Those 3 Magic Words


Tolong, Maaf dan Terima Kasih..

Kata-kata tersebut sering kali disebut sebagai 3 kata ajaib. Sebagai orang tua, aku pun ingin membiasakan anakku tumbuh dengan terbiasa menggunakan kata-kata tersebut.

Suatu ketika, aku pernah mendengar seorang anak menyuruh ayahnya untuk mengambilkannya minum ditengah-tengah makan. Iya, menyuruh bukan minta tolong. "Pah, ambilin minum!" kata anak tersebut dengan nada tinggi, "Sebentar papah mau..." belum selesai kalimat sang ayah anaknya sudah kembali berteriak, "SEKARANG!" dan yang dilakukan oleh ayahnya adalah segera meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukannya untuk memenuhi suruhan anaknya. Aku tertegun melihatnya.

Pernah juga aku bertemu dengan anak yang dibelikan makanan oleh saudaranya, saat ia mengambil makanan yang bukan miliknya, saudaranya berkata, "Punyamu yang ini ya soalnya yang ini pedas," dengan cepat anak tersebut mengambil makanan yang diperuntukan baginya seraya berkata, "Awas ya kalo yang ini pedas juga!". Aku beristighfar menyaksikan kejadian tersebut, kenapa sih bukannya bilang terima kasih.

Dilain waktu, aku juga melihat kejadian dimana sepasang kakak beradik yang sedang ribut bertengkar hingga menangis menjerit-jerit. Setelah dicari tau lebih lanjut, ternyata si adik sudah merusak mainan milik kakaknya. Saat orang tuanya menengahi, si adik justru menangis lebih kencang daripada kakaknya dan menyalahkan kakaknya yang sudah marah padanya. Aku yang ketika itu belum memiliki anak membatin, yaelah udah salah bukannya minta maaf malah nyalahin balik, dan yang lebih mengherankan lagi adalah ketika orang tuanya justru membenarkan si adik dan ikut menyudutkan kakaknya agar si adik berhenti tantrum.

Kejadian-kejadian diatas membekas sekali dalam ingatanku sehingga aku bertekad ketika aku memiliki anak nanti, aku ingin menanamkan rasa empati sejak sedini mungkin pada dirinya melalui 3 kata tersebut, tolong-maaf-terima kasih.

Mengajari anak untuk mengenal dan menggunakan kata tolong-maaf-terima kasih tentunya bukan hal yang mudah. Mudah secara teori namun prakteknya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Aku dan suamiku berusaha menjadi contoh agar anak kami kelak terbiasa mengutarakan tiga kata tersebut. Ya! Dimulai dari diri sendiri, terkadang keceplosan minta bantuan suami tanpa kata 'tolong' dan suami langsung mengoreksi kalimatku, begitu pula sebaliknya. Saat berinteraksi dengan anak pun demikian, ketika ia memberiku segenggam rumput liar yang diambilnya dihalaman saat berjalan-jalan aku berkata, "Terima kasih, Nak, sudah ngasih rumput ini buat Mamah," kemudian ia akan tersenyum dan aku kembali berkata, "Dede jawabnya, 'sama-sama Mamah', gitu yaa.." ya memang saat ini aku masih monolog karena anakku belum bisa berbicara lancar, tapi aku yakin ia akan menyerap apa-apa yang kita katakan dan lakukan sehingga bisa mencontohnya dikemudian hari.

Aku juga mengenalkan kata tolong-maaf-terima kasih melalui buku cerita. Aku membelikannya 3 buku berjudul "Sorry", "Please", dan "Thank You" yang isinya cerita mengenai kapan harus menggunakan kata tersebut. Lewat buku cerita, aku bisa dengan mudah membiasakan anakku familiar dengan kata-kata tersebut karena membacakannya setiap hari dan anakku bisa melihat contohnya melalui gambar yang menarik. Ya memang sih, saat ini belum terlihat efeknya tapi lagi-lagi aku percaya anakku menyerap apa yang diajarkan oleh orang tuanya sehingga kelak ia bisa menerapkannya.

Sepenting itu bagiku hingga membrainwash anakku untuk terbiasa mengatakan 3 kata ajaib tersebut. Kata-kata tersebut mengandung makna yang sangat dalam, dengan membubuhkan kata tolong pada setiap permintaan, aku rasa orang tidak akan  merasa direndahkan malah justru merasa dihargai. Begitu pula dengan mengucapkan terima kasih, sekecil apa pun bantuan dan pemberian orang lain tidak ada salahnya kita menghargainya dengan berkata terima kasih. Tentunya orang yang memberi atau membantu merasa diri mereka berharga dan senang dengan perbuatan baiknya tersebut.

Mengucapkan maaf sering diidentikan dengan kekalahan, salah ya! Mengucapkan maaf justru menunjukkan sifat keberanian kita, berani mengakui kesalahan dan berani untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain, memulai kembali perdamaian. Terbayang kan kalau ada dua pihak yang berseteru dan tidak ada yang mau meminta maaf duluan, silaturahmi terputus dan perang dingin berkelanjutan.

Teori mengenai dahsyatnya those 3 magic words sudah dipelajari, sekarang saatnya untuk terus selalu berusaha menggunakan kata-kata tersebut dalam berinteraksi dikehidupan sehari-hari dan membiasakan anakku mengucapkannya. Memang prosesnya tidak instan, butuh kesabaran dan ketelatenan dalam mengajarkannya. Aku yang sedari kecil sudah dibiasakan mengucap kata tersebut saja sering kali lupa! Semoga Allah selalu memberikan bimbinganNya agar aku senantiasa bisa sadar dalam mendidik titipanNya menjadi anak yang berkarakter positif dan berakhlak mulia.

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa lagi!

Sukabumi, 6 Januari 2020

Posting Komentar

0 Komentar