Ketika Menulis Menjadi Cara Saya Bertahan

IIDN dan Menulis

Tahun 2020 menjadi salah satu fase hidup yang paling berat seumur hidup saya. Di saat dunia terasa berhenti karena pandemi Covid-19, saya juga harus menerima kenyataan bahwa ayah saya meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker hati kurang lebih selama delapan bulan.

Saat itu, saya tinggal jauh dari keluarga. Di tahun 2019, saya ikut suami pindah ke Sukabumi, kota yang  terasa begitu asing untuk saya. Saya tidak punya teman, tidak punya saudara, dan belum mengenal siapa pun selain suami serta anak saya di kota tersebut. Bagi seorang ekstrovert seperti saya, hari-hari terasa sepi, apalagi setelah saya memutuskan resign dari pekerjaan di industri farmasi dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.


Throwback ke masa itu, saya merasa kehilangan banyak hal. Kehilangan rutinitas kerja yang dulu saya sukai, kehilangan ruang untuk berkembang, dan di waktu yang hampir bersamaan, kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup saya.

Suami saya pun menyadari ada yang berbeda dari saya. Ia paham bagaimana perubahan hidup saya yang drastis tersebut membuat saya seperti kehilangan diri sendiri. Kami berdiskusi dan sampai pada kesimpulan kalau suami saya membebaskan saya untuk melakukan apapun yang saya sukai, asalkan dilakukan di rumah.

Mau jalanin hobi boleh, mau kerja silakan. Asal tetap dilakukan dari rumah. Kerjaan rumah nggak dikerjain nggak apa-apa, yang penting gimana caranya saya bisa senang di rumah dan membersamai anak dengan mindful. Pokoknya keywordnya "betah di rumah". Wkwk.

Di tengah kondisi itu, saya kembali membuka blog lama yang sudah lama tak tersentuh. Blog tersebut sebenarnya sudah saya buat sejak tahun 2010. Dulu, menulis memang menjadi salah satu hal yang paling saya sukai. Namun seiring kesibukan kuliah dan pekerjaan, blog itu perlahan saya tinggalkan begitu saja.

Sampai akhirnya, di masa-masa yang terasa berat itu, saya kembali menemukan diri saya kembali lewat menulis. Awalnya saya hanya ingin punya tempat untuk bercerita dan menenangkan diri. Ternyata, dari situlah perjalanan saya di dunia blogging dimulai lagi. Tanpa saya sadari, menulis bukan hanya membantu saya tetap produktif, tetapi juga menjadi cara saya bertahan.

Menulis Sebagai Coping Mechanism

Sejak kecil, saya memang sudah suka menulis. Dulu waktu SD, saya senang menulis cerita-cerita sederhana di buku tulis, lalu diam-diam membayangkan suatu hari nanti tulisan saya dibaca banyak orang. Cita-citanya sih mau jadi penulis terkenal seperti J.K Rowling bersama Harry Potternya.

Ketika mulai mengenal internet dan dunia blog sekitar tahun 2010, saya pun membuat blog pribadi dengan rencana mau menulis berbagai hal di sana. Sayangnya, blog itu tidak bertahan lama. Kesibukan kuliah, tugas, praktikum, hingga akhirnya bekerja di industri farmasi membuat saya perlahan menjauh dari dunia menulis.

Blog saya menjadi sepi, jarang diperbarui, lalu seperti “mati suri” begitu saja. Bahkan ada masa ketika saya berpikir mungkin hobi menulis saya hanyalah bagian kecil dari masa lalu yang sudah selesai. Lalu, terjadilah segala perubahan hidup yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Di tengah rasa kesepian setelah pindah ke Sukabumi dan segala proses adaptasinya, entah kenapa saya kembali teringat pada blog lama saya. Saya mulai membukanya lagi, blog ini yang sedang kalian baca. Saya membaca tulisan-tulisan lama, lalu mencoba menulis kembali.

Di waktu yang hampir bersamaan, kondisi kesehatan ayah saya semakin menurun. Tahun 2019 beliau divonis kanker hati stadium 3A. Sebagai anak, jelas rasanya berat sekali menerima kenyataan itu. Apalagi saat pandemi Covid-19 datang di tahun 2020 dan situasi menjadi semakin sulit untuk semua orang. Anak rantau pasti paham gimana galau dan kalutnya perasaan saya saat itu.

Hingga akhirnya di bulan Maret 2020, ayah saya berpulang. Kepergiannya menjadi kehilangan terbesar yang pernah saya dalam hidup saya selama 29 tahun.

I don't know why, di masa itu menulis menjadi hal yang sering saya lakukan ketika hati terasa penuh dan pikiran terasa ruwet. Saya menulis saat merasa sedih, bingung, atau hanya ingin merasa sedikit lebih lega. Oh ya tentu, tulisan saya tidak selalu bagus atau rapi, tetapi at least menulis membantu saya mengeluarkan apa yang sulit diungkapkan secara langsung.

Saya menulis bukan untuk terlihat produktif. Saya menulis karena saat itu, menulis adalah cara saya bertahan melewati hari-hari yang terasa berat. Belakangan saya baru menyadari, "Oh, kayaknya bentuk coping mechanism saya ya dengan menulis ini."

Mengenal IIDN dan Dunia Blogging yang Heartwarming

Semakin sering menulis di blog, saya mulai merasa ingin punya lingkungan yang bisa membuat semangat menulis itu tetap terjaga. Jujur saja, menjaga konsistensi menulis sendirian itu tidak mudah. Ada kalanya semangat naik turun, merasa tulisan tidak cukup bagus, atau bingung harus menulis apa lagi.

Oleh karenanya saya mulai mencari komunitas menulis yang terasa nyaman untuk saya ikuti. Sampai akhirnya, saya menemukan IIDN atau Ibu-Ibu Doyan Nulis lewat Instagram di awal tahun 2020. My first impression, "Ibu-ibu banget nih namanya?" Haha. Merasa belum cocok aja masuk komunitas ibu-ibu meski sudah menyandang status sebagai ibu anak satu. Wkwk.

IIDN Beauty Class
Saat saya mengikuti Virtual Beauty Class yang diadakan oleh IIDN

Tapi yaa sebagai ibu rumah tangga yang sedang berusaha menemukan ritme hidup baru, saya merasa seperti menemukan ruang yang bisa nih kayaknya membuat saya kembali terhubung dengan dunia luar. Saya pun memberanikan diri bergabung dengan IIDN dan ikut berbagai kegiatan yang diadakan oleh komunitas tersebut.

Bertumbuh Bersama Komunitas

Di tahun-tahun tersebut, salah satu kegiatan yang paling sering saya ikuti adalah blogwalking. Sebagai blogger pemula, buat saya blogwalking menjadi cara untuk mengenal banyak blogger dengan cerita dan sudut pandang yang berbeda-beda.

Dari sana saya belajar banyak hal. Mulai dari cara menulis yang lebih nyaman dibaca, bagaimana blogger lain membangun blog mereka, sampai belajar percaya diri untuk mempublikasikan tulisan sendiri.

Di masa pandemi, saya juga ikut menulis dalam antologi Pulih bersama IIDN. Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari karya yang lahir dari banyak cerita dan pengalaman perempuan lainnya. Tidak hanya itu, saya juga mulai aktif mengikuti challenge menulis yang diadakan IIDN.

talkshow perempuan dan menulis
Salah satu kegiatan talkshow IIDN yang saya ikuti di tahun 2021


Beberapa kali saya memenangkan challenge, dan atas izin Allah blog saya bisa menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan dari rumah. Saya mendapatkan job menulis dari blog, mengenal banyak blogger senior, dan bertemu dengan orang-orang yang suportif di dunia blogging.

Dari perjalanan ini, bukan soal hadiah atau pencapaiannya yang saya syukuri pertama kali. Saya bersyukur karena lewat IIDN, saya merasa tidak sendirian lagi. Komunitas ini membuat saya sadar kalau masih banyak perempuan lain yang juga sedang belajar bertumbuh lewat tulisan mereka masing-masing.

Ada yang menulis di sela mengurus anak, ada yang menulis di tengah kesibukan bekerja, dan ada juga yang menjadikan tulisan sebagai ruang healing seperti saya.

Menulis Membantu Saya Menemukan Diri Sendiri Lagi

Kalau dipikir-pikir, perjalanan saya kembali ke dunia menulis awalnya sama sekali tidak ada pikiran untuk menjadi blogger yang hebat atau punya pencapaian besar. Mulanya, saya hanya ingin punya tempat untuk bernapas di tengah fase hidup yang terasa begitu melelahkan.

Siapa sangka, dari proses itulah ternyata banyak hal dalam diri saya berubah. Menulis membuat hari-hari saya terasa lebih hidup. Di tengah rutinitas sebagai ibu rumah tangga, saya kembali punya ruang untuk belajar, berkembang, dan melakukan sesuatu yang saya sukai.

Antologi Pulih IIDN
Saya dan salah satu buku antologi saya (Pulih)

Saya mulai mengenal dunia blogging lebih jauh, belajar banyak hal baru, dan menyadari bahwa saya masih bisa terus bertumbuh meskipun sebagian besar waktu saya habiskan di rumah. Lewat menulis, saya justru menemukan versi diri saya yang sempat hilang.


Saya kembali merasa percaya diri. Saya kembali merasa punya mimpi. Saya kembali merasa menjadi diri sendiri, ini sih yang terpenting.

Blog juga mempertemukan saya dengan banyak kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya bisa mendapatkan pekerjaan dari menulis, bertemu banyak teman baru, belajar banyak hal dari sesama blogger, hingga mengisi beberapa kelas blogging.

Saya percaya bahwa setiap perempuan, apapun perannya, tetap bisa punya ruang untuk berkarya, belajar hal baru, dan mengejar hal-hal yang membuat dirinya bahagia.

Terima Kasih Sudah Menjadi Rumah yang Hangat bagi Para Penulis Perempuan

Sudah 6 tahun berlalu, tapi sampai hari ini saya masih terus belajar menulis. Kadang masih merasa tulisan saya belum cukup bagus, masih sering bingung membagi waktu, dan masih sesekali kehilangan ide di tengah rutinitas sehari-hari.

Meski demikian, saya selalu menyempatkan diri untuk kembali pulang ke rumah kedua saya yakni blog-blog pribadi saya. Dari menulis, saya berhasil melewati banyak fase dalam hidup saya.

Menulis menemani saya saat merasa kesepian di kota baru. Menulis membantu saya bertahan di tengah kehilangan sosok paling berharga dalam hidup. Menulis juga mempertemukan saya dengan banyak orang baik yang membuat perjalanan panjang ini terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

16th Anniversary IIDN

IIDN menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Bagi saya, IIDN merupakan sebuah ruang yang membuat saya merasa diterima, didukung, dan dipercaya untuk terus berkembang lewat tulisan-tulisan yang saya miliki.

Dari blogwalking, challenge, antologi, hingga pertemanan yang terjalin, semuanya memberi warna dalam perjalanan saya sebagai seorang blogger dan perempuan yang terus belajar untuk tumbuh sebagai individu.

Happy anniversary untuk IIDN yang ke-16. Terima kasih sudah menjadi rumah yang hangat bagi banyak perempuan untuk terus belajar, berkarya, dan bertumbuh lewat tulisan.

Saya percaya, setiap orang pasti punya cara masing-masing untuk bertahan di masa-masa sulit. Cerita juga dong di kolom komentar, apa hal yang bisa membantu teman-teman bertahan di fase hidup kalian yang terasa berat?

Posting Komentar

26 Komentar

  1. Tulisan yang terasa hangat, jujur, dan sangat relate tentang bagaimana seseorang bisa menemukan kembali dirinya di tengah masa sulit.
    Sama kita Mbak...., menulis bukan sekadar hobi, tetapi menjadi ruang healing dan cara bertahan saat menghadapi kehilangan, kesepian, dan perubahan hidup yang besar. Setiap luka memang punya cara pulihnya masing-masing ya...
    Dan, perjalanan bersama komunitas seperti IIDN membuktikan dukungan lingkungan yang positif bisa membantu seseorang kembali percaya diri dan bertumbuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Dian. Alhamdulillah dikasi kesempatan bertemu banyak komunitas menulis dan blogging yang positif, salah satunya IIDN.

      Hapus
  2. Ceritaku juga kurang lebih sama mbaa...bikin blog sudah lama tapi terus setelah itu mati suri dan baru kembali di buka malah di tahun 2023 kemarin hihihi tapi gpp gak ada kata terlambat kan ya,,,dan dari blog jadi dapet ilmu baru, teman baru, pengalamanm baru serta berkesempatan mendapatkan job dan mengikuti lomba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaahh gapapa banget mbaa, sudah keren-keren pun artikelnya! Lanjut terus mbaa..

      Hapus
  3. Ternyata ada extrovert yang suka menulis juga :-). Saya juga suka menulis, tapi saya introvert :-). Saya juga writing for healing. Menumpahkan isi kepala yang penuh. Saya juga baru "hidup kembali" di dunia blogging. Senang membaca pengalaman mba-nya yang mirip-mirip dengan saya. Keep strong mba!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha berhubung nggak bisa ke mana-mana kak, ke mana lagi saya bisa menuangkan 20ribu kata sehari kalau nggak ditulis? Wkwk. Bisa pusing dan rungsing saya kalau apa-apa hanya disimpan di kepala / mbatin.

      Hapus
  4. Enaknya menguasai kegiatan menulis itu emang bisa dilakukan siapa saja ya. Mau yg pemalu atau pecicilan semua bisa melakukan dengan bebas
    Apalagi punya blog, jurnal, dans semacamnya bisa jadi ajang curahan semua tulisan itu
    Gabung dengan komunitas kepenulisan memang sangat bermanfaat. Bisa nambah semua ilmu kepenulisan juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak teman, banyak ilmu, banyak peluang. masya Allah..

      Hapus
  5. Ini relate banget... Menulis untuk bertahan agar tidak kehilangan diri.. saya pun mengalami hal yang sama saat isi kepala penuh, ternyata menulis menjadi penyegar, dan komunitas menjadi penyemangatnya

    BalasHapus
  6. Gak butuh rapi, yang penting lega. Menulis adalah cara terbaik memindahkan isi kepala yang penuh ke tempat yang aman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes banget, mulai aja dulu dari free writing. Biasanya lama-lama keliatan kok lebih minatnya ke menulis dengan style yang mana.

      Hapus
  7. Wah jadi bangkit lagi untuk terus bertahan dan berjuang di masa sulit. Umma juga masih dalam proses baca ini jadi makin kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat umma untuk terus menulis inspirasi-inspirasi positif.

      Hapus
  8. Menulis memang menyenangkan ya mba. Kita sama. Ya mba tahun ikut IIDN nya.. Keren udah bisa ikut nulis antologinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh temen seangkatan nih yaa. Ayo mbak coba ikutan kalo ada lagi bikin antologi.

      Hapus
  9. Ini relate banget dengan saya mba...menulis bukan hanya sekedar hobi tetapi healing yang paling aman saat menuangkan isi pikiran kedalam sebuah pikiran. Semangat untuk terus berkarya mba bersama IIDN

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang relate ternyata yaa. Huhu.. Memang menulis cara healing yang paling mudah dan possible buat saya.

      Hapus
  10. IIDN is the best Mbak, saya pun merasakan kehangatan keluarga IIDN, semangat terus menulis Mbak.

    BalasHapus
  11. Toss mbak, menulis juga menyelamatkanku agar tetap waras. Dan ternyata ada IIDN yang menjadi wadah perempuan yang gemar menulis dan mau bertumbuh. Ga nyangka ya sudah 16 tahun dan menjadi rtumah yang nyaman bagi perempuan yang gemar menulis

    BalasHapus
  12. MashaAllah..
    menulis menjadikan banyak hal positif datang ke dalam kehidupan yaa..
    Dan in syaa Allah pahala jangka panjangnya adalah menjadi legacy serta amal jariyah yang membawa kepada kehidupan masa depan yang penuh berkah.
    Amiin Allahumma amiin.

    Rejekinya mashaAllah.. ka Mae..
    Bersama IIDN dan komunitas positif lainnya, menulis bisa membawa ke banyak impian yang sedikit demi sedikit menjadi terwujud.

    BalasHapus
  13. IIDN juga banyak membantu saya menemukan kehidupan yang lebih menyenangkan setelah ikut suami pindah keluar kota 15 tahun silam. Tahun 2013 awal mengenal IIDN hingga akhirnya ikut menulis antologi, lanjut blog yang akhirnya memberikan banyak kesempatan untuk masuk ke dunia penulisan.

    BalasHapus
  14. banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari ngeblog dan menulis ini yaa. bukan sekadar dapat uang tapi teman baru juga makanya aku masih betah ngeblog sampai sekarang.

    BalasHapus
  15. Kehilangan sosok ayah memang berat, mbak. Saya mengalaminya saat usia 20, kuliah belum lulus. Sejak itu semua tak sama. Berusaha menjadi kuat meskipun kadang masih menangis. I feel you... Peluk dari jauh yaaa.. Yes, IIDN memberi ruang yang sangat leluasa bagi kita untuk menuliskan apa yang kita rasakan dan ide2 yang terlintas di kepala.

    BalasHapus
  16. Membaca tulisan ini membuat saya sadar bahwa menulis memang punya kekuatan healing yang luar biasa. Senang sekali membaca perjalanan Mbak bersama IIDN. Komunitas yang suportif memang sangat berharga bagi perempuan untuk tetap bisa bertumbuh meski harus membagi waktu dengan peran sebagai ibu. Salam hangat untuk karyanya!

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍