Sabtu, 24 April 2021

Apakah Aku Ibu yang Baik?

April 24, 2021 24 Comments

Menjadi ibu adalah salah satu adaptasi terbesar dan terpanjang. At least itu buatku. Hehe. Dari kecil, aku sudah terbiasa hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Beradaptasi dengan lingkungan baru, membaur dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di daerah masing-masing.

Baca tentang : BerPindah

Lah ini, dua tahun setengah menjadi ibu dari satu orang putera, rasanya hidupku sebagai ibu masih magang bae magang! Clueless, padahal sudah berusaha belajar sana sini, mencoba mindful dalam mengambil setiap sikap dan tindakan, tapi kok rasanya tetap nggak oke nih. Tetap saja, kadang aku marah dengan sadar, meninggikan suara meskipun paham harusnya bisa nge-rem.

Am I good enough mother?

Pertanyaan ini hampir setiap hari kayaknya aku lontarkan pada diri sendiri. "Pantes nggak sih gue tuh menyandang gelar jadi ibu, yang surga anak gue tuh di bawah telapak kaki ini?". Selalu merasa kurang, merasa bersalah dan merasa tidak cukup baik menjadi ibu dari anak kecil yang polos, lucu dan imut-imut ini. Huhu.

Beruntungnya aku, selalu meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa dan aku mampu menjadi ibu yang baik. Sebab Allah nggak akan sembarangan memilih manusia untuk merawat dan membesarkan anak. Allah aja percaya pada diriku, masa aku sendiri tidak percaya pada kemampuan diri sendiri?

Oke, dapat semangat lagi untuk selalu berusaha menjadi lebih baik. Walaupun besoknya down lagi, lain waktu menemukan semangat lagi, lalu down lagi. Gitu aja terus kehidupan gue selama dua tahun setengah ini. LOL!

Manusia berusaha, Tuhan akan menentukan. Baiklah, aku akan terus berusaha untuk menjadi ibu yang baik meskipun hampir setiap hari mempertanyakan pernyataan tersebut. Haha. Berbekal usaha mengikuti akun-akun parenting di sosial media, aku menemukan secercah harapan di mana Kepala Sekolah Bumi Nusantara Montessori, Bu Pritta Tyas, bekerja sama dengan ibupedia mengadakan Zoom Class dengan topik "Apakah Aku Ibu yang Baik?"


Tanpa pikir panjang, aku langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas tersebut. Acaranya diadakan pada hari Jum'at, tanggal 9 April 2021, pukul 19.00 - 20.30 WIB. Meskipun aku tau kalau di hari tersebut aku harus berangkat ke Bandung, aku sudah berniat untuk menghadiri kelas tersebut walau harus berada dalam perjalanan. Ini karena kelasnya gratis, jadi nggak ada rekaman zoom-nya. Sayang banget kan kalau terlewati!

Alhamdulillahnya, kerabat yang menjemput kami dari Bandung datang terlambat, sehingga aku bisa mengikuti zoom class menggunakan laptop serta membuat resume dari hasil webinar tersebut.

Being Good Enough Parents

You are good enough Mom!

Menurut D.W Winnicott, seorang dokter spesialis anak asal Inggris, anak-anak yang masih berada dalam kandungan akan merasakan kesempurnaan. Hal ini dikarenakan seluruh kebutuhan hidupnya tercukupi. Rasa sempurna ini akan bertahan sampai anak mencapai usia 1 tahun atau hingga 18 bulan.

Setelah usianya menginjak 18 bulan, anak akan mulai belajar dan paham bahwa dunia yang ia tempati sekarang, tidak seideal dulu lagi. Darimana ia belajar? Tentu ia belajar dari lingkungannya, dari rumah tempat ia tinggal dan dari perilaku orang-orang di sekelilingnya.

Anak-anak yang sedang mengalami masa transisi ini belajar juga dari perilaku kedua orang tuanya. Jangan anggap, perilaku orang dewasa di sekitar anak yang tidak sempurna dan banyak kekurangan ini adalah hal yang salah. Justru anak memang perlu belajar bahwa tidak ada yang ideal di kehidupan ini, anak akan mempelajari ragam emosi dari apa yang ditunjukkan oleh orang dewasa di sekitar mereka.

Meskipun demikian, ini bukanlah suatu excuse yang boleh dijadikan suatu pembenaran untuk orang dewasa (orang tua) melakukan hal-hal yang kurang berkenan pada anak-anak.

Setidaknya ada 4 hal yang sering kali membuat para ibu sering kali merasa tidak menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Keempat hal tersebut adalah :

1. Peer Pressure

Tidak jarang, lingkungan sekitar memberikan tekanan pada ibu tentang pola pengasuhan anak. Meskipun bertujuan baik, ada kalanya perasaan ibu yang sensitif menjadikan omongan orang lain adalah suatu tekanan. Misalnya saja komentar dari pasangan, orang tua, mertua, kerabat, bahkan tetangga di lingkungan sekitar rumah.

2. Knowledge Trap

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan semakin berkembang dan akses untuk mendapatkannya juga semakin mudah. Saat ini, banyak ibu-ibu yang sudah mulai sadar bahwa menjadi orang tua haruslah dibekali ilmu parenting yang baik. Mengetahui teori-teori agar tidak tersesat dan memiliki pegangan ketika mengasuh dan membersamai anak-anak.

Akan tetapi, terkadang menerapkan teori tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika kita terjun langsung menghadapi anak-anak di kesehariannya. Sudah baca sana sini, masih juga meledak marahnya. Sudah ikut kulwhap dan webinar macam-macam, masih juga kesulitan ketika menghadapi anak tantrum. Ini membuat banyak ibu-ibu merasa tidak sempurna, tidak baik dan merasa selalu kurang.

Padahal, penerapan ilmu parenting itu tidak harus sekaligus. Harus dilakukan secara bertahap, konsisten dan tidak bisa instan mendapatkan hasilnya. Tentu akan selalu ada tantangan dalam menerapkan segala teori yang sudah didapatkan.

3. Social Comparison

Kekuatan media sosial tidak hanya menimbulkan impact yang baik bagi masyarakat namun bisa juga sebaliknya. Banyaknya parenting influencer atau ibu-ibu yang mengunggah kebersamaan dengan anak-anak mereka bisa membuat seseorang di luar sana membandingkannya dengan diri sendiri. Menganggap bahwa kehidupan ibu-ibu yang gemar posting tersebut sempurna dan tampak selalu baik-baik saja.


Padahal, yang diposting hanyalah beberapa detik dari 24 jam kehidupannya yang kita tidak pernah tau bagaimana ia lewati. Ya lagian, masa iya yang diposting saat dirinya lagi menangis, marah dan menunjukkan tingkah polah anak-anak yang sedang tantrum tidak karuan?

4. Respon dari Anak

Saat ibu marah atau melarang anak melakukan sesuatu, anak mungkin akan mencari perlindungan dengan kabur sesaat ke orang lain yang ada di lingkungan rumah. Misalnya saja pengasuhnya, nenek atau kakek atau ayahnya.

Ibu pun merasa tidak cukup baik karena anak malah menunjukkan respon yang demikian, meskipun niat ibu bukanlah untuk menyakiti perasaan anak-anak.

Keempat hal di atas kemudian melahirkan banyak ekspektasi-ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita yang dihadapi oleh para ibu dalam mengasuh anak-anak.

3A Mengelola Emosi Negatif

It's okay to not be okay, Mom

Sesabar-sabarnya ibu, pasti pernah merasakan emosi negatif. Baik itu sedih, kecewa bahkan marah. Namun, saat ibu sedang merasakan emosi negatif, ada tips agar ibu dapat mengelola emosi negatif tersebut dengan baik. Tentunya, praktiknya tidak akan semudah menuliskan teori di bawah ini. Perlu kesadaran diri, konsistensi dan kesabaran untuk menerapkannya.

Acknowledge Anger

Sadar dan mengakui emosi yang ada dalam diri ibu pada saat itu. Misalnya dalam hati berkata, "Kayaknya aku lagi marah banget nih, sampai pengen banget membentak,".

Allow Anger

Mengizinkan diri sendiri untuk marah. Menerima bahwa marah itu bisa terjadi pada siapa pun. Contohnya mengatakan pada diri sendiri, "Setiap orang pasti pernah juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Marah itu normal kok, kamu berhak untuk marah,".

Acceptable Solutions

Terakhir adalah fokus pada cara untuk meredakan amarah tersebut. "Apakah kamu ingin minum air putih supaya meredakan sedikit emosimu?" atau "Sepertinya aku harus menyendiri sebentar untuk menenangkan diri,". Setelahnya, ibu bisa bernegosiasi dengan anak-anak untuk meminta waktu meredakan emosi.

Untuk diriku sendiri, biasanya saat sumbu sedang pendek-pendeknya dan nggak ingin ngomel atau marah-marah, aku akan meminta waktu sejenak untuk berdiam diri di kamar. Di dalam kamar, entah aku hanya berbaring atau main ponsel atau bahkan menengok drama Korea sebentar. Haha. Setelah emosi mereda, baru aku akan kembali keluar kamar.

Lalu, bagaimana kalau seandainya cara tersebut tidak berhasil dan ibu tetap kelepasan marah atau melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan (membentak, memukul, mencubit)? Ibu bisa melakukan 4R di bawah ini :

Don't forget to do those after you got angry, Mom

Jika diibaratkan, cinta dan kasih sayang kita pada anak-anak itu bagaikan uang dan tabungan (rekening). Di mana pada saat kita bermain bersama anak, membuat anak tertawa dan senang, di sana kita sedang menabung cinta pada rekening yang ada pada diri anak kita. Sedangkan ketika kita marah, kesal pada anak hingga melakukan hal-hal yang tidak baik, kita secara tidak langsung sedang menarik kembali cinta yang ada pada rekening tadi.

Jadi, cara untuk mengembalikan kembali tabungan cinta kita pada rekening diri anak adalah dengan memperbaiki kesalahan yang telah kita perbuat. Pertama adalah kita harus sadar akan kesalahan yang telah kita perbuat, misalnya membentak anak hingga ia ketakutan. Setelah melakukannya, sadari bahwa tindakan barusan adalah tindakan impulsif yang seharusnya tidak kita lakukan pada anak.

Selanjutnya adalah membangun koneksi kembali dengan anak. Misalnya dengan menenangkan diri terlebih dahulu baru meminta izin untuk memeluk anak. Buat diri kita, ibunya, adalah tempat yang selalu aman dan nyaman bagi anak.

Kemudian, minta maaf pada anak tanpa embel-embel. Cukup katakan, "Ibu minta maaf ya karena tadi membentak kamu,". Jangan ditambah-tambahi dengan, "... habisnya tadi kamu mainan listrik, sih. Kan ibu jadi khawatir kamu kesetrum!". Intinya, just say sorry.

Terakhir adalah fokus pada solusi. Pikirkan hal apa yang bisa membuat tabungan cinta kita pada anak kembali terisi dan jumlahnya lebih banyak daripada yang sudah kita tarik karena membentak anak tadi.

Be Kind to Yourself

Sumber : Bumi Nusantara Montessori

Menjadi seorang ibu, orang tua, bukanlah perjalanan yang singkat. Perlu waktu yang sangat panjang untuk membesarkan dan mendidik seorang anak. Sebagai manusia, tentu tidak ada ibu yang terlahir sempurna dan langsung mahir dalam menjalankan perannya. Ibu perlu belajar. Terkadang dalam perjalanannya selama belajar itu, ibu akan melakukan kesalahan.

Baik ibu dan ayah pasti pernah berbuat salah, hilang kesabaran dan kesulitan meregulasi emosi. Minta maaflah saat itu terjadi, jangan lupa untuk memaafkan diri sendiri juga. Buatlah rencana-rencana yang lebih baik untuk ke depannya setelah melakukan introspeksi diri. Terakhir, don't push yourself to be perfect, be kind to yourself. Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah salah memilih kita sebagai orang tua dari anak-anak kita.

Ehm, itu lah tadi sedikit banyak resume yang aku dapatkan dari hasil zoom class bersama Bu Pritta Tyas yang menurutku cukup memberikan aku pencerahan. Apa yang sudah aku pelajari dan dapatkan ini kemudian aku tuliskan kembali sebagai pengingat diri sendiri, juga untuk berbagi bersama ibu-ibu dan orang tua yang lain.

Semoga tulisannya bermanfaat!

Sukabumi, 24 April 2021

Kamis, 22 April 2021

Pantulan Warna Zona 8 : Semua Anak Adalah Bintang

April 22, 2021 0 Comments

Assalammualaikum,

Alhamdulillah tulisan ini adalah tulisan penghujung di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch ke-6. Setelah sebelumnya melewati zona pertama hingga kedelapan, akhirnya sampai juga pada tulisan aliran rasa untuk zona terakhir ini.


Di zona ke-8 ini, aku belajar banyak mengenai bagaimana mengobservasi kebutuhan serta minat dan bakat anak. Memahami bahwa semua anak terlahir dengan membawa bintangnya masing-masing, mengerti bahwa bintang tersebut akan bersinar jika anak diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dan difasilitasi.

Aku sendiri sudah melakukan observasi pada anakku setelah mengetahui bahwa setiap anak akan mengalami periode sensitifnya sesuai dengan perkembangan usia. Akan tetapi, observasiku belum jauh hingga mencari apa yang menjadi minat dan bakat anakku. Aku hanya mengamati bahwa anakku memang menyukai kegiatan art and craft. Aku mengamati dan mengobservasi hal ini sejak ia belum genap berusia dua tahun.

Perjalananku dalam melakukan observasi dapat teman-teman lihat pada rekaman Instagram live yang aku lakukan pada tanggal 12 April 2021 yang lalu. Dapat disaksikan melalui link berikut : 

Dalam perjalanan di kelas Bunda Sayang, mulai dari zona pertama hingga terakhir ini, tentu banyak pelajaran yang bisa diambil, diaplikasikan dan harapannya bisa dilakukan secara konsisten. Banyak hal-hal baru yang aku pelajari seperti literasi keuangan untuk anak, pendidikan seksualitas hingga mencari bintang yang bersinar dalam diri anak.

Baca tentang :

Tentu saja hal yang paling aku ingat dari zona ke-8 ini adalah "tinggikan bukit bukan meratakan lembah", dalam artian asahlah kegiatan yang membuat anak berbinar pada saat melakukannya. Dengan demikian, akan lahir seorang maestro baru dalam bidang tertentu yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Setiap anak adalah istimewa dan juga limited edition, tidak akan ada anak yang memiliki kemampuan sama persis dengan anak kita. Sehingga, tidak apple to apple jika kita membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Sebab yang benar adalah membandingkan kemampuan anak sendiri yang terdahulu dengan dirinya yang sekarang.

Pesan terakhir yang pastinya ngena banget adalah kata-kata yang disampaikan oleh Bu Septi, yang juga aku kutip saat Instagram live yaitu :

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Anak-anak terlahir hebat, kitalah yang harus selalu memantaskan diri agar selalu layak di mata Allah, memegang amanah anak-anak yang luar biasa.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi


Rabu, 21 April 2021

Mengenal Kusta, Penyakit Tropis yang Terabaikan di Indonesia

April 21, 2021 0 Comments

Apa yang terbesit di benak teman-teman ketika mendengar kata "kusta"?

Selama ini, stigma masyarakat terhadap penyakit kusta adalah sebuah penyakit kulit yang menular, penyakit yang disebabkan oleh kutukan, dosa bahkan jampi-jampi. Miris, tapi begitulah kenyataannya. Masih banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa penyakit kusta disebabkan karena aib yang dilakukan di masa lampau dan sebuah penyakit mengerikan yang tidak dapat disembuhkan.

Hari Rabu, 14 April 2021 kemarin, aku bersama dengan teman-teman blogger dan media diundang dalam acara peluncuran proyek SUKA (Suara Untuk Indonesia Bebas Kusta) yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio dan NLR Indonesia.

Di hari Senin, 19 April 2021, aku berkesempatan menyaksikan talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia" yang disiarkan secara live oleh Ruang Publik KBR dan didukung oleh NLR Indonesia serta PT. United Tractor melalui Youtube "Channel Berita KBR".

Tentang Kantor Berita Radio (KBR)

penyakit kusta x kbr
Kantor Berita Radio

Mungkin ada dari beberapa teman-teman yang bertanya apa itu "Kantor Berita Radio" atau yang disingkat dengan KBR?

Kantor Berita Radio (KBR) adalah agensi radio berita yang lahir pada tahun 1999. Saat ini sudah menjadi agensi radio pertama dan terbesar di Indonesia dengan 350 radio partner yang tersebar di 34 provinsi di seluruh nusantara.

Beberapa program yang dijalankan oleh KBR antara lain KBR Baru, KBR Pagi, Buletin Pagi dan Buletin Sore. Di tahun 2004, KBR meluncurkan websitenya yaitu kbr.id untuk mengikuti perkembangan zaman terutama di dunia digital.

KBR kemudian meluncurkan KBR Prime di tahun 2018 yang berfokus pada proyek bisnis melalui podcast. Beberapa podcast KBR yang telah mengudara dan dapat didengarkan oleh seluruh lapisan masyarakat adalah "Perempuan Disabilitas, Speak Up!"; "Uang Bicara"; "Humanity Podcast" dan "Love Buzz" yang masing-masing memiliki fokus bahasan masing-masing.

Tentang NLR Indonesia

penyakit kusta x nlr indonesia
NLR Indonesia

Jujur, sebelum mengikuti acara ini, aku baru pertama kali mendengar nama NLR Indonesia. Setelah mencari informasi, aku mengetahui bahwa ...

NLR adalah organisasi non-pemerintah (NGO) yang didirikan di Belanda pada tahun 1967 yang berfokus pada penanggulangan kusta di seluruh dunia melalui tiga pendekatan yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Saat ini, NLR tersebar dan beroperasi di beberapa negara seperti Mozambique, Brazil, India, Nepal serta Indonesia. NLR di Indonesia sendiri mulai terbentuk dan bekerja pada tahun 1975, bekerja sama dengan pemerintah Republik Indonesia. 

Melihat Potret Kusta di Indonesia

Kusta adalah penyakit yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit kusta sudah ada sejak 1400 tahun sebelum masehi, namun hingga saat ini masih mengintai masyarakat Indonesia. Indonesia sendiri menempati top 3 negara dengan penderita kusta terbesar di dunia! Kenapa kalo yang begini-begini suka juara deh?! Heu...

Sebenarnya, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah menargetkan Indonesia bebas kusta di tahun 2020. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa terjadi penemuan kasus aktif kusta sebanyak kurang lebih 17.000 kasus yang tersebar di beberapa daerah baik provinsi maupun kabupaten di Indonesia. Saat ini, masih ada kurang lebih 8 provinsi di Indonesia yang belum dinyatakan bebas kusta jika dihitung prevalensinya.

kemenkes ri x kusta
Sebaran penyakit kusta di Indonesia (kemenkes RI)

Kusta sendiri disebut sebagai the neglected tropical disease (penyakit tropis yang terabaikan) di Indonesia. Hal ini didukung dengan beberapa sebab yaitu rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kusta, upaya peningkatan pemahaman publik yang juga masih sangat minim, serta berbagai stigma yang berkembang kuat mengenai penyakit kusta.

ruang publik kbr x penyakit kusta
Talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia"

Dalam talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia" di Ruang Publik KBR dengan pembicara dr. Udeng Damam, Technical Advisor Program Pengendalian Kusta dari NLR Indonesia dan Monica Sinta, Team Leader CSR PT. United Tractor, dibahas lengkap mengenai penyakit kusta serta upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit kusta. Selain itu, dipaparkan juga mengenai upaya dan inisiatif untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita penyakit kusta.

Fakta Penting Tentang Penyakit Kusta

Mycobacterium leprae (sciencephoto.com)

Di samping beberapa fakta yang kupaparkan di atas, ada beberapa fakta penting mengenai penyakit kusta yang harus kita ketahui bersama. Mengetahui fakta-fakta ini bertujuan tidak ada lagi stigma aneh-aneh yang tertanam dalam benak masyarakat mengenai penyakit kusta.

Penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah penyakit menular, namun sulit menular. Nah, loh! Gimana maksudnya, tuh?

Jadi, bakteri kusta memiliki masa inkubasi yang panjang yaitu sekitar 2 hingga 5 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, misalkan ada satu orang yang teridentifikasi menderita penyakit kusta dan di sekitarnya ada 100 orang lain, maka kemungkinan hanya 5 orang yang terular, 3 diantaranya dapat sembuh dengan sendirinya dan 2 orang lain butuh pengobatan.

Adapun penularan penyakit kusta ini disebabkan oleh faktor daya tahan seseorang dan sanitasi diri juga lingkungan. Umumnya, menurut dr. Udeng bakteri kusta akan mati saat terkena cahaya matahari.

Penyakit kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan dan sudah ada obatnya. Penyakit kusta bukanlah aib, bukan karena guna-guna dan kutukan. Semakin cepat pasien melakukan pengobatan, maka semakin besar peluang kesembuhannya dan terhindar dari disabilitas. Pengobatan penyakit kusta dapat diperoleh di puskesmas dengan biaya berobat Rp.0,- 

Selain untuk pasien, pengobatan yang bertujuan untuk pencegahan penularan juga dapat diberikan pada mereka yang melakukan kontak erat dengan pasien kusta, misalnya saja keluarga yang merawat pasien. Sehingga, harapannya adalah turunnya angka kasus aktif dari penyakit kusta dengan adanya program pengobatan pencegahan ini.

Penyakit kusta adalah penyakit yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lain kecuali otak. Meskipun demikian, penularan kuman kusta adalah melalui saluran pernafasan atas. Sehingga, orang yang rentan tertular penyakit kusta adalah mereka yang melakukan kontak erat dengan pasien dalam kurun waktu yang panjang.

Fakta lain mengenai penyakit kusta adalah penyakit ini terdiri dari 2 jenis yaitu kusta kering (Pausi Basiler) dan kusta basah (Multi Basiler). Tentunya, pengobatan untuk kedua jenis kusta ini berbeda sehingga harus diidentifikasi dengan benar terlebih dahulu apabila ada pasien yang terdiagnosa menderita penyakit kusta.

Gejala dan Pengobatan Penyakit Kusta

Gejala penyakit kusta dibedakan menjadi gejala ringan dan gejala lanjutan (apabila sudah parah). dr. Udeng Damam menjelaskan dalam talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia" :

Gejala ringan untuk penyakit kusta ditandai dengan adanya bercak putih atau kemerahan yang terdapat pada kulit seperti panu. Perbedaannya adalah, pada penyakit kusta bercak yang timbul pada kulit bersifat mati rasa.

Harapannya adalah ketika pasien mengalami gejala seperti ini hendaklah segera memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. Bisa puskesmas, klinik dokter maupun rumah sakit. Supaya, penyakit kusta dapat segera tertangani dan tidak berkembang menjadi gejala lanjutan.

Gejala lanjutan dari penyakit kusta adalah terjadinya penebalan saraf, gangguan fungsi motorik; sensori dan otonom, serta yang parah apabila pada kulit yang mati rasa tadi mengalami infeksi.

Jika sudah sampai pada tahap lanjutan, kejadian tidak diinginkan seperti kelumpuhan dan kecacatan fisik dapat terjadi. Inilah yang menyebabkan seorang pasien kusta mengalami disabilitas. Kebanyakan, pasien dengan penyakit kusta yang datang berobat adalah mereka yang sudah mengalami gejala lanjutan. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap penyakit kusta yang menjadi penyebab utamanya.

Pengobatan penyakit kusta dibedakan berdasarkan jenis penyakit kustanya itu sendiri. Untuk kusta basah (Multi Basiler) pengobatan dilakukan selama 12 bulan tanpa putus, sedangkan untuk kusta kering (Pausi Basiler) pengobatan dilakukan selama 6 bulan tanpa putus. Obat-obatan untuk penyakit kusta dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

penyakit kusta x nlr
Tabel pengobatan penyakit kusta (NLR Indonesia)

Pada gambar di atas, obat dengan blister berwarna merah-kuning adalah untuk penyakit kusta basah dan biru-hijau untuk penyakit kusta kering. Tujuan dari pengobatan ini tentunya untuk memutus mata rantai penularan, menyembuhkan penderita dan mencegah keparahan dari penyakit kusta yang diderita oleh pasien.

Pencegahan Terhadap Penyakit Kusta

Selain dari menjaga daya tahan tubuh dan menjaga sanitasi diri serta lingkungan, pencegahan terhadap penyakit dan penularan kusta dapat dilakukan dengan imunisasi BCG pada bayi, pemeriksaan dini terhadap gejala kusta ringan dan pemberian obat pencegahan kusta sesuai prosedur.


Peran Industri Dalam Mengurangi Stigma Disabilitas

Monica Sinta, sebagai Team Leader CSR PT. United Tractors ikut menyuarakan tentang pentingnya mengentaskan stigma masyarakat terhadap disabilitas, termasuk disabilitas yang disebabkan oleh penyakit kusta.

Beliau menyampaikan bahwa PT. United Tractor sedang berada dalam proses menuju ke arah pembangunan inklusi disabilitas. Beberapa program yang telah dilaksanakan untuk mendukung inklusi disabilitas antara lain adalah dengan membuka program pemagangan, membangun kerja sama dengan komunitas disabilitas dan non-government organization (NGO) yang memiliki pengetahuan, serta pemodalan inklusi. Termasuk juga ada program pembinaan masyarakat disabilitas misalnya program kerajinan.

Monica Sinta juga menyampaikan bahwa stigma masyarakat yang terbentuk dari penyandang disabilitas ini disebabkan ketidaktahuan banyak masyarakat bahwa mereka yang memiliki kekurangan juga sebetulnya mempunyai potensi yang tidak kalah besar dengan yang lainnya. Maka, yang harus dibangun ketika program inklusi disabilitas ini dijalankan dalam sebuah perusahaan adalah adaptasi dan rasa nyaman ketika harus bekerja sama dengan teman-teman disabilitas.

People with disability (pinterest.com)

PT. United Tractor yang memiliki core business di bidang konstruksi, pertambangan dan energi ini, sudah menjalankan program inklusi disabilitas selama 3 tahun. Menurut Monica, tentu ada masa di mana teman-teman karyawan merasa canggung ketika bekerja dengan teman-teman disabilitas sebab stigma dan isu negatif tentang mereka yang memiliki disabilitas. Akan tetapi, dengan kuatnya komitmen dari menejemen akhirnya PT. United Tractor dapat menjalankan program inklusi disabilitas ini hingga sekarang.

Dalam pasal 53 ayat 2 pada UU Penyandang disabilitas, disebutkan bahwa pemerintah mewajibkan perusahaan swasta untuk mempekerjakan paling sedikit 1% peyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerjanya. PT. United Tractor dengan segala program yang telah disebutkan tadi, sudah menjadi salah satu perusahaan yang memenuhi syarat dari pemerintah tersebut.

Adapun penilaian yang dilakukan oleh PT. United Tractor pada saat melakukan seleksi penerimaan untuk karyawan atau pemagang yang memiliki disabilitas adalah seberapa besar semangat juang teman-teman disabilitas untuk bekerja, kompetensi dan strong points yang dimiliki serta soft skills seperti attitude, disiplin, integritas serta team work.

Jangan Abaikan Lagi Penyakit Kusta!

Melalui tulisan ini, aku ingin mengajak teman-teman semua agar lebih membuka mata akan salah satu isu kesehatan yang masih dihadapi oleh negara kita. Penyakit kusta saat ini masih mengintai masyarakat di Indonesia, akan tetapi pengetahuan serta informasi mengenai penyakit ini tidak banyak bisa didapatkan. Ditambah lagi dengan stigma masyarakat yang masih menganggap bahwa penyakit kusta ini adalah aib atau kutukan yang tidak dapat disembuhkan.

Teman-teman dapat menonton rekaman talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia" yang disiarkan oleh Ruang Publik KBR pada link di bawah ini :


Semoga apa yang kutuliskan dalam artikel ini dapat membuat teman-teman semua mendapat sedikit banyak gambaran mengenai penyakit kusta melalui fakta-fakta yang telah disebutkan. Juga, agar kita menjadi lebih aware dalam menjaga kesehatan serta sanitasi diri juga lingkungan sehingga terhindar dari penyakit kusta.

Selain itu, agar teman-teman dapat menyebarkan informasi mengenai penyakit kusta sebanyak dan seluas-luasnya sehingga semakin banyak masyarakat yang teredukasi mengenai penyakit kusta. Harapannya, tentu saja supaya mata rantai penularan penyakit kusta bisa terputus dan Indonesia dapat mewujudkan cita-citanya terbebas dari penyakit ini.

Sukabumi, 21 April 2021

Sabtu, 17 April 2021

Review Kumpulan Cerpen "The Cringe Stories"

April 17, 2021 0 Comments

Tahun ini, aku memiliki misi untuk membaca lebih banyak buku. Sadly, tahun lalu aku cukup banyak tergiur untuk membeli buku namun yang tamat hanya bisa dihitung jari. Hiks!

Jadi, target di tahun ini adalah membaca buku-buku yang sudah dibeli tahun lalu dan mengurang-ngurangi untuk membeli buku baru sebelum buku-buku yang sudah nangkring di rak buku sejak tahun lalu habis terbaca. Pengen saklek banget sama aturan sendiri nih!

Tapi-e-tapi, realitanya adalah tetap saja sejak awal tahun aku kembali membeli buku-buku baru. Haha! Meskipun sudah tidak lagi mengunjungi toko buku, online shop yang menjual buku-buku bagus berhasil membuatku merogoh kocek untuk membeli mereka. Aduh, semoga kerajinan membeli buku ini berbanding lurus dengan rajin membaca buku-buku tersebut ya!

Anyway, salah satu buku yang aku beli adalah buku yang ditulis oleh teman satu komunitas KLIP yaitu Kak Rijo Tobing. Bukunya berjudul "The Cringe Stories". Apa yang terbayang saat mendengar judul buku tersebut?

Sebelumnya, saya pernah mengulas dan sedikit bercerita tentang buku ini di Podcast Klub Buku Klip yang bisa teman-teman dengarkan di sini "Podcast KBK (Ima - The Cringe Stories - Rijo Tobing)".

A Little About "The Cringe Stories"

Sebelum bercerita lebih mengenai buku "The Cringe Stories", lebih baik kita tahu dulu seperti apa profil singkat dari buku ini :

The Cringe Stories - Rijo Tobing

Judul Buku : The Cringe Stories
Penulis Buku : Rijo Tobing
Penerbit : Pustaka Pranala
Jumlah Halaman : 165
Nomor ISBN : 978-623-7173-82-3
Cetakan Pertama : Oktober 2020

Buku ini adalah buku kumpulan cerpen, yang berisi 9 cerita pendek dengan suguhan plot twist yang menarik. Kesembilan judul cerpen dalam buku ini adalah Pisau, Mobil di Pengkolan, Handphone, Galon, Cermin, Rekening, Suara, Gendut dan Ombak.

Melihat cover buku yang tampak suram dan menegangkan, teman-teman tentu akan berpikir kalau cerita yang ada di dalamnya adalah cerita mistis atau horror. Eits, don't judge a book by its cover seperti aku dahulu. Haha. Meskipun desain cover-nya tampak menyeramkan dengan gambar tapak tangan berlatar belakang hitam, ceritanya tidak seseram bayangan kita.

Hal Menarik Dalam Buku "The Cringe Stories"

Dalam acara launching buku "The Cringe Stories" yang diadakan secara virtual pada tanggal 21 Maret 2021, Kak Rijo mengatakan bahwa buku ini menggambarkan suara orang-orang yang biasanya tidak diperhitungkan sudut pandangnya. Menarik memang, sebab tokoh-tokoh utama dalam buku ini misalnya saja seorang kakek tua, tukang galon, pemilik salon hingga seorang anak kecil di dalam mobil.

Aku hadir juga sebagai penonton dalam acara ini

Modal utama dari buku ini selain karena (lagi-lagi) cover-nya yang mengundang rasa penasaran, ceritanya memiliki plot twist yang tidak terduga. Ini yang membuat cerita-cerita dalam buku "The Cringe Stories" menjadi menarik untuk dibaca berkelanjutan, dari satu judul ke judul yang lain.

Tidak butuh waktu lama untuk aku menyelesaikan ke-9 cerita yang ada di dalam buku "The Cringe Stories". Sebab isinya adalah kumpulan cerpen, dalam sehari aku bisa menyelesaikan dua hingga tiga cerpen sembari menemani anakku makan siang. Ya, bacanya lebih baik siang hari bolong yang terik ya! Tampaknya kalau baca buku ini di malam hari, bisa sampai terbawa mimpi ceritanya. Hehe.

Blurb "The Cringe Stories"

Bahasa yang digunakan oleh penulis tidak sulit dimengerti, tidak berat dan to the point. Sebagai pembaca blog rijotobing.wordpress.com, membaca "The Cringe Stories" membuatku merasa udah kenal dengan gaya bahasa yang biasa Kak Rijo gunakan.

Cerita dalam buku "The Cringe Stories" ini tidak hanya mengandalkan imajinasi penulis dalam menulis fiksi, tapi juga riset yang cukup dalam untuk setiap karakter yang ada. Misalnya saja dalam cerita berjudul Rekening, yang tokoh utamanya adalah seorang teller bank. Pekerjaan Ery, nama tokoh utama dalam cerita Rekening, diceritakan dengan detail dan membuat pembaca juga ikut memahami apa saja yang dapat ia lakukan ketika bekerja di bank.

Ada pula cerita Gendut, bercerita mengenai seorang wanita obesitas yang ingin melakukan operasi sedot lemak untuk membuat tubuhnya tampak ideal. Dalam cerita tersebut, disebutkan dan dijelaskan beberapa metode seperti Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) dan Laparoscopic Gastric Band Placement (LGBP). Keduanya adalah metode pilihan selain sedot lemak dalam dunia bedah plastik.

Mendapatkan pengetahuan baru dalam setiap cerita di buku "The Cringe Stories" membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca.

Cerita Favorit Dalam Buku "The Cringe Stories"

Dari sembilan cerita yang ada di dalam buku, bisa dibilang semua ceritanya tidak ada yang tidak seru. Memiliki poin plusnya masing-masing yang dapat membawa pembacanya membuka halaman demi halaman untuk menyelesaikan sebuah judul.

Tapi, kalau boleh memilih dua dari sembilan cerita yang ada, aku memilih Rekening dan Ombak sebagai cerpen favorit dalam buku "The Cringe Stories".

Rekening

Rekening dalam "The Cringe Stories"

Ery, adalah satu dari sedikit perempuan yang beruntung. Menjadi teller bank yang melayani aktor kesayangannya. Di saat Robin sedang tertimpa skandal dan masalah besar, Ery dengan niat tulus mencoba membantu Robin, berbekal privilege yang ia miliki dalam pekerjaannya.

Dengan modal nekat, Ery berusaha membongkar kebenaran dan berharap Robin akan menemuinya, berterima kasih padanya? Atau ia hanya butuh sedikit spot light, perhatian dari banyak orang yang akan membuat dirinya lebih terlihat?

Badanku gemetar. Semakin lama profilku terpampang di layar yang menunjukkan siaran langsung, aku semakin ketakutan. Aku tidak bisa lagi berpikir jernih, apa yang aku mau, demi siapa aku melakukan ini semua. Apa benar demi Robin, aktor tampan yang sangat kucintai lebih dari apapun di dunia ini?

-Rekening, The Cringe Stories

Namun, apa yang Ery pikirkan terlalu naif dan polos. Ia malah terjerumus dalam berbagai kejadian yang menyudutkan dirinya, bahkan membahayakan nyawanya sendiri. Apakah usaha Ery untuk membantu Robin keluar dari skandal berhasil? I'm not gonna spill the tea, teman-teman. Haha.

Ombak

Ombak dalam "The Cringe Stories"

Sampai pada suatu malam, samar-samar aku merasakan sosok seseorang berada di atas tubuhku. Sepasang tangan dingin menempel di tulang belikatku dan sentuhan itu membuatku merinding ketakutan. bagaimanapun aku mencoba, aku tak dapat melihat wajah orang itu di tengah kamar tidur kami yang gelap gulita.

-Ombak, The Cringe Stories

Kehidupan Made berubah menjadi lebih mencekam setelah ia kembali ke rumah yang telah ditinggalkannya sekian lama. Juga setelah ia merasakan manisnya kehidupan pernikahan bersama laki-laki yang tidak pernah ia duga akan meluluhkan hatinya.

Bersama suaminya, ia berusaha mencari tahu siapa yang menerornya malam itu. Di hari berikutnya, ia juga mendengar suara-suara yang membuatnya merasa ada sesuatu hal berbahaya yang akan menimpa kakaknya, serta dirinya.

Bagaimana Made mengumpulkan informasi dan menemukan jalan keluar untuk mengakhiri hari-hari penuh cemas dan ketakutannya?

Rekomendasi Bacaan "Ringan"

Jika teman-teman penasaran dengan cerita utuh kedua judul di atas, atau bahkan kesembilan judul yang ada di dalam buku "The Cringe Stories", langsung aja dapatkan bukunya dengan harga Rp.85.000,- dan dapat dibeli di "Sky Books".

Boleh aku bilang, buku ini okelah jika dijadikan sebagai buku bacaan yang ringan tapi berbobot. Membuat penasaran, sekaligus memberikan pembacanya pengalaman serta banyak pengetahuan baru. Terutama mengenai sudut pandang orang-orang yang tidak pernah kita pikirkan punya pemikiran seperti itu.

Sekian dulu review dan rekomendasi bacaan di bulan April ini. Sampai jumpa dalam review buku-buku selanjutnya!

Sukabumi, 17 April 2021

Selasa, 13 April 2021

Cerita Mengkhitan Anak Dengan Metode Smart Klamp

April 13, 2021 31 Comments


Buanglah darimu buku (rambut) kekufuran dan berkhitanlah

Rasulullah SAW. menyampaikan hal tersebut dalam hadist dan diriwayatkan oleh Imam Abud Daud dan Ahmad. Khitan atau sunat adalah salah satu anjuran bagi laki-laki yang beragama Islam. Alhamdulillah, tanggal 3 April 2021 yang lalu, aku bersama suamiku mengkhitan anak kami yang berusia 2 tahun 5 bulan.

"Kok masih kecil udah disunat?", "Kecil bangeet disunatnya, emang nggak rewel?", pertanyaan tersebut terlontar dari beberapa orang termasuk kerabat dekat mengenai keputusan mengkhitan anakku yang masih batita. Aku dan suamiku tidak memiliki alasan khusus mengapa ingin melakukan ini saat Dipta masih kecil. Sebelumnya, kami memang bersepakat untuk mengkhitan anak kami paling lambat ketika usianya menginjak 3 tahun, lah!

Jadi, kami memang sudah mempersiapkan diri (dan budget) untuk ini. Lagi pula, khitan memiliki banyak manfaat seperti menurunkan resiko penyakit infeksi saluran kemih dan penyakit penis lainnya. Ya kalau manfaatnya lebih besar ngapain ditunda-tunda? Gitu aja sih mikirnya. Hehe.

Pengumuman dulu ya, ceritanya memang agak panjang ini. Semoga betah membaca sampai selesai karena semua aku coba jelaskan secara detail. Selain untuk berbagi informasi, juga untuk memetakan kenangan dalam tulisan. Selamat melanjutkan membaca!

Bingung Memilih Metode Khitan

Dari yang rencananya ingin mengkhitan Dipta saat ia berulang tahun ke-3, kami berdua jadi memajukan jadwal hingga awal April ini saat kami berkunjung ke Bandung. Kebetulan, di akhir tahun nanti insha Allah keluargaku di Jogja akan mengadakan acara besar, sehingga kalau khitannya mendekati hari H acara keluarga kok ya repot pikirku?!

Sebelum memutuskan untuk memilih tempat khitan dan metode apa yang akan kami pilih, aku tentu saja mencari banyak informasi mengenai tempat-tempat khitan di Bandung dan metode apa yang sekiranya paling minim menimbulkan rasa sakit, serta yang perawatannya nggak ribet.

Beberapa menyarankan untuk menggunakan metode laser yang katanya setelah khitan bisa langsung pakai celana jeans, ada juga yang menyarankan untuk menggunakan metode konvensional di klinik khitan dekat rumah mertua di Bandung. Bingung deh, nih!

Sampailah pada pembicaraan di grup Whatsapp yang membawa Teh Nadya, pemilik blog aboutcoffeeandme.blogspot.com, bercerita mengenai pengalamannya mengkhitan anak laki-lakinya menggunakan metode smart klamp. Mendengar ceritanya, aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang metode yang baru kudengar ini.

Akhirnya, ketemu nih perbandingan antara ketiga metode khitan yang disarankan tadi. Antara metode konvensional, laser dan smart klamp :

Metode Sirkumsisi atau Konvensional

Metode khitan yang satu ini sudah digunakan sejak zaman baheula dan masih banyak digunakan sampai hari ini. Pada metode konvensional, kulup penis langsung dipotong menggunakan gunting atau pisau bedah. Setelahnya dilakukan penjahitan menggunakan benang khusus yang dapat langsung menyatu dengan kulit tubuh.

Adapun kelebihan dari metode khitan ini adalah dapat dilakukan untuk segala usia dan biayanya pun lebih terjangkau. Tentunya, resiko infeksi yang ditimbulkan relatif kecil sebab semua alat medis yang digunakan sudah dipastikan sterilitasnya.

Untuk kelemahannya, pada proses pengerjaan maupun penyembuhannya relatif lebih lama. Selain itu, perawatan pasca khitan agak cukup ribet di mana luka tidak boleh terkena air terlebih dahulu, harus diolesi dengan salep atau obat luka lainnya dan harus mengganti perban kurang lebih setelah tujuh hari.

Metode Laser dan Electro Cauter

Metode laser memanfaatkan teknologi canggih nan modern yaitu laser CO2. Laser CO2 akan memotong kulup dari pasien khitan yang sebelumnya telah dibius lokal. Metode laser ini memiliki kelebihan seperti minimnya resiko perdarahan, penyembuhan akan lebih cepat dan memiliki nilai estetika dibandingkan dengan metode konvensional.

Meskipun demikian, setelah dikhitan, pasien akan tetap menerima jahitan. Selain itu, harganya cenderung lebih (paling) mahal dibandingkan dengan metode khitan yang lain dan karena menggunakan teknologi canggih, metode laser ini hanya dapat dijumpai di kota-kota besar yang sudah dilengkapi dengan fasilitas laser CO2.

Metode electro cauter banyak juga yang menyebutnya sebagai metode laser. Padahal peralatan yang digunakan berbeda. Pada pasien khitan dengan metode electro cauter, kulup penis akan dipotong menggunakan alat yang dipanaskan dengan arus listrik.

Kelebihan dari metode ini adalah prosesnya yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 15-20 menit, proses penyembuhan luka juga lebih singkat (katanya) dibandingkan dengan metode konvensional. Anak atau pasien juga dapat melakukan aktivitas secara normal dalam waktu yang cepat.

Sementara untuk kekurangannya, meskipun sudah tergolong modern, metode electro cauter masih mengharuskan pasien khitan untuk dijahit pasca dikhitan. Selain itu juga masih ada resiko perdarahan walaupun minimal. Perawatan selama proses pemulihan juga masih menggunakan salep untuk dioles secara rutin.

Metode Smart Klamp

Metode ini menggunakan alat berupa klem yang sifatnya "single use only" sehingga tidak dapat digunakan berulang. Prinsipnya adalah dengan memasukkan tabung smart klamp pada kulup yang akan dipotong, lalu dijepit menggunakan penjepit klamp-nya. Pada hari ke-4 pasca khitan, penjepit akan dibuka dan tabung akan (di)lepas.

Metode ini tidak membutuhkan proses yang lama yaitu hanya sekitar 5-10 menit saja, tidak ada proses jahit menjahit, minim resiko perdarahan, tidak diperlukan perawatan yang ekstra setelah khitan (nggak ribet gitu, ceunah), serta pasien khitan dapat melakukan aktivitas seperti biasa tanpa dibatasi setelah proses khitan dilakukan. Boleh langsung kena air juga loh.

Nah, setelah mengetahui perbandingan plus dan minus dari masing-masing metode khitan, akhirnya aku dan suamiku memilih untuk mencoba menggunakan metode smart klamp.

Proses Khitan Dengan Metode Smart Klamp

Pendaftaran Khitan di Klinik Mutiara Cikutra (KMC)


Setelah menentukan akan mengkhitan anakku dengan metode smart klamp, aku menghubungi Klinik Mutiara Cikutra (KMC), Bandung untuk menggali informasi lebih lanjut. Proses pendaftaran bisa dilakukan via Whatsapp ke nomor 0878-2277-6009. Di KMC, selain metode smart klamp tersedia juga metode khitan dengan menggunakan electro cauter (cauter lasser). Detail price list dapat dilihat di gambar berikut :

Price list khitan di Klinik Mutiara Cikutra, Bandung

Aku sendiri memilih paket metode smart klamp (single person) ditambah dengan paket foto. Harus banget pake foto? Ya kalau aku supaya ada kenang-kenangan sekali seumur hidup. Kan nggak mungkin Dipta disunat lebih dari satu kali. Hehe.

Respon dari admin Whatsapp KMC cukup cepat, mereka langsung membantu mendaftarkan Dipta untuk khitan pada tanggal 3 April 2021. Ternyata, ia mendapatkan jadwal pukul 07.15 WIB dengan nomor antrian ke-4. Setelah itu, yaudah tinggal datang saja di hari H.

No endorse-endorse ya! ;)

Oiya, lagi-lagi teh Nadya yang memberikan rekomendasi tempat khitan yaitu KMC ini. Fyi, Pak Ridwan Kamil juga melakukan khitan anak laki-lakinya di KMC menggunakan metode smart klamp. Oleh sebabnya, klinik ini semakin terdengar namanya. Hihi.

The Day!

Hari Jum'at pagi, tanggal 2 April 2021, aku bersama suami dan anakku berangkat pagi-pagi dari Sukabumi. Di hari itu, aku semakin memperbanyak sounding bahwa esok ia akan dikhitan, prosesnya seperti ini-itu, aku jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Dia sih, terlihat happy-happy aja nggak ada beban.

Esok subuhnya, aku yang merasa tegang dan mulai panik. Memikirkan bagaimana proses khitan anakku nantinya. Belom pernah nih, bok! My very first experience. Berhubung rumah mertua dengan KMC jaraknya lumayan jauh dan khawatir jalanan padat, kami bertiga berangkat agak pagi agar tidak terlambat sampai di sana.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, kami sudah tiba di KMC dan sudah ada beberapa orang juga yang datang dan menunggu di depan. Pak Satpam menyambut kami dan memberikan kami pilihan untuk langsung menuju ruang tunggi di lantai 2, tapi di sana belum ada petugas yang datang, atau menunggu di depan klinik. Setelah berdiskusi dengan suamiku, kami memilih untuk menunggu di ruang tunggu.

Ruang tunggu di lantai 2 KMC

Surprisingly, ruang tunggunya nyaman sekali. Tidak tampak seperti klinik atau rumah sakit. Tempatnya di desain menarik, colorful dan ramah anak. Anakku tampak gembira ketika bisa berlarian dan bermain dengan teman-teman yang ada di sana. Disediakan juga snack seperti arem-arem dan puding sembari menunggu giliran, juga ada air putih di dalam dispenser yang dapat diminum secara free.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa petugas hadir dan mulai menuliskan nama-nama pasien khitan di papan tulis. Saat itu, nama-nama yang ada dalam list cukup panjang, sekitar 20 orang lebih. Akan tetapi, yang hadir ketika itu masih sepi. Aku melihat nama anakku berada di urutan ke-4. Oh my, bentar lagi nih~

Menunggu giliran sambil bermain bersama kakak-kakak

Sesaat sebelum naik ke lantai 3 yaitu ruangan praktik yang akan digunakan untuk tempat khitan, fotografer memanggil kami untuk berfoto bersama dulu. Setelah itu, kami pun menuju lantai 3 untuk menunggu giliran yang hampir tiba.

My strong baby

Menyaksikan Proses Khitan

Di lantai 3, aku semakin was-was karena konser tangisan anak-anak mulai terdengar saling menyahut. Anakku masih santai saja sambil makan puding, akan tetapi saat namanya dipanggil masuk ke dalam ruangan ia mulai menangis seperti tersugesti oleh teman-temannya yang lain.

Perawat menjelaskan bagaimana perawatan pasca khitan yang harus kami lakukan, kemudian dokter menjelaskan bagaimana kondisi penis anakku dan bagaimana cara memasang klamp serta pemotongannya. Jujurly, waktu mendengarkan dokter berbicara aku tidak bisa fowkes sebab Dipta sudah menangis sejadi-jadinya. Bikin suara-suara lain sayup-sayup nggak kedengeran.

 Bismillahirrahmanirrahiim...

Proses pun dimulai. Aku bertugas untuk memegang bagian tangan dan badan puteraku yang dibaringkan di atas tempat tidur, sementara suamiku memegang kedua kaki anak kami. Proses pertama adalah melakukan bius lokal di beberapa titik sekitar penis. Setelah dokter memastikan bahwa biusnya sudah bekerja, beliau memasang tirai yang menghalangi badan anakku dan memulai proses khitan. Persis seperti ketika sedang operasi sesar, yha langsung ingat dong saiaa...

Sebetulnya aku penasaran bagaimana dokter melakukan pemotongan pada kulup penis anakku dan ingin melihat cara memasang klamp-nya. Tapi, begitu melihat pisau bedah dan gunting mengenai kulit anakku sehingga mengeluarkan darah, aku menyerah!

Saat proses khitan berlangsung

Aku berpaling untuk melihat wajah suamiku dan tampaknya ia juga tidak tega melihat hal tersebut. Anak kami pun terus menerus menangis tidak berhenti. Bukan karena sakit, karena kan sudah dibius, tapi karena merasa tidak nyaman pastinya.

Alhamdulillah, proses khitan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Setelah selesai, aku menebus resep antibiotik yang harus dihabiskan dan paracetamol untuk mengurangi rasa nyeri. Udah, dua itu tok obatnya. Dokter juga menyampaikan bahwa anak bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak dibatasi. Sekitar 5-7 hari, kami diminta kembali untuk kontrol.

Proses Pemulihan dan Perawatan Pasca Khitan

Gimana, Dipta, rewel nggak?
Banyak sekali teman-teman maupun saudara yang menanyakan hal tersebut. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, selama proses khitan Dipta terus menangis. Tangisannya pun konsisten hingga kami bertiga masuk mobil untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, bocah jadi nggak mood. Makan nggak mau, minum susu nggak mau. Tiduran aja tuh, tapi aku dan Papanya tetap memintanya untuk makan walaupun sedikit agar ia bisa minum obat. Setelah minum obat ia tertidur lagi, setelah sebelumnya di perjalanan pulang juga tidur.

Tangisnya akan selalu pecah saat ia hendak buang air kecil dan saat penisnya terkena air ketika dibersihkan setelah buang air kecil. Kebayang sih, pasti nyeri banget kan biusnya sudah habis efeknya. Saking nggak pengennya kena air, ia akan selalu menolak dan menjawab tidak ketika ditanya mau pipis apa nggak.

Di hari-H tersebut, meskipun dokter bilang boleh langsung dimandikan, aku dan suamiku belum tega. Jadi, hari itu dia lebih banyak beristirahat dan rebahan di tempat tidur. Selain sudah boleh terkena air, tidak ada perawatan lain yang harus kami lakukan.

Keesokan harinya, kondisinya sudah mulai membaik meskipun saat buang air kecil dan dibasuh air masih menangis. Berita baiknya, nafsu makannya sudah mulai normal dan mau makan banyak.

Asal nggak kena air masih bisa senyum

Sehari setelah khitan tersebut, ia sudah mau dimandikan seperti biasa. Surprisingly, ia juga sudah mulai berjalan-jalan dan bermain dengan sepupunya di Bandung. Tapi nggak yang heboh gitu, sih. Pelan-pelan mainnya. Malam harinya, kami pulang kembali ke Sukabumi.

Besoknya yaitu hari Senin, Dipta sudah bisa beraktivitas seperti biasa dan tidak menangis saat harus buang air kecil dan dibasuh menggunakan air. Mandi juga sudah seperti biasa. Kata Neneknya saat video call, seperti bukan anak yang habis dikhitan. Lega banget rasanya, meskipun masih ada PR yaitu perawatan sebelum membuka klem yang dilakukan di hari Rabu.

Perawatan Sebelum Pembukaan Klem

Setelah khitan selesai dilakukan, perawat memberikan kami selembar kertas yang berisi panduan perawatan pasien khitan. Di sana tertulis bahwa pada hari Rabu, 7 April 2021, area di sekitar klem bagian atas dilumuri dengan baby oil dan mulai berendam pagi dan sore hari sekitar 10-15 menit.

Tidak ada perlawanan pada anakku saat aku membanjurkan baby oil ke area yang habis dikhitan. Saat diminta untuk berendam pun, ia melakukannya dengan senang hati. Bahkan, ia berendam sekitar setengah jam lebih. Haha, bocah demenannya emang main air! Air yang digunakan untuk berendam juga aku tambahkan dengan sedikit baby oil agar terasa berminyak.

Tujuan dari pemberian baby oil ini adalah agar mempermudah klem lepas dan meminimalisir rasa sakit. Sore harinya, waktunya membuka penjepit klem! Tentu saja suamiku yang melakukannya dengan bantuan gunting kuku yang berukuran sedang atau besar. Bagaimana reaksi Dipta? Ya jelas nangis, dong! Takut diapa-apain lagi, kali. Nangisnya nggak yang lama gitu, setelah penjepit klemnya dibuka ya sudah B aja.

Gunting kuku dan penjepit klem yang sudah dilepas

Setelahnya, kami tinggal menunggu sampai klemnya lepas. Konon katanya, klem tersebut bisa terlepas sendiri setelah penjepit klem dicopot. Akan tetapi, jika klem tidak terlepas maka akan dilepas saat kontrol ke dokter.

Harapanku, klemnya bisa lepas sendiri. Udah kebayang aja gimana lebay cirambay bombaynya anakku kalau sampai harus lepas klem di dokter. Namun, hingga esok paginya belum ada tanda-tanda klem terlepas. Hiks! Makin panik ketika melihat seorang ibu yang anaknya dikhitan di KMC pada hari yang sama dengan Dipta, membuat story dan bercerita kalau klem milik anaknya terlepas sendiri.

Kekhawatiranku berakhir saat akan mandi sore, aku melihat ada klem di pakaian dalam anakku. Yeay, alhamdulillah! Jadi, saat kontrol nanti dokter tinggal memeriksa kondisi luka pasca khitan saja.

Ini dia smart klamp-nya

Setelah klem terlepas, aku melihat seperti ada lingkaran coklat kehitaman di batang penis anakku, lalu ada juga cairan berwarna putih yang mengelilinginya. Namun, setelah membaca petunjuk yang diberikan dari Klinik Mutiara Cikutra, aku tidak heran sebab itu merupakan bekas luka yang akan lepas sendiri dan cairan putih tadi merupakan cairan alami penyembuh luka.

Perawatan Setelah Klem Dibuka

Hari Sabtu, 10 April 2021, kami kembali ke KMC untuk melakukan kontrol pasca khitan. Sebelumnya, aku sudah mengkonfirmasi via Whatsapp dan dijadwalkan untuk datang sekitar pukul 08.00 - 09.00 WIB. Prosesnya cepat sekali, saat datang dan melakukan konfirmasi ulang di bagian pendaftaran, petugas dengan mudah menemukan berkas milik kami. Anakku pun langsung bisa masuk ke ruang periksa.

Dokter mengatakan kalau bekas luka anakku sudah bagus, tinggal menunggu lingkaran coklat kehitamannya lepas sendiri. Adapun cairan alami penyembuh luka yang keluar dapat dibersihkan menggunakan air hangat dan kasa saja, atau menggunakan larutan saline (NaCl 0.9%) jika cairan penyembuh luka yang keluarnya cukup banyak.

Hari ini, bekas luka anakku sudah terlepas dan aku hanya membersihkan cairan alami penyembuh lukanya menggunakan air dan dilap-lap dengan handuk setelah mandi. Mudah dibersihkan ternyata, hanya saja anakku merasa was-was dan siaga ketika aku akan membersihkannya. Jadi, aku perlu hati-hati agar ia tetap merasa nyaman dan aman.

Sekian dulu cerita panjang kali lebar mengenai pengalaman mengkhitan anak menggunakan metode smart klamp. Kesanku, aku tidak menyesal memilih metode smart klamp meskipun memang biayanya sedikit lebih-lebih dibandingkan dengan metode khitan yang lain. Proses pengerjaannya cepat, perawatannya tidak ribet sama sekali dan pemulihan anak setelah khitan juga kilat banget!

Do'akan Dipta semoga jadi anak yang semakin sholeh ya, teman-teman.

Semoga bermanfaat.

Sukabumi, 13 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Semua Anak Adalah Bintang, Tantangan Hari Ke-10

April 10, 2021 0 Comments

Assalammualaikum,

Sudah memasuki hari ke-10 menuliskan jurnal observasi guna menemukan bintang dalam diri anakku. Pada zona terakhir di kelas Bunda Sayang ini, mengangkat tema Semua Anak Adalah Bintang. Setiap anak memiliki potensi dan bakatnya tersendiri, selama itu baik dan bermanfaat untuk anak maka orang tua sebaiknya ya mendukung dan memfasilitasi anak agar minat bakatnya terasah.

Bagi teman-teman yang ingin mengobservasi anak-anak untuk mengetahui kebutuhan dan mencari apa yang menjadi minat dan bakat mereka, ada 2 tips atau cara yang dapat dilakukan. Pertama adalah dengan menggunakan narasi dan kedua dengan merekam aktivitas anak.

Dalam melakukan observasi, yang dibutuhkan oleh pendamping adalah ketajaman pengamatan. Hal ini seperti yang aku sampaikan di tulisan sebelumnya, "Semua Anak Adalah Bintang, Tantangan Hari Ke-9", bahwa selama mendampingi anak melakukan kegiatan diharapkan pendamping tidak banyak melakukan interupsi.

Yang sebaiknya mereka lakukan adalah mengamati secara detail apa yang anak-anak lakukan terhadap kegiatan tersebut. Sebagai contoh, seorang anak yang sedang bermain memindahkan potongan kertas menggunakan pinset. Catat detail yang anak lakukan menggunakan narasi, "Anak menghitung satu per satu potongan kertas yang ia pindahkan," atau "Anak lebih tertarik untuk meremas-remas kertas tersebut dan mengusapkannya pada wajah dan bagian tubuh lain".

Catatan tersebut akan menjadi bekal pendamping untuk mengetahui kebutuhan anak dan hal apa yang sedang anak-anak minati pada saat tersebut. Atau dapat juga dilakukan dengan merekam aktivitas anak dan menonton ulang rekaman tersebut untuk menemukan kebutuhan serta minat anak-anak.

Semua Anak Adalah Bintang, Tantangan Hari Ke-10

Observasi Kegiatan Harian :


Observasi hari ke-10

Nama : 
Dipta

Usia : 2 tahun 5 bulan

Periode Observasi : 1-10 April 2021

Nama Aktivitas (Hari Ke-10) :
Beberapa aktivitas yang aku lakukan bersama anakku dan aku amati terbagi menjadi 5 jenis kegiatan yaitu "Pengenalan Konsep Matematika Dasar", "Art and Craft", "Stimulasi Bahasa", "Exercise of Practical Life" dan "Keagamaan".

Di aktivitas "Pengenalan Konsep Matematika Dasar", Dipta mencoba membilang angka satu sampai lima sambil menunjukkan jarinya sebagai simbol angka yang ia sebut. Aku memberikannya bintang 1 sebab ia terlihat sangat enjoy namun masih kesulitan menunjukkan jari-jarinya sesuai dengan angka yang ia sebutkan.

Dalam aktivitas seputar "Art and Craft", hari ini Dipta melukis memanfaatkan bubble wrap sisa paket yang tiba hari ini. Ia tampak enjoy dan sangat menikmati kegiatan tersebut. Aku memberikannya bintang 2 hari ini untuk kegiatan tersebut.

Selanjutnya, kegiatan yang aku lakukan untuk "Stimulasi Bahasa" adalah dengan bercerita tentang aktivitas truk konstruksi yaitu truk pasir dan buldozer. Aku memberikannya bintang 1 untuk kegiatan ini karena ia tampak enjoy sendiri dan lebih banyak fokus bermain dibandingkan bercerita.

Kegiatan di area "Exercise of Practical Life" hari ini, Dipta tampak bersemangat untuk mencuci beberapa mainannya menggunakan spons cuci piring yang baru. Bintang yang kuberikan untuk ini adalah 2 karena ia tampak enjoy dan mudah mengerjakannya. Ia juga menunjukkan progress yang sangat baik dalam kegiatan mencuci menggunakan spons.

Terakhir adalah aktivitas "Keagamaan". Hari ini, Dipta belajar mendengarkan cerita mengenai nabi Sulaiman as. mulanya ia tampak tidak tertarik, setelah mendengar separuh cerita, ia mulai tertarik dan fokus mendengarkan ceritaku. Aku memberikannya bintang 1.

Sekian catatan observasiku mengenai kegiatan Dipta hari ini guna menemukan minat dan bakatnya. Jurnal hari ini sekaligus menjadi jurnal penutup di tantangan zona ke-8 tentang "Semua Anak Adalah Bintang" dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6.

Semoga semua jurnal yang aku tuliskan dari zona pertama hingga ke-8 ini dapat membawa manfaat baik untuk diriku sendiri maupun teman-teman yang membaca.

Terima kasih sudah berkunjung!

#harike-10
#tantangan15hari
#zona8bintang
#semuanakadalahbintang
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia