Trauma Malam Minggu

By Imawati A. Wardhani - April 14, 2020


Sudah hampir sebulan sejak kepergian ayahku bulan Maret lalu, namun masih menyisakan kesedihan dan kenangan pahit jika mengingat kejadian saat itu.

Ketika itu aku hanya berdua dengan balitaku dirumah, menunggu dengan perasaan campur aduk antara khawatir, gusar, sedih, semua perasaan negatif ada di dalam diri saat semua anggota keluargaku termasuk suami berada di rumah sakit karena ayahku dalam kondisi kritis.


Sekitar pukul setengah sembilan malam, di malam minggu atau Sabtu malam tanggal 21 Maret 2020 aku mendapat telepon dari suamiku yang mengabari kabar terburuk yang pernah aku dengar. Kabar yang tidak ingin didengar oleh seorang anak, kabar tentang kepergian salah satu orang tua ku untuk selamanya. Lemas sekali rasanya, aku hanya bisa menangis di dalam kamar ditemani anakku yang belum paham dan menganggap aku mengajaknya bercanda sehingga ia malah tertawa-tawa.

Kala itu, aku dengan perasaan sedih yang teramat sangat harus tetap mempersiapkan rumah untuk menyambut keluarga dan tamu-tamu yang akan datang melayat ke rumah. Waktu yang harusnya ku gunakan untuk menidurkan anak, ku gunakan untuk membersihkan rumah, menggeser-geser kursi dan meja serta menggelar karpet. Beruntung beberapa waktu kemudian sanak saudaraku tiba dirumah dan mengambil alih pekerjaan sementara aku menata hatiku dan menenangkan diri.

Sejak saat itu, setiap hari Sabtu terutama sore hari hingga malam hari aku selalu terkenang kejadian itu. Pikiran dan perasaanku pun jadi sedih kembali. Hingga tengah malam aku tidak bisa tidur dan selalu terbayang-bayang hari itu.

Entah sampai kapan aku tidak bisa menikmati malam minggu seperti kebanyakan orang. Hari Sabtu ku anggap sebagai hari yang paling tidak menguntungkan, malam Minggu adalah malam yang sungguh buruk. Apa aku mengalami trauma akan hal ini?

Dari artikel yang aku baca, trauma merupakan hal yang berkaitan dengan tekanan emosional dan psikologis yang besar. Trauma bisa disebabkan oleh banyak hal antara lain kehilangan orang tersayang, menjadi korban kekerasan, menjadi korban bencana alam atau kecelakaan. (Sumber : halodoc.com)

Efek yang ditimbulkan dari trauma yang berhubungan dengan psikologis bisa bermacam-macam. Ada yang ringan, sedang hingga berat tergantung dari respon individu terhadap kejadian yang ia alami. Gangguan yang dapat disebabkan karena trauma psikologis antara lain takut, cemas dan sedih. Penderita juga akan mengalami kesulitan tidur dan selalu teringat akan peristiwa yang membuatnya trauma. (Sumber : sehatq.com)

Seiring berjalannya waktu, kenangan buruk dan rasa takut perlahan-lahan akan memudar dan kehidupan seseorang akan kembali normal untuk sebagian besar orang. Namun, ada juga yang terus-terusan menderita gangguan pasca kejadian trauma hingga berkembang menjadi penyakit mental yang disebut Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Tentunya aku tidak ingin rasa trauma hari Sabtu dan malam Minggu ku ini berkembang menjadi PTSD. Untuk menghindarinya, aku mendapat beberapa tips yang dapat digunakan sebagai media penyembuhan trauma :
1. Bercerita dengan Orang Lain
Dengan mencurahkan isi hati pada orang-orang terdekat, perasaan seseorang akan menjadi lebih lega. Adanya orang yang mendengarkan dan mendampingi kita melewati masa-masa sulit dapat membuat beban pikiran terbagi sehingga menjadi lebih ringan. Kita pun tidak lagi merasa sendirian menanggung rasa sedih.

Kesepian dapat memicu trauma yang lebih dalam dan depresi yang tak kunjung usai. Bersama dengan orang-orang terdekat yang selalu menghibur dan mendukung saat kita merasa terpuruk tentu akan menjadi obat yang dapat mengobati luka hati.

2. Menulis
Menulis bagiku menjadi salah satu media paling ampuh mengatasi rasa trauma ku saat ini. Sudah beberapa tulisan aku hasilkan yang berkaitan dengan kepergian ayah. Bukannya ingin menjual cerita, tapi ini adalah salah satu upaya agar aku bisa tetap tegar dan kuat menjalani hari-hari tanpa beliau. Memang ayah adalah figur yang sangat berpengaruh pada kehidupanku sampai detik ini.

Menulis pun sudah terbukti sebagai media penyembuhan, termasuk di dalamnya penyembuhan luka batin. Setelah menulis, ada perasaan lega yang ditimbulkan sehingga segala kecemasan, ketakutan dan hal-hal negatif dalam pikiran tidak lagi tersimpan. 

3. Menyibukkan Diri dengan Aktivitas
Selain kesendirian, sesuatu yang bisa membangkitkan memori buruk di masa lalu adalah ketika sedang tidak melakukan aktivitas apa pun. Aku menandai diriku sendiri kapan saja aku merasa sedih dan pikiran membawaku ke saat-saat tersedih itu. Mandi, makan, menonton televisi, saat dan setelah sholat adalah waktu-waktu dimana aku sering melamun dan selalu berakhir flashback ke malam Minggu itu.

Akhirnya aku berusaha mengurangi frekuensi menangisku dengan terus menyibukkan diri dengan berbagai hal. Beruntung aku memiliki anak kecil yang harus selalu ku urus sehingga aku bisa fokus membersamai anak tanpa berpikir aneh-aneh. Aku juga sibuk memikirkan rencana-rencana yang ingin segera aku realisasikan.

Mengikuti kegiatan online seperti aktif di komunitas dan menimba ilmu di berbagai media belajar online juga bisa menjadi alternatif pelarian dari rasa trauma.

4. Menghadapi Perasaan Tersebut
Sebenarnya ini sulit namun mau tidak mau harus dilakukan. Belajar menerima kenyataan dan menghadapi rasa takut yang ada bisa menjadi jalan keluar dari trauma yang sedang di alami oleh seseorang.

Perlahan tapi pasti, segala pikiran negatif akan hilang seiring berjalannya waktu asalkan kita menghadapinya dengan penuh keberanian dan rasa ikhlas yang besar. Berat, namun bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Terus lah berusaha dan menjalani hidup dengan hal-hal positif serta mencoba menyingkirkan pikiran negatif yang dapat membuat kita kepada trauma yang ada.

Begitulah upaya-upaya yang aku lakukan untuk terus menjalani hari-hari meski masih sering kali teringat kejadian di Sabtu malam yang memang mungkin tidak akan pernah terlupakan. Meski pun demikian, aku berusaha untuk tidak selalu terbawa suasana dan menjaga pikiranku agar tetap waras sehingga kenangan buruk itu tidak berkembang lebih jauh menjadi PTSD.

Sungguh aku berharap waktu bisa menyembuhkannya dan aku dapat kembali menikmati manisnya malam minggu baik bersama keluarga, teman-teman mau pun saat sedang sendiri tanpa terbayang-bayang lagi kejadian waktu itu.

Yogyakarta, 15 April 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar