Sabtu, 18 Januari 2020

Ingin Berhenti Ingin Menyerah




Ada tidak ya manusia didunia ini yang tidak pernah merasa putus asa dan ingin menyerah dalam suatu perkara hidupnya? Kalau ada, tolong share dong kok bisa hidup selalu dalam optimisme tinggi seperti itu?

Aku tidak bisa bilang kalau aku orang dengan optimisme tinggi, bukan juga orang yang mudah menyerah dalam menghadapi suatu tantangan. Tapi, ada suatu waktu dimana hal tersebut terlihat sangat sulit dan tidak bisa aku tangani hingga aku berada dilevel ingin menyerah tapi tidak ingin berhenti berusaha, hingga akhirnya tantangan tersebut terlewati. Terbayang tidak betapa melelahkannya itu?

Waktu sekolah dulu, Ujian Nasional (UN) terasa begitu berat hingga harus belajar sekuat tenaga untuk melaluinya dengan sukses. Bagiku UN itu beban banget dulu, berbeda dengan anak-anak yang darisananya pintar dimana belajar sekilas-sekilas saja nilainya sudah cemerlang, aku dengan otak yang pas-pasan ini harus belajar siang malam untuk dapat nilai yang cukup memuaskan. Rasanya dulu ingin menyerah saja, "Udahlah nggak usah belajar gila-gilaan, nggak target nilai sempurna juga," disisi lain pikiranku tidak tenang jika tidak belajar sampai titik darah penghabisan, "Gila lo! Kalo nilai ancur gimana? Kalo nggak lulus gimana?" dan masih banyak kalau-kalau menakutkan yang lain. Akhirnya tetap belajar mati-matian demi lulus UN. Terlewati juga dengan sukses.

Saat menghadapi skripsi pun demikian, proses nge-lab yang sedemikian panjang hingga lebih dari setahun membuatku ingin berubah haluan ditengah-tengah. Mulanya semangat, lalu melihat teman-teman lain yang nge-labnya hanya beberapa bulan selesai membuatku goyah. "Kelamaan nggak sih ini nge-labnya?", "Apa ganti aja ya?", "Keburu nggak lulus tepat waktu?" dan berondong kekhawatiran yang membuatku ingin menyerah. Beruntungnya aku memiliki partner nge-lab yang luar biasa sehingga kami bertiga bisa menyelesaikan penelitian skripsi dan lulus tepat waktu dalam rentang waktu yang berdekatan pula. Tamat juga akhirnya masa kuliahku.

Teringat juga saat melewati proses persalinan, merasakan kontraksi lebih dari 24 jam membuatku yang awalnya optimis bisa melewatinya dengan tenang dan lancar berubah haluan menjadi rasa ingin game over saja. "Udahan aja plis udahan.." kataku pada suamiku saat itu, eh dia malah tertawa, "Udahan gimana ai kamu?" katanya lalu lanjut menghibur aku yang rasanya ingin skip waktu hingga ke waktu anakku sudah lahir agar tidak merasakan lagi sakitnya kontraksi. Masa-masa itu pun akhirnya berlalu.

Hingga saat ini, saat aku berhadapan dengan suatu masalah, tetap ada waktu dimana aku ingin sekali menyerah. Udahan aja dong! Nggak mau begini terus. Menghadapi anak yang lagi susah makan gara-gara tumbuh gigi aja rasanya capek banget ingin menyerah saja, padahal aku tau masa ini akan berakhir. "Udahlah aku kerja lagi aja!", "Cari nanny aja buat ngurusin anak!", "Aku pergi aja dari rumah, anaknya nggak mau diurus sama aku!" Untungnya suamiku tidak menanggapinya dengan serius dan membiarkan hingga emosiku reda dengan sendirinya. Setelah ditanya apa iya mau pakai pengasuh? Aku segera berubah pikiran dan tetap memilih mengurus anak sendiri.

Lelah boleh menyerah jangan. Kalimat yang selama ini menjadi pegangan hidupku, saat aku merasa ingin menyerah aku menyadari kalau aku sedang lelah. It's okay kalau aku lelah, tapi harus bisa semangat lagi untuk melewati masalah ini.

Tuhan pun sudah berkata bahwa Ia tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Dikala aku merasa sangat ingin menyerah dan menghilang untuk menghindari masalah, aku pun akan berpegangan pada kalimat ini. Sabar, sabar, sabar. Semua pasti terlewati. Terbukti hingga saat ini berbagai permasalahan hidup bisa kulalui meski pun berkali-kali ingin menyerah.

Tapi, ingin sekali menghapus rasa ingin menyerah itu ketika masalah menghampiri. Tentunya hidup akan lebih optimis dan selalu bersemangat, ya kan? Jadi bagaimana ya caranya agar keinginan berhenti ingin menyerah itu terwujud? Semoga waktu dan proses pendewasaan bisa membawaku ke titik tersebut suatu hari nanti.

Sukabumi, 18 Januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar