Jumat, 17 Januari 2020

Down to Earth


Satu pelajaran hidup paling berharga yang diajarkan bapak-ibu (terutama bapak) sedari kecil, hidup jangan selalu melihat keatas sesekali tengok kebawah agar kita senantiasa bersyukur. Nyess banget karena maknanya begitu dalam.

Kenapa ya tiba-tiba kepikiran membahas ini? Mulanya karena celetukan seseorang yang sempat bikin hati panas, "Ih bapaknya kaya tapi anaknya nggak punya rumah, nggak kerja pula! Mau sampai kapan nggak punya pembantu dan ngerjain kerjaan rumah? Kamu kan sudah kuliah tinggi-tinggi, dikira sekolah murah?" WTF dengan semua perkataannya. Yang menurut dia banyak duit itu kan bapak gue, Maimunah! Aku sendiri tidak pernah merasa kaya dan punya banyak duit. Aku pun merasa baik dengan kehidupan yang ku jalani saat ini, tidak merasa tidak baik-baik saja.

Ya, awalnya karena kepikiran (lagi) sama kata-kata itu. Setelah flashback hingga ke masa kecil, aku bersyukur sekali memiliki orang tua yang walau pun berkecukupan namun tidak pernah sekali pun mengajarkan bahwa anak-anaknya ikut kaya karena orang tuanya berkecukupan. Tidak bermaksud sombong, ayahku memang berasal dari keluarga menengah keatas dan dirinya sendiri pun tergolong orang yang berpenghasilan lebih dari cukup (masih jauh dari golongan sultan atau royal family, sih). Ini lah yang menimbulkan label 'anak orang kaya' dari orang lain untukku dan adik-adikku.

Padahal, kami berempat selalu diajarkan untuk berusaha mendapatkan apa yang kami inginkan dengan bekerja keras. Prinsipnya hasil berbanding lurus dengan usaha dan do'a. Tidak ada orangtua yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, ketika kami kecil dan belum mampu untuk bekerja dan berpenghasilan seperti orangtuaku, merekalah yang mensupport kebutuhan kami sesuai dengan kemampuannya. Saat kami tumbuh dewasa menjadi individu yang sudah bisa berusaha dan bekerja, ya kami hidup sesuai dengan kemampuan kami sendiri. Waktu kecil, ketika ingin meminta uang jajan tambahan orangtuaku memberi opsi, mencuci mobil atau membersihkan akuarium. Jika pekerjaan sudah selesai maka kami diberikan uang jajan tambahan. Bukan untuk membentuk mental upah, tapi mengajarkan suatu proses bahwa untuk mendapatkan penghasilan itu tidak instan, harus ada usaha yang dilakukan.

Meski pun keluarga kami memiliki mobil pribadi, saat berangkat dan pulang sekolah aku selalu naik becak. Dari SD hingga SMP, lalu upgrade jadi naik ojek hingga SMA karena tukang becak langgananku beralih jadi tukang ojek. Bapak juga mengajarkan aku dan adik-adik untuk naik berbagai moda transportasi umum, kami sekeluarga pernah mudik menggunakan bus malam, kapal laut, kereta api, hingga pesawat. Biar kalian pengalaman dan nggak norak saat pergi naik transportasi ini suatu hari nanti. Begitu pesannya. Benar sih, saat aku kuliah dan bekerja, karena pernah/terbiasa naik berbagai kendaraan umum, aku merasa lebih percaya diri dan tidak takut-takut.

Tempat tinggalku pun tergolong yang lebih dari cukup, tidak sempit, setiap ruangan memiliki pendingin udara, pernah memiliki ART lebih dari 1, supir selalu stand by, serba ada deh. Pada saat aku kuliah dan harus tinggal dikos, aku memilih untuk tinggal dikos yang biasa-biasa saja. Sebulan hanya Rp.350.000,- dengan kamar mandi luar dan tidak punya kendaraan pribadi (apalagi supir). Bukan karena orangtuaku tidak mampu membayar kos eksklusif tapi karena mereka selalu mengajarkan kesederhanaan padaku sejak kecil. Aku juga ingin membuktikan pada diri sendiri dan orangtuaku bahwa aku mampu loh hidup sederhana begini, tidak keberatan loh kalau harus seperti ini. Yang disayangkan adalah ketika ibuku bercerita dengan nada kecewa banyak teman kantor bapak yang membicarakannya saat salah satu temannya berkunjung ke kosanku. Katanya, "Masa anaknya Bapak ini tinggal dikosan yang nggak ada ACnya, kamarnya kecil banget!". Haha, ketawain aja deh. Hidup gue ini napa lo ribet dah! Sampai akhir pun aku tetap stay dikosan itu yang mana aku justru mendapatkan beberapa sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa perkuliahan.

Sekarang saat aku sudah berkeluarga dan hidup mandiri dengan suami, aku mencoba mempertahankan kesederhanaan itu. Tidak menuntut harus tinggal dirumah mewah, punya mobil bagus, baju dan tas branded, make up dan skincare PO dari luar negeri dengan harga fantastis. Tinggal bersama anak dan suami yang berkecukupan saja sudah lebih dari cukup, hanya kita harus berikhtiar untuk hidup lebih baik lagi kedepannya. Kuncinya adalah selalu bersyukur dan tidak melulu melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih WAW!

Aku akan berusaha untuk selalu mengingat dan menerapkan apa yang orangtuaku ajarkan mengenai kesederhanaan hidup, tidak berlebih-lebihan dan bersyukur atas nikmatNya. Tentunya dengan tidak memperdulikan perkataan orang-orang toxic yang ingin merendahkanku. Aku juga akan berusaha menanamkan pelajaran berharga ini pada anak-anakku kelak. Thank you Dad and Mom for thaught me this precious value of life.

Sukabumi, 17 January 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar