Kamis, 02 April 2020

Berkomunitas dengan Bahagia


Masa orientasi di Kampung Komunitas Ibu Profesional sudah memasuki pekan ke sembilan dimana pada hari Selasa, 31 Maret 2020 kemarin materi terakhir yaitu Berkomunitas dengan Bahagia di sampaikan.

Merujuk pada materi sebelumnya yaitu Tujuan Berkomunitas, sebelum terjun dalam suatu komunitas tentunya kita harus sudah memiliki strong why mengapa kita ingin bergabung dalam komunitas tersebut? Tujuan utamanya adalah kebahagiaan diri kita sendiri, di samping untuk mencari relasi, menambah pengalaman, ilmu dan kegiatan.

Baca juga : Tujuan Berkomunitas

Setelah masuk ke dalam komunitas, bagaimana supaya kita bisa tetap menjaga kebahagiaan selama bergabung di dalamnya? Jawabannya adalah dengan mengubah masalah yang dihadapi menjadi suatu tantangan yang menarik untuk diselesaikan.

Masalah apa yang biasanya di hadapi saat kita terjun ke dalam suatu kelompok baru? Mulai dari yang paling receh adalah bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan baru kita, bagaimana kita berusaha bergaul dengan orang-orang baru, bagaimana kita harus mempelajari karakter masing-masing anggota supaya bisa ngeblend dengan baik dengan mereka.

Untuk tipe orang tertentu, hal tersebut bisa menjadi suatu masalah besar. Apakah mereka bisa diterima sebagai bagian dari komunitas tersebut? Apabila orang tersebut mampu berusaha, menjadikan masalah yang ada dihadapannya sebagai sebuah tantangan yang harus dilewati maka orang tersebut akan bahagia setelah berhasil melaluinya. Siapa yang tidak senang ketika naik level saat bermain game? Perumpamaannya seperti itu kira-kira.

Selain itu, kita juga harus senantiasa menebarkan dan membagikan kebahagiaan kita dalam berkomunitas dengan orang-orang yang ada dilingkungan sekitar kita. Jangan sampai kegiatan komunitas kita menjadi sumber masalah baru dalam keluarga, disamping management waktu antara komunitas dan keluarga, berbagi kebahagiaan juga perlu dilakukan. Hal ini bertujuan agar suami dan anak-anak ikut merasakan manfaat dari apa yang ibunya kerjakan. Aura positifnya dapet gitu!

Kalau perlu, libatkan juga suami ketika kita menghadapi tantangan dalam komunitas yang kita ikuti. Minta pendapatnya untuk berdiskusi agar kita memiliki pandangan lain saat akan menyelesaikan masalah (tantangan). Bukan hanya sekedar bercerita mengenai keluh kesah kita dalam berkomunitas, kalau seperti itu kemungkinan besar saran paksu adalah meminta kita untuk mengakhiri kegiatan berkomunitas karena di rasa tidak membawa faedah. Padahal niat kita mau curhat aja mulanya. Hehe.

Namun, jikalau kedua hal tersebut sudah dilakukan tapi tetap tidak menemukan titik terang, dalam artian kita tetap merasa kurang sreg dan tidak bahagia menjalani peran kita dalam berkomunitas ya mungkin memang kebahagiaan kita bukan di dalam komunitas tersebut. Keluar dan carilah kebahagiaan kalian di tempat yang lain. Jangan sampai, komunitas menjadi bagian dari beban hidup yang harus kita pikul. Please, hidup sudah berat nggak usah ditambah-tambah lagi.

Sekian ringkasan materi Bahagia dengan Komunitas yang bisa aku tuliskan. Semoga bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Yogyakarta, 2 April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar