Kamis, 19 September 2019

The Chosen One

It's almost a year since the last day I wrote in my blog. Ternyata memiliki peran baru menjadi ibu tidak seleyeh-leyeh itu, mengurus anak tanpa bantuan pengasuh ditambah mengurus rumah dengan bibik yang kerjanya seminggu hanya 3 hari membuatku susaahh punya me time. Makan harus secepat kilat, mandi gabisa lama-lama, tidur pun on-off.

Flashback ke tanggal 29 Oktober 2018, saat pertama aku merasakan yang namanya kontraksi asli (sebelumnya beberapa kali kontraksi palsu). Akhirnya mau launching juga ini bayi, setelah meleset dari HPL sekitar 3 hari dan dokter sudah memberi peringatan akan melakukan induksi apabila tanggal 30 Oktober 2018 si bayi belum juga lahir. Kontraksi teratur mulai terasa dipagi hari dengan interval setiap 8 menit sekali, masih bisa jalan-jalan pagi dan beraktifitas seperti biasa. Siang hari rasa sakitnya semakin jelas tapi masih tertahankan. Nggak mau buru-buru ke RS karena menurut pengalaman teman-teman senior, "tunggu sampai gak bisa jalan baru cuss ke RS," begitu mereka bilang. Lepas magrib, "I think I should go to the hospital," aku sudah gak kuat karena kontraksi semakin rapat dan jalan pun susah payah.

Sampai di RS, dilakukan cek dalam dan hasilnya pembukaan 2. Karena diprediksi akan melahirkan subuh, akhirnya diputuskan agar aku menginap di RS. Setelah semalaman menahan kontraksi yang semakin rutin dan menguras tenaga, hingga subuh tiba belum launching juga tuh si bayi dan pembukaan hanya bertambah 1 cm. Oh my God! Semelelahkan ini ya melahirkan, kontraksi semakin hebat dengan interval waktu yang semakin pendek tapi bukaan gak nambah banyak?! Ku akui disitu aku mulai merasa stress, makan dan minum pun gak ada yang bisa masuk, semua keluar lagi. Badan makin lemas, bolak balik ke wc dengan kondisi berdarah-darah dan jalan yang terseok-seok. Keluargaku tanpa henti memberi semangat sembari mengingatkan tentang latihan yoga yang selama hamil ku jalani. Tapi semua teori yang ku dapat seperti menguap bersama rasa sakit saat itu, dari yang tadinya masih santai mengatur nafas hingga wes embuh sing penting aku menghirup oksigen :')

Pukul 16.00 WIB, dilakukan pemeriksaan lagi dan hasilnya masih stuck di pembukaan 3. Posisi aku sudah dibawa ke ruang bersalin sejak siang karena kontraksi yang semakin rapat sekitar 2-3 menit sekali. Rasanya tulang punggung dan pinggang mau rontok semua. Masih dalam kondisi gak bisa masuk makanan dan minuman sama sekali, aku mencoba bertahan lagi karena dukungan dari Bu Dokter dan keluargaku. "Nanti dicek lagi habis magrib gimana progressnya," kata dokter saat itu. Baiklaah, harus sabar dan banyak berdoa lagi.

Sekitar pukul 19.00, kembali dilakukan pemeriksaan dan hasilnya pembukaan naik menjadi 5. Alhamdulillah, ada kemajuan lah biar pun kondisiku saat itu sudah semakin tidak terkondisikan. Masih muntah-muntah, badan semakin lemas, ngantuk, capek, kesakitan. Semua jadi satu. Sampai aku tidak kuat lagi untuk tidak menangis. Ibu dan suamiku nggak berhenti memberi semangat, setiap kontraksi datang aku berteriak memanggil ibu atau suami agar memberi tangannya untuk ku remas. Makin nggak tahan, cuy! sama sakitnya. Jam 21.00, kembali dilakukan pemeriksaan dan ternyata pembukaan masih 5. Sempat aku mendengar perawat mengatakan, "Harusnya kalo kondisi kayak gini udah bukaan banyak ya?" Memang saat itu aku sering merasakan rasa ingin mengejan, yang katanya baru terasa dibukaan 7 ke atas.

Akhirnya perawat menghubungi dokter dan memberikan opsi, tunggu sampai besok pagi kalo belum lahir diinduksi atau mau di caesar sekarang?  Suami dan keluarga menyerahkan keputusan padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung memilih opsi kedua. Aku merasa 24 jam lebih menahan kontraksi dengan kelaparan, ngantuk dan lelah sudah membuatku sampai pada batas kemampuanku. I don't want to wait any longer, please! Gimana caranya biar ini cepet kelar, nggak mau sakit-sakit kayak gini lagi! Nggak kebayang kalo harus disuruh nunggu sampe besok paginya.

Tidak lama kemudian, aku dibawa ke Operating Theatre sekitar pukul 22.30. Kalo ditanya gimana perasaannya masuk ruang operasi? Serius waktu itu biasa aja, yang ada sedikit lega karena kesakitan ini akan segera end! Setelah berganti baju operasi dan disuntikan obat bius, perlahan aku merasa bagian tubuh bagian bawah seperti mati rasa. Kontraksi yang tadinya datang tiap 1-2 menit sekali itu lenyap bersamaan dengan kaki yang tidak bisa ku gerakan. Setelah kami (aku, dokter dan perawat yang bertugas) berdoa bersama, tindakan operasi dimulai. Ternyata perjuangan tidak berhenti sampai disitu, guys! Tiba-tiba badanku mengigil kedinginan, aku langsung minta perawat yang berada disampingku untuk menyelimutiku. Beliau kemudian menyelimuti bagian atas tubuhku, tapi kok tetep sih dingin banget?! Aku kembali memanggil perawat untuk menyelimutiku lagi dan perawat menjelaskan penyebab aku kedinginan adalah karena suhu ruang operasi yang memang diatur sedemikian dingin serta efek dari obat bius yang tadi disuntikan. Okaay, mau nggak mau aku harus menerima keadaan seperti itu, dioperasi dalam kondisi mengigil.

Saat pisau bedah mulai menyayat perut bagian bawahku, aku merasakan sensasi mual yang amat sangat hingga akhir'y muntah. Ya Tuhan, kenapa lagi ini?! Wanna cry banget deh, nggak ada suami atau keluarga yang mendampingi lalu harus mengalami kejadian-kejadian nggak enak itu selama proses persalinan caesar. Perawat disebelahku segera membersihkannya dan menjelaskan, "Kan ibu nggak puasa dulu tadi, jadi yang dimakan/minum ada kemungkinan keluar lagi,". Tapi dari kemaren kan gue kagak bisa makan/minum apa-apa, batinku. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah.

"Oalah, bayinya ada lilitan 2. Pantesan bukaane luama," aku mendengar dokter berkata demikian. Tidak lama kemudian, aku mendengar suara tangisan si bayi yang kehadirannya sudah ditunggu-tunggu, waktu kelahirannya adalah pukul 22.55 WIB. Alhamdulillah. "Selamat ya, Bu. Bayinya laki-laki," kata dokternya, sesuai dengan prediksi USG selama kehamilan. Dokter kemudian memperlihatkan bayiku, aku sangat senang dan lega melihatnya.


Welcome to the World Jagoan Kecil

Ternyata, operasi belum selesai sampai disitu, "Bu, ini ada mioma sekalian saya angkat ya," aku mengiyakan agar semua proses segera selesai dan AKU BISA TIDUR. Itu yang aku pikirkan saat itu. Setelah serangkaian proses operasi selesai dilakukan, aku dibawa keluar ruang operasi dan yang menunggu hanya suamiku. "Yang lain (ayah, ibu, adik-adik) pada kemana?" suamiku menjawab, "Abis si dede lahir pada pulang,". GUBRAKK! Yang penting anak bayi udah lahir ya, gue belom beres juga biarin aja :")

Sekembalinya ke kamar rawat inap, tanpa buang waktu aku langsung tertidur dengan lelap hingga subuh, terbangun karena efek obat bius yang sudah mulai pudar dimana lagi-lagi aku merasakan rasa sakit yang menjalar-jalar disekitar perut. Rasanya malam itu adalah malam terakhir aku tidur enak dalam 10 bulan terakhir ini.

10 bulan yang penuh perjuangan, mengASIhi, tiap hari menggendong, mengganti popok, bermain bersama anak, mendidik dan mengajarkannya sesuatu, waktu tidur jelas berkurang, nyaris tidak punya me time karena kemana pun pergi si kecil selalu ngikut. Perjuangan ini akan terus berlanjut menjadi 10 bulan berikutnya, berikutnya dan berikutnya. Pada saat rasa jenuh dan lelah datang, sering kali aku merasa sendirian, nggak ada yang bantuin, bisa nggak sih aku melewati masa-masa ini? Apa iya aku punya passion untuk jadi ibu? Pertanyaan aneh-aneh mulai muncul. Alhamdulillahnya, aku masih punya Tuhan sebagai sebaik-baiknya tempat berkeluh kesah dan yang menguatkanku adalah karena aku sadar bahwa I am the chosen one. Tuhan sudah memilih dan mempercayakan seorang anak untuk dititipkan padaku, berarti pasti I CAN DO THIS! Tuhan nggak mungkin dong salah orang...

Salam semangat buat semua ibu dimana pun kalian berada. Lelah boleh menyerah jangan, dan teruslah berbahagia. Ingat yaa, You Are the Chosen One! Virtual hugs :))

Yogyakarta, 19 September 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar