Minggu, 02 Februari 2020

Bertoleransi Dalam Rumah Tangga


Pagi ini, aku menemukan handuk tergantung ditempat yang tidak seharusnya. Apa-apaan handuk diletakkan diatas pintu?! Hemm.. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suami sendiri? Anak bayi jelas tidak mungkin lah! Awalnya ingin ngomel, tapi nggak usah deh buat apa? Akhirnya aku mengambil handuk tersebut dan menaruhnya digantungan handuk, tempat semestinya ia berada.

Dalam kehidupan pernikahan, sepasang suami istri dituntut untuk mempraktekan pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang sejak SD sudah diajarkan. Dimana bab yang dimaksud adalah tentang toleransi. Mengutip dari Wikipedia, definisi toleransi menurut bahasa adalah sabar dan menahan diri. Toleransi juga berarti sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau individu dalam masyarakat atau ruang lingkup lainnya.

Semenjak hidup berdua, bahkan sekarang bertiga, banyak sekali hal baru yang menurutku tidak wajar tapi harus kita terima. Karena aku tidak bisa hidup individualis seperti sebelum menikah dulu, aku punya ruang lingkup baru yaitu keluarga yang harus dijaga keharmonisannya. Dulu, masa-masa awal setelah menikah aku sering kali ngomel pada suami karena masalah sepele. Handuk basah diletakkan sembarangan, baju kotor ditaruh diatas keranjang baju kotor (bukannya didalam) dan lainnya yang dianggapnya sepele tapi hal besar untukku. Ya siapa lagi nanti kalau bukan aku yang harus membereskannya ya kan?

Tapi, lama-lama mikir juga apa gunanya ngoceh-ngoceh yang ujungnya dicuekin atau malah bikin ribut karena hal seperti itu. Pada akhirnya aku mentoleransi kebiasaannya itu, setiap ia melakukan hal sepele yang menyebalkan bagiku, aku anggap itu adalah ladang pahala dari suamiku. Toh aku pun punya kebiasaan yang menurut suamiku tidak baik namun bisa ia toleransi. Kalau memang tidak suka, kami akan bicara baik-baik nggak pake nge-gas lagi.

Ternyata belajar bertoleransi itu yang paling penting adalah dimulai dari lingkungan keluarga dirumah. Yaampun kemana aja gue baru sadar cobak?! Waktu sekolah kita diajarkan untuk bertoleransi dengan teman yang berbeda agama, mengormati perbedaan pendapat dalam forum dan yang lain dimana kebanyakan contohnya itu bertoleransi dengan masyarakat diluar lingkungan rumah. 

Memang, sejak dulu aku pasti menerapkan toleransi ini dirumah, dengan ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi mana kepikiran kalau yang aku lakukan itu namanya toleransi. Sekarang setelah punya anak baru sadar bahwa mengajarkannya toleransi itu harus dimulai dari lingkungan keluarganya. Dia harus tau yang dilakukan orangtuanya itu namanya toleransi, agar nantinya dia akan mudah menerapkannya dilingkungan tempat ia sekolah atau bermain atau dimana pun ia berada.

Penting sekali menjaga toleransi antar suami-istri, supaya tidak ada ribut-ribut yang seharusnya tidak perlu, kekeuh dengan pendapat dan prinsip masing-masing. Suka atau tidak suka saat sudah menikah, pikiran bukan lagi bagaimana jika aku tapi menjadi bagaimana jika kami. Sudah tidak bisa memikirkan diri sendiri dan memaksakan kehendak sendiri, sekarang punya partner yang harus selalu dilibatkan dalam diskusi untuk berbagai hal. Tujuannya menjaga toleransi didalam hubungan suami istri tentunya untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangga, mencapai rumah tangga yang sakinnah, mawaddah dan warrahmah.

Meski pun demikian, toleransi itu ada batasnya loh. Tidak semua hal harus ditoleransi. Untuk diriku sendiri, aku tidak bisa lagi memberikan toleransi jika pasanganku sudah melakukan sesuatu yang sifatnya haram apalagi jika itu sudah menyekutukan Allah, misalnya menggunakan narkoba, minum minuman keras, berjudi, datang ke dukun untuk pesugihan. Haduh! Jangan sampai terjadi ya. Naudzubillah..

Hal lain yang tidak bisa aku tolerir adalah masalah perselingkuhan, apalagi sampai poligami. Tujuanku menikah adalah untuk berkomitmen, setia sampai akhir hayat. Sedunia dan sesurga. Kalau sampai terjadi perselingkuhan, ada pihak yang tidak lagi menghormati dan menghargai keberadaan pasangannya. Menurutku ini adalah perkara besar yang sangat mungkin tidak dapat ku terima dengan alasan apa pun.

Ketiga adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). KDRT bisa dilakukan tidak hanya secara fisik ya tapi juga secara verbal. Banyak sih perempuan yang tahan dengan perlakuan kasar pasangannya atas dasar cinta, but I'm not that kinda woman. Dimana-mana kalau kita betul-betul cinta dan sayang terhadap siapa pun tidak akan ada yang namanya niat untuk menyakiti orang tersebut. Seperti aku menyayangi anak dan suamiku, melihat mereka sakit sedikit saja rasanya ikutan sakit. Tidak pernah terpikir sama sekali untuk menyakiti hati dan fisik mereka. Pun dengan kedua orangtuaku pada diriku, mereka menyayangiku dengan merawatku secara utuh lahir dan bathin hingga aku seperti sekarang ini. Menurutku, mereka yang melakukan kekerasan dengan alasan terlalu sayang atau salah satu bentuk rasa cinta harus memeriksakan kejiwaan mereka, punya mental illness yang harus disembuhkan kurasa.

Intinya, toleransi dalam rumah tangga itu sangat perlu untuk dipupuk karena berumah tangga itu pasti inginnya langgeng sampai maut memisahkan sehingga kita harus siap menolerir keajaiban-keajaiban dari sifat pasangan yang bisa muncul kapan pun. Namun, toleransi pun ada batasnya dan sewajarnya setiap individu menjaga kepercayaan dan menghormati pasangannya agar tidak melewati batas toleransi tadi. Ingat, pernikahan itu bukan hanya urusan dunia tapi juga hingga ke akhirat kelak.

Sekian tentang bertoleransi, aku harap semua yang membaca sudah menerapkan toleransi dalam lingkungannya masing-masing. Aku sendiri masih terus belajar untuk bisa menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada antara aku dan suami.

Sampai jumpa lagi!

Sukabumi, 02 Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar