Setelah mempertimbangkan banyak hal, sejak pertengahan tahun lalu saya dan suami memutuskan untuk mencari rumah kontrakan baru. Rumah lama kami memang dekat dengan kantor suami, namun lumayan jaraknya dari sekolah anak kami. Ndilalah, suami pindah kantor dan rumah kami jadi jauh dari sekolah maupun kantor.
Berhubung kantor suami saya cukup jauh dan setiap hari harus keluar masuk tol, akhirnya kami mencari rumah yang lokasinya di sekitar sekolah saja. Saya sempat merasa senang karena akhirnya menemukan kontrakan yang harganya cocok dan lokasinya cukup strategis.
After pencarian yang lumayan panjang, rasanya lega juga karena bisa segera pindah dan mulai menata rumah baru. Namun, rasa senang itu tidak bertahan lama. Belum lama kami ditempati, rumah tersebut kebanjiran setelah hujan deras mengguyur daerah kami selama 2 hari berturut-turut.
Saat itu saya baru sadar bahwa memilih kontrakan ternyata tidak cukup hanya melihat harga, lokasi, dan tampilan rumah. Ada banyak hal penting yang seharusnya dicek lebih detail sebelum memutuskan untuk sewa dalam jangka waktu beberapa bulan. Apa lagi biasanya sewa rumah kan tahunan.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa ada beberapa tanda yang sebenarnya bisa membantu kita mengetahui apakah sebuah rumah berisiko banjir atau tidak.
7 Hal yang Harus Dicek Sebelum Sewa Rumah Agar Bebas Banjir
Di sini saya tidak akan menceritakan detail kronologi kejadian banjir terjadi, karena mengingatnya saja sudah membuat lelah. Pada saat terjadi banjir, pemilik rumah tidak mengangkat telepon dari kami. Padahal saat itu kami panik karena that was our very first time mengalami yang namanya kebanjiran!
Di grup WA kompleks, seorang warga malah meminta yang lain untuk bersyukur karena banjir tidak separah yang terjadi di Sumatera. Saya pernah membaca artikel di blog tehokti pemilik akun Instagram indungbageur yang mengangkat soal bencana alam tersebut, hiihh rasanya nggak apple-to-apple jika dibanding-bandingkan seperti itu!
Untuk Mae frens yang mungkin saat ini sedang mencari-cari rumah sewa atau kontrakan, berikut beberapa tips yang bisa saya bagikan agar kejadian kebanjiran yang saya alami tidak kalian alami juga:
1. Cari Tahu Riwayat Banjir di Lingkungan Sekitar
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu apakah area tersebut sering banjir atau tidak. Jangan hanya bertanya kepada pemilik rumah, karena biasanya mereka akan menjelaskan sisi positif dari rumah yang ditawarkan.
Cobalah bertanya langsung kepada tetangga, pedagang sekitar, satpam, atau warga yang sudah lama tinggal di sana. Tanyakan apakah banjir sering terjadi, seberapa tinggi airnya, dan kapan biasanya banjir datang. Informasi seperti ini sangat penting karena bisa memberi gambaran kondisi lingkungan secara nyata.
Dalam kasus saya kemarin, saya dan suami sudah bertanya ke beberapa orang (selain pemilik) yang tinggal di daerah tersebut. Semua menjawab aman, nggak banjir, nggak pernah kebanjiran, dan sebagainya. Saat banjir terjadi, kami merasa tertipu saat ada tetangga yang baru kami temui saat itu dan mengatakan bahwa ia sudah mengalami kebanjiran sebanyak 5 kali.
2. Perhatikan Posisi Rumah
Saat survei rumah, perhatikan posisi lantai rumah dibandingkan dengan jalan di depannya. Rumah yang posisinya lebih rendah dari jalan biasanya lebih mudah kemasukan air saat hujan deras.
Selain itu, lihat juga apakah rumah berada di area cekung atau berada di ujung jalan yang cenderung menjadi tempat berkumpulnya air. Ini pengalaman saya di rumah orang tua di Jogja. Adanya cekungan di jalan depan rumah dan posisi halaman yang rendah membuat halaman rumah saya sering kali kebanjiran saat hujan deras. Akan tetapi, semua sudah teratasi setelah perbaikan drainase.
Kalau memungkinkan, datanglah saat hujan atau beberapa saat setelah hujan turun. Dengan begitu, kita bisa melihat langsung apakah ada genangan di sekitar rumah.
3. Cek Kondisi Saluran Air dan Drainase
Banyak orang terlalu fokus pada kondisi rumah, tetapi lupa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Padahal, drainase yang buruk bisa menjadi penyebab utama banjir.
Perlu diperhatikan apakah ada selokan di depan rumah dan apakah kondisinya bersih atau penuh sampah. Saluran air yang kecil, dangkal, atau tersumbat biasanya membuat air lebih sulit mengalir. Akibatnya, genangan akan lebih mudah terbentuk meskipun hujan tidak terlalu deras.
Sepertinya poin ini yang luput dari perhatian saya dan suami. Kami memang melihat ada selokan dan saluran pembuangan air di lingkungan rumah tersebut, namun tidak begitu memperhatikannya saat survey. Lagi-lagi, kami percaya dengan omongan orang-orang sekitar kalau daerah sana aman dan bebas banjir.
Baru saat menempati rumah tersebut, saya memperhatikan kalau aliran air di selokan mengalir dengan sangat lambat. Kalau lingkungan sekitar terlihat punya sistem drainase yang buruk, sebaiknya pertimbangkan lagi sebelum memutuskan untuk sewa. Jangan sampai poin ini terlewat!
4. Cari Tanda Bekas Banjir di Dalam Rumah
Bekas banjir biasanya meninggalkan tanda-tanda tertentu di dalam rumah. Oleh sebabnya, jangan hanya melihat rumah sekilas lalu langsung setuju.
Periksa bagian bawah dinding, pintu, kusen, dan sudut ruangan. Cat yang mengelupas, noda air, jamur, atau bekas garis kotor di tembok bisa menjadi tanda bahwa rumah pernah terendam banjir.
Jika Mae frens menemukan hal yang mencurigakan, jangan ragu untuk bertanya langsung kepada pemilik rumah. Lebih baik terlihat cerewet di awal daripada menyesal setelah pindah.
5. Perhatikan Akses Jalan Menuju Rumah
Kadang ada rumah yang sebenarnya aman dari banjir, tetapi jalan menuju rumah sering tergenang. Hal ini juga penting untuk dipertimbangkan, terutama jika teman-teman harus berangkat kerja, kuliah, atau mengantar anak sekolah setiap hari.
Bayangkan jika rumah aman, tetapi akses keluar masuk terputus karena banjir. Kondisi seperti ini tentu tetap merepotkan dan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
6. Bahas Perjanjian dengan Pemilik Rumah
Sebelum membayar uang sewa, ada baiknya membicarakan kemungkinan terburuk dengan pemilik rumah. Misalnya, apa yang terjadi jika rumah ternyata kebanjiran, mengalami kerusakan, atau ada masalah lain yang cukup serius.
Memang tidak semua pemilik rumah mau memberikan pengembalian uang, tetapi setidaknya kita tahu bagaimana kebijakan mereka sejak awal. Jika memungkinkan, buat kesepakatan sederhana secara tertulis agar kedua belah pihak sama-sama merasa aman.
Hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal bisa sangat membantu jika terjadi masalah di kemudian hari. Poin ini tidak saya lakukan, sebab berdasarkan mengontrak beberapa kali sebelum ini, memang berdasarkan asas kepercayaan saja antara pemilik rumah dan kami sebagai orang yang mengotrak. Ini pertama kalinya kami mendapatkan kontrakan zonk.
7. Jangan Mudah Tergiur Harga Murah
Harga murah memang sangat menggiurkan, apalagi jika rumah terlihat bagus dan lokasinya strategis. Namun, kita juga perlu notice nih jika harga kontrakan jauh lebih murah dibanding rumah lain di area yang sama.
Bisa jadi ada alasan tertentu di balik harga tersebut, misalnya lingkungan rawan banjir, akses jalan buruk, horror, atau kondisi bangunan yang kurang baik.
Daripada tergiur harga murah lalu harus pindah lagi dan mengeluarkan biaya tambahan, lebih baik memilih rumah yang sedikit lebih mahal tetapi lebih aman dan nyaman untuk ditempati.
![]() |
| Banjirnya baru mulai surut keesokan harinya |
Pengalaman rumah kontrakan kebanjiran membuat saya belajar bahwa memilih tempat tinggal harus lebih detail dan tidak hanya mengandalkan rekomendasi orang-orang di lingkungan sekitar sana. Ada banyak hal kecil yang terlihat sepele, tetapi ternyata sangat berpengaruh setelah rumah ditempati.
Meskipun yang saya alami kemarin termasuk dalam force majeure yang mana hampir sebagian wilayah Pamulang (Tangerang Selatan) mengalami banjir, ini akan menjadi pengalaman berharga bagi saya. Utamanya, nggak akan langsung percaya dengan pemilik rumah atau orang-orang yang tinggal di sana saja, yang pastinya hanya membicarakan hal baik-baik dari lingkungan tersebut.
Semoga 7 tips di atas bisa membantu kalian agar lebih teliti sebelum menyewa rumah ya. Sebab pada akhirnya, kenyamanan dan keamanan tempat tinggal jauh lebih penting daripada sekadar harga murah atau lokasi yang strategis.
Hmm.. Ada yang mau share pengalaman serupa? Tulis di kolom komentar ya!



0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉
Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍