Tantangan Membawa Si Kecil Bepergian

By Imawati A. Wardhani - Maret 05, 2020




Berkesempatan pergi travelling bersama keluarga tentunya sungguh menyenangkan. Selain melepas penat dan refreshing, waktu yang dihabiskan bersama keluarga tercinta akan menjadi kenangan indah yang selalu terkenang.

Saat masih single, menyiapkan segala keperluan untuk travelling rasanya sangat mudah dan cepat. Tidak memakan waktu lama untuk packing. Barang bawaannya pun mininalis. Berbeda ketika aku sudah menjadi istri dan ibu, yaampun rasanya pengen bawa koper besar terus biar bisa cemplang-cemplung semua masuk. Perlengkapan yang paling banyak dibawa tentunya punya si kecil. Meski sudah mencoba membawa barang sesedikit mungkin, tetap saja ujung-ujungnya seperti mau pindah rumah. Haha. Karena takut ada yang ketinggalan, akhirnya semua di angkut.

Tantangan lain yang dihadapi saat travelling bersama anak adalah saat ia masih bayi dan masih dalam masa ASIX. Ketika pergi menggunakan kendaraan umum seperti bus, kereta atau pesawat, mulanya aku merasa sangat risih jika anakku minta menyusu. Padahal sudah pakai baju busui kekinian, tetap saja ada rasa risih menyusui di tempat umum. Lama kelamaan, yasudahlah mau bagaimana lagi akhirnya aku bersikap cuek dan bodo amat menyusui di transportasi umum setelah memiliki pengalaman beberapa kali travelling.


Ternyata, selepas ASIX tetap saja ada tantangan yang dihadapi saat membawa si kecil bepergian. Memasuki masa MPASI, terbayang lah ya buat ibu-ibu betapa ribetnya menyiapkan makanannya belum lagi menyuapinya. Dirumah saja tidak selalu mulus, apalagi di perjalanan? Saat harus memberi makan besar untuk si kecil di perjalanan, biasanya aku memberi bubur fortifikasi agar cepat dan ringkas. Kalau nyuapin di kereta lebih enak ya karena ada restaurantnya, naik mobil pribadi juga lebih fleksibel karena bisa berhenti mampir saat waktu makan tiba. Yang agak ribet adalah saat naik bus umum ya, kita harus bisa menyiapkan makanan dan menyuapi anak dengan space yang terbatas. Kalau sudah begitu yaa di nikmati saja. Haha.

Permasalahan hidup tidak berhenti sampai selesai memberi makan anak, yang membuat was-was juga ketika si kecil harus menunaikan hajatnya untuk buang air besar. Kalau sekedar ganti diaper saat sudah penuh sih tidak begitu heboh, lain halnya dengan mengganti diaper saat anak BAB. Saat bepergian dengan kereta, kita bisa membawa anak ke toilet untuk membersihkan dirinya dan mengganti popoknya. Begitu pula saat pergi dengan mobil pribadi, bisa mampir ke pom bensin atau berhenti sebentar untuk menyelesaikan urusan. 

Sedikit menantang saat berada di pesawat dalam posisi wajib menggunakan sabuk pengaman, sebut saja ketika take off atau landing atau saat ada turbulensi. Begitu pula saat naik bus antar kota, selain tempat duduknya yang sempit, tidak semua bus menyediakan toilet didalamnya. Kalau begitu, rewelnya anak akan berbanding lurus dengan rasa sungkan pada penumpang lain yang harus terganggu karena suara tangisan anak kita juga harus ikut menghirup aroma tidak sedap dari diaper anak kita.

Tantangan terakhir saat membawa si kecil bepergian adalah ketia ia cranky selama perjalanan. Sebagai orangtua, kita harus peka terhadap kebutuhan anak. Apakah ia lapar, mengantuk, kedinginan, sakit, harus ganti diaper atau ia bosan? Jika faktor pencetusnya sudah diketahu baru kita bisa mengatasi kerewelannya. Jangan lupa untuk membawa kebutuhannya dengan lengkap. Makanan, minuman, obat-obatan, jaket atau selimut bahkan buku favorit atau mainannya. Kalau sudah begini, jangan heran melihat isi tas yang menjadi seperti kantong Doraemon. Hehe.

Travelling membawa anak kecil itu memang tidak mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi sebagai orangtua kita juga jangan menyerah, jangan kapok ketika harus berhadapan dengan hal-hal menantang seperti diatas saat bepergian. Ingat, practice makes perfect and memory will last forever!


Sekian.

Sukabumi, 06 Maret 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar