Punya Toddler? Anda Tidak Boleh Lengah!

By Imawati A. Wardhani - Juni 15, 2020


Di suatu siang yang cerah, weekend, waktu yang pas untuk bersantai. Aku sedang sibuk mengulik laptop sementara anakku sibuk mengekor bapaknya kesana kemari. Untuk mencoba mengatasi si bayik 1,5 tahun yang kalau makan sekarang lagi picky dan tricky, aku dan suami memilih untuk memesan makanan daripada memasak.

Baca tentang : Feeding Frenzy

Setelah menunggu beberapa waktu, datanglah si Abang GoFood mengantarkan makan siang kami. Suami yang mengambil makanan kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk meletakkan makanan kami di meja, namun ia lupa menutup pintu depan.

Tidak sampai hitungan menit terdengar suara BRAAKK!!! Diikuti oleh jerit tangis anak kami. Spontan aku berlari keluar dan suamiku sudah menggendong anak kami yang masih menangis. Ternyata, ia begitu excited melihat pintu rumah terbuka dan meluncur ngebut dengan motor-motorannya hingga hilang keseimbangan, terguling lalu menabrak pagar. HADUUHH! Untungnya tidak ada luka ataupun memar setelah aku memeriksa kepala dan badannya.

Memiliki bayi apalagi toddler mempuat orang tua harus selalu mengawasi tindak tanduk anak-anak mereka. Lengah sedikit kadang terjadi hal-hal diluar kemampuan kita seperti anak makan segala sesuatu yang ia lihat, mainan hal berbahaya seperti colokan listrik atau kejadian seperti anakku tadi. Bikin khawatir saja!

Kenapa ya bocah-bocah cilik itu senang sekali berbuat sesuka hati yang kadang bikin bapak ibunya geleng-geleng kepala? Simak beberapa alasannya berikut :

1. Fase Eksplorasi

Pada masa-masa awal hidupnya, dari bayi sampai menjadi bayi gede alias toddler mereka sedang berada di fase bereksplorasi. Selalu tertarik dengan apa yang dilihat dan dikerjakan oleh orang-orang disekitarnya.

Tidak tau apa yang ada di dalam isi kepalanya, namun sepertinya keinginan untuk mengeskplor segala benda disekelilingnya begitu besar dan menggebu-gebu. Inilah alasan mengapa anak kecil semakin dilarang malah semakin menjadi-jadi.

2. Belum Tau Bahaya

Pada anak-anak seusia anakku, mereka masih berada dalam taraf menyerap dan menerima informasi. Belum bisa berpikir ini bahaya, itu tidak boleh dan lainnya. Bahaya itu apa sih? Mereka juga belum paham betul arti kata itu.

Karena mereka sedang berada dalam fase eksplorasi dan belum tau bahaya, jadilah semua hal dicoba. Memasukkan tangan ke dalam colokan listrik, ingin ikut berpartisipasi menyalakan kompor dan memasak, berlarian saat ibu sedang mengepel lantai. Semua yang bikin kepala ibu cenat-cenut melihat tingkahnya malah dianggap seru oleh anak-anak.

3. Belum Kenal Rasa Takut

Ini adalah pelengkap dari dua faktor di atas. Berada dalam fase eksplorasi, belum tau apa itu bahaya dan belum kenal dengan rasa takut. Semua dicoba! Bahkan kegiatan ekstrim seperti melompat-lompat dipinggiran kasur pun dilakukannya tanpa ragu.

Satu pengalaman menjijikan yang pernah terjadi adalah saat adikku kecil dulu, ia tiba-tiba menjerit dan menangis dengan mulut yang dipenuhi lendir berwarna hijau. Ternyata, dirinya menggigit salah satu jenis hewan berkaki banyak seperti kaki seribu. Hiiiiy! Entah dia nemu dari mana itu.

Sebagai orang tua yang hanya seorang manusia, tidak mungkin kita menjaga dan memerhatikan anak-anak full 24 jam. Bukan menjadikan alasan atau pembelaan, tapi kita juga punya hidup dan kegiatan yang harus dipenuhi. Seperti saat harus pergi kerja, ke kamar mandi atau memasak tidak mungkin pandangan tidak lepas sejenak dari anak-anak.

Tapi, harus ada sesuatu yang dilakukan dong ya agar anak-anak tetap aman bermain meski saat orang tuanya melakukan aktivitas lain? Bagaimana caranya? Jawabannya adalah dengan mengondisikan lingkungan.

Caranya adalah dengan menjauhkan benda-benda yang berpotensi berbahaya untuk anakdari jangkauan mereka. Misalnya saja jangan meletakkan gunting atau benda tajam lainnya di sembarang tempat termasuk rak yang rendah sehingga mudah diambil oleh anak.

Tutup stop kontak jika perlu, bersihkan lantai rumah setiap hari dan pastikan pintu rumah selalu tertutup rapat jika tidak ingin anak-anak meluncur keluar rumah tanpa diawasi seperti kejadian anakku di atas.

Sebisa mungkin hindari pajangan-pajangan yang terbuat dari kristal atau kaca. Mungkin bisa disimpan sampai anak lebih besar dan paham kalau itu bukan mainan. Jika tidak perlu, tidak usah menggunakan lemari kaca atau meja kaca. Berpotensi sekali untuk dipecahkan anak-anak karena adikku pernah melakukannya dulu. Hehe.


Lingkungan yang sudah terkondisi tentunya membuat orang tua tidak terlalu khawatir anak-anak mereka akan bermain dengan benda-benda berbahaya. Perbedaan antara lingkungan yang terkondisi dengan yang tidak aku rasakan saat di rumahku sendiri dan saat aku mudik ke rumah orang tua atau mertua.

Di rumah orang tuaku, anakku tidak bebas berlarian kemana-mana karena banyak pajangan di lemari yang tidak boleh disentuh karena terbuat dari keramik dan bahan pecah belah. Baru lari sedikit harus segera dihentikan karena ada tangga menuju lantai dua, masuk ke dapur banyak gelas-gelas yang diletakkan di rak rendah yang sangat terjangkau olehnya.

Repot banget harus terus mengawasi dirinya dan tidak boleh lengah sedikit pun. Berbeda dengan situasi saat aku berada di rumah sendiri, kasur tidak ada dipannya karena sudah dilepas sejak anakku dilahirkan. Tidak ada meja yang ujungnya lancip, tidak ada rak atau lemari kaca dengan pajangan yang berbahan kaca juga. Singkatnya rumah kami blong alias nggak ada isinya. Hahaha.

Anakku bebas berlarian di dalam rumah, bebas keluar masuk kamar dan sesuka hati main motor-motoran di dalam rumah. Aku pun santai saat meninggalkannya ke kamar mandi atau memasak karena ia terpantau dari manapun aku berada.

Yang harus selalu diperhatikan adalah pintu depan dan belakang wajib selalu tertutup jika kita tidak ingin anak kabur keluar rumah.

Sebenarnya mungkin aku tidak akan terlaly khawatir jika teras rumah dan pagarku aman dan tidak berpotensi menimbulkan bahaya untuk si kecil. Masalahnya, ada undakan antara teras rumah dan garasi di rumah kontrakan ini. Anakku yang kalau jalan masih asal-asalan sering kali terjatuh karena tidak berhati-hati saat melewati undakan tersebut.

Bukannya ingin melockdown-nya di dalam rumah, namun khawatir hal yang tidak diinginkan terjadi saat pintu rumah dibiarkan terbuka, dan ternyata kejadian yang tidak diiginkan tersebut benar terjadi. Hiks.

Jadi ibu-ibu dan bapak-bapak, selalu awasi anak-anak kalian ya jika buah hati kalian masih berada dalam fase-fase sebagai baby maupun toddler. Hmm.. Ada yang punya pengalaman juga?

Sukabumi, 15 Juni 2020

  • Share:

You Might Also Like

38 komentar

  1. Hehehe iya, sih. Kalau pun kita memperluas ruang bermainnya tetap harus di bawah pengawasan, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diawasi terus, gak boleh meleng sedikit pun. Haha

      Hapus
  2. Orang tua memang tidak boleh lengah, baik saat anak masih balita, Anak-anak apalagi kalau sudah remaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh ternyata sampe anak gede juga kita ttep harus was2 dan jagain anak2 terus yaa. Nama'y juga titipan Tuhan ya. Hehe..

      Hapus
  3. Sama kita ya, Mbak.
    Anak keduaku sedang menginjak usia sebelas bulan. Lagi masuk fase eksplorasi ini.
    Saat ibunya menata baju ke lemari, ia bagian yang membongkar. Saat kakaknya pulang sekolah, ia tertarik membuka dan melihat isi di dalamnya. Saat ayahnya selesai presentasi online, ia menarik narik kabel headset, serasa mau ikut WFH.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi kalo baca ceritanya lucu menggemaskan mba, aslinya kebayang sih rempong ngawasinnya. Haha..

      Hapus
  4. Wah benar benget nih mbak anak kecil itu rasa ingin tahunya besar sekali dan belum kenal rasa takut. Jadi sebagai orang tua kita harus lebih waspada lagi jika punya anak kecil. Saya pernah kejadian anak saya masukkin tangannya ke kipas angin. Untung segera ketahuan, sejak saat itu kipas angin tersebut saya beri pelindung dan saya lebih waspada lagi untuk menjaga si kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaampun mbaa serem amaaat 😣 untung gercep ya ortu'y jd gak terjadi sesuatu yg lebih serem. Huhu..

      Hapus
  5. Setuju banget masa masa kepo pengen tau apa aja dan energi mereka kayak gak ada habisnya.Tinggal yang jagain harus selalu waspada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, gak ada habisnya energi sampe bener2 lowbate ttep gak mau d cas. Wkwk..

      Hapus
  6. Dulu waktu anak-anak masih umur 1-3 tahun, pintu depan dan belakang sengaja dibuat pintu tambahan pendek, mirip palang gitu. Tujuannya sih supaya udara tetap masuk dan anak bisa melihat keluar rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia, makasih masukannya mba. Kadang saya juga suka gerah d rumah klo semua pintu ketutup tp begitu d buka ada yg auto kabur. Haha

      Hapus
  7. Lengah sedikit saja, anak bisa dalam bahaya. Usia segitu memang belum kenal dg bahaya, dia masih dlm masa eksplorasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba. Nggak ada takut2'y, semua dicobain..

      Hapus
  8. bener banget mba, punya ponakan toddler saya enggak berani lepas pegangan tangan kalau lagi jalan tuh. takut tiba-tiba kabur dan melakukan adegan berbahaya kan bikin jantungan ya, haha. makasih sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba, wah dikira stuntman mba melakukan adegan berbahaya? Hahaha

      Hapus
  9. Iya betul mbak saya lebih berhati hati ini setelah anak saya jatuh dari kursi�� ditinggal menoleh sedikit saja sudah kemana mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak2 bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan mba. Pintar mereka tu. Wohoho..

      Hapus
  10. Benar mbak. Anakku dulu tuh sejak udah bisa merangkak dan jalan, wah segala mesti diperhatiin. Objek dan lantai mesti clear atau child-friendly. Memang harus sabar, pelan2 anak paham batasan dan yang mana yang aman dan tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba, masa2 menguji kesabaran ini. Semoga dikasi sabar yg banyak sama Gusti Allah. Aamiin..

      Hapus
  11. betul banget ini bayi pada awalnya memang ga punya rasa takut ya..mereka belajar merespon dari kita orang dewasa sehingga awalnya ga takut colokan, jatuh..ah makanya kita harus bijak dalam berreaksi nih bisa ditiru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, anakku juga lagi seneng niru ibunya ngmg apa atau gaya ibunya lagi melakukan sesuatu. Bener2 ortu harus jd tauladan yg baik

      Hapus
  12. Memang katanya Mba, untuk anak-anak tempat yang palig berbahaya itu justru ada di dalam rumah. Karena anak saya kemaren itu, gak pernah keluar rumah. Tapi berapa kali harus ke dokter sampe ke rumah sakit, yang jatuhlah yang kejedutlah, sampe yang kecil itu kepalanya harus di operasi karena pas tidur kepalanya ketendang kk nya yang tidurnya gak bisa diem.

    Bahkan di dalam rumah sendiri pun bisa menjadi tempat yang berbahaya kalo kita kurang cermat melihat keadaan sekitar, apalagi kalo mereka tiba-tiba diem dan anteng sementara kita lagi sibuk di daput. Alamat pasti ada barang ancur atau porak poranda itu Mba 😂. Kalo untuk barang-barang sepertinya di rumah saya semua barang apalagi printilan semuanya sudah di gantung di dinding ato kalo gak di atas lemari semua, lantai dan tempat-tempat yang dirasa bisa di gapai anak-anak udah plong semua, tapi yah itu masih juga sering kecolongan, manjat-manjat, saking kreatifnya pintu-pintu lemari plastik itu dibuka trus dijadiin titian semacam tangga biar bisa manjat lemari, kadang serem juga ngeliat tingkah mereka ini, semakin lantai rumah kosong kok yah makin kreatif 😂😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagfirullah sampai d operasi segala gara2 ketendang mbaaa 😭 emang sih mereka belum paham ya tapi kok suka aneh2 gitu..

      Masha Allah mba, bacanya antara pengen ketawa campur prihatin. Hehe. Maaf ya mba, sungguh anak mba sangat kreatif. Semoga besarnya jd anak cerdas..

      Hapus
  13. Setuju... punya anak kecil memang harus awas banget. Enggak boleh lengah sedikit pun. Kami sampai bongkar dinding pembatas dapur dengan ruang tengah dan diganti dengan pintu kaca bening. Tujuannya supaya bisa terus memantau anak saat saya lagi di dapur. Seram soalnya, anak saya pernah jatuh dari kursi terus pernah juga nyemplung ke bak yang isinya air panas. :( mereka masih fase penasaran, tapi belum paham mana yang aman dan mana yang bahaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagfirullah, alhamdulillah gak sampe kenapa2 ya mba. Betul2 kita sbg ortu gak boleh lengah, anak2 lgsg ambil kesempatan itu klo ortu'y meleng..

      Hapus
  14. Aku baru punya baby nih. Udah mulai belajar merangkak. Ini aja gak bisa ditinggal, bisa jatuh dari tempat tidur. Udah mulai masukin benda2 kecil juga ke mulut. Memang harus fokus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihh selamat ya mba, semangat terus pokoknya jagain baby. Hihi..

      Hapus
  15. Iya bangeeeeetttttt udah suka sama kegiatan yg menantang: menantang keberanian dia dan menantang kekhawatiran ibunya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa2 yg menantang untuk keduanya ya. Kita jgn menyerah menghadapi tantangannya. Hehe..

      Hapus
  16. Harus waspada emang Mbak kalau punya toddler. Rasa ingin taunya tinggi banget dan suka sekali menjelajah. Saya sudab merasakan dua kali, hihi. Si bungsu sekarang yang sudah mau 4 tahun, sebelumnya pernah beberapa kali jatuh karena terlalu semangat berlarian.
    Masa-masa waspada tapi tetap menyenangkan sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru memang main sama anak kecil, keliatan'y happy terus nggak ada beban. Beban pikiran di emaknya yg was2 terus takut anak'y kenapa2 kalo lagi eksplor sana sini. Hahaha

      Hapus
  17. Kalau anak saya dulu paling sering jatuh dari tempat tidur, Mbak. Kalau kecelakaan lain sih jarang karena rumah sudah diusahakan baby/toodler proof. Tapi memang kewaspadaan orang tua itu paling penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu iya betul mba, si anak tau aja kapan ortu'y lengah biarpun cuma beberapa detik. Langsung dia ngambil kesempatan.

      Hapus
  18. Aku sampai nggak punya vas bunga ataupun barang pecah belah di rumah mba. Sadar banget kalau barang-barang itu bahaya untuk anak-anakku, yang jelas malah ntar jadi marah pada anak kalau barangnya pecah. Mahal-mahal beli cuma berakhir untuk banting-bantingan hehehee... Lebih enakan membiarkan anak eksplorasi rumah tanpa khawatir barang kita rusak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya setuju ni mba, menghindari banget barang pajangan pecah belah drpda dia "hidup" sia2 d rumah. Hehehe..

      Hapus
  19. anakku belum masuk toddler sih mbak. masih bayi, tapi rasanya dia udah kaya toddler. beneran nggak bisa meleng sama sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha selamat menikmati masa2 selanjutnya nanti mba. Semangaaat ibuuk!

      Hapus