Rabu, 25 Maret 2020

Dear Bapak,


Assalammualaikum, Bapak...

Ima tau Bapak nggak akan pernah melihat dan membaca tulisan ini, tapi Ima nggak tau lagi harus cerita ke siapa supaya hati ini lebih lega. Ima nggak mungkin cerita ke Mamah atau adik-adik, ke Mas Halim apalagi ke Dipta. Ima nggak mau mereka semakin sedih, Pak.

Bapak, Ima mau minta maaf karena sampai sekarang Ima masih sering menangis karena sedih dan berat sekali menerima kenyataan kalau Bapak sudah pergi sangat jauh. Ketika bangun tidur, mau mandi, setelah sholat atau kapan pun Ima teringat Bapak pasti mata ini langsung panas dan mengalirkan air mata begitu saja. Contohnya saat Ima menulis tulisan ini, Pak. Maaf ya...

Bapak, disaat-saat terakhir Bapak waktu Dek Tito dan Mas Halim yang waktu itu di rumah sakit kasitau kalau kondisi Bapak sudah nggak sadar, Ima sempat berdo'a, "Ya Allah kalau memang Bapak harus pergi, permudahlah jalannya. Janganlah Engkau persulit dan membuatnya sakit terlalu lama..." nggak berapa lama kemudian Ima dapat kabar kalau Bapak sudah pergi.

Rasanya hancur melebihi berkeping-keping saat mendengar berita itu. Tapi lebih hancur lagi ketika Ima melihat Bapak berusaha sekuat tenaga menahan sakit di rumah sakit, Bapak yang nggak pernah sekali pun Ima dengar mengeluh, hari itu merintih kesakitan. Jadi Ima yakin, Allah lebih tau mana yang terbaik untuk Bapak. Meski pun beraaat sekali, insha Allah kami sekeluarga ikhlas.

Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari Bapak. Bapak tau kan, Bapak itu motivator dan inspirasi Ima dalam menjalani hidup. I'm nothing without you. Sekarang Ima kehilangan sosok itu, dan harus berusaha menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih hebat seperti Bapak. Semoga Ima bisa membuat Bapak bangga.

We're gonna do this together again :)

Ima akan selalu ingat waktu di rumah sakit, Bapak manggil nama Ima dan senyum. Itu terakhir kalinya kita bertemu di dunia. Ima ingat Bapak selalu melarang Ima buat cuci piring, "Kamu nggak usah cuci piring, airnya dingin. Biar ibunya aja nanti...". Dalam kondisi sakit dan kita video call, sempet-sempetnya Bapak ngomong, "Kamu kalau susah atau capek masak, Gofood aja terus. Kalo nggak cari pembantu buat beres-beres, nanti Bapak yang bayar..." Masha Allah, Pak. Tenang aja, Ima insha Allah masih bisa bertahan hidup meski pun sekarang harus hidup mandiri. Hehe. Bapak nggak usah khawatir ya.

Bapak baik-baik disana ya, Ima sama adik-adik pasti selalu jagain Mamah. Ima dan adik-adik juga insha Allah selalu rukun dan akan selalu berusaha supaya nggak mengecewakan kalian berdua. Satu hal yang bikin Ima tenang dengan perpisahan ini, Ima yakin semua ini hanya sementara. Suatu hari kita semua pasti berkumpul lagi, di tempat yang lebih baik dan abadi. Insha Allah, ya Allah...

Setiap selesai sholat berjamaah, Bapak pasti meminta kami untuk membaca Al-fatihah untuk saudara-saudara kita yang sudah meninggal. Bapak bilang, kubur mereka akan terang dan mereka akan merasa senang gembira. Ima janji akan selalu membacakan Al-fatihah supaya Bapak juga senang disana. Ima dan adik-adik akan berusaha menjadi anak sholeh dan sholehah sebagai amal jariyah Bapak dan Mamah.

Bapak orang baik, insha Allah diberikan tempat yang paling baik sama Allah. Bapak pun pergi dengan damai dan tersenyum kemarin, semoga Allah mempermudah langkah Bapak menuju tempat terbaik itu ya, Pak. Aamiin.

Sudah dulu ya, Pak. Nanti kita cerita-cerita lagi :)

Wassalammualaikum, Wr. Wb...

Yogyakarta, 25 Maret 2020
From your only daughter,
-Imawati Annisa Wardhani

2 komentar:

  1. huhu terharu banget bacanya jadi ikutan nangis :( salah satu yg paling bikin terharu adalah ‘Ima kalau capek gofood terus aja atau cari pembantu aja nanti Bapak yg bayar’ Ya Allah.. padahal kita udah menikah dan hidup mandiri, tapi bagaimanapun orang tua masih dan selalu aja mikirin anaknya sampe segitunya, gak mau kita kesusahan sama sekali :(

    Gw inget banget kalo diantara temen-temen, kita berdua adalah yang sama manggilnya ke orang tua, yaitu Mama dan Bapak, dulu kadang suka cerita soal ini karena merupakan panggilan yg gak lazim, biasanya kan Mama-Papa; Ibu-Bapak. Ini cuma salah satu dan bagian kecil hal-hal yg gw & mae share.

    I’ll always be there for you, Mae.. Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan kebaikan Om Purwo, juga mengampuni segala dosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah.. Semoga lo dan keluarga juga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ini semua, dan bener kata lo mae, Insha Allah nanti akan bertemu dan berkumpul lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ryeenn, aduuhh bokap gw udh sakit begitu masi aja mikirin hidup gw yg harusnya gausah jd pikiran beliau lagi.

      He em, kita ber2 yaa manggil Mama ama Bapak. Anti mainstream. Hehe.

      Thank you Erryeen! That means so much, aamiin ya Allah. Life goes on, kita harus mempersiapkan diri juga buat kehidupan setelah di dunia ini sist..

      Hapus