Senin, 09 November 2020

Disapih, Welcome to the New Normal, Kid!

Pengalaman menyapih anak pertama

Alhamdulillah, tanggal 30 Oktober kemarin Dipta bertambah usia menjadi 2 tahun. Selama 2 tahun ini pula aku mengalami banyak perjalanan sebagai orang tua baru. Angka yang masih sedikit memang, namun rasanya luar biasa sekali bisa mendampingi seorang bocah yang tadinya hanya bisa goler-goler dan digendong kesana kemari hingga saat ini sudah bisa berlarian dan melompat-lompat.

Setelah menjadi ibu, banyak sekali pengalaman yang baru pertama kali aku rasakan. Hamil, drama trimester pertama, proses melahirkan, menyusui dan membesarkan hingga membersamai anak. What an amazing journey!


Dalam tulisan kali ini, topik yang akan aku highlight adalah tentang perjalanan menyusui selama 2 tahun hingga akhirnya menyapih anakku dengan tega cinta. Haha.

Selama 9 bulan mengandung, aku mempersiapkan diri agar bisa lancar menyusui dengan mengikuti saran dari senior-senior alias kakak iparku. Mereka mengingatkanku agar rutin membersihkan dan memijat PD supaya setelah melahirkan ASI bisa langsung keluar dan tidak tersumbat.

Hasilnya memang benar terlihat setelah aku melahirkan. Beberapa jam setelah Dipta lahir dan efek obat bius sesar hilang, PD-ku terasa sangat kencang hingga tubuhku demam dan menggigil. Setelah memompa ASI sesuai anjuran perawat, ASI-ku langsung keluar hingga botol-botol ASIP yang dibawa ke rumah sakit dari rumah tidak cukup menampung hasil pumping.

Alhamdulillah, senang sekali karena bisa langsung memberikan ASI pada anakku tercinta tanpa drama mengASIhi di awal-awal kehidupan menjadi ibu.

MengASIhi Journey

Sebagai ibu sekaligus sebagai muslimah, tentu saja aku ingin ingin sekali mengikuti anjuran menyusui sebagaimana yang tertulis dalam ayat Al-Qur'an, salah satunya :

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,"
-Q.S. Al-Baqarah : 233

Perjalanan menyusui selama 2 tahun ternyata tidak semudah apa yang aku bayangkan sebelumnya. Tidak pernah terbayang bahwa aku akan mengalami slepless night selama berbulan-bulan, badan pegal linu karena harus menyusui dengan posisi tidur miring di malam hari dan sakit leher karena salah posisi tidur.

Belum lagi aku harus mengonsumsi makanan-makanan yang senantiasa sehat dan bergizi demi memenuhi asupan gizi anakku. Agar ia tumbuh sehat dengan sebagaimana mestinya karena selama 6 bulan pertama hidupnya hanya tergantung dari ASI yang aku berikan.

Sampai ada masa dimana aku harus memberikan tambahan susu formula kepada anakku atas anjuran dokter. Ternyata, membagi ASI dengan sufor juga bukan suatu pekerjaan mudah bagiku dan anakku. Ia yang terbiasa menyusu langsung dari pabriknya sulit sekali berpaling ke sufor dan aku harus tetap kekeuh membiasakannya minum sufor demi kebaikannya.


Meskipun perjalanan mengASIhi ini tidak mudah dan tidak sebentar, aku tidak pernah menyesal dan selalu mensyukuri nikmat Allah swt yang luar biasa ini. Dimana aku berkesempatan untuk memberikan ASI bagi anakku di 2 tahun awal kehidupannya.

Waktunya Menyapih

Saat usia Dipta menginjak 20 bulan, aku dan suamiku memulai langkah sounding bahwa saat ia berumur 2 tahun, sudah tidak ada mimik (ia menyebutnya dengan bibik) lagi.

Namun, semakin di-sounding anaknya semakin posesif. Sampai saat ia 21-22 bulan, nafsu makannya yang tadinya sudah bagus kembali menurun karena keposesifannya pada bibik. Bangun tidur harus bibik, lalu sarapan hanya dimakan sedikit dan minta bibik lagi. Begitu terus hingga makan malam. Diberikan sufor pun sering tidak habis karena maunya bibik.

Sebagai orang tua, tentu aku dan suamiku lama-lama gerah dengan sikap anakku yang ogah-ogahan makannya (again and again). Sudah nggak ada drama tumbuh gigi, nggak sakit dan sehat semua tapi tetap susah makan?! Padahal di usianya yang hampir 2 tahun tentu saja ASI tidak akan cukup untuk memenuhi gizinya.

Akhirnya kami mengambil sikap untuk memberikan jatah ASI hanya sebelum tidur siang dan saat hendak tidur malam. Mulanya, tentu saja Dipta menangis saat keinginannya untuk bibik tidak dipenuhi. Namun itu hanya berlangsung beberapa hari dan alhamdulillah tanpa drama yang aneh-aneh.

Ia mulai menurut saat harus minum susu saat waktu minum susu dan makan pada waktunya makan. Beberapa kali setelah mandi pagi ia masih mencari bibik-nya, namun sudah tidak apa-apa ketika tidak diberikan.

Ternyata, setelah di jatah demikian nafsu makan anakku mulai membaik dan ia pun mampu menghabiskan susu formula hingga 200 ml dalam sekali minum.

Pada tanggal 1 Oktober yang lalu, aku mencoba untuk mengurangi lagi pemberian ASI menjadi sekali sehari saja yaitu sebelum tidur malam. Siang harinya, aku menjelaskan kalau siang ini tidurnya tidak bibik tapi dipeluk dan dipuk-puk Mama.

Ya nangis dong langsung! Ngambek tidak mau masuk kamar. Tapi, aku mencoba konsisten dan stay cool mendengar tangisan serta bujuk rayunya tersebut. Tidak lama berselang, ia masuk kamar dan minta dipeluk lalu karena sudah mengantuk ia pun berhasil tidur tanpa bibik.

Keberhasilan di siang hari kembali aku coba di malam harinya, lagi-lagi awalnya ia menangis tapi berhasil ditenangkan dengan berbaring di atas perutku dan tidur sambil dipuk-puk.

Keberhasilan hari pertama aku lanjutkan hingga hari kedua, tiga dan seterusnya hingga sekarang. Sehingga, Dipta sudah resmi disapih sejak 1 Oktober yang lalu atau saat usianya 23 bulan.

Menurutku, kunci keberhasilan dalam menyapih anak berdasarkan pengalamanku adalah :
1. Niat dan tekad orang tua untuk menyapih anak dengan ikhlas.

2. Konsisten dalam memberikan pengertian pada anak bahwa masa ia menyusui sudah selesai demi kebaikan dirinya.

3. Tetap memberikan rasa nyaman dan mendampingi anak saat anak mulai disapih dan mencari kenyamanan baru sebagai pengganti menyusu.

4. Tidak mudah marah saat anak menangis bahkan tantrum ketika meminta mimik saat masa penyapihan. Stay calm and keep carry on 😌

Welcome to the New Normal, Kid!

Perubahan yang aku rasakan setelah menyapih anakku ternyata berefek pada kehidupan aku dan anakku.

Untuk diriku sendiri, setelah selesai masa menyusui aku bisa kembali merasakan kenikmatan tidur malam tanpa harus terbangun untuk menyusui setiap 2-3 jam. Badanku menjadi lebih segar dan fresh setelah mendapatkan istirahat yang cukup.

Aku juga tidak khawatir lagi anakku akan susah makan dan minum susu karena seharian kerjaannya hanya minta bibik. Selain kondisi fisik yang membaik, kondisi psikologisku juga semakin baik. Alhamdulillah.

Bagi anakku, ini adalah sebuah kondisi normal baru. Ia hidup sebagai individu yang sekarang benar-benar mandiri tanpa tergantung ASI dariku. Ada beberapa perubahan yang terjadi pada Dipta setelah disapih.

Pertama, tidur malamnya menjadi sangat nyenyak bahkan jadi sering bangun siang. Kedua, setelah bangun tidur ia akan langsung minta makan sarapan atau minum susu formula. Ketiga, makan dan minum susunya hampir selalu habis dan jumlah yang dihabiskan meningkat cukup drastis dari sebelum disapih.

Tentu saja ketiga hal tersebut merupakan berita baik, ya. Namun, ada juga nih perubahan yang membuatku harus memutar otak agar tidak menjadi kebiasaan buruk. Setelah disapih, anakku jadi sering tidur larut malam. Huhu.

Mungkin karena selama ini sebelum tidur ia merasa nyaman dengan menyusu, tapi karena sudah disapih ia menjadi kebingungan dan sibuk mencari-cari posisi yang membuatnya nyaman untuk tidur.

Sudah sebulan setelah disapih, jam tidurnya belum kembali normal. Biasanya jam 9 ia sudah bisa tidur dengan pulas, sekarang bisa jam 10 atau 11 malam baru tidur. Aww! Lumayan melelahkan juga membersamai anak hingga jam tersebut.

Semoga ia bisa cepat beradaptasi dan kembali ke pola tidur sebelum disapih. Tentunya tidak baik juga kan ya kalau anak tidur terlalu larut malam?

Sekian dulu ceritaku menyapih anakku yang saat ini sudah berusia 2 tahun. Aku senang sekali bisa melewati masa-masa menyusui ini dengan minim drama dan selalu diberikan kemudahan oleh Allah swt selama perjalanan menyusui. Lagi-lagi I must say alhamdulillah.

Semoga bermanfaat ya. See ya!

Sukabumi, 9 November 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar