Rabu, 15 Januari 2020

Pendendam


Setiap manusia dilahirkan dengan berbagai kelebihan dan banyak kekurangan. Nobody's perfect! Exactly. Dalam tulisan kali ini, aku ingin bercerita bagaimana aku mencoba berdamai dengan salah satu sifat buruk yang terkadang membuatku merasa seperti orang jahat. Memang dasarnya aku tidak sebaik ibu peri, sih. Haha..

Entah sejak kapan dan apa yang membuatku seperti ini, aku sungguh benci dengan toxic people. Saking tidak sukanya, aku akan terus membenci dan menyimpan rasa dendam pada orang yang telah menyakiti hatiku dan orang-orang terdekatku (dalam hal ini keluargaku). Selain kurang bersabar, pendendam menjadi salah satu sifat burukku yang tampak nyata. Bagi sebagian orang, menjauhi kaum toxic dan tidak mengindahkan cercaan mereka sudah cukup membebaskan pikiran mereka dari orang-orang toxic. Berbeda denganku yang akan terus merasa sakit hati dan benci jika harus bertemu dan berhadapan dengan mereka yang pernah menyakiti aku atau keluargaku. Aku mencoba memaafkan tapi untuk melupakan perlakuan atau perkataan mereka ku rasa tidak akan pernah bisa, forgiven but not forgotten.

Emang mereka ngapain hidup lo sih, Ma? Kok sampe segitunya amat?

Well, tentunya manusia punya ambang batasnya masing-masing sehingga tidak ada tolak ukur perkataan atau perlakuan seperti apa yang membuatku sebegitu benci pada seseorang hingga menyimpan dendam padanya. Random aja, sih. Sebagian besar ketika aku merasa terkhianati setelah memberikan kepercayaan pada mereka. Bisa juga karena memang tidak suka aja sama salah satu sifat mereka yang tak tersampaikan hingga akhirnya menumpuk dan melebar menjadi dendam.

Sadar bahwa sifat pendendam adalah salah satu sifat yang sungguh tidak baik, aku mencoba bernegosiasi dengannya. Tidak ada satu agama pun yang membolehkan kita memiliki sifat dendam, this is so wrongAyolah, gitu doang nggak usah sebal. Dia nggak bermaksud ngomong gitu, kok. Udah nggak usah dipikirin terus. Banyak sekali percakapan yang terjadi antara otak dan perasaanku saat those toxic people mulai menebar racunnya. Akhirnya aku mencoba membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk meminimalisir perasaan dendam ini, diantaranya :

1. Stay Away From Toxic People
Nggak ada jalan lain, semakin sering berhubungan dengan orang-orang itu semakin besar rasa benciku pada mereka. Jadi, jauh-jauh dari mereka adalah koentji. Kalau tidak ada urusan, tidak usahlah cari-cari urusan sama mereka. Sebisa mungkin menghindarinya bahkan bila harus lewat jalan memutar yang lebih jauh, jalan itu yang akan ku ambil daripada harus berpapasan dengan mereka.

2. Jauhi Rasa Ingin Membalas Dendam
Aku memang tidak bisa menyukai atau menaruh respect lagi pada orang-orang yang sudah pernah menyakiti hatiku sampai level tertinggi, namun aku juga tidak pernah ingin membalas perlakuan mereka atas dasar dendam. Ngapain lah, wasting time banget! Urusanku yang lain jauh lebih berharga daripada mengurusi rencana pembalasan dendam. Meski pun demikian, tidak jarang aku mendo'akan agar mereka mendapatkan balasan yang setimpal atau segera menerima karma. I know this is wrong, too. Haha..

3. Tetap Bersikap Profesional
Meski pun sebisa mungkin menghindar dari toxic people, terkadang ada saja yang membuat kita harus berurusan dengan mereka. Entah karena pekerjaan, hubungan pertemanan atau saudara. Disaat seperti ini, aku tidak berpura-pura baik dan tidak juga mencoba bersikap baik beneran pada mereka. Keep being me, aja. Sebisa mungkin secepat kilat menyelesaikan urusan dengan mereka dengan mempersingkat percakapan yang memang tidak ingin kulakukan. Kadang aku tidak bisa lagi menutupi rasa jengkelku pada orang tertentu yang sudah benar-benar aku benci hingga melihatnya saja muak tapi masih berusaha profesional didepannya. Ya Tuhan, maafkan hambaMu yang seperti ini, ya.. T_T

4. Tidak Membicarakan Mereka
Dimana-mana membicarakan orang lain dibelakang memang tidak boleh. Haha. Tapi, terkadang saking berapi-apinya kita ingin sekali berkeluh kesah tentang betapa menyebalkannya orang-orang toxic tersebut, betapa kata-katanya melukai hati hingga begitu dalam, betapa perbuatannya terlihat sangat tidak termaafkan (oleh diri kita). Nyatanya, membicarakan keburukan mereka tidak membuat kita lebih baik, guys! Yang ada kita semakin menanamkan rasa benci dan dendam pada orang tersebut. Another wasting time, masih banyak yang harus dipikirkan selain mereka.

Sekiranya itulah cara-cara yang kulakukan untuk meminimalisir rasa dendam yang telah terlanjur kutanam pada beberapa orang yang menurutku toxic dalam kehidupanku. Masih jauh dari sempurna memang, ku harap aku bisa semakin berdamai dengan sifat buruk ini dan mengurangi porsinya lebih banyak lagi.

Adios!

Sukabumi, 15 Januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar