Creative Department Manager, Skill dan Peluang di Era Digital

creative department manager

Di akhir tahun kemarin, saya mendapat sebuah tawaran yang cukup menarik sekaligus menantang, Mae frens. Saya diminta untuk mengisi posisi sebagai Creative Department Manager di komunitas Ipedia Berita Baik, sebuah komunitas perempuan yang bergerak di bidang media dan broadcasting dengan tagline “Every Woman is a Good News Maker”.

Sebelumnya, posisi saya di komunitas ini adalah di tim website ipediaberitabaik.id. Fokus pekerjaan saya saat itu lebih banyak berkaitan dengan website, mulai dari pengelolaan konten hingga pengembangan blognya. Ketika mendapat tawaran untuk masuk ke divisi kreatif, jujur saja saya sempat ragu.

Sebagai seorang Creative Department Manager, saya tahu tanggung jawabnya pasti akan jauh lebih dekat dengan dunia desain, branding, dan konten media sosial. Sementara di sisi lain, saya merasa belum terlalu “ahli” di bidang tersebut. Rasanya cukup menantang karena saya harus belajar banyak hal baru sekaligus memimpin tim kreatif dengan berbagai ide dan karakter yang berbeda.

Setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya ini peluang yang bagus. Bukan karena saya bosan berada di tim website, namun karena ingin keluar dari zona nyaman. Apa yang saya kerjakan sebagai bagian dari tim website sebelumnya, nggak beda jauh lah dengan kerjaan saya sebagai blogger sehari-hari.

Akhirnya saya mencoba menerima tantangan tersebut. Ternyata, dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi bagian dari divisi kreatif bukan hanya soal membuat desain yang menarik, tapi juga gimana cara komunikasi, teamwork, problem solving, hingga memahami bagaimana sebuah brand atau komunitas bisa berkembang di era digital seperti sekarang.

Apa Itu Creative Department Manager?

Kalau teman-teman mendengar posisi Creative Department Manager, mungkin yang langsung terbayang adalah pekerjaan seputar desain atau membuat konten media sosial saja. Padahal in real life, tanggung jawab di posisi ini jauh lebih luas dari itu.

Kalau dipikir-pikir, peran ini juga cukup dekat dengan content strategy karena kita ikut menentukan arah komunikasi, konsep konten, hingga cara sebuah komunitas membangun branding di media digital.

Peran Saya di Creative Department

Di Ipedia Berita Baik, saya membawahi beberapa departemen sekaligus, di antaranya:
  • SMM (Social Media Management)
  • Produser Program (TV dan Radio)
  • Website
  • Event
  • Komunitas internal Ipedia, yakni Sahabat Baik

Awalnya saya cukup kaget juga karena ternyata setiap departemen punya ritme kerja dan tantangannya masing-masing. Tim media sosial fokus memikirkan strategi konten dan engagement audience. Tim event sibuk menyusun konsep acara dan publikasi. Tim website memastikan artikel dan platform berjalan optimal. Sementara produser program TV dan radio harus memikirkan alur program, tema, hingga teknis produksi kontennya.

Di posisi ini, saya merasa seperti menjadi “jembatan” yang menghubungkan banyak ide kreatif dari berbagai tim agar tetap berjalan ke arah yang sama.

Creative Department Manager Bukan Sekadar Desain

Dari pengalaman ini, saya jadi tau kalau seorang Creative Department Manager bukan hanya bertugas membuat sesuatu terlihat menarik secara visual. Posisi ini juga berkaitan dengan:
  • Menentukan arah konten dan branding
  • Mengatur strategi komunikasi digital
  • Mengelola workflow tim kreatif
  • Menjaga konsistensi identitas komunitas
  • Memastikan setiap postingan punya tujuan yang jelas

Saya merasa posisi ini cukup mirip dengan content strategist, yang sedang banyak dibutuhkan di era digital seperti sekarang ini. Kita bukan hanya membuat konten, tapi juga memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan, target audiensnya siapa, dan bagaimana konten tersebut bisa memberikan dampak untuk komunitas maupun audience yang melihatnya.

Pengalaman yang Membuka Banyak Perspektif Baru

Berhubung apa yang saya lakukan ini bergerak di era digital, hampir semua hal sekarang membutuhkan sentuhan kreatif seperti yang dilakukan nengtantidoodle. Mulai dari desain feed Instagram, konsep campaign, artikel website, sampai produksi program digital, semuanya saling berkaitan.

Saya juga jadi makin paham kalau skill kreatif ini punya peluang yang sangat besar di era digital. Pengalaman berkomunitas seperti yang saya lakukan pun nggak hanya saya jadikan aktivitas volunteer biasa. Di sini saya real menjadikan pengalaman ini sebagai tempat belajar leadership, branding, komunikasi, hingga strategi digital yang relevan dengan dunia kerja saat ini.

Skill Creative Department Manager yang Relevan di Era Digital

Beberapa skill yang cukup banyak dicari, baik untuk pekerjaan freelance, komunitas, maupun dunia profesional terkait aktivitas sebagai Creative Department Manager antara lain:

skill creative manager

1. Content Creation dan Storytelling

Sekarang hampir semua brand, komunitas, maupun bisnis membutuhkan konten untuk membangun komunikasi dengan audience mereka. Karena itu, kemampuan membuat konten menjadi salah satu skill yang cukup penting di era digital. As simple as desain pakai Canva, sudah bisa jadi modal dasar untuk membuat konten.

Saya belajar bahwa konten yang bagus nggak cuma soal visual yang menarik, tapi gimana sebuah pesan bisa terasa dekat dengan audience. Nah, di sinilah kemampuan storytelling sangat dibutuhkan.

2. Branding dan Visual Communication

Hal lain yang saya pelajari adalah pentingnya branding. Ternyata sebuah komunitas atau brand bisa lebih mudah dikenal ketika memiliki identitas visual dan gaya komunikasi yang konsisten.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya tentang branding dan visual communication:
  • Warna punya makna
  • Desain memengaruhi first impression
  • Gaya komunikasi menentukan kedekatan dengan audience
  • Konsistensi membuat brand lebih mudah diingat

Oleh karenanya, skill visual communication sekarang menjadi salah satu kemampuan yang cukup berharga di dunia digital.

3. Social Media dan Digital Marketing

Meskipun fokus utama saya bukan sebagai digital marketer, ternyata saya tetap banyak belajar tentang dunia pemasaran digital. Apalagi sekarang media sosial menjadi salah satu alat komunikasi utama untuk komunitas maupun bisnis.

Beberapa hal yang mulai saya pahami antara lain:
  • Cara meningkatkan engagement
  • Menentukan target audience
  • Membuat awareness campaign
  • Menyesuaikan konten untuk tiap platform
  • Membaca performa konten di media sosial

Hal-hal seperti ini ternyata sangat berkaitan dengan strategi komunikasi digital secara keseluruhan.

4. Project Management dan Team Coordination

Selain skill kreatif, saya juga dituntut untuk mengelola banyak divisi sekaligus. Biarpun agak keder di awal, saya jadi terbiasa menyusun timeline, mengatur workflow, dan memastikan semua tim bisa berjalan dengan baik.

Mungkin banyak yang mengira dunia kreatif itu berkutat dalam lingkaran ide dan desain aja. Padahal di balik itu, ada proses koordinasi yang kompleks agar semua project bisa selesai tepat waktu.

Menurut saya, skill seperti ini akan sangat berguna untuk dunia kerja ke depannya. Karena kemampuan bekerja dalam tim, mengatur project, dan berkomunikasi dengan banyak orang memang semakin dibutuhkan di era digital sekarang.

Peluang Karier dari Pengalaman Ini

Setelah dijalani, nggak nyesel sih saya menerima tawaran ini. Pengalaman sebagai Creative Department Manager membuka cukup banyak peluang di era digital sekarang.

Awalnya saya pikir pengalaman berkomunitas ini bakal jadi aktivitas tambahan saja. Eh, ternyata skill yang dipelajari di sini justru sangat relate dengan kebutuhan industri kreatif dan digital saat ini.

1. Bisa Jadi Portofolio untuk Dunia Kerja

Dari apa yang saya kerjakan, beberapa portofolio yang bisa dibuat antara lain:
  • Project campaign
  • Pengelolaan media sosial
  • Strategi konten
  • Branding komunitas
  • Koordinasi event
  • Produksi program digital

Hal-hal seperti ini bisa menunjukkan kemampuan leadership, komunikasi, dan problem solving kepada recruiter maupun calon klien. Menurut saya, pengalaman organisasi atau berkomunitas sekarang tidak lagi dipandang sebelah mata, apalagi jika kita benar-benar aktif dan punya hasil kerja yang jelas.

2. Peluang Freelance dan Karier Secara Remote

Skill yang dipelajari di bidang ini juga cukup fleksibel untuk dikembangkan menjadi peluang freelance maupun pekerjaan digital yang bisa dierjakan secara remote. Beberapa peluang yang menurut saya cukup relevan antara lain:
  • Social media manager
  • Content creator
  • Creative strategist
  • Content planner
  • Copywriter
  • Website content manager
  • Branding strategist

Bahkan sekarang banyak bisnis kecil maupun komunitas yang membutuhkan orang dengan kemampuan mengatur konten dan branding digital mereka.

3. Bisa Menjadi Personal Branding

Selain untuk karier, pengalaman seperti ini juga bisa menjadi bagian dari personal branding. Pengalaman-pengalaman ini sangat bisa diubah jadi konten, cerita, maupun insight untuk dibagikan di media sosial atau blog. Biarpun branding saya so far masih sebagai blogger dan SEO VA ya. Haha..

Tantangan Menjadi Creative Department Manager

Meski banyak hal seru yang saya pelajari, tentu posisi ini juga punya tantangannya sendiri, frens. Apalagi dunia kreatif sering kali berjalan cepat dan penuh perubahan.

tantangan menjadi creative departmen

Siap Revisi dan Perubahan Mendadak

Dalam dunia kreatif, revisi sepertinya sudah jadi bagian sehari-hari. Kadang desain harus diubah, konsep konten yang diganti, atau timeline tiba-tiba berubah karena kebutuhan tertentu.

Padahal, saya itu orang yang suka dengan keteraturan. Saya tidak suka dengan sesuatu yang dadakan atau spontan. Buat saya, hal-hal seperti itu tidak menyenangkan, nggak terkonsep dan saya nggak suka ngubah-ngubah jadwal yang sudah saya susun.

Di awal-awal, tentulah saya merasa overthinking ketika desain yang diajukan saya atau tim direvisi hingga beberapa kali. Apakah saya nggak cukup okey untuk menghandle ini? Pikiran itu pasti ada ya. Namun, lama-lama saya belajar nerima kalau ada feedback bukan berarti hasil kerja kita buruk, tapi memang bagian dari proses untuk membuat hasil akhirnya jadi lebih baik.

Menjaga Konsistensi Tim

Berhubung saya bekerja bersama banyak orang, menjaga semangat dan konsistensi tim juga jadi tantangan tersendiri. Ada waktunya anggota tim sedang sibuk di dunia offline dan tidak bisa fokus di online sama sekali, ada yang burnout, atau ada juga yang lagi kehilangan mood.

Di sisi lain, program reguler harus terus berjalan. Oleh sebab itu, komunikasi, apresiasi dan delegasi harus dipertahankan bahkan ditingkatkan untuk menjaga konsistensi, semangat dan suasanya yang nyaman.

Membagi Waktu dengan Baik

Tantangan lainnya tentu soal time management. Menjalankan komunitas sambil mengurus aktivitas lain di dunia nyata sering kali terasa cukup melelahkan. Ada kalanya saya ingin fokus di komunitas, namun pekerjaan rumah dan anak-anak tidak bisa menunggu. Padahal, berkomunitas dan berjejaring bersama teman ini merupakan salah satu me time saya.

Pada akhirnya, saya harus tetap memprioritaskan suami, anak-anak dan rumah di atas pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya. Saya pun masih sering mencatat prioritas apa saja yang ingin saya kerjakan di hari tersebut.


Penutup

Dari pengalaman ini, saya percaya kalau komunitas virtual bisa jadi tempat belajar yang berharga, terutama di era digital seperti sekarang. Banyak skill yang ternyata bisa berkembang menjadi peluang karier, baik offline maupun remote maupun personal branding di kemudian hari.

Jadi kalau teman-teman sedang aktif berkomunitas, organisasi atau mendapat kesempatan mencoba posisi baru yang terasa menantang, bisa jadi itu merupakan tempat belajar terbaik untuk berkembang saat ini.

Pernah nggak kalian punya pengalaman di komunitas atau bekerja di posisi yang ternyata bikin kalian belajar banyak hal baru? Yuk, cerita dan sharing di kolom komentar ya ✨

Posting Komentar

0 Komentar