Mempertanyakan Keyakinan

By Imawati A. Wardhani - Januari 06, 2020


Menjelang 2 tahun usia pernikahanku dan suami, banyak teman-temanku yang masih menanti dan mencari pasangan hidupnya bertanya, "Kok bisa sih lo yakin sama dia?", "Dulu gimana ceritanya bisa yakin sama dia?", "Pernah ragu-ragu nggak sebelum memilih dia?". Pertanyaan tipikal orang yang belum menikah dan memiliki tambatan hati, aku juga dulu suka nanya-nanya begitu sama teman-teman yang sudah menikah.

Ternyata, pertanyaan itu datangnya bukan hanya dari teman-teman dan sahabat, tapi juga dari suamiku sendiri. Haha.. Setelah hampir 2 tahun, ngapa deh beliau baru nanya sekarang?! Beberapa hari lalu kami membicarakan tentang perjalanan pernikahan kami yang mencapai 730 hari saja belum, flashback tentang kelakuan kami berdua dijaman masih satu kantor dulu, apa yang sering membuatku kesal padanya dan apa yang membuatku tidak ingin pergi darinya. Sampai pertanyaan itu dilontarkannya, "Kenapa dulu kamu mau nikahnya sama Mas? Kamu gak menyesal nikah sama aku yang kerjanya cuma diperusahaan kecil, asalnya dari keluarga menengah kebawah? Padahal bisa aja kamu nikah sama cowok lulusan luar negeri, universitas bagus, duitnya banyak..." auto mencelos sebenarnya hatiku saat itu. "Nggak nyesel lah, seneng banget malahan!" jawabku saat itu disertai candaan lain-lain. Memang susah sekali ngobrol serius kalau sama dia, tapi setelah itu aku kepikiran dengan kalimatnya dan bertanya, "Kenapa kamu mikir aku menyesal nikah sama kamu?" dia menjawab singkat, "Soalnya kalo kamu cerita tentang temen-temen kamu yang nikah sama anak orang kaya, nikah sama cowok ganteng kerja diluar negeri uangnya banyak, kamu kelihatan senang. Aku kan nggak gitu." Haha.. Hei! Dia nggak bisa bedain antara iri sama ikut euforia kebahagiaan teman apa ya?! Ya jelas aku ikut happy kalau ada temanku yang senang karena dia bernasib baik.

"Terus kenapa kamu mau nikah sama Mas?" pertanyaan itu ditanyakan beberapa kali belakangan ini. Awalnya aku memang meragukannya, sangat! Kami berteman dekat cukup lama, selama hampir 3 tahun. Kerja bareng, main bareng, travelling bareng. Sampai akhirnya sering bertukar cerita, kadang kalau dia lagi kerja shift 3 dia meneleponku tengah malam buat cerita ngalor ngidul tentang permasalahan hidupnya. Sebagai junior yang tertindas nurut-nurut aja "diterror" tengah malam begitu. Tidak jarang pula dia curhat tentang wanita-wanita yang disukainya saat itu, jadi tau dong aku kelakuannya seperti apa. Lambat laun, baper juga hatiku padahal sudah membuat benteng yang menurutku cukup kokoh. Kalau dipikir-pikir kalimat pertemanan antara cewek-cowok itu nggak mungkin ada, ada benarnya juga. Setidaknya berlaku untukku, padahal dulu aku dengan percaya diri menentang kalimat tersebut mengingat aku punya banyak teman dekat laki-laki dan memang tidak ada apa-apa diantara kami selain persahabatan.

Akhirnya aku mulai menjaga jarak darinya, selain karena dia tertarik pada yang lain, aku juga memilih sibuk fokus pada cita-citaku daripada memikirkan masalah percintaan yang ku yakin akan ada waktunya tersendiri nanti. Kemudian, Allah yang Maha Membolak-balikan Hati manusia menunjukkan kekuasaannya, disaat aku mulai malas menanggapinya, dirinya justru mengutarakan niatnya untuk membawa hubungan kami kearah yang lebih serius. Jujur aku tidak langsung yakin padanya, melihat kilas balik perlakuannya padaku yang cenderung cuek dan "semena-mena", mana mau aku digituin juga setelah menikah?! Aku meminta petunjuk dan jawaban dari keraguanku diatas sajadah, setiap hari, setiap malam, selama berminggu-minggu.

Bagi yang belum mengalami sendiri, mungkin ini terdengar absurd. Lambat laun Allah seperti menuntunku dengan mengerucutkan pilihan-pilihan menjadi hanya tertuju padanya (suamiku) dan aku menjadi yakin padanya, keraguan-keraguan pun hilang hingga akhirnya aku memberi lampu hijau agar ia datang ke rumah dan melamarku. Alhamdulillah, sampai saat ini dan insha Allah seterusnya aku tidak menyesal dengan pilihanku. Sesungguhnya banyak sekali pelajaran dan bisa aku ambil dari karakter suamiku yang tidak kusangka ia memiliki sifat-sifat tersebut.

Jadi menurutku, mempertanyakan keyakinan seseorang untuk menikahi seseorang itu tidak bisa dijawab hanya lewat kata-kata melainkan harus merasakan keyakinan tersebut lewat peristiwa yang dialami sendiri. Apa yang kualami ini belum tentu merefleksikan keyakinan orang lain untuk menikah dengan pasangannya. Ada yang yakin bahwa seseorang ditakdirkan sebagai jodohnya karena pasangannya sesuai kriteria atau karena pasangannya memiliki materi yang banyak atau karena penampilan fisik pasangannya yang susah bikin move on, dan lainnya. Untuk kalian yang masih berikhtiar dalam mencari pasangan, bersabarlah karena waktu kalian pasti akan datang dan pada saat itu pertanyakanlah keyakinan kalian hanya pada Tuhan yang Maha Membolak-balikan Hati ciptaanNya sehingga kalian yakin bahwa pasangan yang kalian sebut namanya didalam do'a adalah 'the special one' yang sudah disiapkan untuk kalian.

Setelah pembicaraan tersebut, giliranku yang bertanya, "Kenapa Mas jadi yakin mau nikah sama aku?" Hehe.. Dasar wanita, sudah pernah diungkapkan tetap minta penjelasan agar lebih meyakinkan :P Sekian.

Sukabumi, 7 Januari 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar