Bulan Maret lalu tepatnya tanggal 21 Maret 2020 akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi keluargaku. Menjadi hari terduka sepanjang 29 tahun hidupku karena kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup, Bapak.

Baca juga : Dear Bapak,

Bulan Juli tahun 2019 yang lalu, dua minggu sebelum Bapak dan Mama berangkat menunaikan ibadah haji, kami sekeluarga mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Bapak di vonis menderita hepatoma dan dokter memperkirakan umur beliau tinggal 3-6 bulan lagi.

Aku yang baru mengetahui beritanya saat tiba di Jogja beberapa hari sebelum keberangkatan mereka berdua, kaget setengah mati. Bila diibaratkan, rasanya seperti tersambar petir mendengar berita itu dari adikku. Dia bercerita sambil berurai air mata, sebagai anak tertua aku mencoba menenangkan dan menguatkannya. Namun, saat masuk ke kamar aku merasa seluruh tubuhku lemas dan langsung menangis dalam diam.

Mengenal Hepatoma
Hepatoma adalah nama lain untuk penyakit kanker hati (hepar), memiliki istilah lain yaitu karsinoma hepatoseluler (HCC) . Menurut WHO pada bulan April 2003, kanker hati masuk ke dalam top 5 kanker di dunia yang paling banyak menyerang manusia bersama dengan kanker paru, kanker payudara, kanker usus besar (colorectal) dan kanker lambung. Kanker hati sendiri menjadi top 3 penyebab kematian pada manusia setelah kanker paru dan kanker colorectal.

Karsinoma hepatoseluler ini disebabkan oleh tumor ganas yang berasal dari sel-sel di dalam hepar itu sendiri, maka kanker ini digolongkan ke dalam kanker hati primer. Sedangkan kanker hati yang disebabkan oleh penyebaran sel-sel kanker dari organ lain disebut sebagai kanker hati metastatik.

Apa Fungsi Hati
Hati atau hepar merupakan salah satu organ metabolisme yang memegang peranan vital bagi tubuh kita. Fungsi organ tersebut antara lain :
- Mendetoksifikasi racun dan alkohol untuk di ekskresikan
- Memproduksi dan menyimpan glukosa sebagai cadangan energi apabila di perlukan
- Memproduksi empedu untuk mencerna lemak dalam makanan
- Pembentukan protein, zat pembekuan darah, antibodi dan kolesterol.

Apabila sel-sel di dalam hepar mulai bermutasi dan membelah diri secara tidak terkendali maka dapat dikatakan kanker hati sudah mulai terbentuk.

Penyebab Kanker Hati
Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terbentuknya kanker hati antara lain :
- Hepatitis kronis (terutama hapatitis B dan C)
- Sirosis hati
- Konsumsi alkohol secara berlebihan
- Senyawa aflatoksin
- Penyakit hati berlemak non-pecandu alkohol dan Hepatosteatosis non-pecandu alkohol. Contoh penyakitnya seperti obesitas dan diabetes melitus.

Ayahku sendiri diketahui mengidap diabetes melitus tipe 2 sudah sejak lama (bertahun-tahun lamanya) dan rutin menggunakan insulin suntik. Selain itu, ternyata ayahku juga diketahui memiliki penyakit hepatitis C kronis dan tidak terdeteksi. Dokter menyimpulkan kanker yang dideritanya kemungkinan besar akibat dari mutasi sel-sel dari penyakit hepatitisnya yang tidak terobati tersebut.

Gejala Kanker Hati
Banyak pasien yang tidak menyadari atau merasakan gejala dari penyakit ini pada stadium awa hingga akhirnya berkembang ke stadium yang lebih lanjut. Secara umum, gejala yang dirasakan oleh penderita kanker hati antara lain :
- Lemas dan lesu
- Terasa mual
- Sering mengantuk
- Nafsu makan berkurang
- Terjadi penurunan berat badan
- Nyeri di sisi kanan perut bagian atas
- Nyeri pada bahu sebelah kanan akibat hati yang membengkak dan merangsang saraf diafragma dimana saraf ini terhubung ke saraf yang terletak pada bahu sebelah kanan.
- Terdapat benjolan pada perut bagian atas
- Kulit berwarna kuning yang disebabkan oleh naiknya bilirubin
- Kulit terasa gatal
- Urine berwarna seperti teh dan tinja berwarna abu-abu terang
- Terjadi pengumpulan cairan dalam perut (asites)

Sebelum ayahku dan kami mengetahui penyakitnya ini, jika kelelahan ayahku kerap merasa lemas dan sering mengalami mual muntah. Ini sudah mulai terjadi sejak aku kuliah atau sekitar tahun 2011-2012 yang lalu.

Beberapa kali di bawa ke IGD karena kondisinya yang mengkhawatirkan bahkan sempat di rawat beberapa hari di rumah sakit, tidak ada satu diagnosa pun yang mengarah ke penyakit hepatitis mau pun kanker. Sepulangnya dari rumah sakit, ayahku hanya dibekali dengan obat-obat lambung dan antimual. Begitu terus hingga bertahun-tahun. Tidak ada usulan untuk melakukan USG, MRI atau pun CT-Scan. Sehingga kami sekeluarga tidak mengira penyakitnya akan separah ini. Jujur pedih sekali jika mengingatnya.

Setelah di diagnosa menderita hepatoma, semua gejala yang ku tuliskan di atas dialami oleh ayahku hingga akhir hayatnya. Bahkan ayahku sempat menjalani kemoperfusi untuk menyedot bilirubinnya yang terlampau tinggi beberapa hari sebelum kepergian beliau.

Stadium
Ayahku diketahui mengidap kanker hati setelah hasil CT-Scan menunjukkan adanya anomali sel yang berukuran lebih dari 5 cm di heparnya. Beliau kemudian di vonis memiliki hepatoma stadium 3A.

Pada kasus kanker hati, terdapat beberapa stadium yang menggambarkan bagaimana penyakit tersebut berkembang dari waktu ke waktu, apa saja gejala yang dialami dan kemungkinan komplikasi apa saja yang dapat terjadi. Stadium perkembangan pada kanker hati yaitu :
Stadium 1
Dimana sel kanker berukuran kurang dari 2 cm. Pada stadium ini, pasien masih bisa beraktivitas secara normal.
Stadium 2
Sel kanker mulai mempengaruhi pembuluh darah di hati atau terdapat lebih dari satu tumor di hati.
Stadium 3A
Sel kanker berukuran lebih dari 5 cm dan telah menyebar ke pembuluh darah dekat hati.
Stadium 3B
Sel kanker mulai menyebar ke organ terdekat seperti lambung namun belum mencapai limfonodus.
Stadium 3C
Sel kanker terus membesar hingga ke berbagai ukuran dan menyebar hingga ke limfonodus.
Stadium 4
Sel kanker sudah menyebar hingga ke organ-organ yang jauh seperti paru-paru, pada stadium ini pasien sudah tidak dapat lagi beraktivitas.

Ketika ayahku tutup usia, kankernya sudah mencapai stadium 3C. Tidak sampai menyebar ke organ-organ lain seperti paru-paru atau ginjal namun cukup kuat untuk menurunkan fungsi organ-organ vitalnya yang lain.

Diagnosa Kanker Hati
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kanker pada organ hati antara lain adalah dengan :
- Tes Darah untuk Alfa-Fetoprotein
- USG Abdomen
- Pemindaian dengan X-Ray
- Angiogram
- MRI (Magnetic Resonance Imaging)
- Biopsi

Ayahku sendiri diketahui memiliki kanker hati setelah menjalani serangkaian pemeriksaan seperti USG, MRI dan Biopsi.

USG dilakukan untuk memindai struktur hati, mengkonfirmasi ukuran dan lokasi dari keberadaan tumor.

MRI menggunakan resonansi magnetik sebagai pengganti sinar X untuk membuat konstruksi citra penampang tubuh, digunakan untuk mengamati lokasi kanker hati.

Sedangkan biopsi dilakukan dengan menggunakan jarum berukuran kecil untuk mengambil sampel tumor hati melalui kulit di perut bagian kanan, pasien berada dalam pengaruh anastesi lokal saat tindakan dilakukan.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter spesialis akan mempertimbangan terapi yang cocok untuk pasien berdasarkan stadium penyakitnya.

Pengobatan Kanker Hati
Beberapa pilihan terapi untuk penyakit kanker hati adalah sebagai berikut, tergantung dari keparahan penyakitnya :
1. Pengangkatan dengan pembedahan
2. Kemoembolisasi Trans-Arteri (TACE)
3. Injeksi alkohol
4. Ablasi frekuensi radio
5. Transplantasi hati
6. Irradiasi Internal Selektif (SIRT)
7. Radioterapi Tubuh Ablatif Stereotaktik (SABR)
8. Terapi sistemik dan terapi tertarget

Dari kedelapan pilihan terapi di atas, untuk kasus seperti ayahku yang lalu dokter mengambil tindakan nomor 2 yaitu kemoembolisasi Trans-Arteri (TACE). TACE dilakukan dengan menyuntikan obat ke dalam pembuluh darah tertentu yang menyediakan asupan nutrisi kepada sel kanker (tumor) melalui aorta. Tindakan ini dilakukan untuk memblokir pembuluh darah tersebut sehingga sel kanker tidak lagi mendapat "makanan" tanpa mempengaruhi jaringan hati yang normal.

Tindakan ini dianggap tepat untuk pasien yang tumornya hanya terletak pada satu sisi hati dan belum menyebar ke organ lain. Bisa juga untuk pasien dengan tumor yang sudah menyebar ke dua sisi hati (kanan dan kiri) namun belum menyebar ke organ tubuh lain. Tindakan ini juga dapat diambil ketika ukuran tumor sudah tidak memungkinkan untuk dipotong dengan operasi bedah atau radioterapi tubuh ablatif stereotaktik (SABR).

Opsi lain yang diberikan dokter ketika itu adalah melakukan transplantasi hati. Namun, di Indonesia sendiri tindakan transplantasi ini masih sangat jarang dilakukan (di Jogja sendiri belum pernah) dengan tingkat keberhasilan yang tidak bisa dipastikan serta biaya yang sangat tinggi, bisa mencapai 2 milyar. Kalau pun memungkinkan untuk transplantasi, pilihan negara yang sudah berpengalaman melakukan tindakan transplantasi hati ini adalah antara Singapura dan China. Sangat riskan untuk dilakukan di tengah mewabahnya virus Corona saat ini.

Pencegahan Kanker Hati
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit yang mematikan sekitar satu juta manusia setiap tahunnya ini salah satunya adalah dengan mengurangi faktor resikonya.

Mendapatkan vaksin hepatitis bisa menjadi salah satu upaya pencegahan kanker hati, selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol, selalu mengonsumsi makanan sehat terutama yang mengandung banyak antioksidan, berolahraga secara rutin, pastikan bahwa tubuh mendapat porsi cukup untuk beristirahat dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap.

Apa yang terjadi pada ayahku adalah suatu pukulan yang sangat berat, kenyataan pahit yang harus kami sekeluarga telan, takdir Allah yang tidak bisa kami hindari. Padahal ayahku adalah seorang yang rajin berolahraga dan selalu mengutamakan makanan sehat, bahkan beberapa waktu sebelum berangkat haji dengan kondisi kesehatannya yang sudah kian menurun beliau masih rutin jalan dan jogging di pagi hari.

Sayangnya, gaya hidup sehat yang beliau terapkan tidak sebanding dengan kadar istirahat yang didapatkan oleh tubuhnya. Sebagai seorang workaholic, ayahku kerap terus bekerja tanpa kenal lelah dan hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Beliau terus bekerja keras dan tidak menghiraukan rasa sakit yang dideritanya (memang diagnosa awal "hanya" sakit maag). Dalam kondisi sakitnya pun, ia sempat mengutarakan niatnya untuk kembali bekerja.

Saat ini, penyesalan tidak akan mengembalikan hidup ayahku. Hanya do'a yang bisa kami panjatkan agar beliau mendapat tempat istirahat terbaik di sisi Allah SWT. Berharap agar sakitnya Bapak selama 8 bulan terakhir bisa menjadi penggugur dosa-dosanya semasa hidup. Kami pun hanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi.

Semoga kalian semua juga selalu ingat untuk menjaga kesehatan. Aku harap apa yang ku tulis ini bermanfaat bagi kalian yang membacanya.