Assalammualaikum...
Marhaban ya Ramadan! Apa kabar Mae frens? Nggak kerasa sudah memasuki bulan Ramadan dan artikel ini sekaligus menjadi artikel pembuka di tahun 2026 di personal blog kesayangan saya! Bagaimana kabarnya, puasa dan ibadahnya? Semoga senantiasa sehat dan dilancarkan semua urusan peribadahan di bulan suci ini ya :)
Tahun ini adalah tahun kedua saya kembali tidak berpuasa di bulan Ramadan. Di tahun lalu, anak kedua saya masih berusia 3 bulan saat bulan Ramadan tiba, tahun ini usianya sudah memasuki 13 bulan dan saya masih menyusui.
Meskipun tidak berpuasa seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi excitement saya pada bulan Ramadan masih sama! Menyambutnya dengan penuh suka cita dan hati yang penuh kerinduan. MasyaAllah..
Jujur saja, di fase menyusui ini rasanya agak sulit kalau harus mengejar Ramadan versi “all out” seperti dulu. Sama seperti saat masih hamil dan menyusui anak pertama dulu. Ada rasa sedih dan tertinggal karena tidak bisa melaksanakan ibadah-ibadah penting seperti puasanya itu sendiri, tadarus hingga khatam al-qur'an atau sholat tarawih full sebulan (di luar datang bulan).
Saat memiliki bayi yang masih bergantung pada ASI saya, energi saya terbagi. Tubuh saya masih bekerja memproduksi ASI, bayi otw balita pun butuh perhatian hampir sepanjang waktu. Terkadang, bisa sholat wajib tepat waktu saja udah alhamdulillah :')
Buat saya, di tahun 2026 ini target Ramadan saya adalah menjaga ibadah, energi sekaligus kesehatan sebagai busui. Simple but not that simple, sih. Hehe..
Mengambil Rukhsah, Apa Tidak Secinta Itu pada Allah?
Belakangan saya menyimak salah satu utas yang intinya berisi seorang perempuan mempertanyakan, "Emang senggak mampu itu berpuasa di saat hamil dan menyusui? Emang senggak memprioritaskan Allah swt, sampai nggak mau berusaha berpuasa di bulan Ramadan?"
Sebagai ibu menyusui, senyum karier aja saya membaca utas dan peredebatan sengit di dalamnya. Padahal dalam Islam, ibu menyusui memang mendapatkan keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa jika khawatir puasa bisa berdampak pada kesehatannya atau kesehatan anak yang disusui. Ini bukan bentuk “keringanan khusus zaman sekarang”, tapi memang sudah dijelaskan sejak masa awal Islam.
Dasarnya ada dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang mengalami kesulitan atau tidak mampu berpuasa boleh menggantinya di waktu lain atau dengan fidyah, tergantung kondisi masing-masing (QS. Al-Baqarah: 184).
Para ulama sejak dulu juga menjelaskan bahwa ibu hamil dan menyusui termasuk dalam kelompok yang mendapat keringanan ini. Dalam penjelasan sahabat Nabi, seperti Ibnu Abbas, ibu hamil dan menyusui disamakan dengan orang yang tidak mampu berpuasa karena khawatir terhadap diri atau anaknya. Riwayat ini disebutkan dalam beberapa kitab hadis, termasuk Sahih al-Bukhari (dalam pembahasan tafsir ayat tentang keringanan puasa).
Prinsip umumnya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad bahwa agama tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan memberi kemudahan ketika ada kesulitan nyata.
Jadi, jika seorang ibu menyusui merasa puasa berisiko menurunkan kesehatan, atau memengaruhi kebutuhan anak, maka ia boleh tidak berpuasa. Nanti kewajibannya bisa diganti dengan qadha puasa di hari lain, atau dalam sebagian pendapat ulama qadha dan/atau fidyah, tergantung kondisi dan mazhab yang diikuti.
Intinya keringanan ini adalah bentuk kasih sayang Allah swt dalam syariat, supaya ibu hamil dan menyusui tetap bisa menjaga amanah tubuh dan anak, tanpa merasa bersalah secara agama.
Memahami Kondisi Tubuh Ibu Menyusui Saat Ramadan
Sebelum bicara soal target ibadah atau rutinitas harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan oleh seorang ibu, dalam konteks ini adalah ibu menyusui, yakni memahami kondisi tubuh sendiri. Faktanya frens, tubuh ibu menyusui itu sedang bekerja ekstra setiap hari bahkan ketika kita merasa hanya “di rumah saja”.
Produksi ASI bukan proses sederhana. Tubuh membutuhkan energi, cairan, dan nutrisi yang cukup untuk memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi. Saat Ramadan, pola makan dan minum berubah drastis. Waktu asupan jadi terbatas, sementara kebutuhan tubuh tetap sama atau lebih besar karena aktivitas tetap berjalan.
Itulah kenapa banyak ibu menyusui merasa lebih cepat haus, lapar dan lelah saat puasa. Bukan karena kurang kuat, tapi memang tubuh sedang menjalankan dua fungsi besar sekaligus yaitu menjaga diri sendiri dan memberi nutrisi untuk anak.
Belum lagi soal tidur. Anak saya yang usianya 13 bulan jam tidurnya masih tidak beraturan, sering kali jadi manusia nocturnal, dan selama puasa beberapa hari ini ia ikut bangun sahur. Sebagai ibu yang membersamainya selama 24 jam, jelas ada banyak waktu d mana waktu tidur terpotong, lalu ditambah sahur dan aktivitas siang hari, rasanya energi cepat banget terkurasnya.
Respons setiap ibu berbeda. Ada yang tetap nyaman berpuasa sambil menyusui, ada juga yang merasa lemas, pusing, atau produksi ASI menurun. Semuanya normal ya. Tidak ada standar tunggal tentang bagaimana “seharusnya” tubuh ibu menyusui bereaksi.
Btw frens, kondisi ini bukan karena kita, para ibu menyusui, kurang semangat menyambut Ramadan. Bukan karena imannya menurun, dan bukan juga karena kita tidak ingin beribadah lebih banyak. Justru saya merasa sebaliknya. Dalam hati tuh pengen banget melakukan banyak hal, ingin maksimal dalam menetapkan target di bulan suci, tapi saat ini tubuh sedang berada di fase yang berbeda.
Tubuh ibu menyusui sedang menjalankan amanah besar yaitu merawat dan menumbuhkan kehidupan lain. Jadi kalau ritme Ramadan terasa lebih pelan, target terasa lebih sederhana, atau energi tidak sekuat dulu, memang itu tanda kita sedang menjalani peran yang menuntut banyak hal secara fisik dan emosional.
Menentukan Target Ibadah yang Realistis
Lantas, apa saja nih yang menjadi target Ramadan saya tahun ini? Hmm.. Nggak muluk-muluk dan realistis aja sih, kalau biasanya saya cenderung perfectionist, kali ini saya menjaga ekspektasi supaya tetap bisa menikmati Ramadan tanpa merasa terlalu bersalah karena kurang perform.
Di tahun ini, saya mempunyai 3 target utama yakni menjaga ibadah, energi dan kesehatan:
Target Ibadah
1. Prioritaskan Ibadah Wajib Sebagai Fondasi Utama
Meskipun ini anak kedua, rasanya tetep aja ya saat hamil dan menyusui energi kayak yang terbatas banget! Jadi, saya fokuskan ke ibadah yang paling utama yakni sholat wajib 5 waktu dan menjaga kualitasnya.
Saat punya bayi atau balita, susah banget deh menjaga kualitas sholat. Kalau nunggu anak tidur untuk sholat, bisa-bisa baru sholat di akhir waktu. Sementara kalau sholat ditemani anak, bisa-bisa kita yang dijadikan kuda-kudaan atau adaa aja gebrakan bocah ketika ibunya ingin mengambil jeda sejenak dari kegiatan duniawi.
Di bulan Ramadan ini, saya ingin memprioritaskan untuk meningkatkan kualitas dari ibadah sholat 5 waktu. Bismillah semoga dimudahkan..
2. Perbanyak Berdzikir
Mempunyai bayi yang lagi aktif-aktifnya memang membuat saya lebih banyak berdzikir, sih. Eh, istighfar lebih tepatnya saat melihat kelakuannya yang kadang di luar nurul. Wkwk..
Nggak tau saya doang atau busui-busui yang lain juga, setelah punya bayi kok susah ya bisa berdzikir sedikit lebih lama setelah sholat? Nah, di bulan Ramadan ini saya ingin memperbanyak amalan dengan berdzikir, terutama bareng anak pertama saya sembari mengajarkan betapa mulianya amalan ini.
Saya juga kembali mendisiplinkan diri untuk membaca dzikir pagi-petang, meskipun di hari pertama Ramadan, sampul buku dzikir saya sudah disobek sama si bayi. Heuu.. Semoga istiqomah!
3. Sholat Tarawih dan Sholat Malam
Sebagaimana kita ketahui bahwa ibadah sholat tarawih merupakan ibadah setahun sekali yang hukumnya sunnah, namun sangat dianjurkan. Kayaknya udah sejak kecil ya kita ditanamkan untuk mencintai tarawih sebagaimana mencintai bulan Ramadan. Jadi, sayang banget kalau inadah sholat tarawih ini nggak dimaksimalkan.
Memang saat ini belum memungkinkan bagi saya untuk sholat tarawih di masjid, tapi saya mengusahakan banget untuk tetap mengerjakannya di rumah meski sendiri. Di samping itu, saya juga bersemangat untuk merutinkan kembali menunaikan sholat malam. Kesempatan emas karena bisa dilakukan sebelum atau setelah menyiapkan sahur.
Menentukan target ibadah yang realistis bukan berarti menurunkan kualitas Ramadan. Justru bagi saya, ini cara menjaga agar ibadah tetap hidup sepanjang bulan dan bukan hanya di awal saja.
Target Menjaga Energi Selama Ramadan
Meskipun saya tidak ikut berpuasa, tapi menjaga energi untuk membersamai anak dan suami yang berpuasa, serta mengurus bayi yang masih menyusu itu juga penting. Mau nggak mau, aktivitas domestik bertambah, menyiapkan sahur, MPASI, makanan untuk diri saya sendiri di pagi dan siang hari, takjil untuk berbuka dan makan malam.
Waktu di dapur lebih banyak, belum lagi dengan tugas-tugas domestik dan kegiatan lainnya, termasuk menyusui yang butuh energi banyak. Supaya tubuh tidak cepat drop saya menerapkan beberapa strategi seperti:
1. Ikut Sahur Meski Tidak Berpuasa
Biarpun nggak puasa, biasanya saya tetap ikut makan sahur dan minum segelas susu dengan madu sembari menemani anak sulung saya yang masih tahap belajar puasa. Jadi, tetap ada pemasukan energi setelah gedebak-gedebuk sejak dini hari menyiapkan sahur.
2. Ikut Tidur Saat Anak-anak Masih Tidur
Berhubung anak pertama saya masih libur sekolah di minggu awal Ramadan, biasanya ia tidur lebih lama setelah sahur. Kadang bangun jam 8 atau 9 pagi, sementara adiknya bisa bablas hingga jam 11 karena memang nocturnal seperti yang saya ceritakan.
Saya pun memanfaatkan momen ini untuk tidur lebih lama. Setelah suami berangkat kerja, saya ikut selimutan lagi bareng anak-anak barang 1 atau 2 jam untuk mengisi energi. Cucian piring dan baju kotor bisa menunggu, kalau energi sudah full kan ngerjain apa-apa lebih semangat ya!
3. Konsumsi Vitamin Secara Rutin
Kalau untuk poin ini, sebenarnya sudah saya terapkan sejak setelah melahirkan. Jadi, sekarang saya masih mengonsumsi beberapa vitamin yang juga dikonsumsi saat hamil seperti vitamin D, kalsium dan zat besi.
Bukan buat gaya-gayaan tapi memang badan terasa lebih nyaman dan tidak ringkih di masa menyusui seperti saat ini.
Target Menjaga Kesehatan Mental
Selain fisik, kesehatan mental ibu menyusui saat Ramadan juga perlu diperhatikan, apalagi kalau akhirnya memilih untuk tidak berpuasa seperti saya. Secara agama memang ada keringanan, tapi secara perasaan belum tentu selalu mudah.
Pastinya, ada perasaan tertinggal dari suasana Ramadan, merasa kurang maksimal, bahkan diliputi rasa bersalah ketika orang lain menjalani puasa penuh.
Di saat yang sama, peran juga bertambah. Saya tetap ingin membersamai anak pertama belajar puasa, mengajaknya melakukan amalan baik, dan menjaga suasana Ramadan di rumah. Sementara bayi tetap butuh perhatian penuh yang kadang nggak bisa dinanti-nanti. Semua berjalan bersamaan. Nggak heran sih, kadang rasanya overwhelmed banget, kepala penuh pemikiran-pemikian, dan emosi naik turun.
Kalau sudah terasa berat seperti itu, saya punya cara simpel tapi ampuh untuk sedikit mengurangi beban tersebut. Salah satu yang masih saya pertahankan hingga saat ini adalah menulis, terutama blogging yang memang sejak 6 tahun lalu menjadi cara saya untuk
kabur sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Meskipun tulisannya
mostly tentang
family & personal journey alias curhatan ibu rumah tangga juga, sih! Haha.
Selain itu, menonton drama atau film favorit, mandi lebih lama atau makan dengan lebih mindful (nggak buru-buru dan menikmati setiap suapan). Buat saya, ini bukan bentuk pelarian lebih ke salah satu cara merawat diri supaya tetap stabil secara emosional.
Lewati Fasenya dengan Bahagia
Jika 8 tahun yang lalu, saya yang juga tidak berpuasa sebab hamil dan menyusui banyak merasa bersalah dan berdosa karena tidak berpuasa, Ramadan kali ini saya jalani dengan lebih ikhlas. Hadir untuk anak, menjaga rumah tetap hangat, dan berusaha menjalani hari dengan niat baik juga insyaAllah ibadah yang berarti di mata Yang Maha Kuasa.
Bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadan dalam kondisi sehat wal afiat saja sudah merupakan anugerah yang patut disyukuri. Kalaupun tahun ini Ramadan saya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,
alhamdulillah-nya tahun ini masih bisa menjalani Ramadan dengan penuh kesadaran, tanpa menargetkan hal di luar batas, ala
mindful lifestyle blogger banget nggak tuh? Hihi.
Gantian dong, Mae frens yang cerita! Apa aja nih target Ramadanmu tahun ini? Share di kolom komentar ya!
Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge Menulis IIDN hari ke-1.
0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉
Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍