Senin, 17 Februari 2020

Jodoh Pasti Bertemu


Untuk perempuan diusia 20 sekian-an, membicarakan tentang jodoh sepertinya menjadi salah satu topik populer. Siapa jodohku? Apa benar ia jodohku? Kapan aku bertemu dengannya?

Aku pun melewati fase tersebut. Ada masa dimana aku menyandang predikat jomblo selama bertahun-tahun, kalau kata orang-orang jomblo kronis. Tentunya aku menyandang predikat tersebut tidak sendirian, borongan bersama beberapa sahabat saat kuliah dulu. Bersama mereka, rasanya menjadi jomblo tidak ngenes-ngenes amat meski pun topik yang dibahas saat sedang berkumpul pasti akan nyerempet-nyerempet ke masalah jodoh. Haha.

Saat menginjak usia 24-25 tahun, setelah lulus kuliah dan bekerja, status single masih saja melekat pada diriku. Mulai dong pertanyaan dari sana sini muncul, "Mana pacarnya?"; "Kapan nikah?"; "Jangan keasyikan kerja nanti sudah dapat jodoh," endebre endebre yang tidak pernah ku tanggapi dengan serius. Seselow itu dulu aku memikirkan jodoh, karena kedua orangtuaku pun selow. Selain itu, aku juga masih punya banyak teman yang senasib. Yaudah sih, nanti juga ketemu jodohnya pada saat yang tepat. God, I'm a hundred percent believe in You.

Meski pun selow, ada juga masa dimana aku galau karena seorang laki-laki yang pada waktu itu tidak memberi kejelasan, ternyata ia sedang memantapkan diri dan menunggu saat yang tepat untuk melamarku menjadi istrinya. Aku pun menikah dan satu hal yang membuatku galau tercoret dari list, yaitu jodoh. Setelah aku menikah, aku pun menjadi tempat curhat sekaligus motivator sahabat-sahabatku yang masih single.

Banyak sahabatku yang curhat tentang kegalauan mereka tentang jodoh yang tak kunjung terlihat hilalnya. Ada yang memikirkan umur, dorongan keluarga, ada juga yang mencoba untuk tidak terlalu kepikiran tapi pasti kepikiran. Saat mereka bercerita, aku akan lebih banyak mendengarkan daripada memberi nasehat, mencoba berempati pada mereka karena I know how it feels. I've been there before sambil menghibur, "Percayalah, waktu kalian pun akan tiba, sist!"

Percaya atau tidak, kalimat penghibur itu sangat mudah diucapkan oleh orang-orang yang sudah menemukan jodohnya dan menikah. Sementara bagi yang belum menikah apalagi masih jomblo, kalimat tersebut terdengar seperti basa-basi belaka. "Ah, lo mah ngomong gitu karena udah nikah! Lah gue?!" Haha. Lah ya memang aku bisa berkata demikian karena sudah melewati fase tersebut. Fase dimana aku galau dan khawatir kemudian dipertemukan dengan jodoh diwaktu yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, waktu yang terbaik bagiNya.

Setelah menikah, aku kemudian menjadi saksi perjalanan kisah cinta beberapa sahabatku hingga akhirnya mereka menemukan magnet yang membuat mereka stabil dan jauh dari kata galau. Jodoh. Cerita pertemuan sahabat-sahabatku dengan jodohnya pun sungguh tidak terduga. Ada yang ternyata jodohnya laki-laki yang selama ini ia sukai dalam diam, ada yang bertemu dengan jodohnya setelah resign dari kantornya, ada pula yang bertemu jodohnya berkat kekuatan sosial media. Masha Allah ya rahasia Tuhan memang tidak bisa diprediksi.


Pernah suatu ketika seorang sahabat bercerita padaku bagaimana desperatenya ia ketika laki-laki yang dia sukai terindikasi akan melamar wanita lain, galau berat karena ia susah move on dari orang tersebut. Saat mendengarkan kisahnya aku hanya berpesan, "Nanti kalau kamu sudah dipertemukan sama jodohmu, semua kegalauan kamu ini bakal hilang kok! Trust me..." kataku dengan harapan kata-kata itu bisa sedikit melegakan hatinya yang sesak.

Lagi-lagi kalimat penghibur tersebut aku lontarkan lantaran I've been in her shoes, meski pun dengan kisah yang berbeda tentunya. Beberapa bulan kemudian, sahabatku dilamar oleh laki-laki yang disukainya. Terbayang betapa bahagianya dia kan? Laki-laki yang disangka akan menjadi suami dari wanita lain ternyata melamar dirinya yang sudah sejak lama menyebut nama orang tersebut dalam do'a. Sahabatku pun berkata, "Kamu benar! Aku wes lupa rasanya galau yang kemarin-kemarin!" Alhamdulillah.

Satu per satu, sahabat-sahabat yang setia menemaniku saat masih jadi jomblo kronis dulu pun menemukan jodohnya. Diwaktu yang berbeda-beda, diusia yang berbeda-beda dan dengan ceritanya masing-masing. If two hearts are meant to be together, no matter how long it takes, how far they go, how tough it seems, fate will bring them together to share their love forever.

Buat para gadis yang masih menanti siapa jodoh kalian, percaya deh jodoh pasti bertemu seperti judul lagu Afghan. Tetap jalani hidup kalian dengan bahagia, jadikan diri kalian wanita yang hebat dengan mengejar apa yang dicita-citakan selagi ada kesempatan. Jodoh adalah rahasia yang Tuhan sudah janjikan, tolong jangan ragukan hal itu. 

Tetaplah berusaha memperbaiki diri untuk bertemu dengan yang sama-sama baik, tetaplah berikhtiar dan meminta pada Yang Maha Cinta untuk didekatkan dan dipersatukan dengan pasangan kalian. Selanjutnya, tunggu kejutan dariNya diwaktu yang menurutNya terbaik untuk kalian ;)

Sukabumi, 17 Februari 2020


4 komentar:

  1. Aku dulu sempat galau di usia 23-an, begitu lewat usia itu malah selow. Pasrah sm Gusti Allah. 26 menikah dengan orang yang blm lama dikenal. Alhamdulillah diberinmudah sampai 10 tahun berumah tangga. Jodoh emang misteri. Bisa bikin galau, tapi bisa juga dibawa selow. Yang penting percaya ketetapan Gusti Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waw sudah 10 tahun. Alhamdulillah. Semoga langgeng til jannah ya Mba. Bahagia selalu :)

      Hapus
  2. saya termasuk yg banyak selownya, nggak pernah bahas jodoh di depan teman2. Paling nanya ke diri sendiri 'siapa ya orangnya' abis itu ya lewat gitu aja. Pada akhirnya jodoh saya pun bertamu, bener-bener bertamu dulu baru bertemu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah ya Mba, pasti ada jalan ya kalo udah jodoh mah. Dari tamu ke rumah jadi tamu ke hati Mba. Ehehehe~

      Hapus