos dengan volume yang agak tinggi. Alasannya jelas, aku tidak ingin anakku meniru-niru seperti itu. Namun, kadang kebiasaan itu muncul dan sering membuat anakku kaget karena aku berbicara dengan nada meninggi. Padahal, aku tidak bermaksud marah padanya.

Sebelum masuk ke tantangan komunikasi profuktif hari ke-8, aku ingin berbagi apa saja pentingnya menjaga intonasi saat berbicara pada anak :

1. Berbicara dengan nada tinggi tidak efektif
Salah satu poin dari komunikasi produktif dengan anak adalah menjaga intonasi saat berbicara agar tetap terdengar ramah. Hal ini disebabkan karena berbicara dengan cara berteriak atau membentak tidak menghasilkan suatu hal yang bermakna, sebaliknya malah merusak bonding antara orang tua dan anak.

Bentakkan dan amarah dari orang tua secara verbal akan membuat anak bisa kehilangan trust pada orang tua yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman di dunia baginya. Otak anak pun akan menjadi kebingungan memproses apakah orang tuaku baik atau buruk?

Berbicara dengan nada tinggi dan sering membentak anak untuk melakukan sesuatu juga tidak efektif sebagai cara mendisiplinkan jangka panjang.

2. Menjaga bonding dengan anak
Bertutur kata yang baik pada anak akan meningkatkan trust dan attachment anak pada orang tua. Anak akan merasa aman dan nyaman saat berbicara dengan orang tuanya.

Ini yang justru membuat anak hormat dan patuh pada orang tuanya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang lebih disiplin dan cenderung lebih dekat dengan orang tuanya.

3. Anak akan memperlakukan orang lain dengan baik
Anak akan selalu mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Bagi anak, orang tua adalah role model yang ia idolakan. Anak layaknya seorang fans yang mengikuti semua yang dikerjakan idolanya.

Cara kita memperlakukan anak akan berdampak pada bagaimana cara ia bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain di kemudian hari. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya memperlakukan orang lain dengan baik?

Hari ini, aku mencoba mendalami poin komunikasi produktif yaitu menjaga intonasi saat berbicara pada anak sebab kejadian berikut :

TANTANGAN 15 HARI ZONA #1 - Hari ke-8


Temuanku hari ini :

Sekitar pukul 10 pagi ini, entah kenapa aku sudah merasa ngantuk lagi. Haha. Biasanya, setelah sarapan, main dan mandi, anakku akan menyusu lalu tertidur sekitar waktu tersebut. Hari ini pun aku berharap ia akan langsung tidur seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi ternyata, anakku tidak tidur meski sudah habis menyusu. Aku yang sedang mengantuk pun tak kuasa menahan hingga akhirnya terlelap sementara ia masih terjaga.

Mulanya ia menggangguku, namun setelah aku berkata bahwa aku mengantuk ia dengan berbaik hati main sendiri di sebelah posisi aku tidur. Entah sudah terlelap berapa lama, aku mendengar suara benda yg terjatuh cukup keras dari ranjang. Anak gue! Sontak aku terkejut dan bangun dari tidur.

Secara refleks aku berkata, "DEEKK?!?!" dengan nada terkejut dan intonasi yang cukup tinggi. Anakku kaget dan langsung menangis cukup histeris. Lha! Aku dan anakku sama-sama kaget. Ternyata bukan ia yang jatuh, melainkan tas yang biasa kami pakai travelling dan ia sedang mencoba menaikkannya ke atas kasur.

Aku pun langsung memeluk dan menenangkannya karena ia berpikir aku marah padanya. Tak lama kemudian tangisnya reda dan aku memberi penjelasan padanya.

Tantangan yang kuhadapi hari ini :

Berusaha meyakinkan anakku kalau aku tidak bermaksud untuk marah padanya saat berbicara dengan nada seperti yang kujelaskan di atas. Sementara ia sudah kadung bersedih dan kecewa karena aku sedikit meneriakinya.

Rencanaku untuk esok hari :

Lebih berhati-hati lagi saat akan bereaksi dengan mengeluarkan kata-kata di depan anakku apabila hal serupa terulang kembali di hari esok.

Poin komunikasi produktif hari ini :

1. Menunjukkan Empati
Hal pertama yang aku lakukan adalah menerima perasaannya yang kaget dan takut saat mendengar aku berteriak. Aku pun membiarkannya menangis hingga perasaannya netral.

2. Menjaga intonasi saat bicara
Setelah ia tenang, aku menjelaskan dengan cara baik-baik bahwa aku tidak bermaksud untuk meneriaki ataupun marah padanya.

Aku memberi tau bahwa aku kaget karena mendengar ada yang terjatuh dan kupikir itu dirinya. Jika ia yang terjatuh, tentu aku akan merasa sedih karena ia sakit.

Berapa bintangku hari ini :

🌟🌟🌟


Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

10/09/20

#harike-8
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar