Terjebak dalam Toxic Relationship

By Imawati A. Wardhani - Januari 19, 2020


Jika membuka artikel diinternet, sudah banyak yang membahas mengenai toxic relationship. Aku memang tidak pernah mengalaminya sendiri, tapi aku punya beberapa teman bahkan sahabat yang jelas-jelas terjebak dalam situasi seperti itu. Sebenarnya gimana sih toxic relationship itu?

Pada dasarnya, kita semua menginginkan hubungan yang sehat. Hubungan dengan keluarga, pasangan dan lingkungan. Mana ada sih yang ingin hidupnya penuh tekanan dan derita, ya kan? Oiya, dalam hal ini aku akan membahas hubungan toxic antara sepasang kekasih ya. Suatu hubungan dikatakan sehat jika kedua belah pihak saling support dan menghargai, hubungan yang saling menyayangi dan tidak ada pihak yang tersakiti. Intinya saling peduli dan menghormati satu sama lain.

Disisi lain, layaknya ada hitam dan putih maka hubungan pun ada yang sehat dan tidak sehat. Tidak sehat dalam artian lebih banyak energi negatif yang kita terima ketimbang energi positif selama berada dalam hubungan tersebut. Ketika kita merasa tertekan, tidak dihargai, disakiti baik fisik mau pun verbal, hidup penuh ancaman dan selalu merasa lelah dengan hubungan tersebut, bisa jadi kita sedang terjebak dalam toxic relationship. Terdengar menyeramkan bukan?

Awalnya aku pikir hal semacam itu hanya terjadi disinetron dan film saja, sampai aku menjumpai seorang teman yang mendapat perlakuan kasar dari pasangannya. Temanku wanita, dan dengan tega pasangannya mencubit hingga biru dibeberapa bagian tubuh sahabatku itu. Tidak hanya itu, ia pun kerap mendapat kekerasan psikis melalui kata-kata kasar. Pasangannya merusak beberapa barang milik sahabatku. Haduuhh, mendengar ceritanya saja sudah takut sendiri. Jelas sekali temanku lelah dengan hidupnya bersama pasangannya itu, ia sering menangis, menghindari masalah dan terlihat lebih bahagia dan 'hidup' saat jauh dari pasangannya.

Ada juga seorang teman yang sering sekali menjadi korban 'terror' pasangannya sendiri. Lagi dimana? Sama siapa? Sampai jam berapa pergi? Pakai baju apa? Fotoin dulu kalau mau pergi. Yaa segitunya amat, Bang! Dengan sukarela temanku meladenin keposesifan pacarnya itu. Jika yang dilakukan temanku tidak sesuai dengan harapan pasangannya, maka temanku akan dihujani dengan cacian dan hinaan. Bahkan jika pakaian yang digunakan temanku tidak sesuai dengan style pasangannya, temanku tidak boleh pergi hingga ia mengganti pakaiannya sesuai arahan pasangannya.

Cerita lain lagi, seorang temanku yang selalu dan selalu diselingkuhi oleh pacarnya. Pacaran sejak SMP, kerjaannya putus-nyambung karena pasangan temanku bolak balik selingkuh tapi selalu dimaafkan dan kembali lagi pada temanku. Hingga akhirnya temanku lelah dan putus beneran. Alhamdulillah hubungan mereka tidak berakhir dipelaminan.

Banyak contoh toxic relationship yang terjadi disekitarku. Ada yang pasangannya hobi menipu hingga ikut terjebak hutang yang dilakukan pasangannya. Terbayang betapa stress-nya mereka dalam menjalankan hubungan yang harusnya membuat hidup lebih bahagia dan lebih baik. Apa sebenarnya alasan mereka mempertahankan hubungan yang tidak sehat itu ya? Menurut hasil survey kecil-kecilan yang aku buat, ternyata kebanyakan jawabannya adalah karena mereka takut untuk sendirian (lagi). Takut jomblo dan kesepian, guys! Mengenaskan karena saat aku bertanya dan mereka menjawab posisiku sedang jadi jomblo kronis. Haha..

Ada juga yang beralasan kalau sebenarnya pasangan mereka itu baik, perhatian dan yakin kalau sifat buruk pasangannya itu akan berubah seiring berjalannya waktu. Selain itu, mereka beralasan atas dasar hubungan yang telah mereka bangun sekian lama dan terlalu malas jika harus putus dan mengulang semua dengan orang baru lagi.

Apa pun alasannya, please you need to heal your self first! Aku berkata disini dari sudut pandang orang lain yang melihat kondisi orang-orang yang tersakiti dalam toxic relationship. Walau pada akhirnya keputusan ada ditangan masing-masing dan hubungan itu kalian yang menjalani, tolonglah untuk menenangkan diri dan berpikir ulang sebelum melangkah lebih jauh. Before it's too late.

Sedih sekali loh melihat teman bahkan sahabat sendiri diperlakukan semena-mena seperti itu. Jika kita mengetahui seperti apa kualitas dari sahabat kita yang terjerat toxic relationship, pasti tidak akan rela ia mendapat pasangan seperti itu. Dia berhak mendapat pasangan yang bisa memperlakukannya dengan jauh lebih baik. Sahabatnya sendiri saja sedih, bagaimana orangtuanya jika tau anaknya diperlakukan dengan tidak baik seperti itu?

Berita baiknya, dari beberapa kasus yang kuceritakan diatas tidak ada satu pun yang berakhir dipelaminan. Pada akhirnya, teman-temanku sadar akan hubungan tidak sehat yang menjeratnya. Mereka bercerita dan mendengarkan saran dari orang-orang terdekatnya, mereka berusaha mengembalikan kewarasan berpikirnya hingga bisa mengambil keputusan untuk lepas dari pasangan toxic-nya. Jika ku perhatikan, kunci agar bisa terlepas dari toxic relationship adalah belajar menghargai dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu, setelah kita sadar betapa berharganya diri kita maka kita tidak akan rela diperlakukan seenaknya dan terbelenggu dalam hubungan yang tidak membangun.

Aku sendiri tidak pernah (jangan sampai pernah) berada dalam hubungan seperti ini. Aku harap kalian semua juga senantiasa membina hubungan yang sehat dan membuat hidup lebih cerah berwarna!

Sukabumi, 20 Januari 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar