Kamis, 27 Februari 2020

Belajar Mengakui Perasaan Anak

Februari 27, 2020 0 Comments

Saat anak menjerit dan menangis karena berlari-lari kemudian terjatuh, apa yang akan terjadi jika orang tuanya berkata, "Makanya kalau jalan lihat-lihat! Jatuh deh jadinya!" yang terjadi adalah anak semakin menangis lebih kencang lagi. Berbeda halnya jika kita menanggapi tangisannya dengan, "Kamu nangis pasti karena ada yang sakit ya? Adik sedih gara-gara jatuh? Mana yang sakit? Sini ibu obati dulu," tidak lama kemudian si anak menghentikan tangisannya.

Dari hasil membaca buku tulisan Joanna Faber dan Julie King yang berjudul Seni Berbicara Pada Anak - Panduan Mendidik Anak "Tanpa NGEGAS!" (How To Talk So Little Kids Will Listen), ternyata kunci utama agar mudah mengendalikan anak adalah dengan menerima dan mengakui perasaannya.


Ketika anak sedang bertingkah karena sesuatu, maka kita harus mencari tau penyebabnya dan mengakui perasaan yang saat itu ada dalam dirinya. Emang rada susah sih, apalagi kalau bocahnya masih piyik belum bisa bicara lancar, yang ada ibunya ikut emosi, "WOY! LO MAUNYA APA SII?" Haha. Enggak kok, aku tidak seperti itu pada anakku.

Baca tentang : Mom's Roller Coaster

Sama halnya dengan orang dewasa, ketika dirinya bercerita betapa sedihnya ia sebab kehilangan dompet karena meletakannya di saku (bukan di dalam tas) dan ia tertidur sepanjang perjalanan di bus hingga hampir lewat dari tempat tujuan kemudian ia tergesa-gesa turun dari bus yang kemungkinan besar menyebabkan dompetnya terjatuh atau sudah diambil orang saat ia tertidur. Bayangkan jika kita bereaksi seperti ini :
"Udah nggak usah ngeluh, buruan lapor polisi. Blokir atmnya, keburu uangnya habis diambil orang!"

atau memberi nasihat panjang lebar,
"Makanya kalo pergi-pergi tuh dompet harus selalu di masukin dalam tas! Harusnya kamu periksa dulu sebelum turun dari bus, jangan langsung grasak grusuk turun bus. Jatuh deh dompetnya, ini harus kamu jadikan pelajaran untuk lain waktu!"

atau menyangkal perasaan nelangsanya,
"Udah nggak usah sedih-sedih gitu, gampang itu ngurusnya tinggal ke kantor polisi, telepon bank. Udahlah nggak usah menye-menye gitu."

Jika kita memberinya tanggapan seperti contoh diatas, kemungkinan besar ia tidak akan pernah lagi bercerita tentang masalahnya pada kita. Haha. Daripada berkata seperti itu, lebih baik jika kita menanggapinya dengan,
"Ya ampun dompet kamu hilang? Sedih banget... Pasti sebel sih harus ribet ngurus ke kantor polisi, bank, belum lagi sim sama kartu-kartu lain ada disana semua. Ada yang mau aku bantu nggak?" and you will be friends forever. Haha.

Ketika anak mulai melakukan sesuatu yang menurut kita diluar batas atau berkata hal negatif, menurut Joanna dan Julie yang perlu kita lakukan adalah menguatkan hati dan menahan diri untuk membalas kata-katanya; memikirkan emosi yang dirasakan anak saat itu kemudian masukan emosi tersebut dalam kalimat.

Akan ada suatu waktu dimana emosi anak yang meluap-luap reda setelah kita mengakui apa yang ia rasakan. Namun, saat anak mulai melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya mau pun orang lain kita sebagai orang tua harus sigap membatasi tindakan tersebut.

Kita ambil contoh ketika seorang kakak mengamuk saat adiknya yang masih bayi tidak sengaja mematahkan mainan milik kakak. Kemudian kakak menangis sejadi-jadinya dan ingin memukul adiknya, sebagai orang tua kita harus mengambil langkah tegas dengan segera menjauhkan adik dari pukulan kakak tapi juga meredakan emosi kakak. "Kamu pasti marah sekali ya sama adik karena mainanmu rusak? Tidak apa-apa kalau kamu kesal, masalahnya memukul itu tidak baik," katakan masalahnya untuk mengganti kata tetapi yang justru dapat membuat perasaan anak jadi lebih kesal setelah kita berkata bahwa kita menerima emosinya.

Well, yang ku tulis diatas hanyalah secuil dari isi buku parenting ini (judul diatas ya). Bukunya bagus sekali, setiap lembar berisi ilmu yang harapannya bisa diaplikasikan olehku. Tentang menerima perasaan anak ini dibahas di bab pertama, aku langsung menulisnya di blog karena menurutku ini sangat bermanfaat bagi para orang tua.

Sebagai orang tua, kita jangan hanya ingin anak kita patuh dan menurut pada kita. Kita harus memperlakukannya seperti manusia, dia bukan robot loh yang disuruh apa pun nurut! Punya perasaan, perasaan yang belum bisa ia utarakan dan ekspresikan melalui kata-kata. Justru tugas ibu bapaknya lah agar ia memahami emosi yang dirasakannya sehingga bisa mengekspresikannya dengan benar.

PR banget sih ini untukku, karena aku masih suka kelepasan ngegas saat anakku mencoba menggapai uap panas dari rice cooker atau saat ia mencoba meraih gagang penggorengan ketika aku memasak. Heboh emak takut bocah kenapa-kenapa, tapi kehebohanku itu mungkin bisa melukai hatinya. Hiks. Maaf ya, nak.

Dari buku ini aku juga banyak belajar bahwa mengendalikan anak itu tidak melulu dengan perintah dan teriakan. Maklum ibu baru jadi masih banyak nggak taunya nih, harus belajar lebiihh banyak lagi supaya bisa jadi orang tua terbaik untuk anak.
Jadi, bukan hanya kita sebagai orang tua yang ingin dimengerti tapi juga si kecil yang masih belum paham cara mengungkapkan isi hatinya. Yuk bersama-sama berproses menjadi orang tua yang pengertian terhadap anak-anak.

Sukabumi, 27 Februari 2020

Rabu, 26 Februari 2020

Menuju Produktif Bersama Komunitas

Februari 26, 2020 0 Comments

Memasuki pekan ketiga masa orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional, materi yang disampaikan adalah mengenai bagaimana kita sebagai seorang wanita, istri atau ibu menjadi produktif. Apa jawaban kalian jika kalian seorang wanita dan diberi pertanyaan mana yang lebih produktif antara manager rumah tangga, pekerja kantoran atau mahasiswi pasca sarjana?
Jawabannya pasti beragam, tapi sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan serba bisa, kita sebagai wanita bisa menjawab kalau ketiga pilihan tersebut semuanya produktif. Tentu bisa dong! Asalkan kita menjalankan peran-peran tersebut dengan profesional. Tidak ada yang lebih produktif jika seorang ibu rumah tangga, pekerja kantoran dan mahasiswi mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Coba bayangkan, bukankah seorang pekerja kantoran yang malas dan ogah-ogahan dalam bekerja akan menjadi lebih tidak produktif ketimbang ibu rumah tangga yang setiap hari mampu mengerjakan kewajibannya dirumah dengan ikhlas dan passionate? Jadi kuncinya adalah pada kesungguhan dalam mengerjakan tugas masing-masing.

Namun, ditengah perjuangan seorang wanita bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya tidak sedikit stigma atau pandangan masyarakat yang muncul dan menjadi ganjalan bagi para wanita untuk terus mempertahankan produktivitasnya. Sebut saja ibu rumah tangga yang masih sering dipandang sebelah mata, dianggap menyia-nyiakan ijazah sekolahnya untuk 'menganggur' dirumah. 

Baca pengalamanku menjadi SAHM :
Behind the SAHM

Ada pun stigma yang muncul ketika seorang wanita merangkap ibu bekerja kantoran adalah pikiran negatif bahwa wanita tersebut terlalu sibuk mengejar karir sehingga tega 'menitipkan' anak-anaknya pada orang lain, dianggap melupakan fitrahnya sebagai ibu dengan meninggalkan anaknya ketika bekerja.

Sesungguhnya kita tidak bisa memaksa untuk mengubah cara pandang orang mengenai hidup kita. Yang bisa kita lakukan adalah, hempaskan aja saaay! Haha. Tugas utama kita adalah membahagiakan diri sendiri sebelum orang lain dan kita juga tidak punya kewajiban apa-apa untuk menanggapi cara pandang orang lain terhadap hidup kita. Buktikan saja kita bisa menjadi the best version of ourself dengan peran yang kita pilih.

Sumber : pinterest.com

Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk menuju produktif? Rumus pertama adalah dengan mengubah mindset. Cara pandang kita tentang pekerjaan yang kita tekuni sekarang harus diubah agar menjadi suatu hal yang positif. "Aku ibu rumah tangga dan aku tidak menganggur, aku mengerjakan segala pekerjaan rumah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh,". Misalnya begitu. Atau "Walau aku seorang ibu pekerja, aku tidak akan pernah melupakan apalagi sampai menelantarkan anak-anakku. Apa yang aku lakukan ini untuk keluargaku,". Tentunya kita harus yakin dengan mindset yang telah kita buat tadi, jangan dengarkan hasutan-hasutan netizen.

Kemudian, ambil peran yang sesuai dengan apa yang menjadi tugas kita misalnya bekerja dikantor dengan seoptimal mungkin sehingga mendapat penghargaan sebagai Employee of the Month. Bisa juga ibu rumah tangga yang pintar mengelola keuangan keluarganya sehingga mampu berinsvestasi macam-macam untuk masa depan keluarganya. Ingatlah bahwa tidak ada satu peran pun dalam aktivitas kita yang sia-sia, yang membedakan hanyalah kesungguhan saat menjalankan peran tersebut. Dari 2 hal tadi, kita bisa memberi manfaat pada sekitar dan inilah yang disebut dengan produktif.

Kunci untuk menjadi produktif terdiri dari beberapa hal antara lain :
1. Utamakan single tasking dibanding multitasking. Hal ini membantu kita lebih FOKUS dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
2. Terapkan pola kerja 80/20 (Parote Law) dimana 80% kesuksesan berasal dari 20% tindakan yang kita lakukan. Artinya, hanya dengan 20% pemikiran, usaha dan waktu untuk lebih maksimal bekerja kita bisa mencapai 80% keberhasilan.
3. Menentukan skala prioritas dalam setiap pekerjaan.
4. Memberikan delegasi untuk beberapa pekerjaan yang bisa digantikan oleh yang lain. Delegasi bukan hanya berupa orang/bawahan tapi juga bisa berupa benda mati seperti mesin (cuci) atau pelayanan jasa (setrika dan laundry).

Sumber : actioned.com

Terakhir adalah tips untuk produktif dalam berkomunitas. Saat memasuki ranah komunitas, kita tidak bisa mengambil peran kalau kita merasa sungkan dan malu. Jadi, ubahlah rasa sungkan tersebut menjadi antusias dan switch rasa malu menjadi rasa ingin tau. Hal ini tentunya bisa dilakukan ketika kita memotivasi diri agar menjadi sosok yang bermanfaat.

Lalu buat indikator suksesmu ketika mengambil peran dalam berkomunitas. Contohnya, kita memilih untuk menjadi tim hore dalam suatu Whatsapp Group Komunitas dan kita menganggap diri kita sukses adalah ketika kita mampu menanggapi chat dalam setiap topik pembicaraan di grup minimal 3 kali. Namanya juga tim hore kan yaa, yang penting muncul dulu aja!
Terakhir adalah menyelaraskan visi dan misi keluarga dengan value komunitas yang diikuti. Ini berkaitan dengan dukungan yang diberikan keluarga dimana sangat berperan penting dalam prodiktivitas kita saat berkomunitas nantinya.

Materinya berbobot sekali ya. Intinya adalah bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan setiap peran yang sudah dipilih, karena dari kesungguhan itulah akan lahir wanita-wanita yang produktif sesuai dengan peran masing-masing.

Sukabumi, 26 Februari 2020

Selasa, 25 Februari 2020

5 Pantai Terbaik Dalam Negeri yang Pernah Dikunjungi

Februari 25, 2020 2 Comments

Berbicara mengenai liburan, banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Pantai, Gunung, Museum, Taman Bermain, Geo Park, bahkan sekedar pergi ke Mall pun kadang disebut liburan. Bagiku, jalan-jalan yang paling memuaskan hasrat travellingku adalah saat pergi ke pantai. Melihat lautan yang membentang luas dari pinggir pantai, berjalan diatas pasir sambil sesekali menyentuh air laut, mencium aroma asin khas dipantai, menikmati suara angin yang disertai suara deburan ombak, semuanya membuatku ketagihan untuk datang terus ke pantai.

Jika membaca tulisanku sebelum-sebelumnya, aku pernah menyinggung bahwa ayahku senang membawa aku (sekeluarga) pergi travelling sedari kecil. Sepertinya minat travellingku tumbuh sejak saat itu, dari kecil aku senang sekali jika diajak pergi ke pantai. Ketika mulai bekerja tentunya aku menghasilkan pundi-pundi uang sendiri, dimana sebagian ku alokasikan untuk kegiatan plesiran melepas penat. Kebanyakan destinasi yang kutuju ya pantai lagi pantai lagi.

Dirangkum dari hasil jelajahku beberapa tahun kebelakang, berikut adalah pantai-pantai terbaik yang pernah ku kunjungi :
1. Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Mendengar kata Pulau Komodo pasti kita terbayang makhluk purba yang berbentuk seperti kadal raksasa itu, kan? Meski pun termasuk golongan hewan buas, ternyata mengunjungi tempat tinggal mereka menjadi salah satu daya tarik wisatawan baik dalam mau pun luar negeri.

Tidak hanya komodonya saja yang membuat para traveller beramai-ramai ingin datang kesana, tapi juga pesona keindahan alamnya yang luar biasa. Gugusan kepulauan serta pemandangan pantai dan bawah lautnya menjadikan pengalaman sailing Komodo tak hanya tak terlupakan tapi juga bikin susah move on!

Start dari pelabuhan di Labuan Bajo, kita bisa menyewa kapal atau ikut tour untuk berlayar mengitari gugusan kepulauan yang ada dikepulauan Komodo. Kala itu, aku berkunjung ke Pulau Rinca (salah satu yang termasuk dalam Taman Nasional Komodo), Pulau Padar, Gili Lawa Darat (Gili Laba), Pulau Kelor, Pulau Gusung (Taka Makassar), Pulau Kenawa dan Pink Beach. Tidak ketinggalan pula snorkeling menikmati pemandangan bawah lautnya yang indah, jika beruntung kita dapat melihat sekawanan Manta Ray berenang di Manta Point.

Bisa dibilang semua pemandangannya menakjubkan, kalau boleh lebay aku disana tidak henti-hentinya memuji kekuasaan Allah dan sangat berterima kasih diberi kesempatan untuk datang dan melihat pemandangan tersebut. Sumpah deh, beberapa kali pengen nangis saking bagusnyaa!

2. Derawan, Kalimantan Utara

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan 4 jam dari kota Tarakan menuju kepulauan Derawan dengan ombak yang cukup tinggi saat itu tidak menyurutkan semangatku untuk sampai kesana. Benar saja, semua lelah dan was-was selama perjalanan menggunakan speed boat terbayar lunas melihat pemandangan di kepulauan Derawan.

Selama disana aku berkesempatan berenang bersama hiu paus di Pulau Derawan, menyelam melihat ribuan stingless jellyfish di Pulau Kakaban dan berkunjung ke peternakan penyu di Pulau Sangalaki. Sempat juga berkunjung ke Pulau Maratua dimana air laut disana berwarna hijau cerah berkilauan seperti berlian dibawah sinar matahari, super duper indah! Masha Allah.

Oiya, disana aku juga sempat mencoba kegiatan ekstrim yaitu terjun dari atas tebing ke dalam air dan menyusuri goa yang bernama Goa Ikan. Benar-benar unforgettable moment dan lagi-lagi bikin susah move on! Tidak sia-sia menabung pengalaman disana.

3. Belitung, Kepulauan Bangka Belitung

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)
 
Belitung yang namanya mulai terdengar berkat film Laskar Pelangi ini terkenal dengan pantai-pantai yang dihiasi batu-batuan besar. Pantainya yang masih bersih dan air lautnya yang jernih membuat pulau-pulau di Belitung menarik minat para wisatawan.

Beberapa pantai yang ku kunjungi selama di Belitung antara lain Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Kepayang, Pulau Gusung, Pulau Lengkuas, Pulau Burong dan Pantai Batu Berlayar. Sempat ada hujan namun tidak melunturkan keindahan panorama pantai disana. Duduk-duduk dipinggir pantai, menikmati sunset sembari bercengkrama dengan teman-teman membuat sore hari terasa menyenangkan.

Selain pantai, di Belitung aku juga sempat berkunjung ke Museum Kata yang dibangun oleh Andrea Hirata, sekolah tempat syuting Laskar Pelangi dan Rumah Ahok yang sudah menjadi tempat wisata. Oiya, hampir lupa! Jangan lupa untuk berkunjung ke Danau Kaolin, danau yang terbentuk dari bekas penggalian kaolin di Desa Air Raya Tanjungpandan.

4. Taman Laut Bunaken, Manado, Sulawesi Utara

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Snorkeling di Taman Laut Bunaken menjadi pengalaman tak terlupakan karena itu menjadi pengalamanku snorkeling dengan pemandangan bawah laut yang sangat indah untuk pertama kalinya. Sebelumnya pernah aku snorkeling di Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung dan Gili Trawangan Lombok, namun tidak ada yang mengalahkan indahnya view bawah laut Bunaken. Ya wajar saja mendapat title Taman Laut.

Perjalanan dari kota Manado ke Pulau Bunaken tidak jauh, tidak sampai sejam kalau nggak salah. Aku yang saat itu bersama keluargaku menyewa kapal yang bagian bawahnya bisa dibuka sehingga kita bisa melihat pemandangan didalam laut dari atas kapal.

Menurutku pribadi, pantainya sih B aja ya disana. Belum terlalu terawat saat aku kesana tahun 2015 silam. Hanya ada beberapa tempat persewaan alat-alat snorkeling dan tempat menyewa juru foto bawah laut. Toilet Umum tempat berganti pakaiannya pun ku bilang kurang oke. Anjing-anjing liar banyak sekali yang berkeliaran disana, bikin takut deh (takut ngejar dan gigit). Tapi, pemandangan air laut dari daratannya bagus pake banget! Duduk-duduk di dermaga atau pinggir pantai saja udah bahagia melihat pemandangan indah begitu. Masha Allah, alhamdulillah.

Aku sekeluarga pun ketagihan snorkeling disana. Padahal kami datang kesana saat matahari sedang terik-teriknya, tapi betah aja berenang sampai kulit menghitam. Terumbu karang disana sangat beragam dan berwarna-warni, ikannya pun bervariasi, bahkan aku melihat ada ular laut juga berwarna biru-putih belang-belang berenang menjauh dari tempat kami sekeluarga snorkeling. Aku juga berfoto (underwater) dipinggir palung yang ada didalam lautnya. Pengalaman mengerikan namun sayang untuk dilewati, setidaknya pernah lah melihat palung laut minimal sekali seumur hidup. Hehe.

Menurutku, Taman Laut Bunaken adalah salah satu tempat yang tidak boleh terlewatkan dari bucket list kalian para traveller.

5. Tanjung Aan, Lombok

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Berbicara mengenai Pulau Lombok membuatku mengenang masa Kuliah Kerja Nyata tahun 2011 lalu. Aku menghabiskan waktu kurang lebih 2 bulan disalah satu desa yang terdapat di Lombok Barat. Tidak dipungkiri, karena KKN itu lah kemudian aku jatuh hati pada pantai-pantai yang ada disana.

Dari sekian banyak pantai menawan di Lombok, Tanjung Aan yang berada dikawasan Mandalika menjadi favorite-ku. Setibanya disana, kalian akan disuguhkan dengan pemandangan fantastis laut biru kehijauan yang jernih, pemandangan sekitar pantai berupa bukit-bukit yang kelihatan cantik. Pasirnya pun berbulir seperti merica, berwarna putih. Bagusnya sampe bikin mau nangis, deh!

Disana pun masih cukup sepi ya dibandingkan pantai didaerah Gili Trawangan, apalagi jika berkunjung tidak saat weekend, dijamin seperti private beach. Kegiatan yang bisa dilakukan disana selain berfoto tentunya, bermain air (jelas lah ya), berselancar, berjemur, naik kapal wisata atau hanya duduk-duduk saja sambil jajan dipinggir pantai. Saking nggak bisa move on-nya dari pantai ini, aku sudah 3 kali berkunjung kesana. Pokoknya setiap ke Lombok pasti menyempatkan waktu kesana. Hehe.

Nah, demikianlah ceritaku mengenai 5 pantai terbaik dalam negeri yang pernah ku datangi. Semoga kedepannya aku memiliki kesempatan untuk berkunjung ke pantai-pantai menakjubkan lainnya di Indonesia tercinta ini.

Sukabumi, 25 Februari 2020


Senin, 24 Februari 2020

Pentingnya Keteraturan untuk Anak Usia 0-3 Tahun

Februari 24, 2020 0 Comments

Suatu hal yang tidak aku sukai ketika mengajak anak bepergian baik travelling atau pun mudik adalah ketika keteraturan anakku berubah. Waktu bangun tidur, mandi, sarapan, tidur siang, makan siang dan aktivitas harian lainnya berubah menyesuaikan kondisi lingkungan barunya. Belum lagi ketika tidak mau disuruh tidur karena masih excited mengeksplorasi tempat baru.

Berbanding terbalik dengan saat ia diam dirumah. Aktivitas hariannya selalu kubuat teratur dan terjadwal mulai dari bangun pagi, jalan-jalan, sarapan, mandi, makan camilan, tidur siang, makan siang, hingga tidur malam sudah teratur sedemikian rupa dan ia pun kooperatif menjalankan aktivitasnya. Jarang ada drama nangis-nangis atau tantrum kecuali dia sedang sakit atau ada kebutuhannya yang belum terpenuhi (misal sangat lapar atau terlalu mengantuk).

Saat pulang ke rumah mertua di Bandung beberapa waktu lalu, aku sangat kewalahan menjaga anakku yang maunya main seharian. Bolak-balik menemani naik turun tangga sampai pinggang rasanya mau copot, berlari-lari kesana kemari ingin ikut kakak sepupunya bermain, selalu berusaha kabur keluar pagar untuk main dijalan raya dan menangis jika dibawa masuk kembali kedalam rumah. Duh, Gusti nu Agung! 

Belum lagi karena ingin bermain terus bersama sepupunya, ia jadi malas makan dan tidak mau tidur. Pun sempat tantrum ketika harus selesai mandi, berteriak menangis histeris hingga membuat heboh keluarga suami. Mertua sampai bertanya, "Ini anaknya setiap hari nangis kayak gini?" Hadeehh, baru kali itu dan waktu dirumah kakek doang nih! Tangisannya terus berlanjut hingga sesi makan tiba, ia yang dasarnya memang sudah kelaparan mengamuk saat aku lambat sedikit menyuapinya. Drama banget. Padahal usianya baru 1 tahun 3 bulan, harusnya belum masuk fase terrible two dong!

Setelah kembali ke kehidupan teraturnya dirumah kami, ia pun menjadi kalem dan stay cool seperti biasanya. Aktif berlarian kesana kemari tapi patuh saat diberi peringatan agar tidak keluar pagar kecuali ditemani olehku. Makan, mandi, tidur dan lainnya normal tanpa tangis dan amukan.

Suatu waktu suamiku diharuskan bekerja lembur hingga seminggu lebih dan pulang larut malam hingga pukul 23.00 WIB. Ia yang merasa kasihan denganku memberiku opsi untuk stay di Bandung selama ia masih sibuk lembur, biar disana ada temannya. Begitu katanya. Namun tawaran tersebut langsung aku tolak! Terbayang kelelahan mengurus anak yang pastinya berpuluh kali lipat seperti saat disana terakhir. Kemudian aku menjelaskan alasannya pada suamiku, "Anak kita masih sangat butuh keteraturan. Kalau dirumah dia sudah biasa teratur hidupnya, emosinya juga jadi lebih stabil. Aku ngurusnya juga jadi lebih gampang. Beda sama kalau kita mudik," akhirnya suamiku mengerti dan aku tetap tinggal dirumah berdua dengan anakku meski suami pulang tengah malam.

Menurut metode Montessori, seorang anak memiliki periode sensitif terhadap keteraturan pada rentang usia 0-3 tahun. Dikutip dari buku tulisan Zahira Zahra yang berjudul "Islamic Montessori" maksud dari periode sensitif ini adalah periode kesempatan anak mempelajari konsep yang lebih spesifik dengan lebih mudah daripada di usia lain dalam kehidupan mereka.




Keteraturan ini penting untuk anak untuk membuat anak merasa aman dilingkungan tempat tinggalnya. Membiasakan teratur juga membentuk kebiasaan anak akan aktivitas sehari-harinya, disamping itu kebiasaan ini menanamkan konsep disiplin pada anak sejak dini. Kelak ia akan merasakan manfaat dari keteraturan ini.

Lah terus anaknya ngendon dirumah aja dong? Berarti travelling pada anak/bayi itu sesuatu yang tidak bagus dilakukan? Ya bukan begitu juga. Dari yang aku mengerti, anak usia 0-3 tahun itu belum paham betul konsep dari travelling. Anak hanya tau bahwa dia bisa berpindah tempat dengan merangkak/berjalan/berlari, sebatas itu. Ketika anak bepergian ke tempat yang jauh dan ke tempat baru, ia perlu waktu untuk mengenal lingkungannya kembali.

Sama halnya dengan orang dewasa yang bepergian ke tempat baru, masih harus mengeksplorasi tempat tersebut untuk tau dimana hotel tempat menginap, dimana tempat jual makanan, dimana bisa beli oleh-oleh, dan sebagainya. Anak pun demikian, bingung apa yang harus dilakukan pada lingkungan barunya. Wajar jika keteraturannya berubah.

Tips untuk mengajak anak travelling dengan tetap menjaga keteraturannya adalah melakukan sounding sejak jauh hari bahwa ia akan pergi ketempat lain, selain itu usahakan agar tetap mengikuti jadwal harian anak yang terbiasa ia lakukan sehari-hari. Supaya anak tetap merasa aman dilingkungan barunya.

Berdasarkan pengalamanku kemarin, aku meloskan anak untuk terus bermain meski sudah waktunya ia makan dengan pertimbangan yaudah ntar kalau lapar juga minta makan. Akibatnya, karena kebutuhannya tidak terpenuhi si anak yang biasanya cool boy menjadi tantrum dan sulit dikendalikan karena terlalu asyik bermain hingga kelaparan berat. Ya nggak tau juga dia lapar berat, ditawari ASI pun menolak saat itu dan lebih memilih main, ku pikir masih ada stock makanan siang hari diperutnya. Bicara pun dia belum bisa. Haha. Sudah, dijadikan pelajaran saja.

Intinya, dimana pun dan kapan pun sebaiknya kita sebagai orangtua tetap memberlakukan jadwal harian anak untuk membentuk keteraturan yang memang sedang dibutuhkan saat anak berusia 0-3 tahun. Baik itu dirumah, mau pun pada saat travelling atau pergi mudik. Sekian.

Sukabumi, 24 Februari 2020

Minggu, 23 Februari 2020

Ketika Citra Dibangun Melalui Tulisan

Februari 23, 2020 0 Comments


Mulai awal tahun 2020 ini, aku meniatkan diriku untuk giat menulis. Aku mencari-cari dan mengikuti komunitas menulis seperti Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) agar termotivasi dengan melihat semangat teman-teman penulis lainnya. Harapannya aku bisa mengisi blog dengan konten-konten yang bermanfaat.
Menulis bisa menjadi hal yang mudah dilakukan, bisa juga menjadi sesuatu yang rumit. Mudah ketika mood dan suasana sedang cocok untuk melakukan pekerjaan ini, rumit ketika pikiran dipenuhi kata-kata yang ingin segera dituangkan namun suasana dan mood tidak mendukung sehingga kertas kosong tetaplah menjadi kertas kosong.

Aku menulis berdasarkan intuisi, mengalirkan apa yang sedang ku rasakan melalui kata-kata kemudian menjadi kalimat lalu paragraf yang berakhir menjadi sebuah catatan panjang. Setelah membaca ulang tulisan sendiri, ternyata kadang aku menulis hal-hal bijak yang sepertinya tidak bisa diungkapkan secara lisan. Bagi yang kenal aku, paling susah jika diajak serius apalagi menulis kalimat motivasi. Haha.

Nyatanya aku menulis apa adanya, jika sedang bersedih akan tergambar dari tulisanku. Saat sedang senang kata-kata ku pun begitu ceria. Apakah kalimat-kalimat bijak yang kadang ku tulis adalah pencitraan? Rasanya aku tidak pernah mencoba membangun citra untuk siapa pun. Aku menulis untuk diriku sendiri, mengeksiskan diri di dunia maya demi menyehatkan mental di kehidupan sebenarnya.

Aku pikir kalimat-kalimat penyemangat yang telah ku tulis merupakan suatu bentuk do'a untuk kehidupanku secara pribadi dan untuk yang membaca secara umum. Selalu teringat bahwa kata-kata adalah do'a, jadi sebaiknya aku tulis lah sesuatu yang baik agar menjadi do'a untuk kita semua. Bukan untuk membangun citra diri yang baik di depan pembaca.

Tapi, tidak ada yang salah jika seseorang menulis untuk membranding dirinya dengan tulisan yang penuh pencitraan. Seorang penulis juga bisa mengubah karakter dirinya dalam sebuah tulisan atau bahkan menciptakan karakter-karakter baru yang sama sekali tidak seperti dirinya. Dalam dunia tulisan, mereka bebas menjadi siapa saja sesuai dengan keinginan dan imajinasinya.

Apa pun tujuan kita menulis, semoga selalu mengarah pada kebaikan. Menyebarkan informasi yang bermanfaat dan tidak menyesatkan (say no to hoax!!!). Selalu memberikan tulisan yang berisi ilmu dan bertujuan untuk membantu sesama, benar tidak? Bagaimana denganmu? Apakah dirimu menulis sebagai diri sendiri atau membentuk citra sebagai karakter lain yang ingin kalian tampilkan di dunia maya?

Sukabumi, 23 Februari 2020


Sabtu, 22 Februari 2020

Mengapa Wanita Senang Berdandan?

Februari 22, 2020 0 Comments

Weekend lalu adalah jadwal aku membeli beberapa kebutuhan rumah tangga. Biasanya aku pergi bersama suami dan anak ke pusat perbelanjaan terdekat. Seperti biasanya, aku akan memandikan anak dan menyiapkannya kemudian aku beranjak mandi lalu bersiap-siap. Ketika sedang memoles wajah dengan beberapa peralatan tempur wanita alias menggunakan make up, suamiku yang baru selesai mandi berkata, "Waaahhh Mamah kayak mau kemana aja sampe make up begitu?"

Kesal dong mendengarnya, aku lalu menjawabnya, "Aku kan dirumah terus jarang pake make up. Nggak boleh apa sekali-sekali rapih dikit?" Sewot jadinya! Haha. Suamiku tertawa sambil menimpali, "Boleh kok, lanjut-lanjut!" dan ia berlalu begitu saja.

Sejak dulu, aku memang bukan tipe perempuan yang hobi dandan namun bukan juga yang tidak suka dandan sama sekali. Ada kalanya aku ingin pergi dengan bibir cerah berwarna pink atau dengan pipi yang merona berwarna coral. Meski pun cenderung tipis dan hampir tidak kelihatan pakai make up (haha) tapi aku suka kok menutupi wajah pucat dan kantong mataku dengan bedak tipis.

Malam harinya setelah kami pergi berbelanja, aku ngobrol dengan suamiku dan kembali menyinggung soal aku yang berhias diri. Ternyata, ada beberapa perbedaan persepsi antara wanita dan pria mengenai kegiatan berdandan yang biasa dilakukan kaum hawa. Kira-kira seperti ini ya :

Sumber : google.com

Menurut wanita (lebih tepatnya menurutku. Haha.) berdandan itu memiliki tujuan memperindah diri sendiri, tentu senang kan melihat diri sendiri lebih fresh dan tidak buluk didepan cermin? Menggunakan make up lebih ke kesenangan pribadi daripada membuat orang lain terkesan. Semacam kegiatan mengapresiasi diri gitu make up tu. Kalau pun ada yang terkesan dengan penampilan kita ya itu bonus.

Selain itu, make up bisa menjadi salah satu tuntutan profesi. Terutama untuk wanita yang meniti karir di ranah publik, terkadang make up wajib dipakai ketika bekerja. Sebut saja front office perusahaan, artis, pramugari, masih banyak lah ya.

Make up bisa membuat seseorang lebih percaya diri. Adakah yang sudah membaca webtoon berjudul The Secret of Angel? Bercerita mengenai wanita Korea yang selalu di bully karena dianggap jelek hingga akhirnya ia mati-matian belajar make up dan melakukan make over pada dirinya untuk tampil lebih percaya diri. Sepertinya tidak hanya di dunia webtoon, pada kenyataannya banyak juga wanita yang berdandan untuk meningkatkan rasa confident mereka. Rasanya, selama itu membuat mereka bahagia tidak ada salahnya toh?

Sumber : Line Webtoon

Bagaimana dengan pendapat pria? Suamiku yang mewakilkan opini menurut pria, serta ia ungkapkan opini beberapa temannya menganggap bahwa wanita yang senang berdandan itu memiliki biaya hidup yang tinggi juga. Terbayang berapa pengeluaran yang dihabiskan hanya untuk membeli beraneka make up. Itu opini mereka yang pertama.

Ada juga yang mengatakan wanita yang bermake up itu tidak natural dan tidak percaya diri. Banyak pria yang lebih suka dengan wanita yang tampil apa adanya tanpa harus memoles wajahnya. Saat berkata seperti ini aku kontan menjawab, "Tapi cowok-cowok syeneng kaann kalo liat cewek cantik? Yang dilirik duluan pasti yang pake make up laaahh!".

Jawabanku tadi membawa pada opini berikutnya yaitu selera. Ada memang pria yang suka dengan wanita berdandan tebal, minimalis atau pun bare face saja. Jadi, tidak semua pria bisa disamaratakan kalau masalah ini.

Pendapat terakhir adalah yang paling sok tau, menurutnya kebanyakan wanita berdandan itu untuk memikat hati pria yang disukainya. Hiyaaa, GR lu bang! Meski pun memang sepertinya pendapat tersebut tidak sepenuhnya keGRan belaka sih. Haha.

Sumber : google.com

Pada akhirnya, tidak ada opini yang benar dan salah. Semua bebas berpendapat. Berdandan atau memakai make up itu boleh saja, asal tidak berlebihan atau dalam agama islam disebut tabarruj. Berdandanlah sesuai tempatnya, jangan menggunakan make up layaknya pengantin saat pergi ke kampus ya! Haha. Berhias dirilah seperlunya, tanpa harus mengumbar aurat dan memakai sesuatu yang dapat mengundang syahwat bagi lawan jenis.

Begitu menurut pendapatku dan suamiku. Hmm.. Bagaimana pendapat kalian tentang bermake up ini?

Sukabumi, 22 Februari 2020

Jumat, 21 Februari 2020

Keinginan Manusia x Skenario Tuhan

Februari 21, 2020 0 Comments

Sebelum menemukan laki-laki yang akhirnya menjadi jodohku, aku memiliki kriteria pria idaman yang menurutku cocok untuk dijadikan seorang suami. Aku rasa banyak perempuan yang juga demikian, memiliki gambaran masing-masing akan husband wanna be-nya.

Yang pertama jelas ya harus seagama, tidak mungkin lah bersama yang tidak seiman. Kalau pun ada laki-laki oke yang sesuai kriteria tapi berbeda keyakinan, langsung buang jauh-jauh perasaan ingin selalu bersama dia. Sebuah prinsip dasar.

Kedua, SETIA. Wajib banget ini, inginnya menikah itu sekali seumur hidup dan spend the rest of my life with him, the one and the love of my love. Bahkan tidak hanya ingin bersama didunia, sampai disurga pun ingin tetap bersatu dengan satu-satunya suami yang aku nikahi didunia.

Selanjutnya, memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agamaku. Mana ada sih perempuan yang mau suaminya kasar, pemalas, tidak bertanggung jawab dan tidak bisa menjadi imam yang baik dalam keluarga?! Seperti perempuan pada umumnya, aku menginginkan laki-laki yang bersikap lembut, baik hatinya, perhatian, bertanggung jawab, pekerja keras, sayang pada keluarganya, sholeh. Intinya apa yang diajarkan oleh agamaku dia memilikinya.

Baca tentang : Mempertanyakan Keyakinan

Dulu aku tidak ingin memiliki suami yang berprofesi sama denganku. Kupikir akan lebih seru jika kami bisa saling berbagi ilmu tentang hal yang tidak aku kuasai, begitu pula sebaliknya. Anakku juga akan memiliki wawasan lebih jika kedua orang tuanya memiliki pekerjaan yang berbeda. Dulu sih inginnya punya suami yang lulusan teknik gitu (sama seperti ayahku), terlihat keren dan laki banget aja gitu anak-anak dari jurusan teknik.

Aku juga sempat memiliki keinginan untuk tidak menjalin kisah dengan laki-laki yang berada dalam satu lingkungan denganku, baik dalam lingkup pertemanan mau pun pekerjaan. Alasannya, supaya lingkup sosialisasiku bertambah. Kalau menikah dengan teman sendiri ya nanti temannya itu-itu juga, pikirku saat itu.

Karena aku menyukai musik, aku memasang kriteria laki-laki yang pandai bermain alat musik sebagai salah satu kriteria laki-laki idaman. Waktu kuliah dulu, aku bergabung dalam organisasi yang bergerak dibidang musik dan bertemu dengan banyak teman-teman yang jago bermusik, pengen dapat satu yang begitu juga ceritanya. Haha.

Pintar dan berwawasan luas, paling "nggak bisa" kalo udah face to face sama orang yang cerdas. Kelihatan ya orang yang benar-benar smart sama yang sok pintar, auranya terasa berbeda. Nah! Impian banget dulu tuh punya suami, minimal seperti ayahku tapi kalau dapat yang seperti Pak Habibie luar biasa sekali.

Humoris. Oke, banyak ya kriteria laki-laki idamanku. Haha, tapi sifat ini penting untuk selalu menghidupkan suasana dirumah, rasanya bakal bahagia terus kalau punya suami yang suka bercanda. Nggak pernah terbayang sih aku hidup dengan orang pendiam, sedikit bicara dan tidak suka bercanda. Are you kidding me?

Baiklah, sepertinya segitu standarisasi pria yang dulu aku pasang untuk memilih pasangan hidup. Kalau soal fisik sih relatif ya, aku juga tau diri aja tampang pas-pasan begini tidak mungkin ngarep punya suami seperti Cristian Sugiono.

Dari beberapa pilihan yang Allah turunkan untukku, aku akhirnya memilih suamiku untuk menghabiskan sisa usia bersama-sama. Apakah laki-laki yang menjadi suamiku ini memiliki semua kriteria yang sudah aku tetapkan sebelumnya? Tentu tidak semuanya ia miliki! Haha. Aku menikah dengan laki-laki yang berprofesi serupa denganku, menikah dengan teman sendiri yang juga berasal dari satu tempat kerja, dan ia tidak bisa memainkan alat musik apa pun. Awalnya pun aku tidak suka dengannya karena berbagai macam alasan.

Ternyata suamiku adalah pemberian terbaik yang Tuhan berikan untuk melengkapi hidupku. Terlepas dari segala kekurangannya, ia juga memiliki begitu banyak kelebihan salah satunya bisa menerima kekuranganku yang tidak sedikit ini. Meski ia tidak bisa bermain musik tapi ia bisa selalu membuatku nyaman hanya dengan kehadirannya, ia memang seprofesi denganku tapi obrolan kami tidak melulu tentang pekerjaan banyak hal yang bisa kami bahas, kami memang satu lingkungan pekerjaan namun ia mengenalkanku dengan teman-temannya yang lain diluar lingkup pertemanan kami. Yang terpenting adalah ia bisa menjadi pemimpin sekaligus partner dalam rumah tangga kami, menjadi suami serta ayah yang sabar dan lembut untuk anak kami. Bersyukur sekali Tuhan sudah mempertemukan dan mempersatukan kami.

Memang benar ya, rencana Tuhan adalah yang terbaik. Manusia boleh saja berharap, berangan-angan dan berencana sesempurna yang mereka inginkan namun Tuhan tetaplah pemegang skenario atas kehidupan makhluknya, termasuk jodoh. 

Baca juga : Jodoh Pasti Bertemu

Percaya saja bahwa apa yang Tuhan berikan itu memang yang terbaik untuk kita, meski pun kadang tidak sesuai dengan harapan kita. Percaya saja Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik menurutNya untuk kita, siapa dan kapan pasrahkan saja dengan terus berdo'a dan berikhtiar. Tuhan lebih tau kebutuhan kita melebihi siapa pun, termasuk hati kita sendiri seperti yang telah dituliskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 216 : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Jadi, jangan kecewa saat apa yang kita dapatkan tidak sepenuhnya seperti yang kita inginkan karena hanya Yang Maha Mengetahui lah yang tau apa yang kita butuhkan bukan hanya apa yang kita inginkan. Jangan lupa untuk tetap bersyukur ya!

Sukabumi, 21 Februari 2020

Kamis, 20 Februari 2020

Mimpi yang Berubah

Februari 20, 2020 0 Comments

Sejak SMP dulu, berarti kurang lebih 16 tahun yang lalu, aku sudah bermimpi untuk suatu hari melanjutkan sekolah di United Kingdom (UK) dan hidup disana sebagai bagian dari masyarakatnya. Mimpi ini muncul karena kecintaanku terhadap novel fiksi J.K.Rowling, apalagi kalau bukan Harry Potter. Ditambah lagi dengan ibuku yang dulu berlangganan majalah Aura demi mendapat informasi terbaru mengenai Royal Family UK karena beliau fans berat Lady Diana. Ikut-ikut lah aku selalu membaca tentang keluarga kerajaan Inggris tersebut dan berandai-andai seru sekali jika bisa berkunjung ke Buckingham Palace suatu saat nanti.

Ayahku selalu berpesan jika kita memiliki sebuah mimpi, fokuslah pada hal tersebut. Jangan pikir bahwa mimpi itu mustahil diraih, pikirkan saja suatu hari kita bisa menggenggam mimpi itu dan membuatnya nyata. Hal itu kemudian aku lakukan hingga akhirnya benar-benar mendapat kesempatan untuk meraih cita-cita yang sudah sejak lama aku impikan itu.

Saat kuliah dan bergabung dalam organisasi International Pharmaceutical Student Federation (IPSF) aku berkesempatan mendaftar Student Exchange Program dengan negara tujuan Inggris. Sayang seribu sayang ternyata aku mendapat kabar kalau negara tersebut sedang tidak menerima mahasiswa exchange di musim itu. Hiks. Kecewa deh! Tapi Tuhan menggantinya dengan melancarkan skripsiku hingga akhirnya aku lulus sidang tertutup dan tinggal menyelesaikan sidang terbuka untuk meraih gelar S1. Selain itu, aku pun berkesempatan untuk pergi ke Swiss mewakili kampusku disuatu acara mahasiswa kesehatan dunia.

Beberapa minggu sebelum sidang terbuka dilaksanakan, pengurus Student Exchange Program menghubungiku dan memberi tau bahwa UK membuka 1 slot mahasiswa exchange untuk program pertukaran pelajar dari kampusku. Galau dong langsung! Ya Tuhan, kesempatan tersebut datang saat aku sudah mengikhlaskannya untuk menyelesaikan studi dan berangkat ke Swiss. Informasi itu pun ku dapat secara mendadak sehingga jika aku menerima tawaran tersebut, dalam waktu 1 bulan aku harus sudah berangkat kesana. Which means mepet sekali waktu untuk mengurus visa, perizinan dari kampus, endebre endebre.

Setelah berdiskusi dengan orang tua, ayahku menyarankan untuk tidak mengambil kesempatan ke UK dengan alasan gelar sarjana yang tinggal selangkah lagi kudapatkan dan agar tetap mewakili kampus untuk menghadiri konferensi di Swiss. Kalau aku berangkat ke UK, aku harus merelakan kedua hal tersebut.

Karena aku yakin bahwa restu orang tua adalah segalanya, aku akhirnya melepaskan mimpi untuk pergi ke UK dan fokus pada apa yang saat itu menjadi prioritasku yaitu menyelesaikan studi. Tidak begitu sedih tidak berangkat ke UK karena aku akhirnya pergi ke Swiss. Hehe.

Mimpiku untuk mendatangi negara tempat kelahiran David Beckham tidak berhenti sampai disana, aku terus fokus untuk bisa meraih apa yang sudah sangat kuinginkan sejak lama itu. Kesempatan kedua pun datang, saat aku sudah bekerja. Sambil bekerja, aku mengambil kelas IELTS dan sibuk mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran S2 sekaligus beasiswa. Aku memang mantap ingin segera melanjutkan sekolah karena semangat belajar yang masih begitu tinggi (pada waktu itu). Begitu score IELTS memenuhi syarat pendaftaran universitas dan beasiswa, aku langsung mendaftar ke beberapa universitas di UK.

Beberapa waktu kemudian, aku menerima Letter of Acceptance (LoA) dari 2 universitas yaitu Birmingham dan Leicester. Senangnya luar biasa! Selangkah lagi untuk menjadikan mimpi masa kecilku nyata yaitu dengan mendapatkan beasiswa.

Setelah memutuskan untuk memilih University of Leicester, aku mendaftar beasiswa dan lolos tahap administrasi. Ternyata, beasiswa tersebut belum menjadi rezekiku karena aku tidak lolos pada tahapan wawancara. Kecewa? Ya jelas lah yaaa... Tapi aku belum menyerah dengan mengajukan surat permohonan ke universitas untuk menunda perkuliahan hingga tahun depan dengan alasan belum mendapat sponsor keberangkatan (beasiswa). Surat yang kukirim via email tersebut tidak kunjung mendapat balasan hingga berbulan-bulan kemudian.

Berhubung tidak ada balasan dari universitas mengenai pengajuanku, aku pun tidak langsung mendaftar beasiswa karena kurang percaya diri jika tidak mengantongi LoA. Ternyata Tuhan memiliki rencana lain yang sama sekali tidak terduga, laki-laki yang selama ini menjadi teman baikku dikantor melamarku menjadi istrinya dan kami merencanakan pernikahan dalam beberapa bulan kedepan. Aku pun sekejap melupakan mimpiku untuk pergi ke UK dan fokus pada rencana pernikahanku.

Ingat pada saat itu beberapa hari setelah keluarga (calon) suamiku datang melamar, datang surat yang kupikir tidak akan pernah tiba. Letter of Acceptance dari University of Leicester beserta booklet dan bermacam-macam leaflet dari universitas yang berisi bahwa mereka akan menyambut kedatanganku sebagai mahasiswi disana tahun depan. Auto wanna cry dong! Ya Allah aku harus bagaimana?

Ibu kemudian menenangkanku dan berkata kalau Allah pasti sudah punya rencana yang terbaik untuk hambaNya. Sekarang tinggal aku yang maunya seperti apa? Lanjut menikah dan meminta izin suami untuk melanjutkan sekolah atau tidak jadi menikah dan fokus mengejar cita-cita ke UK? Aku pun memilih untuk fokus pada pernikahan dan kembali menunda cita-cita pergi ke UK untuk kedua kalinya.
Setelah menikah, ternyata Allah kembali memberiku rezeki dengan langsung menghadirkan kehamilan sebulan setelah menikah. Mimpiku pun berubah sejak saat itu, aku sudah tidak seambisius itu untuk meraih UK. Aku sudah tidak iri lagi melihat teman-teman seumuranku yang saat itu melanjutkan sekolah disana. Aku sudah tidak memprioritaskan UK lagi dalam hidupku. Sudah, fokus saja pada apa yang Allah berikan padaku saat ini.

Hingga sekarang, masih ingin sih pergi kesana tapi tidak untuk melanjutkan studi, lebih menyenangkan jika bisa liburan kesana bersama keluarga suatu hari nanti yang entah kapan itu. Haha. Mimpiku saat ini adalah menjadi ibu yang terbaik untuk anakku, menjadi istri yang dicintai oleh suamiku hingga ke surga kelak dan menjadi seorang wanita yang berdaya serta bermanfaat untuk orang-orang disekitarku. Banting setir banget ya?

Sukabumi, 20 Februari 2020

Rabu, 19 Februari 2020

Mengenal Diri Melalui Hobi

Februari 19, 2020 16 Comments

Pada tulisan kali ini, aku ingin membahas materi orientasi ke2 yang aku dapat di Kampung Komunitas Ibu Profesional. Materinya berjudul Mengenal Diri Melalui Hobi. Konsep mengenal diri sendiri bertujuan untuk mengetahui peran apa yang bisa kita ambil ketika bermasyarakat, melalui hobi ternyata kita bisa loh mengetahui karakter diri kita sehingga bisa meningkatkan kapasitas dan kemampuan kita di bidang tertentu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengenal diri adalah suatu proses untuk mengetahui, mengidentifikasi dan memahami diri sendiri. Tak kenal maka tak sayang, apabila kita mengenal apa yang menjadi karakter khas diri sendiri maka kita akan semangat mengoptimalkannya agar bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Sebaliknya, jika kita sendiri tidak tau seperti apa sebenarnya diri kita tentunya kita akan kehilangan arah dan bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan aku berada di dunia ini? Kita jadi bingung potensi apa yang terpendam dan kontribusi apa yang bisa diberikan?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengenal diri diantaranya melalui kontemplasi dan merenungi value serta misi pribadi dalam menjalani hidup; dengan merefleksi diri untuk menggali karakter diri; atau dengan melakukan pengamatan terhadap hobi. Nah, yang akan aku bahas disini adalah metode ketiga yaitu tentang mengenal diri melalui hobi.

Definisi dari hobi itu sendiri adalah kegiatan yang berupa kegemaran/kesenangan istimewa yang dilakukan pada waktu senggang dan bukan merupakan pekerjaan utama (KBBI). Tentunya saat melakukan suatu aktivitas yang merupakan hobi, pasti ada perasaan senang dan ingin melakukannya secara berulang disaat ada waktu dan kesempatan.

Cara untuk mendeteksi hobi dapat dilakukan dengan menggunakan kuadran aktivitas seperti dibawah ini :


dimana hobi adalah aktivitas yang bisa dan suka kita lakukan dalam kuadran aktivitas. Konsep mengenal diri melalui hobi ini rasanya lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan harus merenungi value dan misi hidup atau metode lainnya. Mudah sekali menjawab jika ditanya apa yang menjadi hobi kita, bukan? Ternyata, banyak karakter yang bisa diketahui hanya dengan satu aktivitas kegemaran kita. Dari situ, kita tinggal mencari cara bagaimana mengoptimalkan karakter tersebut untuk bisa diaplikasikan dengan baik dilingkungan sekitar.

Untuk lebih jelasnya, aku akan memberikan contoh seseorang yang memiliki hobi menjahit. Orang yang memiliki hobi menjahit sudah pasti orang yang telaten, sabar, kreatif, dan fokus pada estetika. Sepertinya hampir tidak mungkin seseorang yang grasak-grusuk tidak sabaran akan suka dengan kegiatan menjahit.

Aku pun mengambil contoh diriku sendiri. Dari sekian banyak hobi yang aku miliki, mungkin yang paling berfaedah adalah hobi travelling dan menulis. Dari berbagai sumber yang aku baca, ada beberapa karakteristik khas pecinta travelling dan menulis yang mungkin bisa berpotensi menjadi karakter kuat dalam diriku dan bisa ku eksplor lebih jauh :

Beberapa karakteristik pecinta travelling antara lain mandiri, senang mencoba hal baru, memiliki jiwa petualang, pemberani, mudah beradaptasi, pandai bersyukur, memiliki empati yang tinggi dan senang belajar (pembelajar sejati).

Sementara karakteristik yang dimiliki oleh seseorang yang suka menulis antara lain cenderung pemalu atau bahkan kurang percaya diri, suka menyendiri, imajinatif dan kreatif, berwawasan luas, terorganisir dan terencana, bijaksana, memiliki banyak pengalaman serta merupakan pendengar yang baik.

Dari sekian banyak karakter yang dimiliki oleh seorang traveller dan penulis, apakah semua sama dengan karakter yang ada pada diriku? Tentu aku harus melakukan pengamatan dan menyelami lebih dalam lagi tentang diriku sendiri, hal ini perlu waktu sehingga tidak mungkin aku ungkapkan dalam tulisan ini.

Yang jelas, pendalaman karakter melalui pengamatan akan hobi yang kita miliki nantinya membawa kita pada pengenalan lebih jauh tentang diri kita sendiri. Ini kemudian menjadi bekal kita untuk mengambil peran dalam bermasyarakat, apakah kita cocok menjadi pemimpin, manager, pengelola suatu event atau lebih cocok sebagai tim penyemangat dan penggembira dalam suatu kegiatan.

Jadi, bagaimana dengan kalian? Tertarik untuk mengenal diri melalui hobi?

Sukabumi, 19 Februari 2020