Saat melihat postingan di feed Instagram dari @parentalk.id dibawah ini, aku langsung yakin bahwa hampir seluruh ibu-ibu pengguna Instagram setuju pada kedua gambar tersebut. Hal yang membahagiakan selain mendengar suara motor suami memasuki halaman rumah adalah teriakan, "Pakeeett!!" yang dilontarkan oleh kurir jasa pengantaran barang. Siapa coba hari gini yang tidak suka belanja online?


Tidak dipungkiri, berkembangnya zaman berbanding lurus dengan lahirnya kemajuan teknologi yang diciptakan oleh orang-orang cerdas dari berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah online marketplace yang memudahkan siapa pun untuk belanja apa pun hanya menggunakan sebuah ponsel. Tanpa harus keluar rumah, kita bisa membeli berbagai barang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan.

Hal ini tentunya banyak dimanfaatkan oleh para wanita yang biasanya lebih doyan shopping ketimbang pria, apalagi ibu-ibu rumah tangga yang sehari-harinya berkecimpung dirumah dan susah untuk pergi-pergi karena mengurus anak, cuci mata di online shop menjadi salah satu hiburan termudah yang bisa dilakukan.

Berita buruknya, berbelanja online seperti ini bisa menyebabkan kecanduan. Ketika mulanya membuka aplikasi olshop hanya untuk cuci mata, kemudian tergiur dengan produk-produk yang sebenarnya tidak begitu butuh tapi suatu hari mungkin butuh, akhirnya memasukkannya ke dalam keranjang dan berakhir dengan melakukan pembayaran.

Berbagai produk yang dibanderol dengan harga miring dan banyaknya diskon yang bertebaran membuat mata makin berbinar ingin memiliki produk-produk tersebut, semakin kalap jika sudah tiba harbolnas (Hari Belanja Online Nasional). Pernah loh aku melihat screenshot seorang teman yang berbelanja online hingga 23 paket sedang dikirim dan beberapa paket lainnya dikemas. Luar biasa!

Tidak ada salahnya dengan berbelanja online, aku pun senang sekali belanja online dan sangat senang ketika paket tiba dirumah. Namun, alangkah baiknya kalau kita bisa lebih bijaksana dalam mengeluarkan uang untuk berbelanja. Memang bukan urusanku sih masalah kalian belanja berapa banyak dan menghabiskan uang berapa, tapi demi masa depan finansial yang lebih cerah tidak ada salahnya kita menghindarkan diri dari kecanduan belanja online.

Hal yang harus dilakukan adalah lakukan perencanaan dan buat daftar barang yang akan dibeli. Akan lebih baik jika kita membuat daftar belanjaan diawal sebelum kita mulai berbelanja, sehingga membuat kita hanya fokus pada barang yang ada didalam daftar.

Kemudian, tentukan prioritas barang mana yang sangat penting untuk dibeli hingga yang paling tidak apa-apa jika kita tidak membelinya saat itu. Coret barang-barang yang tidak perlu hingga tersisa daftar barang yang memang benar-benar urgent untuk dibeli.

Terakhir, disiplin pada dua hal diatas. Tanpa adanya kedisiplinan, percuma membuat daftar belanjaan dan membuat skala prioritas jika ujung-ujungnya tetap memasukkan berbagai macam barang ke keranjang kemudian di check-out.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk menghindari belanja online secara berlebihan adalah sejarang mungkin membuka aplikasi olshop. Kalau mau ekstrimnya ya dengan menguninstall aplikasi tersebut, namun sepertinya tidak mungkin ya karena hampir tiap bulan dibutuhkan. Haha.

Tidak kalah penting, daripada menghabiskan uang untuk berbelanja ingatlah bahwa menabung itu lebih baik daripada menghamburkan! Dimana-mana yang namanya menabung itu akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, menabung ilmu maka kita akan mendapat kepintaran dan kecerdasan, menabung pahala maka kita akan mendapatkan surga, menabung uang? Jelas ya jawabannya seperti slogan Menabung Pangkal Kaya. Lebih baik mengalokasikan dana untuk berinvestasi daripada berlebihan dalam berbelanja.

Intinya, belanja online itu boleh. Sangat boleh. Belanjalah untuk memenuhi kebutuhan hidup atau belanjalah hanya untuk sekedar bersenang-senang. Bebas saja selama punya uang dan tidak berhutang sana-sini untuk memenuhi gaya hidup. Haha. Yang perlu menjadi catatan adalah kita harus cerdas dalam mengelola keuangan, salah satunya adalah dengan bijaksana saat berbelanja online. Sekian dan terima kasih.

Sukabumi, 10 Februari 2020