Jumat, 15 Mei 2020

Ketika Suami Lebih Passionate dalam Memasak


Sebelum menikah, aku sudah memperingatkan (calon) suamiku untuk tidak menuntutku pandai memasak. Aku suka memasak tapi kemampuanku sangat terbatas. Ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena aku mengenalnya kurang lebih 3 tahun, aku tau kalau dia suka dengan hal yang berbau masak memasak, hasil masakannya pun bisa dibilang di atas rata-rata untuk seorang lelaki yang masuk ke dapur.


Setelah menikah, aku tentu berusaha semampuku untuk memasak masakan sesuai selera suamiku. Tambahan sekarang memiliki anak, mau tidak mau harus rajin memasak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Aku rasa kemampuan memasakku masih di situ-situ aja tidak ada perubahan yang siginifikan.

Berbeda dengan suamiku yang semakin kesini aku melihat dirinya begitu menikmati waktu-waktu memasak, tidak jarang saat aku sibuk memasak di dapur ia datang dan melihat apa yang aku kerjakan lalu menawarkan bantuan. Bahkan sering ia yang mengambil peranku di tengah-tengah kegiatan memasak dan membuat hasil akhir yang berbeda dengan apa yang ada dibayanganku sebelumnya.


Dengan keahliannya seperti itu, kadang aku merasa minder saat harus masak untuknya. Lha wong masakannya aja lebih enak dari punyaku kok! Bukan sekali dua kali ketika aku ingin makan nasi goreng kemudian menyerahkan padanya untuk membuatkan salah satu makanan favoritku itu. Alasannya, karena nasi goreng bikinanku rasanya tidak sebanding dengan buatannya. Haha.

Ada juga sih kalanya masakan dia failed, tapi ya manusiawi dan masih acceptable serta edible. Aku juga sering membuat makanan yang failed. Hehe.

Mendengar masih banyak perdebatan yang membahas bahwa wanita harus pandai memasak supaya menjadi wanita seutuhnya sudah sangat tidak menarik lagi bagiku. Wanita juga manusia lah, punya passion masing-masing kenapa harus diminta untuk segala bisa? Sementara kalau laki-laki masuk ke dapur langsung di pandang WOW! Keren banget! Padahal laki-laki ya sama seperti wanita, punya hobi dan passion masing-masing.

Hal-hal serupa seperti kewajiban ibu dan ayah dalam mengasuh anak. Ibu wajib memandikan, menyuapi, menina bobokan anak, mengajarkan anak macam-macam dan hal itu dianggap sesuatu yang wajar saat ibu yang melakukannya. Sementara terlihat begitu WOW! saat ayah yang turun tangan mengurus anak. Padahal ya memang sudah seharusnya begitu. Sesuatu yang harusnya sangat normal dilakukan oleh kedua orang tua.

Melihat suamiku yang senang memasak dan menghasilkan makanan yang enak tidak lantas membuatku sangat bangga hingga berlebihan, yaudah B aja gitu. Seperti yang aku bilang, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk memiliki hobi apapun termasuk memasak. Tapi aku senang karena bisa belajar banyak darinya, bagaimana membayangkan rasa dan merealisasikannya dalam masakan.

Aku juga tidak lantas menyerah dari kewajiban menyiapkan makanan untuk suami dan anakku. Sampai hari ini aku terus berusaha untuk meningkatkan skill memasakku, sebagai anak pertama yang biasanya competitive aku juga tidak mau kalah dengan kemampuan memasak suamiku. Aku yakin kalau masakanku nanti bisa sebaik masakannya atau malah lebih enak. Hehe.

Bukan berarti masakanku tidak enak sama sekali dan tidak bisa dimakan, enak kok tapi rasanya masih template dan kurang berani mengeksplorasi bumbu serta rempah-rempah. Ini kurangnya dari masakanku.

Sebagai penutup, aku akan membagikan resep telur-ayam balado dengan jeruk nipis hasil karya suamiku :

Telur-Ayam Balado feat. Jeruk Nipis

Bahan :
- Ayam yang sudah diungkep hingga matang
- Telur ayam
- Cabai merah besar
- Cabai gendot (oranye)
- Bawang merah
- Bawang putih
- Tomat segar
- Gula
- Garam
- Jeruk nipis

Cara membuat :
- Goreng ayam yang sudah diungkep, sisihkan
- Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai dan tomat
- Tumis bahan yang sudah dihaluskan
- Masukkan telur ayam, orak arik
- Masukkan ayam yang telah digoreng
- Aduk hingga merata
- Tambahkan garam dan gula
- Peras jeruk nipis diatas masakan
- Tes rasa
- Sajikan

Begini penampakan akhir dari ayam balado bikinan suamiku :


Mulanya aku yang akan memasak semua itu, suami dan anakku hanya kebagian tugas menghaluskan bahan-bahan yang perlu dihaluskan. Aku membayangkan akan membuat ayam balado biasa tanpa telur dan jeruk nipis.

Di tengah-tengah acara masak-memasak, anakku yang sudah harus minum susu mendadak rewel dan tidak mau diasuh ayahnya. Yasudah, ibu harus turun tangan sehingga urusan masak-memasak diselesaikan oleh suamiku.


Saat masakan sudah jadi aku langsung memberi komentar, "Wah si papah ayam sama calon anaknya dimasak barengan!" haha, ayam balado standard yang ada dibayanganku pun sirna. Saat mencoba masakannya rasanya gurih, pedas sekaligus manis perpaduan cabai, garam serta gulanya yang pas.

Hal lain yang membuat ayam balado ini berbeda selain karena telur ayam adalah aroma jeruk nipis yang membuat masakan menjadi wangi serta rasanya yang membuatnya lebih segar.

Overall, masakan suamiku kali ini enak (lagi)! Apa kalian tertarik untuk mencobanya?

Sukabumi, 15 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar