Akhir-akhir ini, saya merasa kewalahan menghadapi tingkah polah anak sulung saya. Tambah besar bukannya makin manut kok rasanya makin sering ngeyel, njawab kalau dikasitau dan kekeuh banget dengan pendiriannya. Kalian pernah nggak sih, frens, mengalami hal ini?
Awalnya saya pikir mungkin karena anak saya sekarang merasa perhatian orang tuanya terbagi dengan adiknya. Setelah dipikir ulang, sepertinya karena cara saya menyampaikan rasa sayang saya yang nggak selalu pas dengan love language-nya. Nah, kerasa banget kan kalau memahami kebutuhan emosional anak merupakan fondasi penting dalam parenting.
Baca juga: Cerita tentang Student-Led Conference Anak
Setiap anak itu punya cara favorit untuk menerima cinta dari orang tuanya. Ada yang butuh pelukan, ada yang suka dipuji, ada yang penting banget punya waktu bareng, dan sebagainya. Ketika kita bisa “bicara bahasa cinta” yang sesuai, hubungan otomatis jadi lebih hangat, komunikasi dengan anak lebih lancar, dan mereka pun merasa aman serta dimengerti.
Yuk kita bahas bareng supaya bonding dengan anak-anak jadi lebih baik!
Pentingnya Mengetahui Love Language Anak untuk Membangun Kedekatan Keluarga
Mae frens, sebelum kita bahas lebih jauh soal membangun bonding, kita perlu paham dulu apa itu love language anak. Singkatnya, love language adalah cara anak merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan.
Nggak semua anak bisa bilang secara terang-terangan, “Aku butuh pelukan,” atau “Aku pengen Mama lihat aku.” Mereka cenderung menunjukkannya lewat perilaku sehari-hari. Ada anak yang akan nempel terus minta dipeluk, senangnya dipuji, pengen ditemani main tanpa gangguan gadget, dan ada juga yang merasa diperhatikan kalau dibikinin sesuatu.
Dengan mengetahui “bahasa cinta” anak, kita bisa menyesuaikan cara kita memberi perhatian agar kebutuhan emosional mereka terpenuhi.
Kenapa ini penting? Karena love language itu bukan cuma teori lucu-lucuan, tapi dasar dari hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Ketika anak merasa dicintai dengan cara yang mereka pahami, mereka akan jadi lebih tenang, lebih kooperatif, dan lebih mudah diajak komunikasi.
Inilah pondasi yang nanti ikut memengaruhi kualitas hubungan di dalam keluarga secara keseluruhan. Sama seperti tips pernikahan bahagia yang menekankan pentingnya saling memahami kebutuhan pasangan, hal yang sama juga berlaku dalam parenting.
Anak yang merasa aman secara emosional insya Allah akan tumbuh dengan lebih percaya diri, lebih dekat dengan orang tua, dan suasana rumah pun jadi nggak dar-der-dor mulu.
5 Love Language Anak dan Aktivitas yang Bisa Dilakukan
Mungkin sebagian besar dari teman-teman udah pada tau lah ya love language tuh ada apa saja, tapi nggak apa-apa kita bahas lagi di sini supaya yang baru dengar soal ini jadi ikutan tau.
1. Physical Touch (Sentuhan Fisik)
Anak dengan love language ini biasanya merasa paling dicintai saat ada kontak fisik. Mereka suka dipeluk, digendong, duduk di pangkuan, atau nempel-nempel saat nonton bareng. Sentuhan kecil seperti elusan kepala saat mereka lewat, atau cuddling sebelum tidur bisa membuat hari mereka terasa lengkap.
Bahkan hal sederhana seperti menggandeng tangan saat jalan ke warung pun sudah cukup buat mereka merasa aman dan dekat dengan orang tuanya.
2. Words of Affirmation
Kalau anak kalian sering minta perhatian lewat kalimat seperti “Mama liat sini!” atau langsung sumringah saat kamu memuji hasil gambarnya, kemungkinan besar mereka butuh afirmasi verbal.
Anak dengan love language ini merasa dihargai ketika mendengar kata-kata yang lembut, positif, dan spesifik. Bukan sekadar “pintar” atau “good job“, tapi “Kakak hebat banget, ya, sudah rapikan mainan sendiri.”
3. Quality Time
Anak dengan love language ini cuma mau satu hal yakni perhatian utuh tanpa gangguan. Mereka nggak mesti butuh waktu lama kok, cukup 10 sampai 15 menit aja sudah bisa membuat mereka merasa diperhatikan.
Baca tentang: 5 Penyebab Sibling Rivalry dan Cara Menghindarinya
Poin pentingnya, saat bermain bareng, kita benar-benar hadir sepenuhnya tanpa sibuk dengan ponsel atau kerjaan. Aktivitasnya juga bisa simpel banget kayak main lego bareng, mewarnai bareng, masak cemilan, atau ngobrol sebelum tidur. Buat mereka, momen-momen ini justru yang menjadi kenangan besar.
4. Act of Service
Gue banget nih! Wkwk. Ketika anak terlihat sangat senang saat kita sebagai orang tua membantunya memakai sepatu, menyiapkan tas sekolah, atau mengajarkan sesuatu tahap demi tahap, artinya mereka cenderung punya love language acts of service.
Mereka akan merasa diperhatikan ketika orang tua hadir membantu dengan penuh kesabaran, bukannya terburu-buru.
Contohnya membantu merapikan mainan sembari mengajarkan caranya, menyiapkan sarapan favorit, atau membuatkan area belajar yang nyaman. Perhatian melalui tindakan inilah yang membuat mereka merasa disayang.
5. Receiving Gifts
Love language ini bukan berarti anak materialistis ya, frens. Anak dengan bahasa cinta receiving gifts merasa diperhatikan ketika menerima sesuatu yang diberikan dengan penuh makna. Hadiahnya pun nggak harus mahal, justru yang sederhana sering lebih berkesan.
Misalnya stiker karakter karakter favorit yang disisipkan di buku gambarnya, cemilan favorit setelah sekolah, atau gambar spesial yang dibuat sendiri untuk menemani mereka belajar. Intinya mereka nggak liat harganya, tapi perasaan “Mama ingat aku” yang mereka rasakan lewat benda kecil itu yang bikin mereka happy.
Cara Menemukan Love Language Utama Anak
Nah, setelah tau macam-macam love language pada anak, lantas gimana kita bisa tau love language utamanya anak kita tuh yang mana, sih?
Menemukan love language utama anak sebenarnya nggak serumit yang kita bayangkan, frens. Kuncinya ada di observasi dan peka aja terhadap perilaku mereka sehari-hari.
Perhatikan apa yang paling sering mereka minta. Apakah mereka lebih sering minta dipeluk, minta ditemani main, atau senangnya dikasih surprise? Tanda-tanda sederhana seperti ini biasanya sudah cukup memberi gambaran apa yang paling membuat mereka merasa dicintai.
Setelah memperhatikan beberapa waktu, saya cukup yakin bahwa love language anak saya adalah physical touch, sama kayak bapaknya! Ternyata ini juga penyebab ada gap antara saya dengan dia, sebab love language saya lebih ke act of service dan saya kurang suka dengan sentuhan fisik.
Sama halnya dengan cara saya mengisi tanki cinta suami demi rumah tangga harmonis, saya berusaha membangun bonding yang lebih baik dengan memahami apa love language-nya. Demikian pula bersama anak, akhirnya saya yang berusaha approach menggunakan pendekatan love language ini.
Membangun kedekatan dengan anak itu bukan soal seberapa sempurna kita sebagai orang tua, tapi seberapa tulus kita hadir dan berusaha memahami mereka. Dengan sedikit perhatian, observasi, dan konsistensi, bonding kita dengan anak bisa jadi jauh lebih hangat, kuat, dan alami.
Kalau Mae frens udah baca sampai sini, kira-kira anak kalian cenderung punya love language yang mana? Atau mungkin kalian masih bingung menentukan? Cerita dong di kolom komentar!



0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉
Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍