Selasa, 09 Maret 2021

Pendidikan Seksualitas, Tantangan Hari Ke-7


Assalammualaikum,

Hari ini aku kembali menuliskan resume materi yang disampaikan oleh teman-teman yang presentasi di grup Facebook Pantai Bentang Petualang. Tema besar yang diangkat dalam zona ke-7 ini adalah "Pendidikan Seksualitas" dan topik yang dibawakan oleh kelompok 7 yang terdiri dari teman-teman dari IP Batam, Bontara, Cianjur dan Cirebon Raya adalah tentang "Pendidikan Seksualitas Sejak Dini".

Mulai dari Keluarga Terdekat


Saat ini, banyak fenomena di mana terjadi kekerasan seksual pada anak. Ini menjadikan sebuah PR besar untuk orang tua agar mengajarkan atau memberikan pendidikan mengenai seksualitas sejak dini serta memberikan rasa aman dan nyaman untuk anak-anak.

Ini bisa dimulai dengan mengenalkan dan mendekatkan anak pada keluarga intinya dan juga pada keluarga besarnya. Mengapa anak harus kenal dengan keluarga besarnya? Karena anak tidak hanya hidup dengan keluarga intinya tapi juga memiliki keluarga besarnya yang lain serta mengajarkan anak untuk bersilaturahmi dengan keluarga besarnya.

Jika anak mengenal keluarga inti dan juga keluarga besarnya, diharapkan anak akan memiliki role model yang baik pula. Sehingga saat ia bergaul dengan lingkungannya kelak, ia tahu mana yang patut dicontoh dan tidak.

Selanjutnya, untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada anak serta menanamkan nilai-nilai pendidikan seksualitas sejak dini orang tua dapat memanggil anak dengan panggilan kesayangan yang sesuai dengan gender anak tersebut.

Contohnya saja anak laki-laki dipanggil dengan sebutan "anak sholeh", sedangkan anak perempuan dipanggi dengan "anak sholehah" tentu saja.

Selain itu, ternyata saat orang tua menunjukkan kasih sayang diantara keduanya (ayah dan ibu) juga merupakan salah satu fondasi di mana anak akan lebih mudah menerima pendidikan seksualitas. Tentu saja perlakuan yang ditunjukkan oleh kedua orang tua hendaklah sesuai dengan batasan yang boleh ditunjukkan di depan anak-anak.

Orang tua yang menunjukkan "kemesraan" di depan anak-anaknya akan membuat anak tumbuh menjadi lebih bahagia, bisa menghormati hubungan yang sehat antara ayah dan ibunya serta memberikan contoh hubungan keluarga yang harmonis bagi anak-anaknya kelak. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis terbukti jarang sekali mengalami penyimpangan seksual(itas).

Anak pun belajar memegang peran dan tanggung jawab seperti yang dicontohkan oleh ayah dan ibunya masing-masing.

Mengajarkan Anak Untuk Tidur Terpisah


Tidak kalah penting, pendidikan seksual(itas) yang harus ditanamkan pada anak sejak dini adalah tidur terpisah dengan orang tua atau saudaranya yang berbeda jenis kelamin. Sebuah hadist pun menyebutkan :

Perintahlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan sholat) pada usia 10 tahun dan pisahlah tempat tidur di antara mereka. -HR. Abu Daud

Mengajarkan anak untuk tidur terpisah baik dari orang tua maupun saudara-saudaranya bertujuan untuk mengenalkan dan agar anak memahami bahwa setiap orang punya privasi dan batasan-batasan masing-masing.

Waspada Terhadap Orang Sekitar


Selanjutnya, yang perlu ditanamkan pada anak usia dini adalah untuk mewaspadai orang asing selain dari pada keluarga inti dan keluarga besarnya. Sebab akan tiba masa di mana anak-anak akan merasa ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya. Ingin lebih mengenal orang lain semisal tetangga atau teman sepermainannya.

Oleh sebab itu, sejak dini anak harus diajarkan untuk memiliki rasa percaya diri untuk menjaga keselamatannya sendiri, mengajarkan anak bahwa orang dewasa yang baru dikenal bisa saja merupakan orang yang baik (atau tidak) sehingga anak akan lebih waspada serta mengajari anak untuk percaya pada nalurinya.

Demikian resume untuk topik dari parade live hari ini. Semoga bermanfaat!

Sukabumi, 9 Maret 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar