Main Sungai di Pondok Halimun, Sukabumi


Pandemi yang belum kelihatan ujungnya (di Indonesia) ini membuat aku betul-betul mengurangi aktivitas bepergian keluar rumah. Kalau tidak perlu-perlu banget lebih baik berdiam diri di rumah, karena suami masih terus work from office (wfo) dan tidak pernah work from home (wfh), jadi menjaga kesehatan keluarga kecil kami sangat krusial.

Terakhir kali aku dan keluargaku pergi piknik sekejap ke Taman Salabintana saat salah satu sahabatku berkunjung ke rumah pada bulan Agustus lalu. Minggu, tanggal 8 November 2020 kemarin, aku beserta suami dan anakku akhirnya kembali piknik tipis-tipis ke destinasi wisata Pondok Halimun, Salabintana, Sukabumi.


Memilih Pondok Halimun sebagai tujuan jalan-jalan yang jarang-jarang ini bukan tanpa alasan. Pondok Halimun adalah salah satu tempat wisata di Sukabumi yang berbasis wisata alam. Harapannya, dengan sedikit berjalan-jalan menghirup udara segar dari pegunungan, pikiran yang selama ini suntuk karena di rumah aja akan lebih rileks.

Wisata alam terbuka dengan lahan yang luas juga tentunya akan memudahkan kami untuk melakukan jaga jarak dengan pengunjung yang lain. Berharap juga sih saat datang kesana tempatnya sepi aja deh! Hehe.

Selain itu, jarak dari rumah kami ke Pondok Halimun hanya sekitar 13 km dan perjalanan kesana menggunakan kendaraan bermotor hanya memakan waktu kurang lebih 39 menit. Cucok banget lah nggak usah jauh-jauh, jadi kalaupun saat disana melihat kerumunan manusia yang tidak manusiawi, kami bisa langsung putar balik. Haha.

Persiapan Sebelum Berangkat

Aku dan suamiku merencanakan keberangkatan kami di pagi hari, tujuannya agar di Pondok Halimun belum ramai dan bisa pulang sebelum siang atau terlalu sore. Sukabumi saat ini tampaknya sudah mulai memasuki musim hujan karena hujan turun hampir setiap hari mulai dari siang hingga sore hari.

Namun, kenyataannya adalah kami baru berangkat pada pukul 10 lewat. Setelah memiliki anak, tentu saja harus menyesuaikan dengan kegiatan anak kecil di pagi hari. Hari itu ia bangun siang, sehingga jadwal sarapan, mandi dan siap-siap pun munduuuur~

Aku berbagi tugas dengan suamiku untuk mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa. Aku mengajak anakku sarapan, mandi dan memasak bekal agar tidak perlu membeli makanan di sana. Suamiku memasukkan barang-barang seperti baju ganti, diapers, kotak bekal dan minuman ke dalam tas.


Setelah semuanya siap, akhirnya kami berangkat menuju Pondok Halimun. Jangan lupa untuk selalu menggunakan masker saat bepergian.

Perjalanan Menuju Pondok Halimun

Kami mengambil rute melewati kota Sukabumi sebelum menuju ke arah Salabintana untuk mencapai Pondok Halimun. Kondisi kota saat itu cukup lengang dan tidak macet. Asyiik, bisa cepat sampai nih!

Udara mulai terasa sejuk ketika kami sudah berada di daerah Salabintana, berbeda sekali dengan udara di kota yang cukup gerah. Bahkan, kami melihat kabut yang mulai turun. Rasa khawatir pun muncul, bagaimana jika nanti turun hujan? Apakah tempat tersebut masih bisa dinikmati?

Segera aku menepis kekhawatiranku akan hujan saat melihat hamparan kebun teh membentang di sisi kanan dan kiri jalan. Wih! Serasa di lembang nih. Langsung teringat masa-masa sering touring naik motor dari Cimahi ke Lembang.

Anakku langsung heboh melihat pemandangan tersebut, ia dengan bersemangat mengatakan, "Wow!" atau "Green..." ketika melihat banyaknya tanaman teh yang hijau-hijau menyegarkan. Refreshing, deh!

Aku dan suamiku menuju Pondok Halimun dengan mengandalkan petunjuk dari Gmaps meskipun sebenarnya petunjuk arah menuju kesana cukup banyak terpasang di beberapa tempat seperti pertigaan atau perempatan jalan.

Setelah menempuh perjalanan yang menanjak dan berkelok-kelok, akhirnya kami sampai pada gerbang depan tempat wisata Pondok Halimun. Kami membayar uang parkir kendaraan sebesar Rp8.000,00 untuk motor. Jika teman-teman datang kesana dengan berjalan kaki, teman-teman tetap membayar uang retribusi sebesar Rp3.000,00 dan jika teman-teman membawa mobil, harga uang parkirnya adalah Rp15.000,00.

Aku pikir setelah masuk ke dalam gerbang tersebut, kami sudah sampai di tempat wisatanya. Ternyata belum, Ferguso! Kami masih harus mengendarai kendaraan hingga kurang lebih 2 Km untuk mencapai kantong parkir dan tiba di pintu utama tempat wisata Pondok Halimun.


Jalanan yang ditempuh untuk mencapai ke pintu utama tempat wisata Pondok Halimun bisa dikatakan zonk! Melewati hutan dengan sisian jurang dan kondisi jalan yang sangat tidak layak lah untuk menuju tempat wisata.

Berbeda dengan jalanan yang kami lewati sebelumnya, akses menuju kantong parkir Taman Halimun belum diaspal dan berbatu-batu juga berlubang-lubang. Hadeeeh~

Setelah melewati perjalanan yang cukup membuatku was-was tersebut, akhirnya kami tiba juga di kantong parkir tempat wisata Pondok Halimun. Langsung saja suamiku memarkirkan kendaraan roda dua kami persis di depan pintu masuk.

"Main Sungai" di Pondok Halimun

Sebelum masuk ke dalam tempat wisata Pondok Halimun, pengunjung harus membeli tiket masuk seharga Rp2.500,00 per orang. Mursidah banget! Karena anakku masih piyik maka tidak dihitung sehingga aku berdua suamiku membayar tiket masuk Rp5.000,00.

Di jendela tempat penjualan tiket aku membaca pengumuman "Area Wajib Mengenakan Masker dan Pengecekan Suhu Tubuh". Nyatanya, tidak ada petugas yang melakukan pengecekan suhu tubuh dan beberapa orang yang berlalu lalang di sana tidak mengenakan masker. Kraaaay~

Pondok Halimun Sukabumi
Gerbang Utama Pondok Halimun, Sukabumi

Hal pertama yang aku pastikan saat masuk ke dalam tempat wisata Pondok Halimun adalah, "Rame nggak, nih?" Haha. Alhamdulillah, saat itu pengunjung belum terlalu ramai meskipun gazebo-gazebo yang tersedia di sana sudah penuh terisi oleh pengunjung yang datang lebih pagi.

Salah satu alasan aku pergi ke Pondok Halimun adalah untuk mengajak anakku bermain air di sungai yang terdapat di sana. Aku yakin sekali dia akan senang dan keyakinanku ini benar adanya. Melihat air sungai yang mengalir di antara bebatuan, anakku berteriak-teriak, "Main ungai... Main ungai...".

Pemandangan di Pondok Halimun terlihat alami dan asri dimana ada sungai yang mengalir dan dikelilingi oleh pepohonan hutan yang hijau. Di satu sisi terlihat sederet gubuk-gubuk dari kayu yang isinya penjual makanan. Di sisi lain, teman-teman akan menemukan beberapa spot yang diisi dengan aneka permainan anak. Ada perosotan, ayunan dan mainan-mainan seperti yang ada di taman kanak-kanak.

Pondok halimun sukabumi
So refreshing!

Anakku yang tidak berhenti mengatakan main ungai-main ungai itu sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk main air. Akhirnya kami memilih lapak untuk duduk dan menaruh barang-barang kami di dekat sungai yang letaknya agak paling ujung supaya bisa berjauhan dengan pengunjung lain. Kami menyewa tikar seharga Rp20.000,00 untuk sepuasnya, tikar ini dijajakan oleh para pedagang yang berdagang di gubuk-gubuk yang sebelumnya telah aku sebutkan.

Sebelum main air, kami menyantap bekal terlebih dahulu. Supaya anakku energinya kembali terisi dan tidak masuk angin karena sudah pasti air sungainya akan dingin sekali.

Pondok halimun sukabumi
Forever travel mate ❤


Akhirnya saat yang dinantikan anakku tiba, setelah makannya cukup banyak, aku mengganti bajunya dengan baju kaos dan celana pendek supaya lebih santai. Ia dan suamiku kemudian turun ke sungai dan bermain di sana.

Nggak usah ditanya lah ya bagaimana senangnya anak-anak jika diajak main air. Biarpun airnya dingin, ia betah dan tidak mau disuruh berhenti. Haha. Aliran sungai saat itu tidak terlalu deras namun tidak juga terlalu pelan. Meskipun demikian, anak-anak wajib dalam pengawasan orang tua saat bermain di sungai.

Pondok halimun sukabumi
His face shows happiness

Aku menghabiskan waktuku untuk memfoto dan merekam kegiatan anakku dan suamiku di sungai. Aku sendiri enggan untuk membasahi diri karena tidak membawa baju ganti. Selain itu, rempong dan takut juga lah pasti ganti baju di tempat umum! Suamiku sendiri menggulung celana panjangnya sehingga tidak basah terkena air sungai.

Aku menunggu mereka asyik bermain air di sungai dengan mengambil beberapa foto pemandangan di Pondok Halimun, tidak lupa juga untuk berswafoto di pinggir sungai. Hehe.

Pondok halimun sukabumi
Akhirnya punya foto selfie lagi

Setelah selesai bermain air, aku kembali mengganti pakaian anakku dan duduk-duduk santai lagi di tikar yang sudah kami sewa tadi. Tiba-tiba, hujan turun! Mulanya rintik-rintik lalu berubah menjadi deras seketika. Aku dan suamiku pun bergegas untuk mencari area teduh.

Ternyata, ibu yang menyewakan tikar pada kami menjemput kami dan mengajaknya untuk duduk di gubuk tempat ia berjualan. Kekhawatiran kembali datang, bagaimana kalau di sana ramai? Pasti semua orang ingin berteduh juga.

Pondok halimun sukabumi
Berteduh di kala hujan

Alhamdulillah, di tempat kami duduk dan berteduh tidak ada orang lain selain aku, suami, anakku dan ibu serta seorang anak perempuan yang menjaga dagangan ibunya.

Mereka menjual makanan ringan seperti gorengan dan mie kemasan dalam cup, juga berbagai minuman seperti kopi dan teh hangat. Sembari menunggu hujan reda, aku beserta suami dan anakku menyantap beberapa buah gorengan seharga Rp1.000,00 per buah.

Setelah hujan reda, tampak pengunjung yang datang ke Pondok Halimun semakin ramai dan tempat tersebut semakin padat. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.

Rekomendasi

Pondok Halimun adalah salah satu tempat wisata berbasis wisata alam yang patut untuk teman-teman kunjungi jika berkunjung ke Sukabumi. Pemandangan alamnya yang asri disertai dengan sungai yang menghiasi sepanjang Pondok Halimun membuat teman-teman bisa lebih rileks setelah menghirup segarnya udara pegunungan.

Jika teman-teman ingin berwisata ke sini, sebaiknya menyiapkan bekal sendiri dari rumah serta membawa alas duduk atau tikar milik sendiri supaya lebih hemat. Di sana, teman-teman juga bisa memilih tempat piknik di gazebo yang memiliki atap jika tidak ingin duduk di bawah atap langit langsung.

Di saat pandemi seperti ini tentunya teman-teman wajib mengenakan masker ya. Jangan lupa untuk menjaga jarak dan selalu membersihkan tangan. Sepulangnya dari Pondok Halimun, jangan malas untuk bersih-bersih diri sebelum melakukan aktivitas lain 😉

Begitulah pengalamanku berwisata ke Pondok Halimun, Sukabumi. Semoga informasinya bermanfaat bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke sini.

Terima kasih.

Sukabumi, 19 November 2020

Posting Komentar

34 Komentar

  1. Adu...adu...aduu...enak banget bisa main di sungai.
    Aku pikir tapi airnya hangat loo...hehe...kan banyak tuh sumber air panas di Sukabumi.
    Ini alirannya cukup deras yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya, tapi kami belum berani lah mandi di pemandian air panas mbaleenn. Iya lumayan deras karena disini sudah sering hujan..

      Hapus
  2. Seger banget kayaknya. Tulisannya bagus banget Kak, serasa ikut piknik ke sana 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Nulisnya sambil ngebayangin lagi waktu jalan2 kesana soal'y, jd berasa nyata yak 😅

      Hapus
  3. Kebun teh oh kebun teh. Sebelum membaca ini, aku baru saja bilang ingin ke kebun teh karena belum pernah sama sekali. Ternyata disebut-sebut disini hehehe

    Seru ya main air di sungai. Bocah girang ketemu air.

    Jadi kangen kampung halaman 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya udh lama akupun gak lihat kebun teh mba asri. Pulang kampung mbaa nunggu koronce kabur dulu biar sehat2 selalu..

      Hapus
  4. Harga tiket masuk dan gorengan yang dijual murah bener...Dan masih alami ya, seger bisa main di sungai. Sejenak refreshing deh piknik tipis-tipisnya sukses ini. Mana deket dari rumah ya. Bisa jadi referensi nih Pondok halimun kalau saya lagi ke Sukabumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh mba dian, jgn lupa kontak2 kalau ke sukabumi ya. Hehe..

      Hapus
  5. Kebayang deh, pasti dingin banget ya airnya. Mana hujan lagi. Semoga sehat selalu.

    BalasHapus
  6. Wah kalo ke sukabumi, harus mampir nih ke sini.

    BalasHapus
  7. Wah benar2 murah meriah ya mbak Ima, apalagi pemandangannya oke banget. Ada sungainya juga, wah seru banget ini pondok halimun. Memang pilihan untuk refreshing di alam terbuka lebih aman ya karena tempatnya luas dan sirkulasi udara lebih lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba, selain karena lebih memungkinkan utk social distancing, d sukabumi juga memang kebanyakan wisata alam. Hehe..

      Hapus
  8. wuah asik sekali
    sekali seumur hidup harus ke halimun nih
    segeeeeeeer banget
    bisa main air di sungai

    BalasHapus
  9. wahh seger itu main air di sungai yamg sejernih itu
    udaranya pasti sejuk ya mbak, bener bener bikin refreshing ya klo main kesini

    BalasHapus
  10. Aaakkk serunyaaaa bisa berwisata alam.
    Daku juga mau bangeett nih
    Semoga pandemi segera bubaaarrr
    mau banget main2 ke sukabumi

    BalasHapus
  11. hai mbak ima, tinggal di sukabumi sebelah mana? rumah mamahku di parungseah dekat selabintana yuk kapan2 meet up

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya di cibeureum, mba. Wahh boleh banget nanti kalau ke sukabumi berkabar yaa..

      Hapus
  12. Seru banget liburannya, eksplor alam, udah gitu murah meriah lagi. Udah lama juga aku gak ke salabintana. Sudah banyak yang berubah kali y.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, mungkin saja mba. Kapan terakhir kali ke salabintana mba?

      Hapus
  13. Hehe mursidah banget ya Mbak, masuk bertiga cuma goceng udah bisa main sungai di Pondok Halimun, Sukabumi. Si dedek jug masih kecil gratis dong... duhh kapan yaa bisa ikutan ke sini jugaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa berkesempatan untuk berkunjung ke sukabumi ya mba sekeluarga..

      Hapus
  14. Persamaannya dengan tempat wisata di daerahku sini adalah adanya air dan gazebo yang mengelilinginya mbak Ima, tapi ada satu perbedaan yang sangat besar, terkait air. Kalau didaerah mbak Ima sana sungguh airnya jernih kalau didaerahku sini, kotor sangat bahkan kaya ampas kopi, huhuhu. Pantai disini bahkan begitu mbak Ima.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serius mbaa? Haduhh, sayang sekali yaa pdhal kalau dijaga bisa jd potensi tempat wisata juga ya..

      Hapus
  15. Keren.. Saya selalu kagum sama yang punya blog traveller.
    Terakhir kali ke Salabintana sudah 10 tahun lalu.. tambah bagus ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ya mbaa udh 10 tahun berlalu, soal'y saya warga baru nih d sukabumi. Baru 1 tahun ini tinggal d sukabumi, jd gbsa bandingin dg 10 tahun lalu..

      Hapus
  16. Seru jugaya mba. Anak anak suka main di sungai. Emang ya mba, setelah menikah dan punya anak, jadi Males nyebut atau basah basahan saat bepergian. Males rempong hehe

    BalasHapus
  17. jadi ingat sekitar tahun 2010 pernah ke Sukabumi buat nganterin teman yang nikah di sana. Bukannya jalan-jalan di Sukabumi kami malah ke Bandung yang perjalanannya 4 jam. hihi

    BalasHapus
  18. Anak-anak kalau lihat sungai yang jernih gitu pasti pengin banget mainan di situ ya. Tapi sayangnya kok ga ada petugas yang cek kedatangan pengunjung ya. Dicek suhu dan penggunaan maskernya juga.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍