Letters to Juliet

By Imawati A. Wardhani - Juli 08, 2020


Misi terakhir dari perjalanan mengarungi samudera bersama teman-teman matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional adalah menuju Pulau Cahaya.

Pulau Cahaya ini hanya bisa dicapai setelah kami menuntaskan misi terakhir yaitu membuat surat cinta untuk orang tercinta. What? A love letter? Haha. Haduh, waktu pertama melihat tugas ini aku sudah membayangkan bagaimana reaksi orang tercintaku saat membaca surat yang bahkan belum aku tulis.

Baca juga : Aliran Rasa : Penyelaman Samudera

Untungnya, tugas yang dikumpulkan bukan tulisan yang kami buat di dalam surat melainkan perasaan kami ketika menulis surat tersebut, memberikan dan menanti hingga menerima jawaban dari surat cinta itu. Jadilah tulisan di blog ini yang akan dikumpulkan pada tim Ibu Profesional, bukan isi suratku. Hehe.

Our last mission

Sesaat setelah menerima misi terakhir dalam kelas matrikulasi ini, mendadak aku terkenang pada sebuah film romance di tahun 2010 silam berjudul Letters to Juliet.


Dalam film Hollywood tersebut, dikisahkan Sophie Hall yang diperankan oleh Amanda Seyfried sedang melakukan perjalanan ke Verona, Italia. Ia pergi dengan tunangannya yang merupakan seorang chef.

Saat ia berkunjung ke Cassa de Giulietta, ia mendapati banyak orang menuliskan surat dan menempelkannya di tembok tepat di depan patung Juliet. Menjelang petang, seorang wanita mengambil surat-surat tersebut dan membawanya ke kantor.

Disana, ada beberapa wanita yang bekerja sebagai sekertaris Juliet. Tugasnya adalah membalas surat-surat yang ditulis oleh pengunjung yang datang membawa surat untuk Juliet. Sophie Hall yang tertarik kemudian melamar untuk bekerja sebagai sekertaris Juliet.

Suatu hari, Sophie menemukan sebuah surat yang teselip di dalam tembok dimana surat tersebut ditulis 50 tahun yang lalu. Sophie kemudian membalas surat yang ternyata berisi surat cinta seorang gadis pada pria yang menjadi cinta pertamanya.

Apakah wanita tersebut masih hidup? Siapakah pria yang ia ceritakan dalam surat tersebut? Wahh, tulisannya jadi kemana-mana nih! Padahal tugasnya kan memceritakan perasaanku saat menulis surat pada pasangan dan perasaanku saat surat yang kutulis dibalas.

Jujur saja aku merasa kikuk saat disuruh menulis surat cinta untuk suami sendiri. Aku dan suamiku bukanlah tipe pasangan romantis layaknya drama Korea maupun film-film romansa. Haha.

Begitu memberi kabar pada suami bahwa tugas terakhir dari kelas matrikulasi adalah membuat surat cinta, ia auto tertawa dan menunggu-nunggu datangnya surat itu. Elaah~ pake semangat segala kan doi mau dapet surat!

Perasaanku ketika menulis untuk suami malah memikirkan film yang menjadi tulisanku ini. Aku berpikir untuk menonton ulang film yang 10 tahun lalu menjadi salah satu favoritku. Hehe, kok jadi salah fokus ya?!

Padahal aku suka menulis dan hampir setiap hari menulis, tapi saat akan menulis surat cinta untuk suami rasanya tangan ini ragu untuk mengukir huruf demi huruf. Terlalu banyak yang ingin kusampaikan padanya, seribu kata mungkin kurang namun tanganku pasti pegal menulis tangan sepanjang itu.

Iya, request pak suami adalah surat cinta yang ditulis tangan bukan via email apalagi whatsapp. Haha. Tak apalah sesekali menyenangkan hatinya dengan membuat sesuatu yang bukan aku banget.

Dengan melakukan hal sederhana seperti ini, aku jadi tau kalau ternyata ia suka loh diberi hal-hal romantis macam begini. Melalui surat, aku jadi bisa menyampaikan hal-hal yang belum tersampaikan dan ingin sekali kusampaikan. Mungkin dulu belum sempat terucap karena sibuk mengurus anak hingga kelupaan.

Saat aku marah pun, aku lebih memilih diam daripada berbicara banyak. Kalau masih bisa ngomel artinya belum marah betul. Haha. Apa yang ingin kusampaikan saat aku marah pun akhirnya bisa terfasilitasi melalui surat ini.

Sempat aku berpikir untuk mengendapkan saja surat untuk suamiku agar ia tidak membacanya, seperti yang terjadi pada film Letters to Juliet. Mungkin aku akan memberikannya kapan-kapan, tapi buat apa juga? Lebih baik melakukan hal seru seperti ini sekali-kali.

Aku harap, komunikasi antara kami berdua akan lancar terus karena ini adalah inti dari suatu hubungan apalagi dalam pernikahan. Mungkin saat kata-kata sulit terucap, membuat surat bisa menjadi pilihan untuk berkomunikasi dengan pasangan. Hehe.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar