Komunikasi Produktif, Tantangan Hari Ke-2

By Imawati A. Wardhani - September 03, 2020


Hari ini, sudah masuk hari ke-2 tantangan di Pantai Bentang Petualang zona pertama bersama teman-teman Bunda Sayang Batch 6 Institut Ibu Profesional.

Menyelesaikan tantangan di hari pertama kemarin cukup membuatku banyak berpikir sebelum menulis. Maklum, baru pertama kali mengerjakan tantangan di kelas BunSay dan masih ragu apakah yang aku kerjakan sesuai dengan ekspektasi kakaWI dan jajaran institut lainnya atau tidak.

Beruntungnya, aku masuk ke dalam grup Pasir Putih Berkilau. Suatu kelompok beranggotakan 30 orang di Pantai Bentang Petualang yang sangat luas. Kelompokku diketuai oleh Mbak Via yang berasal dari regional Karawang.

Senangnya bisa berbagi informasi bersama teman-teman satu kelompok di Pasir Putih Berkilau. Mengerjakan tantangan pun rasanya menjadi tidak terlalu berat, justru malah mendapat banyak sekali pencerahan.


Hari ini, aku tidak melanjutkan menulis mengenai komunikasi produktif seperti yang telah aku tuliskan dalam jurnal hari pertama. Aku menemukan kasus yang menarik di hari ini bersama pasanganku.

TANTANGAN 15 HARI ZONA #1 - Hari ke-2


Temuanku hari ini :

Pagi hari, seperti biasanya anakku sudah bangun sejak subuh untuk membuntuti papahnya kemana-mana sebelum berangkat kerja. Papahnya mandi ya dia menunggu dengan setia di depan pintu kamar mandi, papahnya berganti baju pun ia dengan santai menanti di depan pintu kamar. Pokoknya pagi hari mamah nggak laku. Haha.

Sebelum berangkat ke kantor, anak dan suamiku biasa melakukan ritual muter komplek naik motor. Kalau ritual tersebut tidak dilakukan, mood anakku bisa jadi tidak baik minimal setengah harian.

Suamiku bersiap untuk sarapan terlebih dahulu sebelum membawa anakku berjalan-jalan naik motor. Sementara si kecil yang sudah ready, menunggu di teras rumah.

"Masuk dulu, Nak. Papah makan dulu ya baru kita jalan-jalan," begitu suara suamiku yang terdengar dari dalam kamar. Aku, masih di kamar merapihkan tempat tidur.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu ditutup dengan sangat kuat. Namun, karena engsel pintu rumahku memang rada-rada error maka pintu tidak tertutup rapat dan malah membuka kembali. Sontak suamiku meneriaki anakku agar tidak bermain pintu, ya langsung pecah tangisan si kecil mendengar papahnya berbicara dengan nada tinggi.

Aku yang mengetahui kejadian tersebut tidak langsung ikut campur, melainkan menunggu kelanjutan situasi tersebut. Ternyata, masih dengan nada yang agak tinggi, suamiku menjelaskan pada anakku kalau bermain pintu itu berbahaya dan bisa membuat tangannya terjepit lalu terluka.

Bukannya diam, anakku malah semakin menangis. Hehe. Yasudah, aku pun keluar kamar dan menawarkan pelukkan pada anakku. Setelah tangisnya reda, aku menyuruh anakku untuk memeluk papahnya dan mengatakan kalau papah tidak marah melainkan takut ia kenapa-kenapa.

Saat anakku sibuk bermain sendiri dan suamiku sarapan, aku yang menemaninya sarapan mencoba membicarakan masalah barusan. Aku mengatakan kalau apa yang dilakukan oleh anak kami itu bukan kali pertamanya.

Tiap kali ia mendengar instruksi untuk masuk ke dalam rumah, ia dengan segera masuk dan berusaha menutup pintu. Biasanya, aku mengartikannya sebagai sebuah cara untuk membantu orangtuanya menutup pintu rumah. Tapi ya, jujur anak kami belum paham betul bagaimana menutup pintu rumah dengan perlahan.

Biasanya aku selalu mendampinginya saat ia akan membantuku menutup pintu, mungkin tadi pagi adalah kali pertama suamiku melihat anakku bermain pintu sehingga ia bereaksi seperti itu.

Kemudian, aku bercerita pada suamiku agar lain kali ia mencoba melihat perilaku anak dari sudut pandang anak kami dan mencoba menelaah maksud dari tindakannya tersebut sebelum bereaksi berlebihan. Tentu saja, tidak setiap saat aku bisa teoritis seperti ini. Haha.

Pagi tadi saat mengalami kejadian ini, aku langsung teringat pada salah satu buku parenting yang sudah aku baca. Juga teringat pada tugas komunikasi produktif, jadi bisa mengambil sikap seperti itu.

Tantangan yang kuhadapi hari ini :

Saat suamiku berbicara dengan nada tinggi pada anakku dan anakku menangis karenanya, aku menahan diri untuk tidak terlibat langsung ke dalam masalah tersebut. Aku mencoba untuk membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalah mereka.

Rencanaku untuk esok hari :

Terus berusaha untuk mengobservasi tiap tingkah laku yang dilakukan oleh anakku dan mencoba memahami apa yang ia lakukan dari sudut pandangnya.

Mencoba untuk berusaha berkomunikasi seefektif dan produktif mungkin apabila menemukan anakku melakukan hal-hal yang tidak seharusnya (membahayakan dirinya atau orang disekitarnya atau lingkungannya).

Poin komunikasi produktif hari ini :

1. Kaidah 2C (Clear and Clarify)
Berkomunikasi dengan suamiku pagi hari tadi kurasa cukup efektif, karena aku dapat menyampaikan maksud dan tujuanku padanya dengan jelas dan ia pun dapat mengerti dan memahami apa yang aku sampaikan.

PR bagi kami berdua untuk terus belajar memahami tingkah laku anak di fase eksplorasinya ini.

2. Choose the right time
Aku tidak langsung berbicara dan mengoreksi apa yang telah dilakukan oleh suamiku saat situasi sedang tidak kondusif. Suami emosi, anak menangis. Aku memilih diam dan menunggu waktu yang tepat yaitu saat sedang sarapan.

Bagiku, berdebat mengenai hal apapun di hadapan anak bukanlah suatu hal yang baik. Aku tidak ingin anak kami mengambil kesimpulan yang tidak seharusnya saat melihat orangtuanya berdebat di depannya.

3. Intensity of Eye Contact
Tentunya, setiap berbicara mengenai hal serius seperti masalah parenting, aku fokus memerhatikan raut wajah dan melakukan kontak mata dengan suamiku. Selain untuk melihat responnya terhadap ucapanku, aku juga dapat membaca apakah ia paham dengan apa yang sudah aku katakan.

Berapa bintangku hari ini :

🌟🌟🌟


Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

04/09/20

#harike-2
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar