Mimpi yang Berubah

By Imawati A. Wardhani - Februari 19, 2020


Sejak SMP dulu, berarti kurang lebih 16 tahun yang lalu, aku sudah bermimpi untuk suatu hari melanjutkan sekolah di United Kingdom (UK) dan hidup disana sebagai bagian dari masyarakatnya. Mimpi ini muncul karena kecintaanku terhadap novel fiksi J.K.Rowling, apalagi kalau bukan Harry Potter. Ditambah lagi dengan ibuku yang dulu berlangganan majalah Aura demi mendapat informasi terbaru mengenai Royal Family UK karena beliau fans berat Lady Diana. Ikut-ikut lah aku selalu membaca tentang keluarga kerajaan Inggris tersebut dan berandai-andai seru sekali jika bisa berkunjung ke Buckingham Palace suatu saat nanti.

Ayahku selalu berpesan jika kita memiliki sebuah mimpi, fokuslah pada hal tersebut. Jangan pikir bahwa mimpi itu mustahil diraih, pikirkan saja suatu hari kita bisa menggenggam mimpi itu dan membuatnya nyata. Hal itu kemudian aku lakukan hingga akhirnya benar-benar mendapat kesempatan untuk meraih cita-cita yang sudah sejak lama aku impikan itu.

Saat kuliah dan bergabung dalam organisasi International Pharmaceutical Student Federation (IPSF) aku berkesempatan mendaftar Student Exchange Program dengan negara tujuan Inggris. Sayang seribu sayang ternyata aku mendapat kabar kalau negara tersebut sedang tidak menerima mahasiswa exchange di musim itu. Hiks. Kecewa deh! Tapi Tuhan menggantinya dengan melancarkan skripsiku hingga akhirnya aku lulus sidang tertutup dan tinggal menyelesaikan sidang terbuka untuk meraih gelar S1. Selain itu, aku pun berkesempatan untuk pergi ke Swiss mewakili kampusku disuatu acara mahasiswa kesehatan dunia.

Beberapa minggu sebelum sidang terbuka dilaksanakan, pengurus Student Exchange Program menghubungiku dan memberi tau bahwa UK membuka 1 slot mahasiswa exchange untuk program pertukaran pelajar dari kampusku. Galau dong langsung! Ya Tuhan, kesempatan tersebut datang saat aku sudah mengikhlaskannya untuk menyelesaikan studi dan berangkat ke Swiss. Informasi itu pun ku dapat secara mendadak sehingga jika aku menerima tawaran tersebut, dalam waktu 1 bulan aku harus sudah berangkat kesana. Which means mepet sekali waktu untuk mengurus visa, perizinan dari kampus, endebre endebre.

Setelah berdiskusi dengan orang tua, ayahku menyarankan untuk tidak mengambil kesempatan ke UK dengan alasan gelar sarjana yang tinggal selangkah lagi kudapatkan dan agar tetap mewakili kampus untuk menghadiri konferensi di Swiss. Kalau aku berangkat ke UK, aku harus merelakan kedua hal tersebut.

Karena aku yakin bahwa restu orang tua adalah segalanya, aku akhirnya melepaskan mimpi untuk pergi ke UK dan fokus pada apa yang saat itu menjadi prioritasku yaitu menyelesaikan studi. Tidak begitu sedih tidak berangkat ke UK karena aku akhirnya pergi ke Swiss. Hehe.

Mimpiku untuk mendatangi negara tempat kelahiran David Beckham tidak berhenti sampai disana, aku terus fokus untuk bisa meraih apa yang sudah sangat kuinginkan sejak lama itu. Kesempatan kedua pun datang, saat aku sudah bekerja. Sambil bekerja, aku mengambil kelas IELTS dan sibuk mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran S2 sekaligus beasiswa. Aku memang mantap ingin segera melanjutkan sekolah karena semangat belajar yang masih begitu tinggi (pada waktu itu). Begitu score IELTS memenuhi syarat pendaftaran universitas dan beasiswa, aku langsung mendaftar ke beberapa universitas di UK.

Beberapa waktu kemudian, aku menerima Letter of Acceptance (LoA) dari 2 universitas yaitu Birmingham dan Leicester. Senangnya luar biasa! Selangkah lagi untuk menjadikan mimpi masa kecilku nyata yaitu dengan mendapatkan beasiswa.

Setelah memutuskan untuk memilih University of Leicester, aku mendaftar beasiswa dan lolos tahap administrasi. Ternyata, beasiswa tersebut belum menjadi rezekiku karena aku tidak lolos pada tahapan wawancara. Kecewa? Ya jelas lah yaaa... Tapi aku belum menyerah dengan mengajukan surat permohonan ke universitas untuk menunda perkuliahan hingga tahun depan dengan alasan belum mendapat sponsor keberangkatan (beasiswa). Surat yang kukirim via email tersebut tidak kunjung mendapat balasan hingga berbulan-bulan kemudian.

Berhubung tidak ada balasan dari universitas mengenai pengajuanku, aku pun tidak langsung mendaftar beasiswa karena kurang percaya diri jika tidak mengantongi LoA. Ternyata Tuhan memiliki rencana lain yang sama sekali tidak terduga, laki-laki yang selama ini menjadi teman baikku dikantor melamarku menjadi istrinya dan kami merencanakan pernikahan dalam beberapa bulan kedepan. Aku pun sekejap melupakan mimpiku untuk pergi ke UK dan fokus pada rencana pernikahanku.

Ingat pada saat itu beberapa hari setelah keluarga (calon) suamiku datang melamar, datang surat yang kupikir tidak akan pernah tiba. Letter of Acceptance dari University of Leicester beserta booklet dan bermacam-macam leaflet dari universitas yang berisi bahwa mereka akan menyambut kedatanganku sebagai mahasiswi disana tahun depan. Auto wanna cry dong! Ya Allah aku harus bagaimana?

Ibu kemudian menenangkanku dan berkata kalau Allah pasti sudah punya rencana yang terbaik untuk hambaNya. Sekarang tinggal aku yang maunya seperti apa? Lanjut menikah dan meminta izin suami untuk melanjutkan sekolah atau tidak jadi menikah dan fokus mengejar cita-cita ke UK? Aku pun memilih untuk fokus pada pernikahan dan kembali menunda cita-cita pergi ke UK untuk kedua kalinya.
Setelah menikah, ternyata Allah kembali memberiku rezeki dengan langsung menghadirkan kehamilan sebulan setelah menikah. Mimpiku pun berubah sejak saat itu, aku sudah tidak seambisius itu untuk meraih UK. Aku sudah tidak iri lagi melihat teman-teman seumuranku yang saat itu melanjutkan sekolah disana. Aku sudah tidak memprioritaskan UK lagi dalam hidupku. Sudah, fokus saja pada apa yang Allah berikan padaku saat ini.

Hingga sekarang, masih ingin sih pergi kesana tapi tidak untuk melanjutkan studi, lebih menyenangkan jika bisa liburan kesana bersama keluarga suatu hari nanti yang entah kapan itu. Haha. Mimpiku saat ini adalah menjadi ibu yang terbaik untuk anakku, menjadi istri yang dicintai oleh suamiku hingga ke surga kelak dan menjadi seorang wanita yang berdaya serta bermanfaat untuk orang-orang disekitarku. Banting setir banget ya?

Sukabumi, 20 Februari 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar