Senin, 11 Mei 2020

Interlaken, Switzerland. The Real Definition of A Little Piece of Heaven


Menonton drama Korea berjudul Crash Landing On You membuatku kembali bernostalgia saat mengunjungi negara Swiss. Dalam drama tersebut diceritakan Kapten Ri (Hyun Bin) dan kekasihnya Yoon Se Ri (Son Ye-Jin) diam-diam sering bertemu di Swiss karena kisah cinta terlarang mereka antara warga negara Korea Utara dan Korea Selatan.

Di cerita kali ini, aku ingin kembali ke tahun 2013 tepatnya bulan September. Saat itu aku berkesempatan mengunjungi suatu wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan bersalju di negara Swiss, Interlaken.


Setelah menghabiskan waktu untuk belajar di Laussane, aku dan seorang teman asal Indonesia yang juga satu kampus denganku bernama Windi, memutuskan untuk extend selama 3 hari di Swiss sebelum kembali ke tanah air.

Rasanya rugi sekali kalau tidak menjelajah negara yang tersohor dengan kecantikan pemandangan alamnya itu. Kami pun berencana menghabiskan waktu untuk berpetualang di Geneva, Interlaken dan Bassel sebelum pulang ke Indonesia.

Alasan kami memilih Interlaken sebagai salah satu tujuan wisata adalah sesederhana karena ingin melihat salju. Hehe. Maklum, seumur hidup hanya merasakan dinginnya salju lewat layar kaca, kan penasaran juga bagaimana wujud aslinya.

Untuk mempermudah perjalan kami dan menghemat biaya transportasi, kami membeli Swiss Pass yaitu Swiss Travel System dimana dengannya kami bebas menaiki moda transportasi apapun kapanpun dan dimanapun kami berada selama masih di negara Swiss.


Aku dan Windi berangkat ke Interlaken dari Geneva menggunakan kereta, jarak tempuh menuju Interlaken sekitar 3 jam dimana kami harus transit dulu di Bern sebelum lanjut ke tujuan akhir kami yaitu Interlaken.

Tidak seperti Indonesia yang jarak antar kotanya bisa memakan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari, di Swiss cukup menempuh perjalanan paling lama 4 jam saja dari Geneva kita sudah bisa mengunjungi kota terjauh yang berbatasan dengan Italia yaitu Lugano.

Sepanjang perjalanan menuju Interlaken, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang benar-benar menakjubkan. Sangat indah layaknya lukisan-lukisan seniman dunia, sungguh luar biasa mahakarya Sang Pencipta. Berbekal cheese burger dan french fries yang kami beli dari McDonal's di Geneva, kami menghabiskan makanan kami ditemani view yang sungguh membuat kami tidak bisa move-on.

Pemandangan yang dirindukan
Setelah makanan habis, sisa perjalanan kami habiskan untuk bengong saja sambil menikmati suguhan mata yang belum pernah kami lihat sebelumnya di Indonesia. Danau dengan air yang sangat jernih, sungai yang airnya berwarna hijau toska dan super bersih, deretan pegunungan Alpen yang bersalju, kawanan domba, sapi dan kuda dari peternakan. Cakep banget deh kayak di film-film!

Sepanjang perjalanan menuju Interlaken
Setelah tiba di Stasiun Interlaken West, kami bingung dong mau kemana. Haha. Bermodal nekat dan Swiss Pass, kami pun mengikuti arus kemana orang-orang melangkah sembari mengagumi pegunungan bersalju yang terpampang di hadapan kami. Di sekitar stasiun Interlaken West juga banyak terlihat bunga-bunga warna warni yang menghiasi serta kereta kuda wisata yang berseliweran. Selanjutnya kami memutuskan untuk naik bus wisata yang entah akan membawa kami kemana. Hehe.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10-15 menit, kami diturunkan di daerah tempat berjualan souvenir dan terdapat banyak cafe disana. Sebagai negara yang terkenal dengan jam tangannya, banyak juga toko-toko jam disana. Aku tidak membeli apa-apa selain beberapa kaos untuk oleh-oleh keluargaku, maklum uang jajan mahasiswa terbatas sementara harga jam tangan disana bisa mencapai jeti-jetian.

Setelah puas berjalan-jalan disana, aku dan Windi kembali melanjutkan petualangan kami dengan menaiki kereta yang lagi-lagi entah akan membawa kami kemana. Haha. Sungguh ini adalah perjalanan paling tidak terencana karena dulu akses internet terutama wifi tidak seperti sekarang yang hampir ada disetiap sudut wilayah.

Ternyata oh ternyata, kereta tersebut membawa kami ke Grindelwald. Sebuah desa di kaki gunung Eiger, tempat para wisatawan biasa melakukan pendakian ke puncak gunung bersalju. Kalian tentu pernah mendengar kata Eiger bukan? Brand yang menjual berbagai perlengkapan pendakian. Mungkin nama tersebut di ambil dari nama gunung Eiger ini. Haha.

Cantiknya Desa Grindelwald
Sebagai penggemar Harry Potter, tentu aku senang bisa mengunjungi desa Grindelwald yang sangat cantik ini. Entah apa hubungannya antara Grindelwald di Swiss dengan Gellert Grindelwald yang ada dalam tokoh fiksi Harry Potter. Yang pasti sejak sebelum berangkat ke Swiss dan melihat-lihat peta, aku sudah berangan-angan betapa serunya jika bisa pergi ke Grindelwald. Allahuakbar, ternyata angan-anganku menjadi kenyataan.

Aku dan Windi kemudian kembali turun ke Interlaken menggunakan kereta terakhir sekitar pukul 5 sore. Saat itu kabut sudah mulai turun dan suhu menjadi sangaat dingin. Setibanya di stasiun Interlaken, kami mampir untuk membeli snack di Coop Shopping Centre yang ada di Interlaken Ost. 

Coop Shopping and Restaurant
Sempat berkeliling daerah sekitar situ hingga akhirnya tiba di tepi danau yang airnya berwarna toska seperti zamrud. Danau tersebut bernama Brienzersee.

The torquoise Brienzersee Lake
Kami betah banget disana, mencari tempat duduk di pinggir danau kemudian beristirahat sambil minum coklat hangat. Rasa lelah setelah berjalan seharian penuh sama sekali tidak terasa, terbayar oleh semua keindahan pemandangan di Interlaken dan sekitarnya.

Setelah mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, kami pun harus kembali ke Geneva karena hari sudah mulai gelap. Bye-bye Lake Brienz, I hope I could visit you again someday!

Berfoto bersama Danau Brienz
Sekian cerita perjalananku di Interlaken, Switzerland. Pengalaman tak terlupakan mengunjungi setitik surga di muka bumi.

Sampai jumpa!

Sukabumi, 11 Mei 2020

2 komentar:

  1. Baguuus banget emank Swiss 😍😍 Aku jg waktu itu dr Interlaken ke Grindewald pake kereta. Pulangnya karena pake Swiss Pass, dr Grindewalk balik k Interlaken naik kapal di danau Briens. Biar nyoba yg lain selain kerera. Hehehhe.. Aku jg sempet tulis di blog 😁
    Btw, salam kenal ya kak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga yaa..
      Aahh saya nggak tau dulu bisa naik kapal dari Grindelwald ke Interlaken. D Grindelwald sampe lupa waktu, ngejar kereta terakhir. Haha. Betaahh adem2 tenang gak ada polusi gitu disana..

      Hapus