Jisoo aktingnya hhh banget...
Begitu kata salah seorang teman saya ketika dimintai pendapat soal drama Korea Boyfriend on Demand yang dirilis di Netflix bulan Maret 2026 kemarin. Meski demikian, tetep aja saya penasaran dengan drama ini saat melihat posternya yang colorful. Kebayang gimana gula-nya ni drama. Ditambah lagi dengan kehadiran Seo In Guk sebagai pemeran utamanya. Dah lah, urusan akting Jisoo belakangan!
Ternyata, di balik poster-posternya yang terlihat manis dan penuh visual aktor papan atas, drama ini sebenarnya menyimpan "teror" psikologis yang membuat kita berpikir ulang tentang cara kita berinteraksi di era digital. Wih kok ngeri banget bahasanya, Mae?
Gimanaa yaa.. Meskipun saya nggak seperti teman blogger film Bandung yang sering mengamati pergeseran tren dan membahas sebuah film atau drama secara mendalam, saya melihat adanya pesan sosial untuk masyarakat dalam drama ini. Nggak hanya cerita romance lucu-lucuan biasa.
Emang gimana sih ceritanya? Yuk simak sampai akhir!
Sinopsis Drama Korea Boyfriend on Demand
Cerita berpusat pada Seo Mi-rae (diperankan oleh Jisoo), seorang produser webtoon sukses namun mengalami kelelahan mental (burnout) yang luar biasa. Di usianya yang menurut masyarakat sana tidak muda lagi, Mi-rae memiliki segalanya kecuali satu hal yakni waktu.
Tuntutan pekerjaan yang gila-gilaan membuatnya nggak punya energi untuk pergi kencan selayaknya orang-orang. Apalagi memulainya dari perkenalan, dinner yang bikin canggung, hingga drama patah hati. Bahkan, karena kesibukannya pun ia putus dengan mantan kekasihnya yang akan sudah akan menikah dengan wanita lain.
Di tengah kehectican hidupnya sebagai seorang produser webtoon yang dibayang-bayangi target kejar tayang, Mi-rae mendapatkan penawaran untuk mencoba aplikasi kencan virtual. Mi-rae diminta untuk memberikan reviewnya setelah mendapatkan layanan gratis selama berapa pekan gitu (saya lupa hoho). Selanjutnya, Mi-rae bisa memilih untuk mengembalikan perangkat kencan virtual tersebut atau memperpanjang layanan dengan berlangganan.
Layanan ini menawarkan "kekasih ideal" yang bisa dipesan sesuai kebutuhan emosional penggunanya. Jadi konsepnya, Mi-rae seperti masuk ke dalam dunia webtoon di mana ia bisa memilih sendiri tokoh utama pria mana yang akan menjadi kekasih (virtualnya).
Mulanya Mi-rae merasa skeptis dan ogah-ogahan mencoba layanan tersebut, namun ia mendapatkan ide untuk cerita di webtoonnya sehingga mengiyakan permintaan untuk mereview produk tersebut. Awalnya memang Mi-rae menggunakannya untuk mengaplikasikannya pada pekerjaannya di dunia nyata sebagai penulis webtoon. Namun, saat ia berkencan dengan Seo Eun-ho (diperankan oleh Seo Kang-joon) mulai nih Mi-rae merasa nyaman.
Bahkan, saat kencan virtualnya harus dihentikan karena layanan gratisnya sudah usai, ia secara impulsif berlangganan agar bisa bertemu dengan Eun-ho setiap hari, setelah pulang kerja. Nah, kontradiksi mulai muncul ketika rekan kerjanya, Park Kyeong-nam (Seo In-guk), mulai masuk lebih dalam ke kehidupan Mi-rae.
Baca juga: Review Drama Korea Moon River (2025)
Kyeong-nam adalah sosok yang jauh dari kata "sempurna" versi aplikasi. Dia menyebalkan, kalo ngomong blak-blakan, namun ternyata selama ini cukup perhatian padanya. Di sinilah Mi-rae mulai menghadapi dilema antara memilih kenyamanan semu dari algoritma atau menghadapi hubungan manusia yang sebenarnya bersama Kyeong-nam.
Mengapa Boyfriend on Demand Terasa Begitu "Ngeri"?
Saat menonton drama ini, awalnya tampak menyenangkan yaa kalau aplikasi ini ada sungguhan. Ih gile banget gue bisa bebas milih teman kencan, tinggal cari yang modelan Hyun-bin atau Park Hyung-sik, tiap hari ngobrol dan berinteraksi sama mereka. Gila sih kehaluan kita tuh bisa direalisasikan. Wkwk!
But, episode demi episode saya tonton dan saya mulai merasa ngeri sendiri membayangkan kalau ni aplikasi beneran ada. Omaygad! Saya jelaskan alasannya di bawah:
Kaburnya Batas Antara Fantasi dan Realita
Hal yang paling menakutkan ketika menonton drama ini adalah melihat bagaimana Mi-rae mulai kehilangan sentuhan dengan realita. Ada adegan yang sangat membekas di mana Mi-rae lebih memilih menatap layar ponselnya di sebuah restoran mewah daripada berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Baginya, pacar virtualnya jauh lebih "hidup" daripada manusia in her real life. Drama ini menggambarkan bahwa saat kita terbiasa dengan simulasi, kenyataan yang tidak sempurna akan terasa seperti gangguan.
Baca tentang: Rekomendasi Drakor Romantis Manis di Netflix 2024
Komodifikasi Perasaan di Mana Cinta Bisa Dibeli
Boyfriend on Demand menyoroti ide bahwa kasih sayang bisa menjadi komoditas berlangganan. Dalam satu episode, terlihat bagaimana Mi-rae harus melakukan top-up saldo agar "pacarnya" tidak menghilang atau berubah menjadi dingin. Menurut saya, ini adalah bentuk kapitalisme emosional yang cukup ekstrem ya.
![]() |
| Seo Eun-ho, pacar virtual yang bikin Mi-rae top-up saldo |
Saya paham kalau ada banyak sekali manusia yang merasa kesepian dan butuh validasi dari lingkungannya. Bahkan pasangan yang sudah menikah saja bisa kok merasa kesepian. Dalam drama ini, Mi-rae yang tidak sempat memikirkan kencan di dunia nyata saja basic-nya butuh disayang dan dimengerti oleh seseorang.
Menurut ulasan dari blogger rafahlevi, fenomena ini sebenarnya sudah mulai kita rasakan di dunia nyata melalui layanan chatbot AI yang semakin personal. Sudah mulai banyak juga yang menggunakan AI untuk menggantikan posisi teman curhat atau bahkan psikolog untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka.
Privasi dan Manipulasi Data Personal
Jangan lupa soal sisi teknisnya. Aplikasi dalam drama ini mampu membaca detak jantung, riwayat pencarian, hingga ekspresi wajah Mi-rae melalui kamera ponsel untuk memberikan respons yang paling memuaskan. Gini-gini nih bentuk manipulasi data yang terselubung. Kita merasa dicintai, padahal kita sedang dipelajari oleh algoritma untuk tetap terikat pada aplikasi tersebut.
Belajar dari Kasus Mi-rae, Apa Bahaya Aplikasi Kencan di Dunia Nyata?
Sekarang ini, mencari teman kencan melalui aplikasi sudah banyak sekali ya. Banyak yang dapat ampas, tapi nggak sedikit juga yang berhasil, contohnya beberapa teman bahkan adik saya sendiri yang mendapatkan jodoh dari aplikasi kencan online.
Namun, dalam drama ini beda kasus, frens! Kalau sampai aplikasi kencan virtual dengan tokoh di dunia maya ini benar-benar ada, kira-kira apa yang akan terjadi coba?
Risiko Obsesi dan Kecanduan Validasi
Belajar dari karakter Mi-rae, kita melihat bahwa kencan aplikasi bisa menciptakan comfort bubble yang berbahaya. Saat seseorang terbiasa mendapatkan kata-kata manis yang dirancang khusus untuknya, dia akan menjadi sangat rapuh saat menghadapi penolakan atau konflik di dunia nyata.
Akibatnya? Kita menjadi pecandu validasi digital, di mana harga diri kita sangat bergantung pada seberapa responsif pasangan virtual kita.
Ancaman Keamanan di Balik Layar Ponsel
Secara lebih luas, drama ini mengingatkan kita pada risiko nyata dari dating apps saat ini, mulai dari catfishing (identitas palsu) hingga eksploitasi emosional. Dalam Boyfriend on Demand, penonton diperlihatkan bahwa di balik algoritma yang tampak peduli, ada perusahaan besar yang hanya peduli pada profit. Hubungan yang seharusnya sakral dan penuh perjuangan diubah menjadi transaksi digital.
Jadi, Lanjut Nonton Boyfriend on Demand atau Skip?
Di luar akting Jisoo yang katanya biasa aja dan taburan visual dari aktor-aktor pendukung di dalam drama ini, Boyfriend on Demand sedikit banyak menggambarkan cerminan retak masyarakat modern. Drama ini berhasil membungkus isu kesehatan mental, kesepian, dan bahaya teknologi dalam kemasan yang estetik namun menghantui.
Saya sendiri lanjut-lanjut aja nonton drama ini karena penasaran gimana akhirnya Mi-rae bisa lepas dari layanan kencan virtual yang sudah membuatnya sakau hingga harus top-up dengan biaya yang tidak murah.
Drama ini meninggalkan satu pesan penting, yakni teknologi mungkin bisa menyimulasikan kehadiran, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan sentuhan dan ketulusan emosi manusia. Saya yang mulanya nonton ini buat cari hiburan, malah jadi overthinking sendiri hingga menuliskannya di sini. Wkwk.
Gimana nih, frens, ada yang nonton Boyfriend on Demand juga? Share pendapat kalian yuk!




0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉
Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍