Minggu, 28 Juni 2020

Cerita dan Tips Naik Pesawat Setelah Pelonggaran PSBB

Juni 28, 2020 28 Comments

Pada masa awal kemunculan virus Corona di Indonesia, hampir tidak ada warga Indonesia yang berani keluar rumah kecuali dalam keadaan mendesak. Hampir semua memilih stay at home, meskipun transportasi umum saat itu (sekitar awal Maret hingga April) belum diberhentikan namun pengguna transportasi umum terutama jarak jauh seperti kereta api dan pesawat menurun drastis.

Tepatnya akhir April 2020 sebelum puasa, aku pulang ke Sukabumi dari Jogja menggunakan pesawat. Harga tiket dari Jogja ke Bandung sangatlah murah, hanya 400 ribuan naik Citilink, dibandingkan hari-hari biasa yang bisa mencapai sekitar 800 ribuan menggunakan Lion Group.

Situasi dan kondisi di bandara Adi Sucipto saat itu sepiii sekali layaknya bandara tutup atau bangkrut. Di terminal A, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan sama sekali kecuali daun-daun dari tanaman hias yang bergoyang tertiup angin. Semua penerbangan diberangkatkan dan mendarat dari terminal B yang biasanya digunakan untuk penerbangan internasional.

Selain karena wabah Covid-19, kondisi ini juga disebabkan karena sudah dibukanya bandara baru yaitu Yogyakarta International Airport secara resmi yang berada di daerah Kulon Progo. Sehingga semua penerbangan dialihkan kesana kecuali pesawat baling-baling yang terbang bolak-balik dari/ke Bandung, Surabaya dan Jakarta-Halim Perdanakusuma.

Di dalam pesawat, kala itu dilakukan sistem physical distancing dimana dalam satu baris hanya diisi oleh satu orang penumpang. Aku dan suamiku pun duduk terpisah di baris yang berbeda, berita baiknya penumpang dalam pesawat saat aku berangkat dari Jogja ke Bandung sangat sangat sepi. Hanya 13 orang termasuk anakku yang berusia di bawah 2 tahun. Hal ini sangat memudahkan kami untuk mematuhi salah satu dari protokol kesehatan yaitu social distancing.

Mulai bulan Mei 2020, semua moda transportasi umum termasuk kereta api, bis antar kota/propinsi serta pesawat terbang dilarang beroperasi sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di banyak daerah akibat Covid-19 yang terus mewabah dan memakan banyak korban. Namun, awal Juni 2020 setelah dilonggarkannya PSBB moda transportasi umum kembali di buka.

Salah satu sahabatku bernama Evita Farawati, yang sebelumnya berdiam diri di rumah orangtuanya di Cilegon, Banten, harus kembali ke tempat ia bekerja yaitu kota Surabaya karena kantornya yang sudah mulai work from office lagi. Mau tidak mau dan suka tidak suka, Evita harus balik ke Surabaya meskipun kota tersebut masih masuk dalam kategori zona hitam. Hitam, men! Bukan merah lagi!

Me with Evita (baju putih) dan teman-teman travelling di Gili Lawa Darat, Pulau Komodo

Berita tentang Surabaya masuk ke dalam zona hitam bisa dibaca disini.

Aku sempat berbincang-bincang dengan Evita mengenai pengalamannya naik pesawat di masa pandemi seperti saat ini, kira-kira beginilah percakapan kami yang mungkin bisa memberi sedikit-banyak informasi bagi teman-teman yang ingin bepergian dengan pesawat terbang :

Jadi, lo balik ke Surabaya gara-gara udah mulai wfo lagi? Padahal kan bisa dibilang belum kondusif ya kondisi disana?

Iya, jadi gue mulai wfo lagi itu hari Senin tanggal 22 Juni 2020. Alasannya karena PSBB di Surabaya sudah selesai dan ada pekerjaan yang harus didiskusikan sama atasan gue, nggak bisa kalau diomongin lewat video kayak biasa. Mau nggak mau, hari Sabtu tanggal 20 Juni 2020 gue pulang ke Surabaya.

Kenapa lo lebih milih untuk naik pesawat? 

Awalnya gue sama dua orang teman yang tinggalnya di Jakarta tapi kerja di tempat yang sama di Surabaya, mikir buat nyewa mobil aja. Ngeri juga sebenarnya mau naik pesawat karena jelas orangnya lebih rame dan kita nggak tau mana yang bawa virus mana yang enggak.

Tapi, setelah nyari tau kalau berangkat sewa mobil plus supir yang harus PP itu dokumennya lebih ribet. Harus ada SIKM karena keluar masuk Jakarta, terus ada surat keterangan sehat dan hasil rapid test Covid atau PCR dari semua penumpang di dalam mobil. Kalau gue sama dua orang yang lain bisa lah rapid test atau PCR, supirnya gimana? Agak berat kalau harus bayarin driver-nya untuk tes Covid juga. Akhirnya ya diputuskan untuk naik pesawat.

Cari info syarat-syarat buat naik pesawat dari mana? Pastinya harus valid dong ya informasinya!

Pertama gue buka situs tiket.com. Disana dijelasin detail banget syaratnya apa aja, dokumen yang harus dibawa apa. Nasional dan internasional ada semua informasinya.

Tapi, buat memastikan lagi gue telepon maskapainya juga. Kebetulan gue naik Lion Air jadi gue telepon Lion Group dan sekalian telepon Angkasa Pura 1 buat nanyain syarat sama dokumen apa aja yang harus gue bawa.

Intinya dokumen yang diperlukan itu surat hasil rapid test/PCR yang menyatakan bebas Covid-19, surat keterangan sehat sama KTP. Tiga dokumen itu aja, kecuali lo dari atau mau ke Jakarta harus pakai SIKM (Surat Ijin Keluar Masuk). Kalo lo bolak balik ke Jakarta, harus jelas juga kapan tanggal pergi dan kapan tanggal pulang ke Jakartanya.

Gue nanya juga apa setelah gue sampai Surabaya harus karantina mandiri 14 hari? Jawabannya nggak, karena penerbangan sudah dibuka secara umum, PSBB udah lewat dan selama gue nggak ada gejala apa-apa yaudah nggak perlu karantina mandiri.

Akhirnya lo rapid test atau PCR? Tes dimana?

Gue di Cilegon milih tes Covid di RS. Krakatau Medika (RSKM), katanya di lab seperti Prodia dan semacamnya itu bisa. Tapi, yang udah pasti ada di RSKM dan gue nggak mau gambling jadi ambil tes disana aja karena waktunya mepet.

Tes yang gue pilih rapid test, karena gue pikir selama ini gue stay at home dan nggak pergi-pergi ke tempat aneh-aneh, nggak ketemu sama banyak orang juga, intinya nggak ada kecurigaan kalau gue kena Covid. Ini kan untuk syarat naik pesawat aja, ngapain gue ambil test PCR? Harganya juga jauh beda, men!

Oiya? Masih punya nggak daftar harga untuk tes Covid-19 di RSKM?

Ada dong! Jadi, di RSKM itu ada paketan untuk tes pemeriksaan Covid-19. Paketannya kayak gini :

1. Drive thru : Rp. 345.000
Pengambilan darah dari vena
Tanpa surat keterangan dan printout lab
Hasil akan di berikan melalui WA/SMS
Harus dengan perjanjian.

2. Paket A : Rapid Test.
Pengambilan darah vena, di daerah siku dalam.
Dilakukan hari kerja jam 8-11
Dilakukan dengan perjanjian. 
Biaya Rp. 495.000
Hasil berupa surat keterangan pemeriksaan

Dan jika dilakukan dua kali, selang 10 hari, maka dapat disertai pemantauan dari kami dan diberikan surat sehat tidak terindikasi covid

3. Paket B : 
darah perifer lengkap, Rapid test, Rontgen Thorax .
Biaya : Rp 755.500
Hasil berupa surat keterangan pemeriksaan

4. Paket C
darah perifer lengkap, rapid test, ct scan thorax. 
Biaya : 2.034.500

5. PCR 
Jam 08.00 - 9.30
Biaya 2.299.000
Hasil berupa surat sehat tidak terindikasi covid.

Gue ambil yang nomor 2, hari Kamis siang tanggal 18 Juni 2020 gue tes lalu hasilnya jadi di hari yang sama sekitar jam 16.00 sore. Hasilnya negatif dan non-reaktif.

Hasil rapid test valid-nya cuma 3 hari aja kan? Lo berangkat hari Sabtu jam berapa?

Iya cuma 3 hari kalo rapid test, awalnya gue beli tiket Batik Air jam 12.00 siang. H-1 sebelum berangkat, malamnya gue dikabarin kalau pesawatnya di reschedule ke jam 06.00 pagi.

Wah, katanya kan selama pelonggaran PSBB dan new normal ini kalau mau naik pesawat datang ke bandara paling nggak 4 jam sebelum keberangkatan, bayangin gue dari Cilegon harus berangkat jam berapa ke Soetta?

Tadinya gue mau reschedule ke hari Minggu, tapi hasil rapid test gue udah nggak berlaku lagi kalo hari Minggu berangkat. Akhirnya, gue tetep berangkat ke Surabaya hari Sabtu reschedule jadi jam 16.00 dan ganti pesawat jadi Lion Air.

Oiya, kalau dulu awal kemunculan Corona harga tiket murah meriah banget ya. Sekarang gue rasa udah normal bahkan lebih mahal dari biasanya, kemarin pesawat gue harga tiketnya sekitar Rp.900.000,- 

Situasi dan kondisi di Bandara Soetta gimana? Pemeriksaannya ketat nggak?

Karena pesawat gue jam 16.00, jadi gue udah sampai di bandara jam 12.00 siang. 4 jam sebelumnya kan sesuai aturannya.

Dari luar bandara Soetta nggak begitu ramai pada waktu itu, sebelum lo masuk ke gate keberangkatan diperiksa kelengkapan dokumen seperti yang sudah gue sebutin tadi. Saat lo lewat gate, ada sensor untuk deteksi suhu tubuh dan kelihatan di layar. Jadi lo jalan aja seperti biasa nanti alatnya mendeteksi suhu tubuh lo secara otomatis.

Ternyata di bandara Soetta juga menyediakan tempat khusus pemeriksaan rapid test yang hasilnya bisa langsung jadi dalam 30 menit. Tempatnya di terminal 2 dan terminal 3. Kalau disana biayanya sekitar Rp. 200.000,-

Di dalam setelah lo masuk gate keberangkatan dan sebelum check-in, itu ada petugas lagi. Kali itu yang meriksa gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, yang diperiksa kelengkapan dokumen lo sama KTP. Prosesnya cepat dan nggak pakai antri-antri segala karena memang waktu itu nggak terlalu ramai.

Gue rasa datang 4 jam sebelum keberangkatan itu juga kelamaan deh, lama nunggu di bandaranya padahal pemeriksaannya nggak memakan waktu yang lama.

Dari pengalaman lo kemarin, orang-orang pada patuh sama protokol kesehatan nggak selama di bandara?

Dari yang gue liat, orang-orang udah pada patuh ya rata-rata pakai masker biarpun tetep ada satu dua orang yang pakai maskernya nggak benar atau dilepas-lepas, ada yang pakai sarung tangan juga.

Tapi, waktu gue jalan mau masuk ke ruang tunggu what a surprise! Ternyata di dalam rame, yang namanya tempat makan itu rame pake banget. Meskipun ada beberapa yang sepi juga.

Gue sempet lihat beberapa tempat makan itu penuh sampai antri-antri gitu dan nggak ada yang namanya social distancing. Tempat duduknya pun penuh saking ramenya.

Kalau di ruang tunggu keberangkatan kursinya udah ditandai silang-silang, jadi yang ada tandanya ya nggak boleh di dudukin.

Ceritain juga dong pas di pesawatnya gimana? Tempat duduk di kasi space kosong nggak supaya ada physical distancing?

Waktu check-in, gue sempat nanya sama petugasnya nanti di pesawat sistemnya gimana? Apa diselang-seling duduknya supaya ada physical distancing? Tapi waktu itu gue di cuekin, pertanyaan gue nggak dijawab.

Di dalam pesawat, gue dapat tempat duduk yang satu baris kursinya dua. Dan dua-duanya terisi, jadi sebelah gue ada orangnya. Belakang gue pun demikian.

Di row sebelah yang isinya tiga kursi, ternyata diisi penuh juga sama penumpang. Waktu nengok ke belakang, banyaak yang kursi-kursinya itu terisi full. Nggak di kasi space antar penumpang gitu buat physical distancing.

Jadi bisa gue bilang pesawat yang waktu itu gue naikin tidak menerapkan physical distancing dengan baik. Nggak tau kalau maskapai lain gimana.

Saat landing pun sama, gue kira akan diatur segimana rupa supaya penumpang turun dari pesawat satu per satu. Di kasi jarak antar penumpang, ternyata enggak cuy! Ya sama aja seperti sebelum ada Corona dimana orang-orang langsung dempet-dempetan di lorong buat turun dari pesawat.

Gue banyak berdoa aja supaya orang-orang yang satu pesawat sama gue sehat semua nggak ada yang positif Covid-19.

Setelah sampai di bandara Juanda, gimana situasi dan kondisinya? Ada pemeriksaan lagi?

Sikon di Juanda serupa tapi tak sama seperti di Soetta, rame-rame tapi nggak sampai crowded gitu. Cuma waktu gue mau ambil bagasi, di belt tempat ambil bagasi sebelah itu ramai sekali anak-anak sekolah mungkin masih pada SMP gitu mau ke Gontor katanya. Waw!

Pemeriksaan ada, yang diperiksa itu dokumen E-HAC (Electronic-Health Alert Card) yang sebelumnya udah lo isi dan print. E-HAC itu bisa di-download dari Android ataupun iOs, bisa juga di akses via website Kemenkes.

Salah satu lembar e-HAC yang harus ditunjukkan saat kedatangan di bandara tujuan
Hasilnya lo tunjukin ke petugas yang jaga, setelah itu lo bakal disuruh isi formulir lagi. Isinya biodata diri lo, dari mana, tujuan kemana, pakai kendaraan apa dan banyak checklist gejala penyakit yang sedang lo alami kalau ada.

Tips dari lo buat orang-orang yang mau bepergian naik pesawat di masa-masa pandemi gini gimana?

Tips dari gue untuk yang mau pergi-pergi naik pesawat itu :

1. Kalau nggak perlu-perlu banget nggak usah mesawat dulu, di bandara itu semua orang dari mana-mana datang dan kita nggak tau mereka bawa virus apa nggak. Udah pada megang apa aja, bersin dan batuk dimana aja, mending stay away dulu dari bandara kalau belum perlu banget kesana.

2. Jaga kesehatan sebelum berangkat. You know what to do lah ya.

3. Siapkan semua dokumen yang diminta dengan lengkap. Cek lagi jangan sampai ada yang ketinggalan dan bikin susah hidup lo di bandara.

4. Pakai jaket parasut, saran dari sepupu gue yang dokter karena katanya partikel nggak akan langsung terserap ke lapisan dalam jaket. Jangan lupa masker, face shield kalau perlu, sarung tangan kalau ada baik yang lateks atau kain buat jaga-jaga, hand sanitizer.

5. Setiap mau pegang sesuatu misalnya troli atau kursi atau meja tempat lo mau makan, bersihin dulu pake hand sanitizer. Lap-lap pakai tissue atau tissue basah juga boleh.

***

Setelah itu, pembicaraan aku dan Evita mengenai perjalanannya naik pesawat selama masa pandemi pun beralih ke topik lainnya.

Ternyata, meskipun grafik kasus Covid-19 di Indonesia masih terus menanjak, banyak masyarakat yang sudah tidak terlalu takut untuk bepergian menggunakan berbagai moda transportasi umum salah satunya pesawat.

Tapi jujur saja mendengar cerita sahabatku dimana di sebagian tempat masih tidak memedulikan physical distancing, tidak heran kalau penyebaran Covid-19 di Indonesia sangat cepat sekali. Huhu.

Aku sendiri masih tidak berani mengambil resiko bepergian dengan menggunakan transportasi umum, apalagi jika tidak ada kepentingan yang betul-betul mendesak. Walaupun sebenarnya sudah kangen banget ingin kembali travelling, jalan-jalan di mall dan makan di banyak tempat makan.

Sekian dulu cerita pengalaman sahabatku yang harus naik pesawat untuk kembali wfo di tengah mewabahnya Covid-19 ini. Stay safe untuk kalian yang harus bepergian dengan pesawat di saat seperti ini. Semoga informasinya bermanfaat.

See you!

Sukabumi, 27 Juni 2020

Sabtu, 27 Juni 2020

Kapan Belajar Hangeul?

Juni 27, 2020 2 Comments

Wah! Tidak menyangka bisa menulis hingga topik ke 10 di Kdrama Writing Challenge bersama teman-teman KLIP Drakor dan Literasi. Ini adalah topik terakhir yang kami tulis pada bulan Juni 2020, bulan depan kami akan mulai menulis topik ke-11 hingga 20. Semoga aku masih konsisten mengikuti tantangan ini. Hwaiting!

Bagi yang sudah terbiasa menonton drama Korea secara streaming atau men-download dari berbagai situs penyedia film, tentu sudah tidak asing lagi dengan bahasa Korea yang dilafalkan oleh para pemain dalam drama.

Dulu, drama Korea yang ditayangkan di televisi dalam negeri menggunakan sistem dubbing untuk mengisi suara pemainnya menjadi bahasa Indonesia agar tidak lagi perlu diterjemahkan. 

Sekarang, drama yang ditayangkan di televisi sudah tinggal menggunakan dubbing lagi melainkan menampilkan suara asli pemain drama dalam bahasa Korea. Ternyata memang lebih asyik menonton sambil mendengarkan bahasa Korea langsung karena kalau sudah di-dubbing malah terdengar aneh.

Karena sering mendengar orang-orang Korea berbicara, beberapa kosakata nyangkut di otak dan sering terucap baik secara sengaja maupun tidak oleh para penggemar drama maupun Kpop.


Kata-kata yang telah terekam dan terucap ini membuat penasaran akan bagaimana sih tulisan dari kata-kata tersebut? Ini membawa sebagian penggemar drakor dan Kpop mulai mempelajari huruf-huruf Korea yang disebut hangeul.

Source : idntimes.com
Ngomong-ngomong soal belajar bahasa, aku langsung teringat pada mendiang ayahku yang dulu sangat gemar belajar bahasa. Bukan hanya gemar, beliau pun dengan cepat menguasai berbagai bahasa yang ia pelajari. Ayahku mahir begitu banyak bahasa mulai dari bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Banjar, Medan hingga bahasa asing seperti Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang dan lainnya.

Di rumah Jogja, tempat orangtuaku tinggal, peninggalan buku-buku belajar bahasa seperti kamus bahasa asing milik ayah masih banyak tersimpan. Selain bahasa-bahasa asing yang aku sebutkan di atas masih ada lagi kamus bahasa seperti Spanyol, Jepang dan China. China adalah bahasa ading terakhir yang ayahku pelajari.


Menurutku pribadi, belajar bahasa asing itu tidak sama dengan belajar menyetir mobil atau motor dan berenang. Setelah kita menguasai skill menyetir atau berenang, meskipun lama tidak memegang kendaraan atau nyemplung ke air tapi kemampuannya akan datang kembali saat kita kembali melakukan kegiatan tersebut. Walau mungkin rada kagok ya awal-awalnya namun cepat beradaptasi dan menguasai kembali skill yang sudah lama tidak dilakukan itu.

Kalau belajar bahasa, bagi aku sendiri kuncinya adalah penggunaan yang sering dan kontinyu agar terbiasa dan semakin fasih. Dulu, zaman SMA aku mempelajari bahasa Jepang karena memang ada mapel wajib di sekolah. Apa aku suka belajar bahasa Jepang? Ya suka sekali. Apa aku bisa? Ya. Aku hafal huruf-huruf hiragana dan katakana, bisa merangkai kata-kata menjadi kalimat, mampu berbicara di depan kelas dengan bahasa Jepang dan nilai ujianku cukup baik.

Namun, setelah lulus SMA aku sama sekali tidak pernah menggunakan bahasa Jepang untuk bercakap-cakap dengan siapapun. Walhasil, menguap entah kemana itu kemampuan bahasa Jepangnya. Nangiiiiss~

Saat ke Korea tahun 2010, ada seorang teman dari Jepang yang selalu seorang diri karena ia tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, apalagi Korea. Haha. Sesekali aku menyapanya dengan sapaan bahasa Jepang yang masih ku ingat. Waw, dia senang sekali mendengar aku berbicara bahasanya. Dia berkata bahasa Jepangku bagus sekali. Padahal hanya mengucap, "Ohayougozaimasu!" atau, "Arigatougozaimasu!" Wqwq.

Waktu itu berkata dalam hati, coba aku masih ingat dan menguasai bahasa Jepang seperti saat sekolah pasti seru bisa ngobrol dengannya.


Sebenarnya belajar bahasa beserta tulisan asing itu seru dan mengasyikan. Tapi, harus ada tujuannya. Untuk apa belajar itu? Karena ya itu tadi, kalau tidak terbiasa menggunakannya akan menguap dan apa yang dipelajari terasa sia-sia. Itu aku loh, ya.

Seperti ketika sebelum berangkat ke Laussane di Swiss tahun 2013, aku sedikit-sedikit belajar bahasa Perancis dimana tulisan dan pelafalannya lumayan jauh seperti antara Anyer dan Jakarta. Tulisannya apa dibacanya bagaimana.

Bermodal kamus milik ayah dan arahan dari beliau, aku belajar memahami kata-kata krusial yang penting saat berada disana. Sepulangnya dari Laussane, setelah bertahun-tahun berlalu kata-kata yang aku ingat hanya, "Merci beacoup," (baca : mersi boku) dan "Salut, comment allez-vouz?" (baca : salu, komang tale-vu?) serta jawabannya, "Bien, merci!" (baca : biang, mersi!).


Jadi, jika ditanya apa aku tertarik mempelajari hangeul atau tulisan Korea? Jawabannya iya. Sangat iya. Asyik banget kalau bisa membaca teks bahasa Korea dan paham artinya tanpa perlu melihat subtitle. Namun, aku belum menemukan urgency mengapa aku harus belajar hangeul dalam waktu dekat ini. Hehe.

Untuk sekarang, dengan tersedianya subtitle dan beberapa kata yang nyangkut di otak, menonton Korea sudah bisa sangat aku nikmati. Mungkin, jika berkesempatan untuk kembali ke Korea aku akan mulai mempelajari hangeul sebelum hari keberangkatanku agar paham tulisan-tulisan disana seperti petunjuk arah, nama jalan, nama tempat makan dan lain sebagainya yang akan mempermudah hidupku selama disana.

Berhubung aku ini orangnya pelupa pake banget, sayang jika sudah belajar hangeul dengan serius lalu tidak dipergunakan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini mungkin bukan hangeul yang jadi prioritas, bahasa Sunda dulu aja kali ya. Sudah 5 tahun tinggal di Jawa Barat tapi skill berbahasa Sunda masih jalan ditempat.

Sepertinya nyunda dulu yang harus dipelajari, agar bisa nyambung ketika ngobrol dengan mertua dan saudara ipar. Haha.

Sukabumi, 27 Juni 2020



Selasa, 23 Juni 2020

10 Kata Berbahasa Korea Yang Sering Tersebut Gara-Gara Drakor

Juni 23, 2020 4 Comments

Terbiasa menonton drama Korea membuat telingaku terbiasa mendengarkan percakapan dalam bahasa Korea. Awal-awal menonton dulu, terasa aneh karena tidak terbiasa dan malah suka drama yang ditayangkan di televisi dengan versi dubbing.

Semakin sering menonton drama versi aslinya, drama Korea yang ditayangkan di televisi dengan versi dubbing menjadi semakin aneh. Ternyata seru juga mendengarkan orang-orang itu berbicara menggunakan bahasa aslinya sama ketika aku menonton serial US, lebih asyik menonton saat para pemainnya berbicara bahasa Inggris.

Lambat laun, ternyata otakku menyerap beberapa kosakata yang sering diucapkan oleh pemain-pemain dalam drama Korea. Awalnya hanya 2 kosakata yang aku kuasai yaitu annyeonghaseyo yang berarti halo atau kata sapaan dan kamsahamnida yang berarti terima kasih, itupun aku tau karena dulu saat di Korea Selatan 2 kata itu menjadi andalanku ketika harus berbicara dengan orang Korea. Biar nggak pakai bahasa isyarat dan bahasa tubuh terus lah!


Dalam bahasa Korea, dibedakan antara kosakata bahasa halus (formal) dengan kosakata yang bahasanya lebih santai/kasar/informal (banmal). Pada saat menonton drama, teman-teman bisa membedakan cara berbahasa mereka ketika berbicara dengan teman akrab dan ketika berbicara dengan orang yang dianggap senior atau lebih tua.


Entah sejak kapan lidahku terkadang membawa-bawa beberapa kosakata berbahasa Korea saat sedang ngobrol dengan teman-teman atau bergumam sendiri. Apalagi kalau yang diajak ngomong sesama drakorian, makin (sok) fasih aja kata-kata bahasa Korea terlontar. Hehe.

Beberapa kosakata yang paling sering aku keluarkan baik secara sengaja maupun refleks adalah sebagai berikut :
1. Annyeong (안녕)
Kata ini pasti sudah tidak asing lagi terdengar di telinga para Korean lovers. Annyeong disini dapat memiliki 2 makna yaitu halo (hello) atau sampai jumpa/selamat tinggal (goodbye). Ini merupakan contoh bahasa banmal atau informal yang sering digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya.

Dalam kehidupanku sehari-hari, kata annyeong ini cukup sering terlontar terutama saat ngobrol dengan teman-teman akrab. Kadang saat suami berangkat kerja dan mengucap, "Mas berangkat dulu ya..." aku akan menyahut, "Ne, annyeong!" Mbuh dong opo ora yo?

2. Omo (오모)
Kata omo biasanya diikuti dengan tanda seru (!) Karena kata ini sering diucapkan jika seseorang terkejut. Omo dapat diartikan sebagai Oh no! atau oh my! Menunjukkan ketidakpercayaan atau keterkejutan seseorang saat melihat sesuatu yang membuatnya terheran-heran.

Aku kadang menggunakan kata ini ketika misalnya melihat anakku dengan santainya mengacak-acak sesuatu yang baruuu saja aku bereskan. Omo jinjja?!

3. Jinjja (진짜)
Jinjja memiliki arti sungguh dalam bahasa Indonesia atau really dalam bahasa Inggris. Kata lain yang bermakna serupa dan juga sering terdengar dalam bahasa Korea adalah jeongmal.

Kata ini termasuk yang tersering aku ucapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat suamiku memasak sesuatu dan bertanya bagaimana rasanya kemudian aku menjawab dengan lagak-lagak drama Korea, "Jinjja masitta!"

4. Waeyo (왜요)
Wae atau waeyo selalu diakhiri dengan question mark alias tanda tanya (?) karena arti dari kata ini adalah why atau mengapa/kenapa.

Alasan aku sering menggunakan kata wae/waeyo (dibaca : we/weyo) ini adalah karena lebih singkat daripada aku mengatakan mengapa/kenapa, haha. Dulu suamiku sering bingung kalau dia menjelaskan sesuatu lalu aku tanggapi dengan, "Wae?". Namun kesini-kesini sepertinya dia sudah terbiasa dan langsung bisa menjawab setelah aku bertanya demikian.

5. Gomawo (고마워)
Kosakata banmal untuk kamsahamnida yang sangat populer itu adalah gomawo. Artinya kedua kata tersebut sama yaitu terima kasih. Dalam drama sering sekali kata ini terdengar sehingga tidak lagi asing di kupingku.

Selain dengan teman-teman, aku terkadang memakai kata gomawo ketika berbicara dengan suamiku. Misalnya saat ia membelikanku sesuatu sebagai oleh-oleh pulang kantor, martabak asin favorite-ku contohnya, aku dengan sok-sokan berkata, "Oppa, gomawo!" Haha.

6. Ne (네)
Berarti iya. Tidak hanya saat dengan teman atau suami, kadang aku menanggapi pernyataan atau permintaan ibuku untuk melakukan sesuatu dengan mengatakan, "Ne, Omma...".

Ibuku sih santai saja menanggapinya karena tau anaknya sering menonton serial Korea.

7. Aniyo (아니요)
Artinya tidak atau bukan. Kata-kata ini biasa aku gunakan saat sedang bersama adikku yang paling kecil karena dia sedikit banyak juga paham dengan bahasa Korea.

Untuk anggota keluarga yang lain atau yang bukan sesama drakorian/Kpopers sepertinya kata ini kurang familiar.

8. Aigoo (아이고)
Aigoo mempunyai arti ya ampun, ya Tuhan, astaga, ah atau aduh. Dalam bahasa Inggris disebut oh my! Kata ini sering diucapkan ketika seseorang mengeluh atau kaget dan panik.

Contoh penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari adalah saat menepuk-nepuk bagian tubuh yang sakit setelah anak terjatuh. Aigoo, lain kali hati-hati ya...

9. Daebak (대박)
Daebak adalah salah satu kata yang sering aku bawa-bawa di kehidupan nyata ini. Biasanya diartikan sebagai awesome, amazing, keren, mantap dan sebagainya.

Misalnya saja saat melihat keindahan pantai-pantai di Labuan Bajo yang luar biasa, selain banyak menyebut asma Allah kata daebak ini juga sering terucap olehku. Hehe.

10. Arasseo (알았어)
Arasseo memiliki makna baiklah atau bisa juga paham/mengerti. Kata ini juga sudah biasa terdengar dari drama Korea yang aku tonton. Kadang, saat aku sedang gemas pada tingkah polah anakku dan menerangkan hal yang itu-itu lagi, aku akan menanyakan apakah dia paham atau tidak dengan mengucapkan kosakata tersebut.

Misalnya saat anakku kekeuh ingin main dengan colokan listrik dan aku menjelaskan, "Colokan listrik ini berbahaya, Nak! Nanti bisa kesetrum, main yang lain aja ya? Arasseo???" Ya biasanya sih anaknya melengos begitu saja kalau mamaknya sudah ngomel-ngomel.

Dari 10 kosakata yang sering terangkut dan aku gunakan dalam kehidupan sehari-hari, sepertinya semua kata-katanya informal ya? Ya lagian sekarang yang sering diajak ngomong suami dan anak, mau pake bahasa formal juga pada kagak paham.

Dulu saat awal menikah, suami sering memincingkan matanya ketika aku secara refleks mengucap kata-kata berbahasa Korea. Kalau sekarang, sepertinya dia sudah paham kebiasaan istrinya dan sudah mengerti beberapa istilah seperti daebak atau jinjja? Haha.

Secara tidak langsung, menonton drama Korea membuat pengetahuan bahasa aku bertambah. Meskipun hanya 10 nih yang sering terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak sebenarnya kosakata yang didapat setelah menonton drama Korea.


Jadi nilai tambahnya bisa mengerti sedikit-sedikit bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Hal ini juga terjadi pada adikku yang paling kecil, malah lebih jagoan lagi. Bermodal nonton variety show seperti Running Man dan 2 Days 1 Night saja dia bisa mengucap kata dalam bahasa Korea sekaligus menulis hangeul atau tulisan Korea-nya plus paham artinya.

Terkadang saat menonton acara Kpop, adikku bisa mengikuti lirik lagu dengan membaca tulisan hangeul yang ada di bagian bawah layar. Sementara diriku harus membaca huruf latinnya dan belum tentu paham apa artinya.

Ternyata salah satu manfaat menonton drama Korea itu bisa belajar bahasa asing seperti ini. Jangan pikir penikmat drama Korea seperti aku ini hanya memuja-muji aktor ganteng dan aktris cantiknya saja. Think positive, guys!

Sukabumi, 23 Juni 2020

Senin, 22 Juni 2020

Aliran Rasa : Penyelaman Samudera

Juni 22, 2020 0 Comments

Selesai sudah aku dalam menyelesaikan 4 misi selama penyelaman samudera bersama teman-teman Matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional. Setelah menyelesaikan misi Connecting The Dots minggu lalu, aku mendapatkan permata keempatku yaitu Sapphire dari dasar samudera yang aku selami.



Selama misi penyelaman ini, banyak yang berbeda dengan misi mengarungi samudera sebelumnya. Kali ini para widyaiswara sebagai pendamping kami para penjelajah samudera lebih banyak membantu dalam memberikan pandangan serta pendapat-pendapatnya yang kami jadikan panduan untuk menyelesaikan misi setiap minggunya.

Kami pun lebih banyak berdiskusi langsung dengan para WI baik di dalam grup besar Matrikulasi IIP maupun diskusi dengan salah satu WI di grup Whatsapp. Para WI dengan sabar menjawab pertanyaan kami yang masih clueless selama proses penyelaman ini. Terima kasih banyak untuk para widyaiswara.

Ada 4 misi yang dijalankan selama penyelaman samudera ini yaitu Pencarian Makna Ibu Profesional Sebagai Kebanggaan Keluarga, Menyelami Core Value Ibu Profesional, Memahami Karakter Moral Ibu Profesional dan Connecting The Dots.

Dalam menjalankan misi penyelaman kali ini, kami dituntut untuk benar-benar mengenal dan menyelami diri sendiri sebelum menjawab setiap misi yang diberikan. Masha Allah sekali loh perjalanan menyelami samudera ini.

Dari sini, aku belajar banyak tentang apa kekurangan dan kelebihanku secara lebih spesifik. Aku juga harus menggali sebenarnya apa yang ingin benar-benar aku kuasai beserta tujuannya. Modal apa yang aku miliki untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuanku.

Aku jadi semakin sadar kalau banyaaak sekali yang harus diperbaiki dari diri sendiri, masih mencoba berdamai dengan kondisi saat ini dan berusaha bangkit menjadi karakter serta pribadi yang lebih baik lagi. Sebagai ibu, istri dan diriku sendiri.

Aku paham kalau tidak semua hal bisa dicapai dalam satu waktu, tidak semua bisa dipelajari sehingga otak dan pikiran tetap fokus menyerap informasi dan ilmu secara optimal.

Aku berterima kasih sudah diberikan kesempatan untuk bersama-sama teman matrikulasi yang lain melakukan proses penyelaman ini. Aku berharap semua proses yang aku lalui ini mengantarkan diriku menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin visioner serta memiliki tujuan dalam menjalankan setiap peran yang diambil baik itu di rumah maupun di masyarakat.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

Sabtu, 20 Juni 2020

Pengalaman Icip-Icip Kuliner di Korea Selatan

Juni 20, 2020 37 Comments
Tahun 2010 lalu, aku berkesempatan untuk mengunjungi Korea Selatan bersama beberapa teman kampus untuk menghadiri symposium di Seoul National University dalam acara Asia Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS) yang diadakan oleh organisasi International Pharmaceutical Students Federation (IPSF).

Saat itu, aku belum menjadi penggemar drama Korea seperti sekarang dan belum terlalu mengenal dunia Kpop. Jadi ya blank banget lah waktu itu tentang Korea Selatan, aku banyak mendapat informasi dari ayahku yang sudah pernah kesana sebelumnya.


Beliau memberi informasi terkait transportasi dari bandara Incheon ke kota Seoul, berapa biayanya, tempat perbelanjaan disana dan beberapa tempat wisata yang sering dikunjungi. Sebagai modal saat ada free time disela-sela kegiatan symposium. Hehe.

Untuk makanan, ayahku sudah mengingatkan untuk berhati-hati karena banyak makanan tidak halal dan tidak ada penandanya. Mayoritas orang KorSel juga tidak bisa berbahasa Inggris. Beliau juga mengingatkan untuk tidak jajan sembarangan, meskipun disana sangat terkenal dengan street foods-nya lebih baik makan apa yang disediakan oleh kampus saja karena aku sudah mengajukan request untuk makanan halal.

Aku juga tidak begitu paham dan mencari tau tentang makanan disana karena ada seorang teman yang berangkat bersama kesana merupakan penggemar berat Kpop, dia yang sibuk ingin mencoba ini itu seperti yang selama ini ia tonton baik di drama Korea maupun variety show. Aku manut-manut wae wes, sing penting halal.


Yang aku tau, makanan khas Korea itu terkenal dengan cita rasa yang asam dan bumbu yang kuat. Tapi, aku tidak menyangka kalau banyak jenis makanan khas sana yang tidak cocok dengan lambungku. Rasa pedas plus asam yang sangat strong membuat maag-ku kumat saat berada disana dan harus (sorry) muntah-muntah karena asam lambung yang sering naik.

Me, 10 years ago! LOL
Setelah 10 tahun lalu mengunjungi negeri ginseng, ternyata masih ada beberapa kuliner yang wujud dan rasanya terpatri dalam ingatanku. Mereka adalah :

1. Tteokbokki

Saat pertama tiba di bandara Incheon, kami mencari-cari sesuatu yang bisa mengisi dan mengenyangkan perut kami yang saat itu kelaparan. Ingat sekali makanan yang kami pesan waktu itu adalah tteokboki. Ini menjadi makanan Korea pertama yang aku coba selama hidupku. Memorable banget jadinya kan.

Source : mykoreankitchen.com
Tteokbokki adalah berasal dari tepung beras yang sudah diolah menjadi potongan kecil-kecil berbentuk batang atau silinder kemudian dimasak bersama bumbu gochujang yang rasanya pedas manis.

Bagiku sendiri, meskipun bau bumbunya menyengat sekali tapi rasanya enak untuk dimakan. Tekstur dari tteok-nya sendiri kenyal dan satu porsi itu banyak sekali sehingga kami langsung kekenyangan setelah habis memakannya.

2. Kimbab

Saat akan menghadiri acara di kampus, pagi hari kami dibagikan kotak makanan untuk sarapan di bus. Karena letak kampus dan homestay waktu itu cukup jauh jadi harus menggunakan bus menuju ke kampus.

Source : idntimes.com
Ingat sekali waktu itu aku duduk di sebelah teman sekelompokku yang berkewarganegaraan Thailand. Ketika membuka kotak bekal, aku menemukan nasi berbalut nori yang dipotong bulat-bulat dengan isian sayur dan daging di dalamnya. Mirip-mirip sushi tapi kok tidak mirip dan ternyata oh ternyata namanya kimbab.

Melihat teman-teman lain yang makan makanan tersebut dengan lahap dan cepat, aku pun segera ingin mencobanya. Tapi teman sebelahku mencegah dan mengatakan kalau daging yang ada di dalamnya adalah daging babi. Huhu.

Bingung karena tidak ada makanan lain yang bisa dimakan, lalu temanku itu dengan baik hati menawarkan untuk membersihkan kimbab milikku dari daging babinya dan aku memakan bagian yang kira-kira bisa dimakan.

Bermodal bismillah, aku pun memakan kimbab tanpa daging. Hanya nasi dan sayurannya yang menurutku bumbunya kurang berasa serta tidak mengenyangkan meski sudah memakan berpotong-potong kimbab, lol.

3. Naengmyeon

Ini adalah makanan ter-absurd yang pernah aku coba selama di Korea Selatan. Saat itu aku mencoba menu ini pada waktu istirahat di kantin Seoul National University. Senang bukan main saat tau menu hari itu adalah mie! Haha.

Wah sudah terbayang rasa Indomie rebus dengan kenikmatan hakiki dari bumbunya yang sulit untuk ditolak. Semangat nih antri untuk mendapatkan semangkuk mie hangat tersebut.

Namun aku terheran-heran saat ahjumma yang menyediakan makanan di atas nampanku menambahkan beberapa butir es batu pada mie hangat tersebut. Yaaahhh! Ambyar semua bayangan makan mie berkuah dengan asap yang mengebul-ngebul.

Baca tentang : Imajinasi Dalam Kdrama

Source : idntimes.com
Saat itu aku duduk satu meja bersama group leader-ku yang orang Korea. Ia menjelaskan kalau makanan tersebut bernama naengmyeon dan biasa disajikan di musim panas seperti saat aku disana.

Rasanya? Haha, ternyata sangat jauh berbeda dengan yang ada dalam benakku. Bumbu kuahnya cenderung light alias tawar, ditambah potongan es batu yang membuatnya terlihat unusual. Cobain aja deh makan mie, pakai kuah hangat tapi ditambah es batu.

4. Nasi Kimchi

Makanan ini nih yang membuat lambung dan perutku menjadi tidak karuan. Walaupun wujudnya menggiurkan seperti sayuran yang dimasak dengan bumbu balado, rasanya ternyata tidak cocok untukku.

Source : mykoreankitchen.com
Satu-satunya makanan khas Korea yang aku tau sejak berada di Indonesia hanyalah kimchi. Penasaran banget sama makanan ini karena sering sekali disebut-sebut sebagai menu wajib di Korea. Saat tau salah satu menu hari itu adalah nasi kimchi, semangat '45 untuk segera melahapnya.

Kimchi adalah jenis asinan sayur yang difermentasi dan diberi bumbu pedas. Nah, sudah terasa asam karena hasil fermentasi lalu ditambah dengan bumbu pedas yang sangat kuat langsung membuat asam lambungku naik dalam waktu singkat.

Mungkin harusnya aku memakan sesuatu yang lain dulu ya baru makan nasi kimchi ini, tapi mau dikata apa kalau menu utama pada waktu itu adalah nasi kimchi.

Gara-gara maag kumat sampai beberapa kali mengeluarkan isi perut, aku kapok mencoba si kimchi biar kata seluruh dunia makanan ini enak dan segar. Sampai sekarang, aku belum pernah lagi mencoba makanan iconic Korea Selatan ini.

5. Ramyeon

Aku dan teman-teman mencicipi ramyeon ini ketika kami sedang mencari-cari tempat makan di dekat stasiun kereta bawah tanah. Randomly menemukan kedai makan kecil dan masuk ke dalamnya.

Awalnya, aku dan temanku ingin memesan nasi goreng tapi pemilik restonya melarang karena melihat kami menggunakan hijab. Dengan menggunakan bahasa tubuh dan isyarat, jelas sekali bahwa beberapa menu disana termasuk nasi goreng yang akan kami pesan tidak halal.

Terus makan apa dong?! Saat menunjuk kata ramyeon, ahjumma pemilik kedai tersebut mengangguk-angguk sambil menaikkan kedua jempolnya. Tanda bahwa makanan tersebut bebas dari bahan-bahan yang tidak halal.

Source : idntimes.com
Akhirnya, kesampaian juga makan ramyeon langsung di Korea Selatan. Sebagai penggemar mie, rasanya senang sekali karena ramyun yang memiliki visual menggugah selera ini benar-benar enak dan berbeda dengan naengmyeon yang sebelumnya aku makan di kantin kampus. Hehe.

5. Dongtae Jjigae

Dari tadi aku bercerita kalau selama disana makanan yang aku coba rasanya cenderung tawar, memang benar di lidahku terasa ssperti itu. Jadi jangan berharap menemukan makanan yang rasanya variatif seperti di rumah makan Padang.

Tapi, ada makanan yang begitu nikmat saat aku coba yaitu sup ikan yang direbus bersama berbagai macam sayuran. Kaldu ikan dan ikannya itu enak sekali rasanya, aku dan teman-temanku sepakat kalau makanan yang kami makan di kedai sekitar sungai Han itu adalah salah satu yang terbaik selama kami disana.

Source : mykoreankitchen.com
Dongtae jjigae adalah nama sup ikan tersebut, makanan ini adalah rekomendasi dari group leader yang menemani kami berjalan-jalan di sekitaran sungai Han yang tersohor itu.

Sekembalinya ke Indonesia, baru aku aktif menonton drama Korea karena sebelumnya sudah pernah kesana. Menontonnya membuatku sedikit banyak bernostalgia. Semakin kesini, jumlah Kpopers dan Drakorian pun meningkat. Rumah makan ala Korea pun menjamur dimana-mana.

Berhubung teman-teman sepermainanku banyak juga yang terjangkit virus Korea, kami sering mencoba kuliner-kuliner Korea Selatan yang ada di Indonesia. Menurutku, rasa masakan makanan Korea di dalam negeri jauh lebih berasa dibandingkan dengan saat aku makan langsung di Korea sana. Haha. Mungkin bumbunya sudah disesuaikan dengan selera orang Indonesia.

Beberapa makanan khas Korea yang sebelumnya tidak sempat aku icipi ketika berada disana dan aku coba di Indonesia adalah bulgogi, rappokki, bibimbab, jjangmyeon dan yangnyeom chicken.

Menurutku makanan Korea itu unik karena memiliki cita rasa berbeda dengan masakan di negara lain, dari aroma masakannya saja bisa langsung tau kalau itu adalah makanan Korea. Memang masing-masing negara punya khasnya tersendiri ya. Hehe.

Walaupun dulu selama disana aku seperti tidak terima dengan rasa khas kuliner Korea Selatan karena lidah ini terlalu Indonesia, aku tidak kapok kok untuk sesekali kembali makan makanan tersebut jika diberi kesempatan untuk mengunjungi Korea Selatan lagi.

Sukabumi, 20 Juni 2020

Kamis, 18 Juni 2020

Hobi Nonton Drama Korea? Ada Manfaatnya Loh Ternyata!

Juni 18, 2020 2 Comments
Mengikuti challenge menulis ternyata sangat berpengaruh pada diriku agar semakin rajin dan giat menulis di blog. Apalagi kalau topiknya bahasan seru yang membuat jari-jari ini terus merangkaikan kata-kata tanpa berpikir keras. Haha. Memang paling asyik menuliskan hal-hal kegemaran kita ya.

Topik ketujuh dalam Kdrama Writing Challenge kali ini adalah tentang manfaat atau efek yang dirasakan setelah menonton drakor. Wih! Waktu melihat topiknya, kok kayaknya aku harus agak-agak mikir ya sebenarnya selama bertahun-tahun doyan menonton drama Korea apa sih yang aku dapatkan? Hmm.. yang jelas bukan oppa Korea ya!

Kenapa mesti berpikir dulu untuk menjawab tantangan ini? Selama ini efek drakor dalam kehidupan sehari-hari bagiku rasanya hanya kesenangan sesaat. Sisanya? Mata panda gara-gara begadang marathon berepisode-episode drama. Hiks! Ya salah siapa harus digeber semaleman kalo nonton, Mbak?!


Harusnya dari dulu sebelum mulai menonton suatu judul drama aku berpikir terlebih dahulu apa tujuan menonton itu sendiri? Apakah kegiatan ini akan mendatangkan suatu manfaat? Haha, berat amat yak nonton drakor aja kudu ada goals-nya. Setelah dipikirkan, kira-kira di bawah ini adalah beberapa manfaat yang aku rasakan dari menonton drama Korea :

1. Lari Dari Kenyataan

Kenyataan seperti apa sih sampai ingin lari darisana segala? Ya ketika kuliah kenyataan kalau tugas kuliah dan laporan praktikum numpuk, bikin otak panas dan ngebul-ngebul. Jika sudah begini, nonton drakor akan menjadi pelarianku untuk break sejenak.

Kalau masa-masa masih jadi karyawan kenyataan yang harus dihadapi itu adalah pekerjaan yang nggak ada habisnya, pemandangan di kantor pun itu-itu aja. Butuh penyegaran aku! Cara termudah adalah dengan menonton.

Menonton bioskop kadang yang bikin malas adalah perjuangan dari Cimahi ke Bandung yang harus menerjang kemacetan dan terpapar polusi asap karena aku anak motor. Mau ke bioskop di akhir pekan kadang sudah lelah duluan memikirkan perjalanan menuju kesananya. Alhasil, menonton dari laptop saja deh.

Dengan menonton drama Korea, seperti yang aku sebut sebelumnya bahwa aku mendapat kesenangan sesaat yang berfungsi untuk menyegarkan pikiran yang ruwet dan mumet setelah seharian bekerja keras.

Setidaknya aku jadi punya kehidupan lain yang lebih fresh dan membuatku tidak terlalu kepikiran tentang masalah-masalah yang saat itu sedang aku hadapi. Meskipun sifatnya hanya sementara, setelah selesai menonton ya harus kembali menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Haha.

I don't say my life is that bad, aku senang kok dengan kehidupanku di dunia nyata. Hanya saja buatku menonton drama Korea bisa menjadi selingan dan hiburan disaat bosan dengan kegiatan sehari-hari yang kadang terasa monoton.

2. Cuci mata

Di sekolah, kampus ataupun kantor mana mungkin aku menemukan teman sebangku yang bening macam Kim Soo Hyun, partner kerja kece badai seperti Jo Jung Suk atau malah direktur muda kharismatik kayak Hyun Bin. Cuma di drakor semua itu terjadi!

Apalagi sejak kuliah dan bekerja di bidang farmasi, persentase laki-laki di lingkunganku mungkin hanya 15-20% dan sisanya perempuan. Seger banget kan rasanya nontonin oppa-oppa di layar laptop. Hehe.

Namsan Tower
Source : idntimes.com
Selain cuci mata karena pesona aktor dan aktrisnya yang nggak paham kinclong-kinclong banget, menonton drakor juga membuat kita mengenal sedikit banyak tempat-tempat wisata di Korea Selatan serta jenis-jenis kuliner yang sering dikonsumsi masyarakat sana.

Tteokbokki
Source : idntimes.com
Belum lagi gaya busana atau fashion mereka yang bikin mupeng diri ini ingin mencoba dan memakainya, padahal kalau di Indonesia belum tentu cocok. Haha.

Termasuk kecanggihan teknologi gadget yang digunakan juga berbagai jenis mobil-mobil mewah yang tentunya belum pernah dilihat oleh sepertiku. Semuanya bisa didapatkan dengan modal cuci mata lewat drama Korea.

3. Belajar tentang Korea Selatan

Zaman sekarang, kebanyakan perusahaan mempersyaratkan atau memberi nilai plus jika kita bisa menguasai lebih dari satu bahasa asing selain bahasa Inggris. Akan menjadi sebuah keuntungan jika kita bisa belajar bahasa Korea secara otodidak melalui hobi menonton drakor.

Contohnya saja adikku yang terkecil, ia yang sudah terkena racun Kokoreaan dariku sekarang jadi hobi menonton berbagai reality show Korea yang mengantarkannya menjadi paham dan mahir menulis serta membaca Hangeul atau huruf Korea. 

Caranya hanya dengan sering memerhatikan tulisan-tulisan keterangan yang muncul dalam acara reality show tersebut. Jago amat yak!

Selain bahasa, banyak hal lain yang bisa kita gali dari budaya-budaya di Korea Selatan melalui aktivitas menonton drama Korea. Bikin pengetahuan bertambah dan nggak disitu-situ aja deh.

4. Belajar berpikir kreatif dan out of the box

Dari menonton drama Korea, aku melihat betapa banyak sekali ide-ide kreatif yang dituangkan oleh para penulis naskah dan sutradara. Hal yang tidak terpikirkan mungkin terjadi bisa menjadi mungkin di dalam cerita drama Korea.

Yang sering membuat kagum juga ketika mereka menghubung-hubungkan antara sejarah masa lalu, makhluk-makhluk legenda atau berbagai profesi seperti dokter, pengacara dan lainnya dikemas menjadi cerita yang menarik untuk ditonton.

Walaupun banyaaak ya cerita-cerita tidak masuk akal, ending yang kadang menyisakan banyak pertanyaan tapi dengan pemilihan aktor dan aktris yang tepat tetap saja dramanya bisa dinikmati dan disukai banyak orang. Hoho.


Ide kreatif dan out of the box ini yang kemudian banyak di adopsi oleh para penulis cerita maupun pembuat komik seperti webtoon yang saat ini kebanyakan cerita-ceritanya ala-ala drama Korea. Tak apa kan kalau terinspirasi asal bukan plagiasi.

5. Sadar diri bahwa kenyataan tidak seindah atau semengenaskan drama Korea

We're not living in a fairy tale Korean Drama, guys! Jadi tetaplah jalani hidup sesuai dengan kenyataan dan kodratnya. Jangan terlalu bermimpi dapat pasangan yang berasal dari planet lain dengan wajah rupawan, kekuatan super dan kelakuan gentle.

Bersyukur saja lah dengan apa yang sudah kita miliki dan Tuhan berikan. Nggak apple to apple kalau membandingkannya dengan kehidupan dalam drama Korea, meski mungkin ada beberapa part atau kejadian yang mirip dengan apa yang kita alami.

Terima saja perjalanan kisah cinta kita beserta siapa yang menjadi pasangan kita, pekerjaan atau profesi yang sudah kita dapatkan, bersyukur karena meskipun cerita dalam drama Korea unyu-unyu menggemaskan tapi konflik yang terjadi juga biasanya berat.

Tau sendiri ya biasanya yang jahat dalam drama itu beneran dibikin jahat, sadis dan sungguh mengerikan. Jangan sampai amit-amit kita bertemu orang seperti itu!


Apa yang ada dalam drama itu kebanyakan hanya rekayasa semata sedangkan yang kita hadapi itu realita kehidupan. Jadi ya hidup di dunia nyata aja lah ya nggak usah nganeh-nganeh pengen begini begitu, seperti ini seperti itu.

Wihh, bisa aja nih dapat manfaat segitu banyak dari menonton drakor ternyata! Tapi, jaga keseimbangan juga agar manfaat yang didapat lebih banyak dari mudharat-nya. Misalnya, dengan tidak terlalu memaksakan diri menyelesaikan satu seri drama dalam satu malam agar pagi-pagi tidak bertransformasi menjadi zombie seperti diriku di masa muda dulu. Sekarang aku sudah tobat kok. Hehe.

Atau tetap menjaga kewarasan dengan tidak terlalu selektif memilih pasangan yang harus memiliki wajah tampan sempurna seperti Lee Min Ho. Juga jangan berharap ada Ji Chang Wook KW Super yang menjadi bucin kalian. Tolong ya mereka jangan dijadikan standar muka pasangan hidup, realistis aja Sis!

Salah satu pelajaran dari menonton drakor :
Cinta tak harus saling memiliki
Source : idntimes.com

Jadikan aktivitas menonton drakor itu sesuatu yang lebih banyak faedahnya daripada unfaedahnya. Misalnya dengan membentuk komunitas pecinta drama Korea lalu membuat kegiatan tulis menulis seperti yang dilakukan oleh grup Drakor dan Literasi, eh! Bukan promosi loh. Haha.

Oke sekian dulu yaa, see you!

Sukabumi, 18 Juni 2020

Rabu, 17 Juni 2020

Menelaah Diri Sendiri Melalui Misi Connecting The Dots

Juni 17, 2020 0 Comments
Sampai pada misi penyelaman kesekian dari perjalanan bersama teman-teman Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch 8. Minggu lalu, aku berhasil menyelesaikan misi mengenai Karakter Moral Ibu Profesional dan sukses memboyong permata emerald dari dasar laut.

Kali ini, tantangan semakin sulit. Kami ditugaskan untuk menghubungkan titik-titik dengan menjawab pertanyaan seputar diri sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, benar-benar dibutuhkan pendalaman untuk lebih mengenali diri sendiri.

Nah loh! Tak kenal maka tak sayang, agar bisa menjadi ibu bahagia yang menyayangi dirinya sendiri tentu aku harus mengenal seperti apa sebenarnya diriku ini.

Setelah merenungi pertanyaan-pertanyaan di atas, aku akan mencoba menjawabnya satu per satu :

Seperti apa aku ini?
Aku adalah seorang perfectionist yang mencoba untuk lebih rileks dan santai dalam menjalankan peran sehari-hari. Aku pribadi tidak senang menjadi seorang yang ingin apa-apa beres dan selesai sesuai target dengan hasil yang baik semua. Hidup butuh santai juga dong ya!

Tapi, apa daya aku akan selalu membawa hal-hal yang tidak sempurna itu ke dalam pikiranku dan selalu memikirkan bagaimana agar hal-hal tersebut bisa menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Ini membuat diriku sering kali tidak nyaman dengan diri sendiri.

Terkadang aku bingung apakah diriku ini seorang yang ambisius karena memiliki segudang cita-cita dan rencana masa depan, atau aku adalah seorang yang visioner dalam merencanakan masa depan? Aku sendiri bingung gimane orang lain?!

Yang jelas, aku ingin menjadi versi terbaik bagi diri sendiri yang bisa mendatangkan manfaat untuk orang lain. Aku akan berusaha terus untuk memperbaiki diri demi diriku sendiri dan orang-orang sekelilingku.

Aku akan dengan senang hati menerima masukan yang sekiranya dapat lebih membangun diriku dan mohon maaf akan tidak peduli dengan orang-orang yang hanya mengomentari hidupku tanpa maksud apa-apa. Ngurusin hidup gue banget deh!

Apa yang membuatku unik?
Unik itu adalah sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Menurutku, yang membuat diriku unik adalah ketika diriku ini yang sebenarnya adalah seorang pemalu berusaha untuk keluar dari zona nyaman tersebut dan memberanikan diri untuk mencoba berbagai hal baru.

Aku juga termasuk orang yang sayang jika melewatkan suatu kesempatan apabila kesempatan tersebut memiliki prospek bagus untuk kemajuan diriku. Tidak takut untuk mencoba dan mengambil langkah. Aku rasa ini unik karena aku yakin tidak semua orang memiliki karakter seperti ini.

Apa kesamaanku dengan Institut Ibu Profesional?
Yang membuatku tertarik untuk bergabung bersama Ibu Profesional dan mengambil jurusan Institut adalah saat aku melihat IIP ini memfasilitasi perempuan-perempuan yang ingin belajar.

Aku pernah menulis di blog ini kalau pada dasarnya aku senang belajar dan mempelajari sesuatu yang baru. Bagiku, menjadi ibu itu adalah suatu hal yang baru dimana susah sekali untuk mendapatkan pendidikannya karena tidak ada sekolah formal bagaimana menjadi ibu.

Mungkin kesamaan diriku dengan IIP ini adalah bertujuan untuk belajar menjadi ibu yang lebih profesional lagi dalam menjalankan pekerjaannya, tidak malu dengan profesiku sebagai ibu rumah tangga, mau mengembangkan potensi dan bakat serta menemukan tujuan akhir dari perjalanan panjang sebagai seorang ibu.

Apa yang aku perjuangkan?
Satu hal yang ingin aku perjuangkan adalah kebahagiaan. Kebahagiaan diriku sendiri sebagai seorang ibu yang nantinya akan berdampak pada kebahagiaan suami dan anak-anakku, keluarga besarku juga lingkungan sekitarku.

Perjuangan ya untuk senantiasa bahagia menjalani peran sebagai seorang ibu rumah tangga itu. Untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, aku harus lebih banyak bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini. Harus lebih menerima lagi bahwa aku sudah bukan aku yang dulu, aku memegang tanggung jawab besar terhadap masa depan keluargaku.

Inginnya kebahagiaan ini tetap utuh baik di dunia maupun di akhirat kelak bersama suami dan anak-anakku.

Nilai-nilai apa yang aku miliki?
Setelah belajar di IIP, tentunya aku memegang core value Ibu Profesional sebagai modal untuk menjalankan peranku. Belajar, berkembang, berbagi, berkarya dan berdampak adalah nilai-nilai yang aku miliki dan akan terus aku kembangkan.


Menjawab semua pertanyaan itu membuatku senakin sadar bahwa banyaaak sekali hal yang masih harus aku perbaiki. Nilai-nilai yang aku pegang harus bisa aku terapkan untuk membentuk seperti apa diriku ini, hal ini akan berkaitan dengan keunikan yang ada dalam diriku. Terus berkaitan dengan titik-titik lainnya.

Sungguh misi penyelaman yang luar biasa. Senang sekali bisa mengambil bagian di dalamnya. Semoga membawa manfaat untuk diriku sendiri maupun orang lain.

Imawati Annisa W.
IP Sukabumi

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional

Selasa, 16 Juni 2020

Jenis Drakor Ter-Anti Untuk Ditonton

Juni 16, 2020 12 Comments
Sudah memasuki topik ke-6 dalam Kdrama Writing Challenge bersama grup Drakor dan Literasi, subgrup dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Kali ini topik yang akan dibahas adalah drama yang paling enggan untuk ditonton.

Buat aku aktivitas menonton drama itu untuk selingan dan hiburan dari kegiatan sehari-hari yang melelahkan. Jadi, waktu lagi santai-santai daripada menganggur atau kebanyakan buka sosial media, menonton drakor menjadi kegiatan pilihan.


Kalau dulu kan banyak waktu selow sebelum punya anak apalagi sebelum menikah, jadi dalam satu hari bisa menonton marathon beberapa episode terlebih jika filmnya seru. Tapi kalau sekarang, menonton 3 episode dalam satu hari saja udah bagus banget. Hehe.

Inginnya kegiatan bersantai sembari menonton drakor menjadi hal yang refreshing dan menyenangkan, jadi aku lebih memilih untuk menonton drama-drama yang tidak terlalu harus banyak mikir dan berat-berat. Namanya juga pengen dihibur kan ya... Tapi kalau memang dramanya recommended dan pemainnya oke biasanya ya tak tonton juga sih.

Secara garis besar ada 2 tipe drama yang jarang sekali atau hampir tidak pernah masuk ke dalam daftar drama Korea yang ingin aku tonton, Sad Ending Drama dan Thriller/Horror/Crime.

Alasan mengapa aku lebih memilih menonton drama yang sudah complete semua episodenya adalah untuk memastikan kalau ceritanya berakhir bahagia. Biasanya kepo sana sini atau bahkan minta spoiler dulu sebelum nonton.

Nggak suka aja udah nonton belasan episode tau-tau berakhir dengan tragis atau tidak bahagia. Biasanya drama-drama yang memiliki akhir cerita tidak bahagia itu dari genre melodrama.

Pernah aku menonton salah satu drama bergenre ini yaitu I Miss You (2012), menonton ini juga karena salah satu pemeran utamanya adalah Yoon Eun Hye aktris yang aku gemari drama-dramanya. Berbeda dengan saat ia bermain dalam drama Princess Hours (2010), dalam drama ini banyak sekali scene menangis dengan latar belakang cerita yang suram. Untungnya akhir dari drama 21 episode ini bahagia dan ceritanya juga bagus sehingga aku menonton sampai tamat.


Satu lagi melodrama yang pernah aku tonton sampai habis adalah The Innocent Man atau Nice Guy (2012) yang diperankan oleh Song Joong Ki dan Moon Chae Won. Wih, drama satu ini juga mellow banget ceritanya bahkan alurnya jadi terkesan lamban menurutku.

Nice Guy
Source : asianwiki.com
Berepisode-episode isinya sedih-sedihan, kesengsaraan dan penderitaan. Di episode terakhir, ceritanya berakhir happy tapi bukan yang happy-happy amat juga kalau tidak salah, B aja gitu. Menonton ini juga karena rekomendasi dari sahabatku yang merupakan penggemar Joong Ki.

Kalau di atas adalah melodrama dengan ending bahagia, judul melodrama drama sad ending yang pernah aku tonton mungkin hanya Endless Love (2000) dan Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo (2016). Untuk judul drama sad ending lain mohon maaf aku tidak bisa menyebutkan karena memang tidak tau dan tidak berminat untuk mencari tau. Fufu~

Jenis drama lain yang membuat aku malas untuk mengikuti serial drama Korea adalah thriller/horror/crime garis keras. Yang benar-benar sebagian besar menunjukkan adegan sadis, kekerasan hingga bunuh-bunuhan. Juga drama horror yang horror sungguhan bukan horror tidak seram seperti Master's Sun (2013) atau Oh My Ghost (2015).

Pernah juga sih aku menonton drama berjenis thriller atau crime ini seperti Signal (2016) dan Innocent Defendant (2017). Dua drama ini aku tonton karena sudah terlanjur mengikuti ceritanya di TV kabel, ternyata seru dan adegan kekerasannya tidak terlalu parah atau sadis.

Innocent Defendant sebenarnya salah satu jenis drama yang tidak aku sukai, penjahatnya benar-benar jahat dan tidak manusiawi. Bikin kesal dan greget sampai ke ubun-ubun, tapi apa daya ku tak bisa berhenti menontonnya karena akting Ji Sung yang luar biasa disana. Daebak pokoknya! Salah satu drama yang membuatku terkesan.

Innocent Defendant
Source : en.wikipedia.org
Judul-judul lain dari drama bergenre thriller/horror/crime aku kurang tau, karena tidak mengikuti dan biasanya menonton berdasarkan rekomendasi dari teman-teman yang menonton secara ongoing.

Sebenarnya ada satu lagi macam drama yang enggan untuk aku tonton, yaitu kalau kurang cocok dengan main actor and actress-nya. Haha. Visual banget yak! Tapi, memang yang menjadi salah satu alasan menonton drama Korea itu seru dan menghibur adalah tampan dan cantiknya para pemain drama tersebut.

Ada loh drama yang kata banyak orang bagus tapi enggan aku tonton karena nggak sreg dengan visual pemainnya yaitu She Was Pretty (2015) dan Cheese In a Trap (2016).


Malas nonton kalau pemainnya nggak sisiran begini
Source : soompi.com
Sekian bahasan topik challenge kali ini, drama yang paling tidak ingin ditonton. Kalau kata suamiku, aku orangnya terlalu sensitif dan terbawa perasaan. Padahal kan cuma di televisi, kenapa deh sampai ikut-ikut sedih banget, kesal atau sebal saat menonton drama? Haha. Kenapa ya kira-kira?

Sukabumi, 16 Juni 2020