Komunikasi Produktif, Tantangan Hari ke-1

By Imawati A. Wardhani - September 03, 2020


Setelah menyelesaikan seluruh misi di kelas Matrikulasi Ibu Profesional Batch 8 kemarin, aku melanjutkan petualangan bersama teman-teman yang lulus tahapan matrikulasi ke tahapan selanjutnya, yaitu kelas Bunda Sayang.

Petualangan kami dimulai dari Pantai Bentang Petualang. Disini, kami akan menimba ilmu selama kurang lebih 12 hingga 13 bulan ke depan. Waw! Lebih panjang waktunya dibandingkan kelas matrikulasi.

Di kelas Bunda Sayang ini, kami akan menyelesaikan 12 tantangan yang berbeda. Kami juga dituntut untuk menjadi lebih konsisten dan berkomitmen dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Dalam sebulan, jumlah setoran tugas bisa mencapai 10-15 hari. Semoga aku bisa istiqomah menyelesaikannya hingga tahun depan.

Zona pertama di Pantai Bentang Petualang adalah zona Komunikasi Produktif. Setelah mendengar penjelasan dari kakaWI Putri dan kakaWI Tika mengenai materi komunikasi produktif, selama 15 hari ke depan para petualang diberikan tantangan Ngobrol Santai Ala Komunikasi Profuktif.



Sebelum aku mengerjakan tantangan hari pertama, aku ingin menjelaskan sedikit mengenai komunikasi produktif.

Suatu komunikasi, dikatakan produktif apabila pesan yang kita sampaikan ke lawan bicara kita (pasangan, anak, orang tua, kolega, dan lainnya) dapat tersampaikan dan diterima dengan baik.

Dalam keluarga, komunikasi produktif ini sangat penting karena menjadi salah satu pilar untuk menjalin ikatan yang kuat dalam mewujudkan visi dan misi keluarga.

Dalam tantangan zona pertama yaitu Komunikasi Produktif ini, fokus utama aku ingin menerapkan konsep komunikasi produktif adalah pada anak dan suamiku. Berhubung aku adalah seorang ibu rumah tangga, jadi mereka berdualah yang menjadi lawan bicaraku sehari-hari.

TANTANGAN 15 HARI ZONA #1 - Hari ke-1


Temuanku hari ini :

Anakku berusia 22 bulan sedang berada dalam fase physical agression. Ia senang berbuat kasar seperti memukul, menjambak, melempar barang dan menginjak-injak (orang tuanya).

Siang ini, saat aku sedang fokus makan, tentu perhatianku teralihkan dari anakku sementara waktu. Ia mulai mencari perhatianku dengan mencoba mengacak-acak makanan dalam piringku. Aku mencegahnya dan berpindah tempat untuk makan, ia kembali menghampiriku dan memukulku dengan mainannya. Kemudian ia mulai menangis karena aku tidak menghiraukannya.

Berhubung sedang kelaparan, aku memang tidak menghiraukannya sejenak sampai makananku habis. Aku hanya diam saat ia memukul dan menangis. Setelah meletakkan piring kotor ke tempat cuci piring, mencuci tangan dan minum baru aku menghampirinya.

Aku membuka lenganku lebar-lebar dan berkata, "Mau peluk Mama dulu?" anakku lalu menghampiriku dan memelukku, sambil masih menangis.

Setelah tangisnya reda, aku baru menjelaskan bahwa memukul itu tidak baik. Orang-orang akan kesakitan saat dipukul. Aku menjelaskannya dengan nada yang masih bisa dikontrol dan dengan emosi yang stabil.

Tantangan yang kuhadapi hari ini :

Tantanganku adalah untuk tetap menjaga mood dan emosi di saat lapar dan ingin makan, sementara anakku sibuk mencari perhatian dengan cara yang tidak baik.

Rencanaku untuk esok hari :

Berusaha membuatnya tenang terlebih dahulu saat aku akan melakukan kegiatan yang membutuhkan jarak dengan dirinya.

Mungkin aku akan mengajaknya bermain, lalu saat ia sedang fokus bermain aku bisa mengerjakan hal lain.

Rencana lainnya adalah jika kejadian serupa terulang kembali, aku akan tetap berusaha menjaga mood dan emosi agar tidak meledak dan ikut tantrum seperti dirinya.

Aku juga akan mencoba tetap fokus menerapkan komunikasi produktif pada anakku meski mungkin tidak akan langsung berhasil. Coba lagi, coba terus!

Poin komunikasi produktif hari ini :

1. KISS (Keep Information Short and Simple)
Aku mencoba menggunakan bahasa sesederhana mungkin untuk menjelaskan bahwa tindakan memukul ibu dengan mainan atau dengan apapun itu tidak baik.

2. Mengendalikan intonasi suara
Berhubung perut kenyang, emosi dalam diriku pun menjadi lebih stabil. Aku jadi bisa mengontrol emosiku dengan cukup baik siang ini. Aku dapat mengendalikan nada suaraku agar tetap tenang dan tidak meninggi.

3. Mengatakan apa yang aku inginkan
Setelah tindakannya memukulku dengan mainan, aku mengatakan kalau kita hanya boleh saling sayang seperti mengelus-elus kepala, memeluk atau menepuk-nepuk pundak dengan pelan.

Sebenarnya metode ini sudah aku terapkan sejak beberapa waktu lalu, sampai saat ini progress-nya sudah cukup terlihat. Namun, terkadang tindakan physical aggresion-nya masih muncul.

4. Menunjukkan Empati
Walaupun dalam hati kzl karena sakit dipukul oleh anak sendiri, aku mencoba menerima perasaannya siang tadi. Menerima kalau ia marah dan kesal karena aku sedang makan dan tidak memerhatikannya.

Teori ini sering kali aku baca dalam buku-buku parenting seperti Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas.

Berapa bintangku hari ini :

🌟🌟🌟


Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

03/09/20

#harike-1
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar