Kamis, 27 Februari 2020

Belajar Mengakui Perasaan Anak


Saat anak menjerit dan menangis karena berlari-lari kemudian terjatuh, apa yang akan terjadi jika orang tuanya berkata, "Makanya kalau jalan lihat-lihat! Jatuh deh jadinya!" yang terjadi adalah anak semakin menangis lebih kencang lagi. Berbeda halnya jika kita menanggapi tangisannya dengan, "Kamu nangis pasti karena ada yang sakit ya? Adik sedih gara-gara jatuh? Mana yang sakit? Sini ibu obati dulu," tidak lama kemudian si anak menghentikan tangisannya.

Dari hasil membaca buku tulisan Joanna Faber dan Julie King yang berjudul Seni Berbicara Pada Anak - Panduan Mendidik Anak "Tanpa NGEGAS!" (How To Talk So Little Kids Will Listen), ternyata kunci utama agar mudah mengendalikan anak adalah dengan menerima dan mengakui perasaannya.


Ketika anak sedang bertingkah karena sesuatu, maka kita harus mencari tau penyebabnya dan mengakui perasaan yang saat itu ada dalam dirinya. Emang rada susah sih, apalagi kalau bocahnya masih piyik belum bisa bicara lancar, yang ada ibunya ikut emosi, "WOY! LO MAUNYA APA SII?" Haha. Enggak kok, aku tidak seperti itu pada anakku.

Baca tentang : Mom's Roller Coaster

Sama halnya dengan orang dewasa, ketika dirinya bercerita betapa sedihnya ia sebab kehilangan dompet karena meletakannya di saku (bukan di dalam tas) dan ia tertidur sepanjang perjalanan di bus hingga hampir lewat dari tempat tujuan kemudian ia tergesa-gesa turun dari bus yang kemungkinan besar menyebabkan dompetnya terjatuh atau sudah diambil orang saat ia tertidur. Bayangkan jika kita bereaksi seperti ini :
"Udah nggak usah ngeluh, buruan lapor polisi. Blokir atmnya, keburu uangnya habis diambil orang!"

atau memberi nasihat panjang lebar,
"Makanya kalo pergi-pergi tuh dompet harus selalu di masukin dalam tas! Harusnya kamu periksa dulu sebelum turun dari bus, jangan langsung grasak grusuk turun bus. Jatuh deh dompetnya, ini harus kamu jadikan pelajaran untuk lain waktu!"

atau menyangkal perasaan nelangsanya,
"Udah nggak usah sedih-sedih gitu, gampang itu ngurusnya tinggal ke kantor polisi, telepon bank. Udahlah nggak usah menye-menye gitu."

Jika kita memberinya tanggapan seperti contoh diatas, kemungkinan besar ia tidak akan pernah lagi bercerita tentang masalahnya pada kita. Haha. Daripada berkata seperti itu, lebih baik jika kita menanggapinya dengan,
"Ya ampun dompet kamu hilang? Sedih banget... Pasti sebel sih harus ribet ngurus ke kantor polisi, bank, belum lagi sim sama kartu-kartu lain ada disana semua. Ada yang mau aku bantu nggak?" and you will be friends forever. Haha.

Ketika anak mulai melakukan sesuatu yang menurut kita diluar batas atau berkata hal negatif, menurut Joanna dan Julie yang perlu kita lakukan adalah menguatkan hati dan menahan diri untuk membalas kata-katanya; memikirkan emosi yang dirasakan anak saat itu kemudian masukan emosi tersebut dalam kalimat.

Akan ada suatu waktu dimana emosi anak yang meluap-luap reda setelah kita mengakui apa yang ia rasakan. Namun, saat anak mulai melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya mau pun orang lain kita sebagai orang tua harus sigap membatasi tindakan tersebut.

Kita ambil contoh ketika seorang kakak mengamuk saat adiknya yang masih bayi tidak sengaja mematahkan mainan milik kakak. Kemudian kakak menangis sejadi-jadinya dan ingin memukul adiknya, sebagai orang tua kita harus mengambil langkah tegas dengan segera menjauhkan adik dari pukulan kakak tapi juga meredakan emosi kakak. "Kamu pasti marah sekali ya sama adik karena mainanmu rusak? Tidak apa-apa kalau kamu kesal, masalahnya memukul itu tidak baik," katakan masalahnya untuk mengganti kata tetapi yang justru dapat membuat perasaan anak jadi lebih kesal setelah kita berkata bahwa kita menerima emosinya.

Well, yang ku tulis diatas hanyalah secuil dari isi buku parenting ini (judul diatas ya). Bukunya bagus sekali, setiap lembar berisi ilmu yang harapannya bisa diaplikasikan olehku. Tentang menerima perasaan anak ini dibahas di bab pertama, aku langsung menulisnya di blog karena menurutku ini sangat bermanfaat bagi para orang tua.

Sebagai orang tua, kita jangan hanya ingin anak kita patuh dan menurut pada kita. Kita harus memperlakukannya seperti manusia, dia bukan robot loh yang disuruh apa pun nurut! Punya perasaan, perasaan yang belum bisa ia utarakan dan ekspresikan melalui kata-kata. Justru tugas ibu bapaknya lah agar ia memahami emosi yang dirasakannya sehingga bisa mengekspresikannya dengan benar.

PR banget sih ini untukku, karena aku masih suka kelepasan ngegas saat anakku mencoba menggapai uap panas dari rice cooker atau saat ia mencoba meraih gagang penggorengan ketika aku memasak. Heboh emak takut bocah kenapa-kenapa, tapi kehebohanku itu mungkin bisa melukai hatinya. Hiks. Maaf ya, nak.

Dari buku ini aku juga banyak belajar bahwa mengendalikan anak itu tidak melulu dengan perintah dan teriakan. Maklum ibu baru jadi masih banyak nggak taunya nih, harus belajar lebiihh banyak lagi supaya bisa jadi orang tua terbaik untuk anak.
Jadi, bukan hanya kita sebagai orang tua yang ingin dimengerti tapi juga si kecil yang masih belum paham cara mengungkapkan isi hatinya. Yuk bersama-sama berproses menjadi orang tua yang pengertian terhadap anak-anak.

Sukabumi, 27 Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar