Tantangan Membawa Si Kecil Bepergian




Berkesempatan pergi travelling bersama keluarga tentunya sungguh menyenangkan. Selain melepas penat dan refreshing, waktu yang dihabiskan bersama keluarga tercinta akan menjadi kenangan indah yang selalu terkenang.

Saat masih single, menyiapkan segala keperluan untuk travelling rasanya sangat mudah dan cepat. Tidak memakan waktu lama untuk packing. Barang bawaannya pun mininalis. Berbeda ketika aku sudah menjadi istri dan ibu, yaampun rasanya pengen bawa koper besar terus biar bisa cemplang-cemplung semua masuk. Perlengkapan yang paling banyak dibawa tentunya punya si kecil. Meski sudah mencoba membawa barang sesedikit mungkin, tetap saja ujung-ujungnya seperti mau pindah rumah. Haha. Karena takut ada yang ketinggalan, akhirnya semua di angkut.

Tantangan lain yang dihadapi saat travelling bersama anak adalah saat ia masih bayi dan masih dalam masa ASIX. Ketika pergi menggunakan kendaraan umum seperti bus, kereta atau pesawat, mulanya aku merasa sangat risih jika anakku minta menyusu. Padahal sudah pakai baju busui kekinian, tetap saja ada rasa risih menyusui di tempat umum. Lama kelamaan, yasudahlah mau bagaimana lagi akhirnya aku bersikap cuek dan bodo amat menyusui di transportasi umum setelah memiliki pengalaman beberapa kali travelling.


Ternyata, selepas ASIX tetap saja ada tantangan yang dihadapi saat membawa si kecil bepergian. Memasuki masa MPASI, terbayang lah ya buat ibu-ibu betapa ribetnya menyiapkan makanannya belum lagi menyuapinya. Dirumah saja tidak selalu mulus, apalagi di perjalanan? Saat harus memberi makan besar untuk si kecil di perjalanan, biasanya aku memberi bubur fortifikasi agar cepat dan ringkas. Kalau nyuapin di kereta lebih enak ya karena ada restaurantnya, naik mobil pribadi juga lebih fleksibel karena bisa berhenti mampir saat waktu makan tiba. Yang agak ribet adalah saat naik bus umum ya, kita harus bisa menyiapkan makanan dan menyuapi anak dengan space yang terbatas. Kalau sudah begitu yaa di nikmati saja. Haha.

Permasalahan hidup tidak berhenti sampai selesai memberi makan anak, yang membuat was-was juga ketika si kecil harus menunaikan hajatnya untuk buang air besar. Kalau sekedar ganti diaper saat sudah penuh sih tidak begitu heboh, lain halnya dengan mengganti diaper saat anak BAB. Saat bepergian dengan kereta, kita bisa membawa anak ke toilet untuk membersihkan dirinya dan mengganti popoknya. Begitu pula saat pergi dengan mobil pribadi, bisa mampir ke pom bensin atau berhenti sebentar untuk menyelesaikan urusan. 

Sedikit menantang saat berada di pesawat dalam posisi wajib menggunakan sabuk pengaman, sebut saja ketika take off atau landing atau saat ada turbulensi. Begitu pula saat naik bus antar kota, selain tempat duduknya yang sempit, tidak semua bus menyediakan toilet didalamnya. Kalau begitu, rewelnya anak akan berbanding lurus dengan rasa sungkan pada penumpang lain yang harus terganggu karena suara tangisan anak kita juga harus ikut menghirup aroma tidak sedap dari diaper anak kita.

Tantangan terakhir saat membawa si kecil bepergian adalah ketia ia cranky selama perjalanan. Sebagai orangtua, kita harus peka terhadap kebutuhan anak. Apakah ia lapar, mengantuk, kedinginan, sakit, harus ganti diaper atau ia bosan? Jika faktor pencetusnya sudah diketahu baru kita bisa mengatasi kerewelannya. Jangan lupa untuk membawa kebutuhannya dengan lengkap. Makanan, minuman, obat-obatan, jaket atau selimut bahkan buku favorit atau mainannya. Kalau sudah begini, jangan heran melihat isi tas yang menjadi seperti kantong Doraemon. Hehe.

Travelling membawa anak kecil itu memang tidak mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi sebagai orangtua kita juga jangan menyerah, jangan kapok ketika harus berhadapan dengan hal-hal menantang seperti diatas saat bepergian. Ingat, practice makes perfect and memory will last forever!


Sekian.

Sukabumi, 06 Maret 2020

Posting Komentar

9 Komentar

  1. Pernah merasakan betapa rempongnya bawa baby-batita-balita bepergian mbak ehehehe... Bawaannya tas bayi ukuran gede pasti penuh juga. Kalau saya yang penting ada mainan favorit si kecil yang ukurannya kecil-kecil harus ikut dibawa siy

    Jadi kangen bertualang, hiks

    BalasHapus
  2. Bepergian membawa anak kecil menggunakan transportasi umum memang tantangan banget nih. Dan saya setuju dengan kutipan terakhir kalo practice makes perfect and memory will last forever. Semangaat mak��

    BalasHapus
  3. Hahaha...iya, memang walking-walking bersama si kecil itu beda juaaauhh sama travelling sendiri or berdua sama pasangan aja. Lupain lah itu yang namanya minimalis backpacking or whatever. Dari mau berangkat, pas di jalan, sampe jalan-jalan, pasti ada aja request-nya si boss kecil yang harus dinomorsatukan.

    Pengalaman terakhir pelesiran naik bus umum waktu Fabio usia 5 tahun itu adalah, dosky huek byor di bus gegara si sopir bus tak lain dan tak bukan adalah Valentino Rossi.

    Turun dari bus, kami beristirahat sejenak di sebuah warung untuk sarapan pagi sementara dosky....semaput. Hahaha.

    Kasihan sih, tapi ya begitulah kehidupan. Kalau semua serba enak, nggak asik cerita hidupnya.

    BalasHapus
  4. Bepergian dengan anak kecil memang suatu tantangan tersendiri ya Kak.. Tapi, momen ini akan jadi tabungan kenangan untuk anak2 juga sehingga perlu diupayakan semenyenangkan mungkin ya.. Menyenangkan utk anak dan tentunya orang tua juga..hehe..

    BalasHapus
  5. Bepergian bersama si kecil tantangannya memang banyak , tapi bisa seru juga buat pengalaman dan kenangan. Memanglah butuh persiapan dan juga kewaspadaan tersendiri supaya anak nyamn dan sehat di perjalanan

    BalasHapus
  6. I feel you, Mbak.
    saya pun merasa yang sama nih kalau traveling bersama anak, pengennya bawa semua isi lemari, stock diapers, susu dsbnya.. sampai PakSu bilang kayak gak bisa beli di tempat tujuan aja,, huhuh gak semudah itu Ferguzooo. Mending bawa aja deh daripada disana kudu repot, belum lagi jika pas stock yang bisa dipake anak gak tersedia kan ya repot juga.
    pernah juga tuh bawa anak naik pesawat tuk pertama kali dan dia jadi nangis sejadi-jadinya 15 menit sebelum landing, fiuuuhh rasanya, udah gak usah ditanyain lagi daah. Sebelumnya sempat bersihin diapersnya juga di toilet pesawat lho, duuhh wow banget deh :D

    BalasHapus
  7. Whha sepertinya aku adalah pelakunya waktu kecil sering diajak jalan jalan, tapi emang penuh tantangan banget sih dan banyak hal-hal yang tidak terduga pasti akan terjadi.. Tapi kalau dilihat dari manfaatnya bagus banget, selain jadi wawasan buat si kecil tentang dunia luar juga bisa jadi pengalaman yang bagus... Siapa tau sudah besar bisa jalan-jalan sendiri, atau bahkan perjalanannya bisa menjadi sebuah pekerjaannya.. Keren banget

    BalasHapus
  8. Tepat banget, Mbak. Saya yang belum liburan dengan anak yang masih kecil juga sudah rempong banget. Pas sowan ke rumah mertua, ampun deh. Bekal si kecil lebih banyak daripada bekal kita ya. Terus di jalan juga lebih slow naik kendaraannya. Wkwkwk

    BalasHapus
  9. bener banget, mbak. jangankan mau bepergian jauh. ajak anak ke kondangan aja ribetnya minta ampun deh jagain mereka yang sukanya lari-lari-lari ke sana ke mari. salut deh sama orang tua yang rajin ngajak anaknya travelling

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍