Rabu, 09 September 2020

Komunikasi Produktif, Tantangan Hari Ke-7


Hari ini, aku belajar tentang fase egosentris pada balita. Fase ini adalah suatu hal yang wajar dialami pada anak-anak usia sekitar 2-3 tahun. Di fase ini, anak menganggap barang-barang miliknya atau yang membuatnya tertarik merupakan perpanjangan dari dirinya sebagai individu. Sehingga ia enggan meminjamkan barang tersebut pada orang lain sekalipun bukan miliknya.

Berbagi, adalah suatu hal yang kompleks untuk anak di usia 2-3 tahun. Ia belum paham bahwa suatu barang boleh dipakai oleh orang lain sementara waktu atau dipinjamkan. Pinjam, apa itu pinjam?

Otak anak belum bisa menerima konsep kepemilikan semacam itu. Itu mobilanku, tapi dipakai oleh teman, tapi itu punyaku! Yhaa~ bingung kan dia.

Akan lebih membingungkan lagi ketika ada benda-benda yang menarik minatnya tapi tidak boleh dipakai atau dipinjamkan ke orang lain, contohnya sikat gigi. Padahal menurutnya semua yang menarik perhatiannya adalah miliknya.

Saat bermain bersama teman sebayanya hari ini, aku belajar bagaimana harus mengajarkan konsep berbagi pada dirinya. Melihatnya begitu frustasi ketika temannya tidak memperbolehkannya meminjam mainan miliknya membuatku berpikir untuk banyak-banyak membaca tentang fase egosentris ini.

Aku pun menuliskan kejadian hari ini untuk menyelesaikan tantangan komunikasi produktif hari ke-7.

TANTANGAN 15 HARI ZONA #1 - Hari ke-7


Temuanku hari ini :

Hari ini, aku dan anakku bermain dengan anak tetangga yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Saat anakku datang, temannya terlihat senang karena ada teman bermain. Masalah datang saat anakku ingin meminjam mainan milik anak tetangga tersebut.

Semua yang anakku ingin pinjam tidak diperbolehkan oleh anak tersebut. Aku lihat anakku masih bisa mengontrol emosinya dengan mengalah dan tidak jadi memakai mainan tersebut lalu beralih ke mainan lain.

Setiap anakku beralih ke mainan yang sedang nganggur, temannya pasti merebut apa yang sedang anakku pegang. Sampai aku yang kesal melihatnya, kemudian aku bertanya padanya mainan mana yang ingin ia pakai dan yang mana yang boleh dipinjam?

Anak tersebut memperbolehkan anakku main motor-motoran sementara ia dan ibunya pergi naik sepeda ke depan rumah.

Tak lama kemudian, anak tersebut berganti main pasir sambil memasukkannya ke dalam truk mainan menggunakan sekop. Anakku melihat hal tersebut lalu menghampiri temannya itu.

Anakku mencoba mengambil sekop yang ada di tangan anak tersebut, yang terjadi adalah anak tersebut bereaksi dengan memukulkan sekop tersebut ke kepala anakku hingga kepalanya penuh dengan tanah kotor. Kejadiannya begitu cepat sehingga baik aku maupun ibu anak tersebut tidak berhasil mencegahnya.

Ibu anak tersebut kemudian menasehati puteranya. Tak lama setelah kejadian tersebut anak tetangga tadi tantrum hingga akhirnya acara bermain bersama pun berakhir.

Sepulangnya kami ke rumah, aku memandikan anakku dan memberitahunya untuk berkata baik-baik lebih dulu jika ingin meminjam barang milik orang lain. Ia juga harus menerima kalau orang tersebut sedang tidak ingin meminjamkan barangnya.

Tantangan yang kuhadapi hari ini :

Menahan diri agar tidak membalas anak yang menyakiti anakku secara fisik. Berusaha memberi pemahaman pada anakku kalau temannya sedang pakai mainannya dan tidak ingin meminjamkan mainan tersebut pada anakku.

Rencanaku untuk esok hari :

Jika hal serupa kembali terjadi pada anakku, maka aku tidak akan segan menegur anak yang berusaha menyakiti anakku dalam bentuk apapun.

Aku juga akan tetap mengajarkan konsep berbagi dimana tidak semua yang kita inginkan harus terpenuhi. Jika anak lain tidak ingin meminjamkan mainannya maka anakku harus terima karena itu memang bukan miliknya. Begitupun jika anak lain ingin meminjam barang milik anakku namun ia tidak ingin meminjamkannya, anak lain harus terima.

Namun, memberi contoh kalau berbagi itu bukan suatu hal yang buruk juga harus dilakukan. Mainan lain yang sedang tidak ia pakai seharusnya boleh dipinjamkan pada temannya, kalaupun temannya tetap ingin main yang anakku sedang gunakan maka konsep antri harus diterapkan.

Poin komunikasi produktif hari ini :

1. Fokus ke depan
Dengan memberitau bahwa jika hari ini ia mencoba merebut barang milik orang lain, maka di kemudian hari ia harus berbicara baik-baik pada pemilik barang sebelum meminjam 

2. Memberi pilihan
Aku memberi pilihan pada anak tetangga saat semua mainannya di pegang anakku kembali direbuy olehnya. Aku bertanya apakah ia mau main sepeda atau main motor-motoran? Kalau mau main sepeda, maka aku minta ijin agar anakku dapat meminjam motorannya dan sebaliknya.

Cara ini lebih efektif ketimbang menyuruh-nyuruh anak tersebut untuk meminjamkan barang-barangnya pada anakku saat mereka bermain bersama di rumah anak tersebut.

3. Fokus pada solusi
Saat anak tetangga tidak mau meminjamkan sekop pada anakku, setelah pulang ke rumah aku mencoba menghibur anakku yang masih terlihat kecewa.

Aku berkata padanya kalau lain kali, kita bisa membawa sekop dari rumah agar dia dan temannya tidak rebutan untuk memakai barang tersebut.

4. Menunjukkan Empati
Aku berusaha menerima perasaan anakku yang sedih dan kecewa terhadap perlakuan yang diberikan oleh anak tetangga. Salah satunya saat ia memukul kepala anakku dengan sekop.

Kejadian tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa tindakan memukul dan berbuat kasar terhadap orang lain itu tidak baik.

Berapa bintangku hari ini :

🌟🌟🌟🌟


Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

09/09/20

#harike-7
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar