Mempelajari Self-Editing

By Imawati A. Wardhani - April 11, 2020


Saat aku masih bestatus sebagai pegawai kantoran dari salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang farmasi, aku bekerja sebagai staff Quality Assurance atau penjaminan mutu. Sebagian besar pekerjaan yang aku lakukan berkaitan dengan dokumen seperti menangani permasalahan yang terjadi terkait kualitas produk bersama dengan department lain dan menjawab surat komplain yang masuk ke pabrik.

Keseharianku di kantor berkutat dengan dokumen dari department lain yang ingin mengajukan laporan. Bagian paling mengesalkan dari pekerjaan ini adalah ketika si pembuat dokumen tidak melakukan self-editing pada tulisan yang telah mereka buat sebelum menyerahkannya ke department ku. Sering kali aku harus mengembalikan laporan-laporan yang masuk lantaran banyak isi yang tidak sesuai dengan tujuan, typo dimana-mana dan adanya ketidaksesuaian data karena kurang teliti.

Menurutku pribadi, self-editing ini penting sekali untuk menjadikan suatu tulisan menjadi tulisan yang berkualitas dan layak untuk di baca. Tidak hanya novel atau karya sastra, semacam dokumen kantor pun penting untuk di tulis dengan tulisan yang rapi, tidak banyak typo dan memiliki isi yang bermakna tanpa harus bertele-tele.

Hari Jum'at kemarin tanggal 10 April 2020, aku berkesempatan belajar lebih banyak tentang Self-editing bersama teman-teman yang memiliki hobi menulis dengan narasumber Mas Yandi ASD, seorang editor dan penulis novel. Kuliah Whatsapp ini diadakan oleh Indscript Writing dan Indscript Creative.

Self-editing memiliki arti yang serupa dengan revisi, revisi yang di maksud adalah peninjauan (pemeriksaan kembali) untuk perbaikan yang dilakukan oleh penulis itu sendiri. Dalam kulwap dijelaskan terdapat 2 jenis revisi dalam suatu tulisan yaitu revisi mayor dan revisi minor.

Kali ini aku akan mencoba membahas mengenai revisi minor yang lebih berkaitan dengan kegiatan tulis menulis di blog. Revisi mayor sendiri kebanyakan digunakan ketika kita menulis sebuah karangan atau cerita yang memiliki tokoh, plot, konflik dan lainnya.

Revisi minor meliputi ejaan, tata bahasa dan konsistensi. Fokus dan ketelitian menjadi penting saat melakukan revisi minor ini. Kuncinya adalah sabar dan teliti dalam membaca ulang tulisan yang sudah kita buat.

Hal yang harus diperhatikan dalam revisi minor yaitu :
1. Ejaan
Ejaan yang digunakan dalam penulisan di negara kita tentunya ejaan yang menggunakan bahasa Indonesia dan mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Elemen yang termasuk di dalam ejaan meliputi penulisan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan penulisan unsur serapan.

Cara mengetahui apakah ejaan kita sudah benar atau belum adalah dengan memperbanyak membaca ejaan bahasa Indonesia dan berlatih secara konsisten. Dengan sering menulis menggunakan ejaan yang benar, kita akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang umum terjadi seperti salah dalam penggunaan tanda baca.

Memerhatikan ejaan adalah suatu hal yang penting dalam tata cara penulisan namun sering dianggap sebelah mata oleh banyak penulis. Jangan jadi penulis yang seperti itu ya.

2. Tata Bahasa
Ruang lingkup dari tata bahasa mencakup tata bentuk, tata kalimat, pilihan kata dan paragraf. Tata bahasa berkaitan dengan hal yang lebih kompleks dan rumit, tentunya menyangkut kata dan kalimat. Jika kita tidak menguasai ejaan, maka akan sulit juga dalam menguasai tata bahasa.

Hal yang harus diperhatikan saat merevisi tata bahasa adalah bentuk kata, pilihan kata, pemakaian kata tertentu, kalimat dan pemenggalan judul.

Contoh tata bahasa yang perlu diperhatikan adalah dalam kalimat, "Saya akan pergi menuju ke Jogja besok," dalam kalimat tersebut, kata menuju dan ke memiliki makna yang sama sehingga tidak efektif jika digabungkan dalam satu kalimat. Cukup pilih salah satu antara menuju atau ke untuk membuat kalimat yang efektif dan enak dibaca.

3. Konsistensi
Bahasa yang digunakan dalam suatu tulisan hendaklah konsisten sejak awal hingga akhir. Dengan menggunakan bahasa yang konsisten, tulisan akan terlihat lebih rapi dan tidak membingungkan orang yang membacanya.

Contoh konsistensi adalah penggunaan kata tidak dan nggak. Kalau dari awal ingin menggunakan kata tidak, lanjutkanlah hingga akhir jangan berubah dari tengah hingga akhir menjadi kata nggak. Ini akan membingungkan bagi pembaca, apa maksud dari ketidak konsistenan kata ini?

Ada beberapa kunci sukses ketika kita melakukan self-editing, antara lain :
1. Membaca tulisan berulang-ulang
2. Berpikir seperti detektif
3. Jangan pakai perasaan
4. Minta bantuan orang lain
5. Fokus

Selain itu, ada juga hal-hal yang tidak diperbolehkan ketika kita melakukan revisi pada tulisan kita. Termasuk didalamnya adalah :
1. Hanya membaca tulisan sekali saja
2. Malas mencari kesalahan
3. Terlalu mencintai tulisan sendiri
4. Tidak menerima kritikan
5. Terlalu lama membuang-buang waktu

Itulah hal yang harus kita fokuskan ketika melakukan self-editing skala minor. Sebagai penulis, tentunya membaca merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan bukan? Maka kita tidak boleh tidak membaca ulang apa yang sudah kita tulis agar menghasilkan tulisan yang selain memberi manfaat untuk orang lain juga enak di baca.

Sekian dan sampai jumpa!

Yogyakarta, 11 April 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar