Kamis, 16 Januari 2020

Mengelola Keuangan Keluarga


Sebelum menikah, aku mengelola keuanganku sendiri tanpa memiliki pengetahuan mengenai budgeting pengeluaran dan tabungan. Aku punya tabungan dan mencoba selalu menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung, tapi tabungan buat apa? Nggak ada namanya, ya nabung aja. Kalau uang bulanan kurang ya ngambil dari tabungan, mau travelling tinggal ambil dari tabungan. Haha. Karena tidak punya planning, tabunganku sering kali terkuras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Hasilnya, setelah resign aku mengantongi tabungan dengan nominal yang kurang memuaskan bagiku meski pun jumlahnya lumayan.

Sejak kecil kebiasaan menabung sudah ditanamkan oleh ibuku, ingat sekali aku diajarkan untuk selalu memasukkan koin receh-receh kedalam celengan ayam. Kakak harus punya tabungan ya, ingat jangan lupa nabung! Pesan itu selalu terngiang-ngiang hingga detik ini dan seterusnya. Akibatnya, hidupku tidak tenang jika melihat saldo tabunganku menipis. Rasanya ingin segera kembali menambahkannya hingga dibatas aman yang sudab kutentukan sendiri. Saat masih belum berkeluarga, mudah saja menambahkan tabungan karena aku hanya memenuhi kebutuhanku saja, tinggal hemat dikit saldo tabungan bisa kembali membuatku bernafas lega.

Setelah berkeluarga, kehidupan finansialku berubah drastis. Aku yang bekerja diranah domestik menjadi pengelola keuangan keluarga dimana income berasal dari satu sumber yaitu pendapatan suami. Ini tentunya sudah dibicarakan sejak awal, setelah gajian suamiku akan mentransfer gajinya untuk ku kelola selama sebulan hingga gajian berikutnya. Wah! Tidak mudah ternyata, jika saldo sampai minus berarti ada yang salah denganku dalam mengelola keuangan keluarga.

Aku pun mencoba mencari-cari tau berbagai tips dalam mengelola keuangan keluarga. Kali ini aku ingin berbagi mengenai tips yang menurutku cukup efektif dalam merencanakan dan mengatur keuangan keluarga :

1. Buat Budgeting Pengeluaran
Ini merupakan langkah awal, list semua pengeluaran kita mulai dari kebutuhan terpenting sampai kebutuhan tidak terduga. Dari sini kita bisa tau pengeluaran kita per bulan berapa banyak dan memudahkan untuk mengatur keuangan yang masuk kedepannya.

2. Buat Pos-Pos Keuangan
Setelah tau pengeluaran kita untuk apa saja, kita bagi menjadi beberapa pos. Kalau pembagian pos keuangan keluargaku kira-kira begini :
A. Pos Kebutuhan Mingguan
Setiap akhir minggu, aku dan suami biasa pergi berbelanja kebutuhan disupermarket. Hal-hal yang tidak bisa dibeli ditukang sayur atau warung terdekat kami beli disupermarket. Aku mengalokasikan dana untuk Pos Kebutuhan Mingguan dengan jumlah rata-rata biasa pengeluaran kami disupermarket.

B. Pos Kebutuhan Rumah
Dipos ini, aku mengalokasikan dana untuk membeli galon, membeli sayur dan jajan-jajanan keliling seperti bakso, pempek dan tukang jajan lain yang lewat didepan rumah. Disamping itu, pos ini juga disiapkan untuk membayar iuran keamanan dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Oiya beli bensin juga diambil dari Pos Kebutuhan Rumah ini.

C. Pos Dana Online
Maksudnya dana online disini adalah uang yang kualokasikan untuk disimpan di Go-Pay dan pulsa/paket internet. Kenapa harus ada saldo Go-Pay? Karena aku tidak selalu rajin memasak, sekali-sekali ingin memanjakan lidah dan perut dengan makanan-makanan ala resto tanpa harus pergi kesana. Juga karena aku belum memiliki kendaraan pribadi, Go-jek dan Go-car menjadi andalan kami saat akan bepergian dalam jarak dekat.

3. Menabung
Seperti amanah ibukku dimana aku harus punya tabungan, sebagian penghasilan aku alokasikan untuk tabungan. Tabunganku yang ada saat ini :
A. Tabungan Pendidikan Anak
Setiap bulan kami selalu menyetorkan dana pendidikan untuk anak kami kelak. Menurutku sangat penting mempersiapkan dana pendidikan, karena sekolah nggak bisa dinanti-nanti. Suka tidak suka dan mau tidak mau anakku harus masuk sekolah saat usianya 4-5 tahun. Jujur aku sih merasa tidak sanggup jika harus mendidiknya secara homeschooling, jadi tabungan pendidikan ini menjadi salah satu prioritasku.

B. Tabungan Dana Darurat
Tabungan ini aku persiapkan untuk keperluan-keperluan darurat seperti saat harus patungan membeli kado nikahan teman, membuat baju bridesmaid, beli panci karena tiba-tiba rusak dan keadaan darurat lain. Agar tidak mengganggu dana dipos-pos yang sudah kubuat, hadirlah tabungan ini. Namun, dari kuliah Whatsapp yang kuikuti sebenarnya dana darurat ini harus disiapkan jika suatu saat kami kehilangan pekerjaan. Jumlahnya pun ada standardnya jika mau mengikuti teori. Hmm.. Aku belum sampai mempersiapkan sampai begitu sih, so far masih 'yang penting punya' dulu.

C. Tabungan Investasi
Aku berinvestasi dalam bentuk Logam Mulia. Why? Karena yang aku baca resikonya relatif rendah dan cocok untuk jangka menengah-panjang. Jujur aku belum mempelajari jenis-jenis investasi lain seperti saham, dan lainnya. Aku mengalokasikan dana untuk membeli LM karena investasi inilah yang aku pahami, jangan berinvestasi karena ikut-ikutan loh! Alih-alih untung malah bisa rugi jika tidak paham dan mempelajari dengan baik jenis investasi yang akan kita lakukan.

4. Disiplin
Ini penting banget! Percuma sudah mengalokasikan dana sana-sini tapi kita tidak disiplin dalam menjalankan rencana keuangan yang telah dibuat. Aku dan suami pun masih terus berusaha supaya bisa menaati rencana keuangan yang ada saat ini. Bismillah semoga selalu istiqomah.

Memang management keuangan keluargaku masih jauuuhhh dari kata sempurna dan sesuai teori. Masih banyak yang harus disiapkan seperti dana pensiun, asuransi kesehatan/jiwa/pendidikan, tabungan haji dan bermacam-macam tabungan kebutuhan lain yang masih banyak! Satu-satu lah yaa, prioritasku tahun ini adalah tetap disiplin dalam menjalankan management keuangan yang telah kubuat diatas.

Sudah dulu ya pembahasan mengenai mengelola keuangan keluarga-nya, sebelum makin pusing memikirkan uang-uang yang harus dikelola dengan baik itu! Haha. Sekian.

Sukabumi, 16 Januari 2020

4 komentar: