Sabtu, 12 September 2020

Komunikasi Produktif, Tantangan Hari Ke-10


Hari ini, aku mempelajari tentang bagaimana harus bersabar dalam mengajarkan anak untuk menerapkan ground rules yang berlaku di rumah kami.

Apa itu ground rules? Menurut hasil baca sana sini, ground rules merupakan aturan dasar yang ditetapkan di dalam sebuah keluarga. Pentingkah memiliki ground rules ini? Menurut aku pribadi penting sekali. Biarpun anak kami berikan kebebasan untuk bereksplorasi, anak tetap harus tau batasan-batasan mana yang boleh dan yang tidak boleh.

Dalam setiap keluarga, pasti aturan-aturan yang ditetapkan berbeda-beda. Salah satu yang aku terapkan di dalam rumahku dan berlaku untuk semua anggota keluarga termasuk orang-orang yang datang kesini adalah tidak boleh mencoret-coret di tempat selain media yang disediakan.

Mungkin di keluarga lain aturan ini tidak berlaku, ada orang tua yang membebaskan anak-anaknya untuk menggambar di dinding, lantai, meja dan sebagainya. Namun, kepalaku bisa pusing berkeliling-keliling saat melihat lingkungan rumah yang seperti itu. Hehe.

Selain itu, prinsip yang aku gunakan di rumah memang anak tidak boleh menyakiti diri sendiri, orang lain dan menyakiti atau merusak lingkungan. Dalam hal ini dinding, lantai, meja, sofa, kasur termasuk buku-buku dan mainannya adalah bagian dari lingkungan.

Hari ini, anakku menguji diriku dengan melakukan sesuatu yang melanggar ground rules yang mana sebenarnya ia sudah tau perihal tersebut.

TANTANGAN 15 HARI ZONA #1 - Hari ke-10


Temuanku hari ini :

Siang ini aku shock, saat selesai mencuci piring di dapur dan mendapati anakku sedang anteng mencoret-coret playmatnya di depan televisi menggunakan pulpen berwarna milikku.

Auto aku mengeluarkan suara bernada tinggi agar ia berhenti melakukan hal tersebut. Sadar anakku kaget, aku pun menghampirinya dan bertanya dengan mengubah nada suaraku seperti orang bingung.

"Hah?! Kenapa ini playmatnya jadi warna warni? Ini kok ada yang bolong? Siapa ya yang coret-coret disini?" Anakku memerhatikanku dengan seksama.

"Dipta mau menggambar? Kenapa menggambar disini? Ini kan bukan kertas gambar, Nak. Kalau menggambar harusnya dimana?" Lalu ia menunjuk tumpukan kertas HVS yang biasa ia gunakan untuk menggambar.

Setelahnya, aku mengajaknya untuk membersihkan coretan tersebut bersama-sama meskipun warnanya tidak hilang sepenuhnya. Hiks. Aku juga memberitahunya bahwa kita tidak mencoret-coret playmat apalagi sampai berlubang karena tertusuk pulpen karena itu termasuk hal yang merusak lingkungan.

Tantangan yang kuhadapi hari ini :

Harus menyingkirkan rasa marah dan kesal karena melihat playmate yang biasa dipakai anakku berlubang karena dicolok menggunakan pulpen dan dicoret-coret dengan pulpen berwarna milikku.

Rencanaku untuk esok hari :

Tidak menunjukkan material (pulpen berwana milikku) pada anakku. Mengingatkanny untuk tidak merusak lingkungan dengan mencoret-coret tempat lain selain media gambar yang disediakan.

Poin komunikasi produktif hari ini :

1. Menjaga intonasi dan nada bicara
Memang aku sempat terkejut saat pertama melihatnya sibuk mencoret-coret playmat, saat itu aku histeris karena perbuatannya tersebut mengecewakanku dan membuatku sedih sebab aku sudah berulang kali mengingatkannya agar tidak menggambar di media lain selain yang diperbolehkan.

Setelahnya, aku melakukan pendekatan lain agar ucapanku dapat terserap dengan baik dan ground rules yang telah aku tetapkan dapat dipatuhinya. Caranya adalah menjelaskan secara perlahan-lahan agar ia mengerti dan tidak menyakiti hatinya.

2. KISS
Saat melihatnya masih menggenggam pulpen berwarna di tangannya, aku memintanya dengan perlahan pulpen tersebut. Lalu aku menjelaskan bahwa kita tidak mencoret-coret playmat. Ini termasuk perbuatan yang merusak lingkungan dan kita harus menjaga lingkungan.

Aku mencoba menanamkan pemahaman ini dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar ia dapat paham dan menerapkannya.


3. Mengatakan apa yang aku inginkan
Aku mengatakan padanya bahwa aku ingin ia menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan rumah kami dengan menggambar di kertas gambar yang sudah disediakan.

4. Fokus pada solusi
Aku sadar mungkin anakku mencoret-coret playmat karena ia ingin mengeksplorasi dengan cara menggambar di tempat yang lebih luas dan menggunakan pulpen ibunya yang berbeda dengan krayon miliknya.

Aku pun sadar akan kesalahanku, dimana biasanya aku menyediakan kertas gambar di spot-spot yang sering ia diami. Misalnya di bumper bed dan di playmatnya. Namun, hari itu kertas gambar di playmat habis dan aku menunda untuk mengambilkan kertas baru dari laci.

Kesalahan kedua adalah karena aku menyimpan pulpen milikku di area yang masih terjangkau olehnya. Alasan aku melarang anakku menggunakan pulpen tersebut adalah karena ujungnya yang runcing sehingga khawatir akan mencederai dirinya. Ternyata, pulpen tersebut berhasil mencederai playmat sehingga menjadi bolong-bolong. Heu..

Solusi yang aku tawarkan pada anakku ketika ia ingin menggambar di area yang lebih luas adalah menyatukan beberapa kertas HVS berukuran A3 sehingga lebih besar dan luas.

Berapa bintangku hari ini :

🌟🌟🌟


Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

12/09/20

#harike-10
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar