Dari Sebuah Cerita, Aku Butuh Kepastian

By Imawati A. Wardhani - Juli 12, 2020


Satu hal yang dari dulu membuatku sebal adalah terlalu lama menunggu. Sejak kecil, ayah sudah mendidik agar aku tumbuh menjadi anak yang disiplin terutama terhadap waktu.

Ingat sekali pada waktu mungkin saat itu usiaku kurang dari 10 tahun, ayah memberikan pesan pada aku dan adikku yang kerap berangkat sekolah kesiangan karena kami bangun terlalu siang.

"Sekarang kalian belum mengerti apa pentingnya bangun pagi, berangkat sekolah nggak terlambat, makan harus di meja makan. Tapi kalau kalian sudah besar (dewasa), kalian baru sadar kalau disiplin itu penting!"

Jengjreeng, kata-kata itu ngena banget bahkan masih aku ingat sampai detik ini. Aku pun sedikit demi sedikit belajar untuk menjadi seorang yang disiplin terutama terhadap waktu.

Setelah dewasa, aku jadi tidak suka bila disuruh menunggu terlalu lama. Janjian jam sekian, datangnya entah terlambat berapa lama. Aahh, mengesalkan sekali. Meskipun orang Indonesia terbiasa menyebutnya dengan jam karet. Ya sekaret-karetnya jangan melar terlalu jauh juga kali.

Menunggu membuatku tidak tenang, membuatku gusar dan merasa tidak mendapat kepastian. "Iya, aku otewe. Tungguin sepuluh menit lagi," lalu orang yang janjian denganku datang setengah jam kemudian.

Yaa selama 20 menit sejak 10 menit berlalu aku terus bertanya-tanya apa yang terjadi dijalan sampai membuatnya terlambat (lagi)? Apa dia baik-baik saja? Ban motonya kempes kah? Ditilang kah? Banyak pertanyaan yang membuat hati dan pikiranku tidak tenang.

Sama halnya dengan ketika ayahku keluar masuk rumah sakit. Jarak jauh yang memisahkan aku dan keluargaku membuatku tidak bisa begitu saja terbang ke Jogja untuk segera menemui ayahku dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Sesampainya di Jogja pun, aku tidak bisa langsung meluncur ke rumah sakit namun harus menunggu seseorang bisa bergantian menjaga anakku di rumah. Saat kondisi ayahku semakin kritis, aku pun harus merelakan saat-saat kepergian ayahku dengan menunggu di rumah. Berdua saja dengan anakku.

Aku menanti kepastian dengan perasaan campur aduk, apakah ayahku masih bisa bertahan atau semua akan berakhir menjadi duka di hari itu. Hari-hari sebelumnya pun aku terus kepikiran tentang bagaimana kondisi ayahku di rumah sakit? Spoiler dari adik-adik dan ibukku tidak membuatku tenang sampai aku mengetahui akhir dari perjalanan ayahku di rumah sakit.

Baca tentang : Trauma Malam Minggu

Masih sempat aku membereskan kamar orang tuaku, mengganti seprai dan sangat berharap ayahku dapat pulang ke rumah dengan kondisi yang lebih baik. Ternyata, akhir ceritanya aku harus mengalami juga yang namanya menjadi anak yatim. It wasn't a happy ending for us (me and my family) but maybe that's the best for my father.

Mungkin analoginya agak sedikit lebay. Namun, menunggu akhir cerita dari sebuah drama Korea juga membuatku tidak sabar sama halnya dengan di kehidupan sebenarnya. Padahal ini drama doang loh!

Aku tidak tau pasti apakah drama atau film tersebut akan berakhir bahagia atau duka? Berhubung aku tidak suka dengan cerita yang berakhir dengan air mata alias sad ending, aku lebih memilih menunggu drama tersebut tuntas hingga episode terakhir. Tujuannya untuk memastikan bahwa ceritanya berakhir bahagia.

Bukan hanya itu, aku juga menghindari cerita-cerita sedih berlatar belakang keluarga. Hubungan antara orang tua dan anak, kakak dan adik, suami dan istri, semua yang berhubungan dengan kisah keluarga yang sepanjang film membuat keran air mata bocor. Bhay!
Aku juga tipe yang mencari tau mengenai film atau drama yang ingin aku tonton sebelumnya. Hampir semua drama yang aku tonton PASTI minta spoiler dulu sana sini, terutama tentang bagian akhir ceritanya.

Menonton drama ongoing Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo (2016) membuatku cukup berpikir ulang untuk mengikuti serial ongoing. Setelah mengikuti sekian episode berdarah-darah, penuh konflik dan air mata,  kisah cintanya berliku-liku, endingnya ternyata begitu. Hhzzz..

Drama lain yang pernah aku tonton ongoing Endless Love (2000), dulu mana tau lah itu cerita berakhir duka karena menonton di televisi swasta. Menontonnya pun karena rekomendasi dari teman-teman sekolah yang katanya dramanya seru banget!

Ada juga W - Two Worlds (2016), drama yang seru dan bikin penasaran di episode-episode awal namun semakin lama semakin absurd hingga episode terakhir (pendapat pribadi). Padahal aku suka loh drama berbasis imajinasi tingkat tinggi seperti itu dan terlalu berekspektasi pada cerita akhirnya. Judul lainnya? Tidak ingat, saking jarangnya nonton drama ongoing.
Tak apalah aku tidak menjadi yang ter-update dalam hal menonton drama Korea, silakan yang lain memberi komentar terlebih dulu tentang suatu drama yang sedang tayang. Bagus malah kalau teman-temanku memberi sedikit-sedikit bocoran tentang drama tersebut. Sehingga setelah dramanya tamat, aku bisa memutuskan apakah akan menontonnya atau tidak.

Entahlah, mungkin aku yang terlalu menjiwai suatu drama atau serial yang aku tonton. Tapi, bagiku menonton adalah suatu hal yang dilakukan sebagai kegiatan hiburan. Ya, harus menghibur dan bukan membawa rasa penasaran berhari-hari apalagi menahan duka ketika akhir ceritanya tidak bahagia.

Jadi, aku lebih memilih menonton sesuatu yang sudah jelas dan pasti bagaimana ceritanya dari awal hingga akhir. Memilih menonton drama yang jelas recommended, memiliki cerita menarik dan ending bahagia.

Jadi, kesimpulan dari topik ke-15 dalam Kdrama Writing Challenge yaitu kamu tim drama ongoing atau completed? Obviously completed. Aku selalu suka di-spoiler-in dan selalu butuh kepastian akan akhir kisahnya. Haha.

Sukabumi, 13 Juli 2020

  • Share:

You Might Also Like

10 komentar

  1. Dulu sebelum jadi ibu, selain tema fantasi, aku senang sekali dengan buku, drama, film atau apapun yang berakhir tragis alias sad ending. Makanya Endless Love itu jadi favoritku. Rasanya begitulah seharusnya hidup. Semua manusia pada akhirnya akan pergi.

    Tapi sekarang aku gak suka lagi yang sad ending. Entah knp 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihh ngerinyaa mba asri. Aku sih gara2 cengeng tp gak mau terlihat cengeng, jd jauh2 aja deh sama yg sad2an. Wkwk..

      Hapus
  2. Wkkwkw...dimana banyak orang yang gasuka spoiler, kak Ima lebih senang mencari tahu dulu.
    Good job.
    Jadi lebih siap mentally yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bener mba leen, berhubung gak bisa meramal masa depan jd lebih seneng klo udh tau duluan sebelum nonton. Wkwk..

      Hapus
  3. Yoh toss dulu lah kita. Cuma aku emang dulunya tim on going tapiii karena kesibukanlah aku beralih jadi tim maraton aja.


    Asyik nih kalau janjian sama Mbak Ima, mesti on time orangnya. Samaan lagi dong kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang aku tim semampunya, Mba. Udah gak kuat marathon lagi. Bisa jd zombie pagi2'y. Wkwk.

      Iya e, dulu waktu SD inget bgt terlambat terus nangis. Haha. Etapi ada masa2 aku jd rebel juga sih, jaman kerja malah santuy bgt mess deket kantor. Jd klo brgkt mepeeett..

      Hapus
  4. HA-HA-HA 🙈 ternyata ada yaa yg sesabar Mba Ima tidak mau jd Tim on going, daebak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi dong, kalem weh sambil baca spoiler2 d grup 🤭

      Hapus
  5. Nonton on going emang berasa kalo digantung ya mbak..
    Menunggu tanpa kepastian, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa udh gitu digantung'y pas d adegan yg memacu adrenalin. Waw banget..

      Hapus