Jumat, 21 Februari 2020

Keinginan Manusia x Skenario Tuhan


Sebelum menemukan laki-laki yang akhirnya menjadi jodohku, aku memiliki kriteria pria idaman yang menurutku cocok untuk dijadikan seorang suami. Aku rasa banyak perempuan yang juga demikian, memiliki gambaran masing-masing akan husband wanna be-nya.

Yang pertama jelas ya harus seagama, tidak mungkin lah bersama yang tidak seiman. Kalau pun ada laki-laki oke yang sesuai kriteria tapi berbeda keyakinan, langsung buang jauh-jauh perasaan ingin selalu bersama dia. Sebuah prinsip dasar.

Kedua, SETIA. Wajib banget ini, inginnya menikah itu sekali seumur hidup dan spend the rest of my life with him, the one and the love of my love. Bahkan tidak hanya ingin bersama didunia, sampai disurga pun ingin tetap bersatu dengan satu-satunya suami yang aku nikahi didunia.

Selanjutnya, memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agamaku. Mana ada sih perempuan yang mau suaminya kasar, pemalas, tidak bertanggung jawab dan tidak bisa menjadi imam yang baik dalam keluarga?! Seperti perempuan pada umumnya, aku menginginkan laki-laki yang bersikap lembut, baik hatinya, perhatian, bertanggung jawab, pekerja keras, sayang pada keluarganya, sholeh. Intinya apa yang diajarkan oleh agamaku dia memilikinya.

Baca tentang : Mempertanyakan Keyakinan

Dulu aku tidak ingin memiliki suami yang berprofesi sama denganku. Kupikir akan lebih seru jika kami bisa saling berbagi ilmu tentang hal yang tidak aku kuasai, begitu pula sebaliknya. Anakku juga akan memiliki wawasan lebih jika kedua orang tuanya memiliki pekerjaan yang berbeda. Dulu sih inginnya punya suami yang lulusan teknik gitu (sama seperti ayahku), terlihat keren dan laki banget aja gitu anak-anak dari jurusan teknik.

Aku juga sempat memiliki keinginan untuk tidak menjalin kisah dengan laki-laki yang berada dalam satu lingkungan denganku, baik dalam lingkup pertemanan mau pun pekerjaan. Alasannya, supaya lingkup sosialisasiku bertambah. Kalau menikah dengan teman sendiri ya nanti temannya itu-itu juga, pikirku saat itu.

Karena aku menyukai musik, aku memasang kriteria laki-laki yang pandai bermain alat musik sebagai salah satu kriteria laki-laki idaman. Waktu kuliah dulu, aku bergabung dalam organisasi yang bergerak dibidang musik dan bertemu dengan banyak teman-teman yang jago bermusik, pengen dapat satu yang begitu juga ceritanya. Haha.

Pintar dan berwawasan luas, paling "nggak bisa" kalo udah face to face sama orang yang cerdas. Kelihatan ya orang yang benar-benar smart sama yang sok pintar, auranya terasa berbeda. Nah! Impian banget dulu tuh punya suami, minimal seperti ayahku tapi kalau dapat yang seperti Pak Habibie luar biasa sekali.

Humoris. Oke, banyak ya kriteria laki-laki idamanku. Haha, tapi sifat ini penting untuk selalu menghidupkan suasana dirumah, rasanya bakal bahagia terus kalau punya suami yang suka bercanda. Nggak pernah terbayang sih aku hidup dengan orang pendiam, sedikit bicara dan tidak suka bercanda. Are you kidding me?

Baiklah, sepertinya segitu standarisasi pria yang dulu aku pasang untuk memilih pasangan hidup. Kalau soal fisik sih relatif ya, aku juga tau diri aja tampang pas-pasan begini tidak mungkin ngarep punya suami seperti Cristian Sugiono.

Dari beberapa pilihan yang Allah turunkan untukku, aku akhirnya memilih suamiku untuk menghabiskan sisa usia bersama-sama. Apakah laki-laki yang menjadi suamiku ini memiliki semua kriteria yang sudah aku tetapkan sebelumnya? Tentu tidak semuanya ia miliki! Haha. Aku menikah dengan laki-laki yang berprofesi serupa denganku, menikah dengan teman sendiri yang juga berasal dari satu tempat kerja, dan ia tidak bisa memainkan alat musik apa pun. Awalnya pun aku tidak suka dengannya karena berbagai macam alasan.

Ternyata suamiku adalah pemberian terbaik yang Tuhan berikan untuk melengkapi hidupku. Terlepas dari segala kekurangannya, ia juga memiliki begitu banyak kelebihan salah satunya bisa menerima kekuranganku yang tidak sedikit ini. Meski ia tidak bisa bermain musik tapi ia bisa selalu membuatku nyaman hanya dengan kehadirannya, ia memang seprofesi denganku tapi obrolan kami tidak melulu tentang pekerjaan banyak hal yang bisa kami bahas, kami memang satu lingkungan pekerjaan namun ia mengenalkanku dengan teman-temannya yang lain diluar lingkup pertemanan kami. Yang terpenting adalah ia bisa menjadi pemimpin sekaligus partner dalam rumah tangga kami, menjadi suami serta ayah yang sabar dan lembut untuk anak kami. Bersyukur sekali Tuhan sudah mempertemukan dan mempersatukan kami.

Memang benar ya, rencana Tuhan adalah yang terbaik. Manusia boleh saja berharap, berangan-angan dan berencana sesempurna yang mereka inginkan namun Tuhan tetaplah pemegang skenario atas kehidupan makhluknya, termasuk jodoh. 

Baca juga : Jodoh Pasti Bertemu

Percaya saja bahwa apa yang Tuhan berikan itu memang yang terbaik untuk kita, meski pun kadang tidak sesuai dengan harapan kita. Percaya saja Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik menurutNya untuk kita, siapa dan kapan pasrahkan saja dengan terus berdo'a dan berikhtiar. Tuhan lebih tau kebutuhan kita melebihi siapa pun, termasuk hati kita sendiri seperti yang telah dituliskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 216 : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Jadi, jangan kecewa saat apa yang kita dapatkan tidak sepenuhnya seperti yang kita inginkan karena hanya Yang Maha Mengetahui lah yang tau apa yang kita butuhkan bukan hanya apa yang kita inginkan. Jangan lupa untuk tetap bersyukur ya!

Sukabumi, 21 Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar