Mengenal Histrionic Personality Disorder dan 4 Penyakit Mental Lainnya

By Imawati A. Wardhani - September 04, 2020



Sebentar lagi, buku antologi bertemakan mental illness yang berjudul PULIH insha Allah akan segera terbit. Saat ini, antologi dimana aku menjadi salah satu kontributornya ini sedang dalam masa PRE-ORDER sampai tanggal 16 September 2020.

Ketertarikanku sejak awal untuk ikut berkontribusi menjadi penulis antologi ini bukan tanpa alasan. Jauh sebelum ada project menulis dan seleksi penulis antologi mental illness, aku memiliki beberapa pengalaman mengenal orang-orang yang menderita gangguan kejiwaan.


Oleh sebab itu, saat ada informasi mengenai seleksi untuk menulis antologi dengan tema mental illness aku langsung tertarik untuk bergabung. Meski bukan pengalaman pribadi, aku ingin pembaca sadar bahwa kesehatan mental itu sangat penting dan penyakit mental seringan apapun tidak bisa dianggap sepele.

Aku sendiri bukanlah orang dengan latar belakang pendidikan psikologi, aku tidak memiliki pengetahuan lebih mengenai penyakit yang terkait dengan kejiwaan. Oleh sebab itu, sebelum menulis cerita dalam antologi ini aku melakukan banyak riset dan membaca.

Alasan lain mengapa aku tertarik terjun dalam antologi mental illness adalah karena aku merasa pernah sampai pada titik dimana kesehatan mentalku terganggu bila aku tidak melakukan penyelamatan diri dengan segera.


Setelah kepergian ayahku bulan Maret lalu, aku merasa sangat terpukul dan begitu kehilangan. Di depan ibu, adik-adik dan keluargaku mungkin aku terlihat tegar hingga ada salah seorang mengatakan kalau aku tidak tampak begitu sedih.

Dibalik itu semua, sering kali aku melamun dan menangisi kepergian beliau yang begitu aku sayangi. Sebagai inspirasi dan motivasiku menjalani hidup, tentu saja aku merasa sangat kehilangan panutan. Kadang vertigoku sampai kambuh ketika mengenang beliau.

Aku juga sempat merasa ketakutan dan berulang kali flashback ke kejadian saat ayahku berpulang ketika malam minggu tiba. Tidak bisa tidur hingga lewat tengah malam, melamun dan terus-terusan kembali ke malam minggu terburuk dalam hidupku itu.

Lambat laun, aku mulai bisa menerima kenyataan dan terus melanjutkan hidup meskipun hingga saat ini masih merasa ada sesuatu yang kosong dalam diriku. Aku mencoba bangkit dari rasa kehilangan yang mendalam dengan menyibukkan diri dan melakukan hal-hal yang dapat membuat ayahku merasa bangga pada putrinya ini. Salah satunya adalah dengan kegiatan menulis seperti ini.

Setelah teman-teman membaca antologi PULIH nanti, teman-teman akan sadar bahwa di luar sana ternyata banyak sekali penderita penyakit mental yang dari casing-nya terlihat baik-baik saja.

Sekarang, kita berkenalan dulu yuk dengan beberapa penyakit mental yang sebenarnya banyak ditemukan di masyarakat namun penderitanya sering tidak dianggap sakit dan terlambat diberi pertolongan :

Skizofrenia

Ingat sekali waktu kuliah tentang obat-obatan penyakit kejiwaan, dosenku bercerita bahwa pernah ada salah satu mahasiswa yang menderita Skizofrenia. Saat memasuki salah satu ruang kelas, ia akan berteriak histeris dan menjadi tidak terkendali akibat ketakutan karena ia melihat banyak sekali darah berceceran di lantai dan langit-langit kelas.

Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Penderita penyakit ini akan mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir dan perubahan prilaku. Penderita skizofrenia sering kali tidak bisa membedakan antara kenyataan dan pikirannya sendiri.

Penyakit ini dapat terjadi karena faktor genetik dan juga faktor ketidakseimbangan antara kadar dopamin dan serotonin di dalam otak. Namun, bisa terjadi karena faktor eksternal juga seperti depresi yang berkepanjangan.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Gangguan mental ini ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Kondisi ini bisa berlangsung dalam hitungan bulan atau bahkan tahunan jika ada pemicu yang dapat membuat penderita kembali mengingat trauma yang ia alami.

Adapun peristiwa traumatis yang bisa memicu terjadinya PTSD seperti korban kekerasan, pelecehan seksual, bencana alam, kecelakaan atau kehilangan orang-orang terdekat.


Dari sebuah sumber berita yang aku baca, penderita PTSD di Indonesia jumlahnya mencapai 2 juta orang per tahun, loh! Gangguan mental ini termasuk yang sangat sering terjadi di masyarakat, Indonesia pada khususnya.

Baby Blues Syndrome

Seorang teman pernah bercerita dan meminta saran untuk saudaranya yang sedang mengalami baby blues syndrome pasca melahirkan di tengah pandemi.

Saudara temanku terus-terusan menangis, tidak ingin melihat anaknya, ketakutan kalau ia terjangkit Covid-19 dan mengalami insomnia hingga tidak bisa tidur beberapa hari. Ia juga berniat untuk mengakhiri hidupnya hingga harus diawasi secara ketat oleh keluarganya.

Baby Blues Syndrome adalah gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan. Gangguan ini ditandai dengan kondisi cepat marah, merasa sedih terus menerus, gelisah dan susah berkonsentrasi.

Adapun hal yang dapat menyebabkan baby blues adalah perubahan hormonal, masa adaptasi sebagai ibu baru dan kurangnya istirahat. Sedangkan hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya baby blues syndrome adalah support penuh dari anggota keluarga yang lain.

Apabila gangguan ini berlanjut dan berkepanjangan, sebaiknya penderita langsung dibawa ke psikolog atau psikiater agar segera ditangani.

Histrionic Personality Disorder

Histrionic diartikan sebagai dramatis atau teatrikal. Adapun penyakit kejiwaan ini ditandai dengan seseorang yang senang untuk menjadi pusat perhatian pada taraf ekstrim. Drama banget!

Penderitanya akan selalu mencari perhatian dan berprilaku dramatis agar perhatian orang lain tertuju padanya. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Penderita histrionic personality disorder cenderung memiliki emosi yang tidak stabil. Mudah marah saat tidak diperhatikan orang lain dan bangga jika diberikan pujian dari orang lain.

Dari yang aku baca, salah satu penyebab dari gangguan mental ini adalah karena pengasuhan dari lingkungannya yang mana sejak kanak-kanak ia tidak terbiasa menerima kritikan dan selalu dibenarkan.

Narcissistic Personality Disorder

Gangguan kepribadian narsistik termasuk jarang terjadi di Indonesia dengan kasus tercatat sekitar 150 ribu per tahun. Tapi, aku memiliki seorang kenalan yang anggota keluarganya mengalami gangguan kepribadian ini.

Sepertinya, penderita gangguan kepribadian narsistik lebih banyak dari jumlah yang tercatat. Namun, sering kali gangguan kepribadian ini tidak dianggap dan dianggap sebagai karakter atau sifat bawaan seseorang.

Penderita narcissistic personality disorder akan menganggap diri mereka maha penting dibandingkan dengan orang lain. Gejala yang ditunjukkan adalah adanya kebutuhan ingin dipuji secara berlebihan, sering mengabaikan perasaan orang lain, tidak sanggup menerima kritikan dan merasa berhak atas segala yang diinginkan.

Lagi-lagi pola pengasuhan yang kurang tepat dapat menyebabkan seorang anak tumbuh dewasa dengan gangguan kepribadian seperti ini. Terlalu memanjakan anak, memiliki ekspektasi berlebih terhadap anak atau bahkan perlakuan kejam dan sering mengabaikan anak dapat menjadi faktor penyebab gangguan kepribadian narsistik.

Bagaimana teman-teman, apakah punya pengalaman memiliki kenalan seseorang dengan ke-5 gangguan jiwa diatas? Kalau teman-teman ingin tau cerita lebih banyak mengenai mental illness serta jalan yang ditempuh para penderitanya untuk sembuh, teman-teman bisa membacanya di antologi PULIH.

Saat ini PULIH masih dalam masa PRE-ORDER dan dalam kurun waktu seminggu lebih sedikit sudah terjual nyaris 200 eksemplar. Yuk ikutan PO!

OPEN PO PULIH
(26 Agustus 2020-16 September 2020)



Judul: Pulih
Tebal: 306 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
ISBN: 978-623-7841-76-0
Terbit: Agustus 2020
Harga normal: Rp 100.000,-
Harga PO: Rp 95.000,-

Pemesanan antologi PULIH bisa langsung melalui via Whatsapp ke nomor 082136516493. Terima kasih.

Sukabumi, 5 September 2020

  • Share:

You Might Also Like

37 komentar

  1. Waduh ternyata banyak juga ya penyakit kejiwaan ini! Mungkin bagi orang yang menderita buat mengatakan ini tuh rasanya tabu. Terus gimana atuh ya, secara biasanya kalau ngajak ke psikiater gitu pada nggak mau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, kalau nggak sadar dirinya sakit atau udah tau sakit tp lingkungan'y tdk mendukung dy utk pulih ya susah ya. Hiks. Banyak juga loh yg masih berpikir mental illness itu harus d bawa k dukun bukan psikiater 😕

      Hapus
  2. Buku yang menarik, pasti membaca banyak kisah histrionic personality menjadikan kita mendapat hikmah dan pembelajaran dari sana.
    Aku ada keponakan, sekolah lancar, dapat beasiswa, soleh, pintar...pas kerja ditempatkan jauh dari rumah, tahun kedua dipulangkan dalam keadaan depresi. Kini hidup seperti kelelawar, pagi sampai malam tidur, malam bangun, Susah mandi, makan ga karuan, diam saja, susah respon sama orang, dan dalam perawatan RSJ. sayang sekali lihatnya, sedih saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baca'y aja sedih Mba, apalagi yg kenal langsung ya :( itulah kenapa kita gak bisa judge a book by its cover. Dr luar terlihat sehat, tp dalam jiwa'y butuh pertolongan

      Hapus
  3. Histrionic Personality Disorder, nih kayaknya ada beberapa content creator yg kayak gini nih.
    Tapi emang susah membedakannya dgn "banci tampil" kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin begitu, kalau kenal2 gitu doang nggak akan tampak. Tp klo udh kenal baik bahkan mgkn satu keluarga pasti kelihatan "beda"nya Mba..

      Hapus
  4. Wah ternyata banyak juga ya jenis gangguan kejiwaan. Lebih parahnya lagi kalau si penderita tidak sadar akan penyakit yang di derita ya mbak, bisa jadi boomerang bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mba, yang gak tau kalau dirinya sakit jadi kasihan karena gak dapat penanganan yang tepat ya

      Hapus
  5. Aku baru tahu untuk tipe yang dua dari bawah mb, ternyata ada yang histrionic personality dan narsistik itu. Aku juga ngiranya bawaan karakter dan itu biasa aja. Menarik banget pengetahuan dari tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe terima kasih, mba. Ternyata terlalu narsis juga gak bagus ya, malah jd penyakit..

      Hapus
  6. skizofrenia ini aku langsung teringat drakor It's Okay That's Love. Dan dari drakor ini pun aku jadi paham kalau mental illness ini banyak macamnya.
    Sukses untuk buku antologinya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, mba. Iya, saya juga nonton drama jo in sung yang itu. Hehe

      Hapus
  7. saya ucapkan selamat buat mbak anis, bisa berkontribusi dengan ibu² kece IIDN dalam penulisan buku PULIH ini.Keren mbak anis! Semoga buku ini bisa menebar manfaat ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih ya mba. Aamiin, semoga bermanfaat utk yg membaca nanti

      Hapus
  8. Masya Allah, ada beberapa yang aku baru tahu, seperti Narcisstic Disorder, jangan-jangan kenalan-kenalanku bisa jadi terkena. Benar, kesehatan mental itu penting. Semoga buku Pulih-nya laris ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba d amati aja mba, biasa'y tp dy menyangkal dan gak terima klo d cap seperti itu. Hehe. Aamiin, terima kasih..

      Hapus
  9. sebelumnya selamat ya mbak ima atas terbitnya buku antologi pulih ini. mental illness ini memang happening bgt ya beberpaa tahun belakang ini, smp2 beberapa filmnya jg mengkisahkan brbrp penyakit di atas. aku inget drakor yg lg on going skrg. ibunya kena nartistic illness itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh drakor apakah judul'y mba? Aku jd penasaran. Iya skrg baru happening, pdhal sudah dr dulu penyakit seperti ini ada d masyarakat. Cuma stigma'y negatif terus sama org2 sakit jiwa..

      Hapus
  10. Gangguan kejiwaan bisa dialami siapa saja dan bermacam tingkatannya. Masalahnya adalah stigma gangguan kejiwaan dianggap sama dengan gila atau tidak waras. Padahal sama halnya seperti penyakit fisik, bisa dipulihkan. Makanya orang kalau stres hingga depresi lebih sering supresif, dipendam. Akhirnya meledak atau menimbulkan gangguan kejiwaan. Stigma inilah yang harus diubah. Temanku ada yang kantornya mengubah stigma ini. Kantornya memberikan keleluasaan bagi karyawannya untuk ambil day off sehari di luar hari libur yang sudah ia terima, jika merasa tertekan. Nah, mestinya tempat lain juga seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahhh alhamdulillah ada kantor yg seperti itu. Gak hanya memberikan pressure pada karyawan'y dan menuntut tugas2 selesai dg deadline ttt ya mba.. Belum tentu semua org mampu bekerja dlm situasi sprt itu

      Hapus
  11. Aku baru tau ternyata banyak juga macam penyakitnya ya, biasanya yang paling sering dengar baby blues syndrom. Alhamdulillah saat melahirkan dan pasca melahirkan masih ditemani keluarga, jadi jangan sampai mengalami ini. Efeknya berat juga ya,Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba bisa terhindar dr baby blues. Banyak sebenar'y yg mengalami baby blues cuma kdg gak mau ngaku ya..

      Hapus
  12. Ternyata penyakit kejiwaan ada banyak jenisnya ya mbak. Kadang nggak disadari juga oleh masyarakat ya, jadinya dianggap sepele. Tapi untuk menentukan seseorang mengidap penyakit kejiwaan, tetep harus konsultasi dengan ahlinya ya. Menarik banget tulisannya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gak bisa asal judge seseorang sakit atau tidak. Tentu harus berdasarkan diagnosa ahli'y, spya pengobatan'y pun tepat.

      Terima kasih, mba..

      Hapus
  13. Suka buku-buku bergenre psikologi begini. Kehilangan orangtua memang selalu jadi pukulan terberat bagi anak-anak ya. Saya pun sampai detik ini rasanya masih ngilu kalau ingat ibu sudah tiada. Meski sudah move on.. tapi tetap saja ada rasa kosong di hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, crta dr teman2 saya yg sdh d tinggal ortu'y bertahun2 pun tetap rasa duka itu selalu ada dan tetap ada rasa hampa dlm dirinya..

      Hapus
  14. Ahh pasti buku ini sangat inspiratif, bisa saling mengobati luka batin ya

    BalasHapus
  15. Tahunya gila aja. Ternyata banyak macamnya ya. Dan penyebab juga bisa banyak.
    Senang ya bisa mendalami masalah seperti ini bikin nambah wawasan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sbg penulis ini pengalaman baru. Hehe..

      Hapus
  16. Memiliki orang-orang yang mengerti dan memahami situasi mental kita biasanya akan sangat membantu dalam proses penyembuhan ya mba... Buku ini sepertinya sangat inspiratif dan semoga bisa menjadi bacaan yang dinanti dan berguna..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih doa baiknya mba, semoga bisa menebar kebaikan melalui buku ini..

      Hapus
  17. Jadi nambah wawasan baca ini tentang jenis2 gangguan kejiwaan. Banyak sekali ya mba penderita ptsd itu. Dan pengidap narsistik itu arti yg sebenarnya bukan sekedar tampil dan majang foto2 diri,lebih dari itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mba, tingkat kriminalitas di indo kan cukup tinggi tuh. Nah biasa'y korban'y mengalami ptsd itu mba. Bisa juga karena bencana alam dsb..

      Hehe, narsistik yg sebenarnya ternyata ngeri ya mba?

      Hapus
  18. Buku yang menarik. Membahas tentang trauma memang selalu banyak cerita. Butuh penguatan pastinya. Buku ini bisa jadi kado untuk orang-orang yang mencari pegangan hidup karena mengalami tekanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget, bisa untuk saling menguatkan dan mengingatkan teman2 yg butuh pulih mba

      Hapus
  19. Sy sprtnya tmasuk PTSD deh, sering lht kecelakaan jd kalau d bonceng motor jd stress gitu akhirnya jd bawel sm ojolnya

    BalasHapus