Jumat, 24 Januari 2020

Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP)

Januari 24, 2020 0 Comments

Salah satu hobi yang saat ini sedang kutekuni adalah menulis. Sebenarnya sudah sejak lama aku suka dengan kegiatan ini, ketika masih dibangku sekolah beberapa kali aku mengikuti lomba menulis hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Pencapaian terbesarku dalam mengikuti lomba menulis adalah saat meraih juara 2 diacara Hari AIDS sedunia yang diadakan oleh KemenKes, aku masih duduk dikelas XI Sekolah Menengah Atas kala itu. Bahagia sekali ya rasanya bisa meraih penghargaan skala nasional dari hobi menulis ini.

Bertahun-tahun kemudian hobi menulisku ini mulai on-off. Aku sudah membuat blog sejak tahun 2010, namun kontennya bolong-bolong malah hampir tidak pernah terisi hingga laba-laba pun bersarang diblog ini. Sebenarnya aku memiliki platform menulis lain yaitu tumblr. tapi kebanyakan isinya hanya kegalauan masa remaja yang rasanya tiada berakhir. Hingga akhirnya ada isu-isu mengenai penutupan platform tumblr. dan berujung pada tidak bisa dibukanya akun tumblr. ku. "Wah! Kayaknya beneran dibanned nih, harus cari platform menulis lain," pikirku saat itu. Tiba-tiba aku teringat pada platform  Blogger ku yang sudah lama tidak tersentuh. Daripada membuat akun baru diplatform baru, sudahlah kuputuskan untuk mengurus dan merawat akun maeshardha.blogspot.com ini dengan lebih baik.

Minat menulisku kembali naik ketika aku sudah menyelesaikan studi dan resign dari pekerjaanku. Saat sudah berstatus sebagai Stay at Home Wife, aku mengisi waktu luang untuk bercerita kembali diblog. Sebelum punya anak, tentunya banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk rajin menulis. Bahkan hingga sesaat sebelum melahirkan, aku sempat mendaftar untuk menjadi penulis artikel yang kemudian batal karena harus fokus mengurus anak, rumah dan suami terlebih dulu.

Sempat off menulis lagi selama hampir satu tahun, saat aku sudah mulai terbiasa dengan peran sebagai ibu yang harus serba bisa, aku pun memulai kembali kegiatan menulisku. Sebenarnya aku ingin tulisanku dibaca oleh banyak orang namun disisi lain ada rasa malu ketika tulisanku dibaca dan 'dinilai' oleh orang-orang. Jadi, maju mundur aku mempublikasikan blog ku hingga akhirnya memberanikan diri untuk memposting salah satu tulisan ditwitter. Tak disangka, seorang teman membaca dan berkata bahwa tulisanku bagus ^^v ia juga menyarankan agar aku ikut komunitas blogger supaya selalu semangat dalam menulis. Ini benar-benar menjadi penyemangatku untuk melanjutkan blogging.

Untuk menunjukkan keseriusanku dalam menekuni dunia tulis-menulis aku pun mengikuti suatu kelas menulis yang diadakan oleh komunitas yang sedang aku ikuti, Ibu Profesional. Dikelas menulis yang disebut dengan Kelas Literasi Ibu Profesional, para anggota ditantang untuk rajin menyetorkan tulisan minimal 10 tulisan per bulan. Jika berhasil menyelesaikan tantangan menulis ini, maka anggota akan menerima badge sesuai dengan jumlah tulisan yang disetorkan dalam bulan tersebut. Badge dasar "You're Good" untuk 10 tulisan, "You're Excellent" untuk 20 tulisan dan "You're Outstanding" untuk 30 tulisan atau yang menulis satu bulan full.

Syarat kelulusan dalam kelas ini adalah jika anggota berhasil mengumpulkan minimal 7 badge dasar. Syarat lain adalah minimal mengumpulkan 2 badge dalam tiap sesi dimana setahun terbagi menjadi 3 sesi (Januari-April, Mei-Agustus, September-Desember).

Disetiap awal bulan, akan diberikan link untuk menyetorkan tulisan. Tulisan boleh dibuat diplatform mana pun seperti Blog/Website UCG, Instagram, Facebook atau pun Google Document. Link untuk menyetor tulisan ini akan ditutup setiap akhir bulan sehingga kita tidak bisa menambah jumlah tulisan lagi dalam bulan tersebut.

Tidak ada syarat khusus untuk yang ingin menjadi anggota KLIP ini, yang jelas kelas diadakan di aplikasi Facebook jadi ya syaratnya cukup punya akun FB. Bukan anggota komunitas Ibu Profesional pun tidak apa-apa, tetap bisa mengikuti kelas literasi ini. Saat ini pendaftaran masih dibuka hingga bulan Maret 2020 untuk angkatan 2.

Selain menyetorkan tulisan, setiap hari Rabu diadakan diskusi mengenai buku yang sudah dibaca oleh para anggota. Biasanya anggota akan memposting link tulisan mereka mengenai resensi dari buku yang mereka baca diminggu tersebut. Setiap hari Jum'at, ada diskusi dengan anggota KLIP angkatan sebelumnya yang sudah lulus dan konsisten menulis selama satu tahun. Dari diskusi tersebut, banyak informasi yang bisa kita gali dari penulis untuk mendapat tips menulis serta semangat untuk tetap giat menulis. Menarik deh!

Aku harap aku bisa mendapatkan wadah untuk rutin menulis dengan ikut kelas literasi ini. Semoga semangatku tidak setengah-setengah untuk bisa menyelesaikan tantangan menulis selama satu tahun ini, salah satu resolusi 2020! Buat kalian yang suka menulis dan ingin ikut komunitas serta kelas menulis, ayo ikutan KLIP mumpung pendaftaran masih dibuka hingga bulan Maret ;)

Sukabumi, 24 Januari 2020

Kamis, 23 Januari 2020

Short Staycation at California Hotel Bandung

Januari 23, 2020 0 Comments

Setelah beberapa bulan tinggal bertiga di Sukabumi, aku yang waktunya banyak dihabiskan dirumah saja mulai merasa jenuh. Ketika tinggal di Bandung kalau bosan minimal bisa pergi jalan-jalan ke mall, disini mall yang beneran mall seperti BIP atau PVJ begitu ya tidak ada. Paling jalan-jalan ke Super Indo Supermarket atau Yogya Juction atau Selamat Toserba. Mau ke pantai seperti Pelabuhan Ratu atau Geopark yang saat ini lagi hits agak susah karena kami tidak punya kendaraan pribadi dan ribet tentunya liburan ke gunung-gunung begitu sambil membawa bocah 1 tahun.

Sepertinya suamiku mulai menangkap kode-kode kebosananku, ketika aku lebih sensitif terhadap banyak hal. Saat ia pulang kerja agak larut atau saat weekend tidak ada tanda-tanda akan keluar rumah, air mukaku menjadi sangat berbeda katanya. Kemudian datanglah undangan untuk menghadiri lamaran salah satu juniorku dikantor dulu, tanggal 12 Januari 2020 di Pavilliun Sunda, Bandung. Memang waktu itu aku dan suami sudah merencanakan akan pulang ke Bandung dibulan Januari ini namun belum tau kapan, nah kebetulan juniorku mengundangku untuk datang ke Bandung.

Biasanya jika pulang ke Bandung kami akan menginap dirumah mertua, tapi suamiku saat itu berinisiatif untuk mengajak kami menginap dihotel. "Ih, gaya banget ngapain nginep dihotel?" kataku ngenyeh. "Tuh, diajak 'liburan' ngejek. Kalau nggak diajak kemana-mana nanti marah-marah, dibilang nggak pernah ngajak jalan-jalan," jawabnya. Ya aku sih nggak nolak. Hehe..

Jadilah kami menyewa mobil untuk pergi ke Bandung dan menginap di California Hotel Bandung. Tidak ada alasan khusus mengapa kami memilih hotel ini, cari-cari dan melihat yang kira-kira bagus dengan harga cukup bersahabat. Kami check in pada tanggal 11 Januari dan check out semalam setelahnya yaitu tanggal 12 Januari 2020. Pemesanan telah dilakukan sekitar seminggu sebelumnya lewat aplikasi Agoda dan mendapat harga Rp.530.000,- untuk Executive Room sudah include breakfast.


Sesampainya dihotel, saat suami melakukan proses check in diresepsionis, anakku yang excited dengan tempat baru langsung berlarian kesana kemari. Bolak balik menggandengku untuk naik turun tangga yang ada dilobi. Selayang pandang aku memperhatikan kalau hotel ini pernah menerima penghargaan Gold Circle Award tahun 2019 dari Agoda. Wah, suamiku pandai juga memilih tempat menginap.

Pemandangan ditengah kota Bandung langsung terlihat dari lantai 4 kamar hotel tempat kami menginap, ukuran kamar yang tidak terlalu sempit dan cukup luas membuat anakku tidak berhenti mondar mandi mengeksplorasi seisi kamar. Ia sempat berhenti dipinggir jendela kamar, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang sebelum tersadar dan kembali berlarian.

Ketika masuk kamar mandi, layaknya hotel berbintang pada umumnya ya kamar mandinya bersih dan apik. Yang menjadi perhatianku adalah tersedianya hairdryer disana, tidak semua hotel bintang 3 yang pernah kukunjungi menyediakan fasilitas ini. Penting abis untukku ini. Haha..

Setelah kelelahan bermain, anakku akhirnya tertidur sesaat menjelang magrib. Aku dan suami berinisiatif memesan makanan via Gojek karena suami ingin makan ramen dan melihat harga makanan yang disediakan hotel cukup pricey (kalo pesen diluar bisa jauh lebih hemat!). Sambil menunggu makanan datang, aku leyeh-leyeh dikasur dan merasa yaampun tidur-tiduran gini aja udah senang! Beda memang rasanya dengan tidur dirumah. Ada suasana baru lah. Dasar memang butuh penyegaran aku ini.

Hingga malam tiba, anakku tidak kunjung bangun dan tetap pulas terlelap. Padahal kami sudah memisahkan ramen untuk makan malamnya. Untuk mengisi amunisi karena pasti tengah malam anakku akan sibuk mencari ASI, suamiku kembali memesan 2 jenis makanan via Gofood. Senang deh, tidak perlu memasak dan mencuci piring (tapi kantong jebol). Haha. Nggak apa-apa, sebulan sekali belum tentu juga staycation seperti ini kan.

Keesokan harinya, kami menyantap sarapan dengan beragam menu. Anakku makan bubur ayam dan bubur ketan hitam. Menu yang tersedia standard hotel, sih. Nasi goreng, bihun goreng, lauk pauk prasmanan lainnya, omelette, beef curry, cereals, roti dan pudding, macam-macam lah. Rasanya cukup enak dan membuatku menambah beberapa kali. Hehe. Setelahnya ya kami bersiap dan check out. untuk pergi ke acara lamaran juniorku itu. Overall fasilitas yang kudapat dihotel California Bandung ini sudah baik, tidak ada sesuatu yang ku komplain, justru aku merasa menginap dihotel yang bintangnya lebih dari 3.

Aku rasa untuk ibu rumah tangga yang kerjanya berkutat dengan rumah kegiatan staycation ini cukup worth it, bermanfaat untuk memberi sedikit penyegaran pikiran. Mungkin lain kali kami akan melakukan kegiatan ini lagi, semoga tidak hanya staycation namun kami bisa pergi vacation bertiga. Tentunya dengan budget yang telah direncanakan supaya tidak mengganggu pos-pos keuangan lainnya.

See you on the next story!

Rabu, 22 Januari 2020

Menemukan Passion

Januari 22, 2020 0 Comments

Hari ini, tepat 29 tahun lalu aku dilahirkan. Satu tahun lagi menuju early 30! Tidak menyangka aku akan meninggalkan masa-masa usia 20-an tahun depan. Jika ditelusuri 9 tahun kebelakang, banyak sekali momen berharga yang telah kulewati. Beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan, mengikuti berbagai kegiatan komunitas yang lebih menyenangkan dari kuliah, menemukan sahabat-sahabat yang sampai sekarang ku anggap seperti saudara, melewati masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) diLombok yang menjadi salah satu pulau favorite-ku, berjuang menyelesaikan penelitian dan skripsi, wisuda S1, kuliah Apoteker, wisuda Apoteker, bekerja, resign dan akhirnya menikah hingga memiliki peran baru sebagai ibu.

Waw! Jika di list seperti itu, terlihat bahwa time flies. Banyak sekali yang terjadi dalam hidupku 9 tahun belakangan. Menginjak usia yang ke-29 ini, aku ingin mencari dan menggali passionku. Apa sih passion itu? Dirangkum dari beberapa sumber yang kubaca, passion adalah antusiasme atau kegembiraan saat melakukan sesuatu. Jika sudah passionnya, maka kita akan dengan melakukan suatu hal dengan penuh semangat, selalu tertantang untuk melakukannya lebih baik lagi, terhanyut saat mengerjakannya dan merasa kehilangan/hampa saat kita tidak mengerjakannya dalam kurun waktu tertentu. Apa semua orang harus menemukan passionnya? Menurutku tidak, suka-suka aja kalian mau terus mencari dan menggali passion kalian atau hidup seperti air mengalir begitu saja. Bebas. Apa tidak terlambat baru mau mencari passion sekarang? Tidak ada kata terlambat, yang penting dimulai saja dulu.

Dari definisinya, aku punya beberapa kegiatan yang biasa kulakukan dengan senang dan antusias. Membaca buku, menonton film, berenang, travelling dan membaca webtoon. Apakah itu passionku? Aku melakukan kegiatan tersebut saat memiliki waktu luang, untuk melepas penat dan kulakukan hanya untuk bersenang-senang. Jadi, sepertinya kegiatan tersebut hanya sekedar hobi dan bukan passionku. Passion sendiri bisa berasal dari hobi, akan tetapi hobi belum tentu merupakan passion. Jika ingin mengetahuinya, maka hubungkan hobi kalian dengan definisi passion diatas.

Alasan mengapa aku ingin mencari dan menggali passionku adalah karena selama ini aku merasa tidak memiliki keahlian yang menonjol terhadap suatu hal, biasa-biasa saja dan tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Terdengar seperti minder padahal tidak, memang begitu yang kurasakan. Maka dari itu, aku ingin menemukan suatu kegiatan yang benar-benar membuatku bersemangat untuk terus melakukannya dan menjadi yang terbaik tentang hal tersebut. Disamping itu, selain pekerjaan mengurus rumah dan keluarga, aku ingin melakukan suatu hal yang membuatku lebih 'hidup' dan bahagia.

Bagaimana cara kita menemukan passion hidup kita? Dirangkum dari psylife.id ada 4 cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menuntun kita menemukan passion :
1. Shortlisting
Tulis semua kegiatan yang kita senangi, dari situ akan terlihat mana kegiatan yang menurut kita paling menyenangkan untuk dilakukan.

2. Pairing
Selanjutnya membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dan memilih kegiatan mana yang lebih menyenangkan diantara kegiatan-kegiatan menyenangkan yang telah kita tulis dalam list.

3. Ranking
Memberi peringkat pada kegiatan terpilih tadi, mulai dari yang paling-paling-paling menyenangkan hingga yang level menyenangkannya paling kecil menurut kita.

4. Crossing Out
Mencoret beberapa opsi dari alternatif yang telah kita buat hingga kita tidak bisa mencoret satu kegiatan dari berbagai kegiatan yang menurut kita menyenangkan tersebut.

Mencari passion itu sendiri tidak semudah menulis 4 langkah diatas ya, perlu waktu untuk benar-benar mengetahui apakah itu benar passion kota atau hanya sekedar hobi. Jika benar itu passion kita, pasti akan kita tekuni terus dan tidak akan bosan melakukannya.

Jadi, kira-kira seperti itu resolusi umur baruku. Mencari dan menggali passion. Semoga bisa terealisasi sebelum umurku menginjak 30 tahun. Bagaimana dengan kalian, apa kalian sudah menemukan hal yang menjadi passion kalian?

Sukabumi, 22 Januari 2020

Selasa, 21 Januari 2020

Ingat Bersyukur

Januari 21, 2020 6 Comments

Suatu malam ketika aku beserta suami dan anakku sedang pulas terlelap, terdengar sayup-sayup suara hujan turun dengan cukup deras. Lama-lama aku terbangun karena merasa suara hujan tidak hanya dari luar rumah tapi jatuh kedalam rumahku. Segera ku berjalan menuju ruang belakang rumah dan terkejut ketika melihat air mengucur dari sisi-sisi dinding dengan derasnya, menggenang diruang belakang. Ku bangunkan suamiku dan kami pun sibuk bekerja mengepel dan membersihkan air hujan yang terus turun ke dalam rumah kami hingga akhirnya reda setelah beberapa jam.

Beberapa hari kemudian, kejadian tersebut kembali terulang. Kali ini saat suamiku sedang bekerja dan aku sedang bermain dengan anakku diruang belakang saat rumah kembali bocor. Aku langsung menaruh anakku kedalam bumper bed-nya dan bekerja membersihan bocoran, tidak berapa lama lampu padam dan waktu saat itu menunjukkan hampir magrib. Gelap banget dong! Aku sungguh ketakutan, masuk ke dalam bumper bed untuk menemani anakku dan mencoba tetap bersikap stay cool agar anakku tidak takut dan menangis. Ku biarkan rumahku tergenang begitu banyak air.

Pada waktu itu aku sempat kesal dan ingin sekali mengumpat menyalahkan keadaan. Padahal kami sudah menghubungi pemilik rumah agar membetulkan bagian yang bocor sebelum kejadian seperti ini terjadi lagi. Aku menelepon suamiku dan ngomel-ngomel tentang keadaan rumah yang bocor dan mati lampu, menyuruhnya agar segera pulang. Aku sadar saat itu hujan sedang deras-derasnya dan dia tidak mungkin pulang hujan-hujanan naik motor. Lagi kesel aja pengen ngomel.

Beberapa saat kemudian aku berpikir, bahwa banyak diluar sana orang yang memiliki tempat berteduh saja sudah syukur, banyak orang yang rela hujan-hujanan untuk mencari nafkah dengan menjadi ojek payung, intinya aku mengingat bahwa banyak yang hidupnya lebih susah daripada kondisiku saat itu. Seketika itu juga aku bersyukur, masalahku terasa begitu receh dibandingkan mereka yang lebih kurang beruntung.

Tak dipungkiri, terkadang kita merasa hidup kita serba kekurangan. Terkadang kita melihat hidup orang lain lebih menyenangkan dibandingkan dengan hidup kita, hanya dengan membuka media sosial. Padahal, bisa jadi hidup kita yang tidak kita banggakan ini menjadi impian orang lain sama seperti kita memimpikan punya hidup seperti mereka. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Maka bersyukur adalah salah satu cara agar tidak kufur dari nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya.

Jika aku mulai berandai-andai nggak jelas, "enak ya kalau aku lanjut sekolah lagi pasti udah tinggal diluar negeri", "kalau aku nggak resign pasti bisa melakukan ini-itu", kalau A B C dan lainnya kupikirkan aku akan segera kembali mengingat betapa Allah sayang sekali pada diriku. Betapa banyak nikmatNya yang wajib aku syukuri, betapa diri ini harus segera minta ampun karena dengan segala kekurangan yang aku miliki Allah masih memberikan banyak rezekiNya untukku.

Jadi, mari kita senantiasa menyibukkan diri kita untuk ingat bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Meski pun kadang rezeki yang Allah turunkan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan, namun pastinya Dia tau yang mana yang paling baik untuk kita. Alhamdulillah..

Sukabumi, 21 Januari 2020


Senin, 20 Januari 2020

Terjebak dalam Toxic Relationship

Januari 20, 2020 0 Comments

Jika membuka artikel diinternet, sudah banyak yang membahas mengenai toxic relationship. Aku memang tidak pernah mengalaminya sendiri, tapi aku punya beberapa teman bahkan sahabat yang jelas-jelas terjebak dalam situasi seperti itu. Sebenarnya gimana sih toxic relationship itu?

Pada dasarnya, kita semua menginginkan hubungan yang sehat. Hubungan dengan keluarga, pasangan dan lingkungan. Mana ada sih yang ingin hidupnya penuh tekanan dan derita, ya kan? Oiya, dalam hal ini aku akan membahas hubungan toxic antara sepasang kekasih ya. Suatu hubungan dikatakan sehat jika kedua belah pihak saling support dan menghargai, hubungan yang saling menyayangi dan tidak ada pihak yang tersakiti. Intinya saling peduli dan menghormati satu sama lain.

Disisi lain, layaknya ada hitam dan putih maka hubungan pun ada yang sehat dan tidak sehat. Tidak sehat dalam artian lebih banyak energi negatif yang kita terima ketimbang energi positif selama berada dalam hubungan tersebut. Ketika kita merasa tertekan, tidak dihargai, disakiti baik fisik mau pun verbal, hidup penuh ancaman dan selalu merasa lelah dengan hubungan tersebut, bisa jadi kita sedang terjebak dalam toxic relationship. Terdengar menyeramkan bukan?

Awalnya aku pikir hal semacam itu hanya terjadi disinetron dan film saja, sampai aku menjumpai seorang teman yang mendapat perlakuan kasar dari pasangannya. Temanku wanita, dan dengan tega pasangannya mencubit hingga biru dibeberapa bagian tubuh sahabatku itu. Tidak hanya itu, ia pun kerap mendapat kekerasan psikis melalui kata-kata kasar. Pasangannya merusak beberapa barang milik sahabatku. Haduuhh, mendengar ceritanya saja sudah takut sendiri. Jelas sekali temanku lelah dengan hidupnya bersama pasangannya itu, ia sering menangis, menghindari masalah dan terlihat lebih bahagia dan 'hidup' saat jauh dari pasangannya.

Ada juga seorang teman yang sering sekali menjadi korban 'terror' pasangannya sendiri. Lagi dimana? Sama siapa? Sampai jam berapa pergi? Pakai baju apa? Fotoin dulu kalau mau pergi. Yaa segitunya amat, Bang! Dengan sukarela temanku meladenin keposesifan pacarnya itu. Jika yang dilakukan temanku tidak sesuai dengan harapan pasangannya, maka temanku akan dihujani dengan cacian dan hinaan. Bahkan jika pakaian yang digunakan temanku tidak sesuai dengan style pasangannya, temanku tidak boleh pergi hingga ia mengganti pakaiannya sesuai arahan pasangannya.

Cerita lain lagi, seorang temanku yang selalu dan selalu diselingkuhi oleh pacarnya. Pacaran sejak SMP, kerjaannya putus-nyambung karena pasangan temanku bolak balik selingkuh tapi selalu dimaafkan dan kembali lagi pada temanku. Hingga akhirnya temanku lelah dan putus beneran. Alhamdulillah hubungan mereka tidak berakhir dipelaminan.

Banyak contoh toxic relationship yang terjadi disekitarku. Ada yang pasangannya hobi menipu hingga ikut terjebak hutang yang dilakukan pasangannya. Terbayang betapa stress-nya mereka dalam menjalankan hubungan yang harusnya membuat hidup lebih bahagia dan lebih baik. Apa sebenarnya alasan mereka mempertahankan hubungan yang tidak sehat itu ya? Menurut hasil survey kecil-kecilan yang aku buat, ternyata kebanyakan jawabannya adalah karena mereka takut untuk sendirian (lagi). Takut jomblo dan kesepian, guys! Mengenaskan karena saat aku bertanya dan mereka menjawab posisiku sedang jadi jomblo kronis. Haha..

Ada juga yang beralasan kalau sebenarnya pasangan mereka itu baik, perhatian dan yakin kalau sifat buruk pasangannya itu akan berubah seiring berjalannya waktu. Selain itu, mereka beralasan atas dasar hubungan yang telah mereka bangun sekian lama dan terlalu malas jika harus putus dan mengulang semua dengan orang baru lagi.

Apa pun alasannya, please you need to heal your self first! Aku berkata disini dari sudut pandang orang lain yang melihat kondisi orang-orang yang tersakiti dalam toxic relationship. Walau pada akhirnya keputusan ada ditangan masing-masing dan hubungan itu kalian yang menjalani, tolonglah untuk menenangkan diri dan berpikir ulang sebelum melangkah lebih jauh. Before it's too late.

Sedih sekali loh melihat teman bahkan sahabat sendiri diperlakukan semena-mena seperti itu. Jika kita mengetahui seperti apa kualitas dari sahabat kita yang terjerat toxic relationship, pasti tidak akan rela ia mendapat pasangan seperti itu. Dia berhak mendapat pasangan yang bisa memperlakukannya dengan jauh lebih baik. Sahabatnya sendiri saja sedih, bagaimana orangtuanya jika tau anaknya diperlakukan dengan tidak baik seperti itu?

Berita baiknya, dari beberapa kasus yang kuceritakan diatas tidak ada satu pun yang berakhir dipelaminan. Pada akhirnya, teman-temanku sadar akan hubungan tidak sehat yang menjeratnya. Mereka bercerita dan mendengarkan saran dari orang-orang terdekatnya, mereka berusaha mengembalikan kewarasan berpikirnya hingga bisa mengambil keputusan untuk lepas dari pasangan toxic-nya. Jika ku perhatikan, kunci agar bisa terlepas dari toxic relationship adalah belajar menghargai dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu, setelah kita sadar betapa berharganya diri kita maka kita tidak akan rela diperlakukan seenaknya dan terbelenggu dalam hubungan yang tidak membangun.

Aku sendiri tidak pernah (jangan sampai pernah) berada dalam hubungan seperti ini. Aku harap kalian semua juga senantiasa membina hubungan yang sehat dan membuat hidup lebih cerah berwarna!

Sukabumi, 20 Januari 2020

Minggu, 19 Januari 2020

Seorang Pembelajar

Januari 19, 2020 0 Comments

Pernahkah kalian mengeluh capek dan bosan belajar pada waktu sekolah? Mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga 4-5 tahun atau bahkan lebih ketika kuliah. Belajar terus, tidak ada istirahatnya. Ingin cepat lulus deh biar nggak belajar lagi!

Setelah lulus dan bekerja, memang kegiatan belajar formal tidak dilakukan lagi tapi ternyata proses belajar itu terus dilakukan. Sebagai orang yang bekerja dalam departemen Quality Assurance, aku mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaanku agar dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang mengkonsumsi obat-obatan produksi perusahaan tempatku bekerja. Disamping itu, aku ikut mendaftar beasiswa dan mengambil les bahasa untuk melanjutkan sekolah, walau pun pada akhirnya aku gagal mendapatkan beasiswa tersebut. Loh loh, katanya capek belajar?

Sekarang, meski pun aku tidak lagi bekerja diranah publik dan menjadi orang tua dari satu orang anak, proses pembelajaran masih terus dilakukan. Membaca buku-buku terkait parenting, tumbuh kembang anak, mendalami agama, mengikuti kuliah online dengan berbagai topik, dan kegiatan lain yang bertujuan untuk mengupgrade ilmu pengetahuan.

Bagaimana pun bentuknya, belajar itu merupakan suatu fitrah manusia. Tuhan menciptakan manusia sejatinya sebagai seorang pembelajar, sejak lahir kita sudah belajar bertahan hidup dengan meminum ASI/susu, belajar berguling, merangkak, berjalan, berlari, buang air ditoilet, memakai baju dan sepatu, mengetahui sopan santun, dan seterusnya. Ternyata belajar itu tidak hanya disekolah/pendidikan formal saja. Cetek sekali pemikiranku waktu sekolah dulu.

Aku menyadari ternyata aku suka belajar. Aku memang tidak tertarik mempelajari fisika, matematika, kimia organik dan semacamnya tapi aku suka mendalami hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, literasi dan parenting. Tetap saja hal tersebut disebut belajar, kan? Aku mencoba untuk menjadi pribadi yang terus berkembang dengan mencari ilmu yang kurasa akan bermanfaat untuk hidupku dan orang-orang sekitar.

Definisi belajar itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Itu semua dilakukan manusia sejak ia dilahirkan hingga kembali menghadap Tuhan penciptanya, percaya tidak percaya kita ini terus menerus belajar, loh.

Jadi, sepertinya sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak suka belajar?

Sukabumi, 19 Januari 2020

Sabtu, 18 Januari 2020

Ingin Berhenti Ingin Menyerah

Januari 18, 2020 0 Comments



Ada tidak ya manusia didunia ini yang tidak pernah merasa putus asa dan ingin menyerah dalam suatu perkara hidupnya? Kalau ada, tolong share dong kok bisa hidup selalu dalam optimisme tinggi seperti itu?

Aku tidak bisa bilang kalau aku orang dengan optimisme tinggi, bukan juga orang yang mudah menyerah dalam menghadapi suatu tantangan. Tapi, ada suatu waktu dimana hal tersebut terlihat sangat sulit dan tidak bisa aku tangani hingga aku berada dilevel ingin menyerah tapi tidak ingin berhenti berusaha, hingga akhirnya tantangan tersebut terlewati. Terbayang tidak betapa melelahkannya itu?

Waktu sekolah dulu, Ujian Nasional (UN) terasa begitu berat hingga harus belajar sekuat tenaga untuk melaluinya dengan sukses. Bagiku UN itu beban banget dulu, berbeda dengan anak-anak yang darisananya pintar dimana belajar sekilas-sekilas saja nilainya sudah cemerlang, aku dengan otak yang pas-pasan ini harus belajar siang malam untuk dapat nilai yang cukup memuaskan. Rasanya dulu ingin menyerah saja, "Udahlah nggak usah belajar gila-gilaan, nggak target nilai sempurna juga," disisi lain pikiranku tidak tenang jika tidak belajar sampai titik darah penghabisan, "Gila lo! Kalo nilai ancur gimana? Kalo nggak lulus gimana?" dan masih banyak kalau-kalau menakutkan yang lain. Akhirnya tetap belajar mati-matian demi lulus UN. Terlewati juga dengan sukses.

Saat menghadapi skripsi pun demikian, proses nge-lab yang sedemikian panjang hingga lebih dari setahun membuatku ingin berubah haluan ditengah-tengah. Mulanya semangat, lalu melihat teman-teman lain yang nge-labnya hanya beberapa bulan selesai membuatku goyah. "Kelamaan nggak sih ini nge-labnya?", "Apa ganti aja ya?", "Keburu nggak lulus tepat waktu?" dan berondong kekhawatiran yang membuatku ingin menyerah. Beruntungnya aku memiliki partner nge-lab yang luar biasa sehingga kami bertiga bisa menyelesaikan penelitian skripsi dan lulus tepat waktu dalam rentang waktu yang berdekatan pula. Tamat juga akhirnya masa kuliahku.

Teringat juga saat melewati proses persalinan, merasakan kontraksi lebih dari 24 jam membuatku yang awalnya optimis bisa melewatinya dengan tenang dan lancar berubah haluan menjadi rasa ingin game over saja. "Udahan aja plis udahan.." kataku pada suamiku saat itu, eh dia malah tertawa, "Udahan gimana ai kamu?" katanya lalu lanjut menghibur aku yang rasanya ingin skip waktu hingga ke waktu anakku sudah lahir agar tidak merasakan lagi sakitnya kontraksi. Masa-masa itu pun akhirnya berlalu.

Hingga saat ini, saat aku berhadapan dengan suatu masalah, tetap ada waktu dimana aku ingin sekali menyerah. Udahan aja dong! Nggak mau begini terus. Menghadapi anak yang lagi susah makan gara-gara tumbuh gigi aja rasanya capek banget ingin menyerah saja, padahal aku tau masa ini akan berakhir. "Udahlah aku kerja lagi aja!", "Cari nanny aja buat ngurusin anak!", "Aku pergi aja dari rumah, anaknya nggak mau diurus sama aku!" Untungnya suamiku tidak menanggapinya dengan serius dan membiarkan hingga emosiku reda dengan sendirinya. Setelah ditanya apa iya mau pakai pengasuh? Aku segera berubah pikiran dan tetap memilih mengurus anak sendiri.

Lelah boleh menyerah jangan. Kalimat yang selama ini menjadi pegangan hidupku, saat aku merasa ingin menyerah aku menyadari kalau aku sedang lelah. It's okay kalau aku lelah, tapi harus bisa semangat lagi untuk melewati masalah ini.

Tuhan pun sudah berkata bahwa Ia tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Dikala aku merasa sangat ingin menyerah dan menghilang untuk menghindari masalah, aku pun akan berpegangan pada kalimat ini. Sabar, sabar, sabar. Semua pasti terlewati. Terbukti hingga saat ini berbagai permasalahan hidup bisa kulalui meski pun berkali-kali ingin menyerah.

Tapi, ingin sekali menghapus rasa ingin menyerah itu ketika masalah menghampiri. Tentunya hidup akan lebih optimis dan selalu bersemangat, ya kan? Jadi bagaimana ya caranya agar keinginan berhenti ingin menyerah itu terwujud? Semoga waktu dan proses pendewasaan bisa membawaku ke titik tersebut suatu hari nanti.

Sukabumi, 18 Januari 2020

Jumat, 17 Januari 2020

Down to Earth

Januari 17, 2020 0 Comments

Satu pelajaran hidup paling berharga yang diajarkan bapak-ibu (terutama bapak) sedari kecil, hidup jangan selalu melihat keatas sesekali tengok kebawah agar kita senantiasa bersyukur. Nyess banget karena maknanya begitu dalam.

Kenapa ya tiba-tiba kepikiran membahas ini? Mulanya karena celetukan seseorang yang sempat bikin hati panas, "Ih bapaknya kaya tapi anaknya nggak punya rumah, nggak kerja pula! Mau sampai kapan nggak punya pembantu dan ngerjain kerjaan rumah? Kamu kan sudah kuliah tinggi-tinggi, dikira sekolah murah?" WTF dengan semua perkataannya. Yang menurut dia banyak duit itu kan bapak gue, Maimunah! Aku sendiri tidak pernah merasa kaya dan punya banyak duit. Aku pun merasa baik dengan kehidupan yang ku jalani saat ini, tidak merasa tidak baik-baik saja.

Ya, awalnya karena kepikiran (lagi) sama kata-kata itu. Setelah flashback hingga ke masa kecil, aku bersyukur sekali memiliki orang tua yang walau pun berkecukupan namun tidak pernah sekali pun mengajarkan bahwa anak-anaknya ikut kaya karena orang tuanya berkecukupan. Tidak bermaksud sombong, ayahku memang berasal dari keluarga menengah keatas dan dirinya sendiri pun tergolong orang yang berpenghasilan lebih dari cukup (masih jauh dari golongan sultan atau royal family, sih). Ini lah yang menimbulkan label 'anak orang kaya' dari orang lain untukku dan adik-adikku.

Padahal, kami berempat selalu diajarkan untuk berusaha mendapatkan apa yang kami inginkan dengan bekerja keras. Prinsipnya hasil berbanding lurus dengan usaha dan do'a. Tidak ada orangtua yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, ketika kami kecil dan belum mampu untuk bekerja dan berpenghasilan seperti orangtuaku, merekalah yang mensupport kebutuhan kami sesuai dengan kemampuannya. Saat kami tumbuh dewasa menjadi individu yang sudah bisa berusaha dan bekerja, ya kami hidup sesuai dengan kemampuan kami sendiri. Waktu kecil, ketika ingin meminta uang jajan tambahan orangtuaku memberi opsi, mencuci mobil atau membersihkan akuarium. Jika pekerjaan sudah selesai maka kami diberikan uang jajan tambahan. Bukan untuk membentuk mental upah, tapi mengajarkan suatu proses bahwa untuk mendapatkan penghasilan itu tidak instan, harus ada usaha yang dilakukan.

Meski pun keluarga kami memiliki mobil pribadi, saat berangkat dan pulang sekolah aku selalu naik becak. Dari SD hingga SMP, lalu upgrade jadi naik ojek hingga SMA karena tukang becak langgananku beralih jadi tukang ojek. Bapak juga mengajarkan aku dan adik-adik untuk naik berbagai moda transportasi umum, kami sekeluarga pernah mudik menggunakan bus malam, kapal laut, kereta api, hingga pesawat. Biar kalian pengalaman dan nggak norak saat pergi naik transportasi ini suatu hari nanti. Begitu pesannya. Benar sih, saat aku kuliah dan bekerja, karena pernah/terbiasa naik berbagai kendaraan umum, aku merasa lebih percaya diri dan tidak takut-takut.

Tempat tinggalku pun tergolong yang lebih dari cukup, tidak sempit, setiap ruangan memiliki pendingin udara, pernah memiliki ART lebih dari 1, supir selalu stand by, serba ada deh. Pada saat aku kuliah dan harus tinggal dikos, aku memilih untuk tinggal dikos yang biasa-biasa saja. Sebulan hanya Rp.350.000,- dengan kamar mandi luar dan tidak punya kendaraan pribadi (apalagi supir). Bukan karena orangtuaku tidak mampu membayar kos eksklusif tapi karena mereka selalu mengajarkan kesederhanaan padaku sejak kecil. Aku juga ingin membuktikan pada diri sendiri dan orangtuaku bahwa aku mampu loh hidup sederhana begini, tidak keberatan loh kalau harus seperti ini. Yang disayangkan adalah ketika ibuku bercerita dengan nada kecewa banyak teman kantor bapak yang membicarakannya saat salah satu temannya berkunjung ke kosanku. Katanya, "Masa anaknya Bapak ini tinggal dikosan yang nggak ada ACnya, kamarnya kecil banget!". Haha, ketawain aja deh. Hidup gue ini napa lo ribet dah! Sampai akhir pun aku tetap stay dikosan itu yang mana aku justru mendapatkan beberapa sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa perkuliahan.

Sekarang saat aku sudah berkeluarga dan hidup mandiri dengan suami, aku mencoba mempertahankan kesederhanaan itu. Tidak menuntut harus tinggal dirumah mewah, punya mobil bagus, baju dan tas branded, make up dan skincare PO dari luar negeri dengan harga fantastis. Tinggal bersama anak dan suami yang berkecukupan saja sudah lebih dari cukup, hanya kita harus berikhtiar untuk hidup lebih baik lagi kedepannya. Kuncinya adalah selalu bersyukur dan tidak melulu melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih WAW!

Aku akan berusaha untuk selalu mengingat dan menerapkan apa yang orangtuaku ajarkan mengenai kesederhanaan hidup, tidak berlebih-lebihan dan bersyukur atas nikmatNya. Tentunya dengan tidak memperdulikan perkataan orang-orang toxic yang ingin merendahkanku. Aku juga akan berusaha menanamkan pelajaran berharga ini pada anak-anakku kelak. Thank you Dad and Mom for thaught me this precious value of life.

Sukabumi, 17 January 2020

Kamis, 16 Januari 2020

Mengelola Keuangan Keluarga

Januari 16, 2020 4 Comments

Sebelum menikah, aku mengelola keuanganku sendiri tanpa memiliki pengetahuan mengenai budgeting pengeluaran dan tabungan. Aku punya tabungan dan mencoba selalu menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung, tapi tabungan buat apa? Nggak ada namanya, ya nabung aja. Kalau uang bulanan kurang ya ngambil dari tabungan, mau travelling tinggal ambil dari tabungan. Haha. Karena tidak punya planning, tabunganku sering kali terkuras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Hasilnya, setelah resign aku mengantongi tabungan dengan nominal yang kurang memuaskan bagiku meski pun jumlahnya lumayan.

Sejak kecil kebiasaan menabung sudah ditanamkan oleh ibuku, ingat sekali aku diajarkan untuk selalu memasukkan koin receh-receh kedalam celengan ayam. Kakak harus punya tabungan ya, ingat jangan lupa nabung! Pesan itu selalu terngiang-ngiang hingga detik ini dan seterusnya. Akibatnya, hidupku tidak tenang jika melihat saldo tabunganku menipis. Rasanya ingin segera kembali menambahkannya hingga dibatas aman yang sudab kutentukan sendiri. Saat masih belum berkeluarga, mudah saja menambahkan tabungan karena aku hanya memenuhi kebutuhanku saja, tinggal hemat dikit saldo tabungan bisa kembali membuatku bernafas lega.

Setelah berkeluarga, kehidupan finansialku berubah drastis. Aku yang bekerja diranah domestik menjadi pengelola keuangan keluarga dimana income berasal dari satu sumber yaitu pendapatan suami. Ini tentunya sudah dibicarakan sejak awal, setelah gajian suamiku akan mentransfer gajinya untuk ku kelola selama sebulan hingga gajian berikutnya. Wah! Tidak mudah ternyata, jika saldo sampai minus berarti ada yang salah denganku dalam mengelola keuangan keluarga.

Aku pun mencoba mencari-cari tau berbagai tips dalam mengelola keuangan keluarga. Kali ini aku ingin berbagi mengenai tips yang menurutku cukup efektif dalam merencanakan dan mengatur keuangan keluarga :

1. Buat Budgeting Pengeluaran
Ini merupakan langkah awal, list semua pengeluaran kita mulai dari kebutuhan terpenting sampai kebutuhan tidak terduga. Dari sini kita bisa tau pengeluaran kita per bulan berapa banyak dan memudahkan untuk mengatur keuangan yang masuk kedepannya.

2. Buat Pos-Pos Keuangan
Setelah tau pengeluaran kita untuk apa saja, kita bagi menjadi beberapa pos. Kalau pembagian pos keuangan keluargaku kira-kira begini :
A. Pos Kebutuhan Mingguan
Setiap akhir minggu, aku dan suami biasa pergi berbelanja kebutuhan disupermarket. Hal-hal yang tidak bisa dibeli ditukang sayur atau warung terdekat kami beli disupermarket. Aku mengalokasikan dana untuk Pos Kebutuhan Mingguan dengan jumlah rata-rata biasa pengeluaran kami disupermarket.

B. Pos Kebutuhan Rumah
Dipos ini, aku mengalokasikan dana untuk membeli galon, membeli sayur dan jajan-jajanan keliling seperti bakso, pempek dan tukang jajan lain yang lewat didepan rumah. Disamping itu, pos ini juga disiapkan untuk membayar iuran keamanan dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Oiya beli bensin juga diambil dari Pos Kebutuhan Rumah ini.

C. Pos Dana Online
Maksudnya dana online disini adalah uang yang kualokasikan untuk disimpan di Go-Pay dan pulsa/paket internet. Kenapa harus ada saldo Go-Pay? Karena aku tidak selalu rajin memasak, sekali-sekali ingin memanjakan lidah dan perut dengan makanan-makanan ala resto tanpa harus pergi kesana. Juga karena aku belum memiliki kendaraan pribadi, Go-jek dan Go-car menjadi andalan kami saat akan bepergian dalam jarak dekat.

3. Menabung
Seperti amanah ibukku dimana aku harus punya tabungan, sebagian penghasilan aku alokasikan untuk tabungan. Tabunganku yang ada saat ini :
A. Tabungan Pendidikan Anak
Setiap bulan kami selalu menyetorkan dana pendidikan untuk anak kami kelak. Menurutku sangat penting mempersiapkan dana pendidikan, karena sekolah nggak bisa dinanti-nanti. Suka tidak suka dan mau tidak mau anakku harus masuk sekolah saat usianya 4-5 tahun. Jujur aku sih merasa tidak sanggup jika harus mendidiknya secara homeschooling, jadi tabungan pendidikan ini menjadi salah satu prioritasku.

B. Tabungan Dana Darurat
Tabungan ini aku persiapkan untuk keperluan-keperluan darurat seperti saat harus patungan membeli kado nikahan teman, membuat baju bridesmaid, beli panci karena tiba-tiba rusak dan keadaan darurat lain. Agar tidak mengganggu dana dipos-pos yang sudah kubuat, hadirlah tabungan ini. Namun, dari kuliah Whatsapp yang kuikuti sebenarnya dana darurat ini harus disiapkan jika suatu saat kami kehilangan pekerjaan. Jumlahnya pun ada standardnya jika mau mengikuti teori. Hmm.. Aku belum sampai mempersiapkan sampai begitu sih, so far masih 'yang penting punya' dulu.

C. Tabungan Investasi
Aku berinvestasi dalam bentuk Logam Mulia. Why? Karena yang aku baca resikonya relatif rendah dan cocok untuk jangka menengah-panjang. Jujur aku belum mempelajari jenis-jenis investasi lain seperti saham, dan lainnya. Aku mengalokasikan dana untuk membeli LM karena investasi inilah yang aku pahami, jangan berinvestasi karena ikut-ikutan loh! Alih-alih untung malah bisa rugi jika tidak paham dan mempelajari dengan baik jenis investasi yang akan kita lakukan.

4. Disiplin
Ini penting banget! Percuma sudah mengalokasikan dana sana-sini tapi kita tidak disiplin dalam menjalankan rencana keuangan yang telah dibuat. Aku dan suami pun masih terus berusaha supaya bisa menaati rencana keuangan yang ada saat ini. Bismillah semoga selalu istiqomah.

Memang management keuangan keluargaku masih jauuuhhh dari kata sempurna dan sesuai teori. Masih banyak yang harus disiapkan seperti dana pensiun, asuransi kesehatan/jiwa/pendidikan, tabungan haji dan bermacam-macam tabungan kebutuhan lain yang masih banyak! Satu-satu lah yaa, prioritasku tahun ini adalah tetap disiplin dalam menjalankan management keuangan yang telah kubuat diatas.

Sudah dulu ya pembahasan mengenai mengelola keuangan keluarga-nya, sebelum makin pusing memikirkan uang-uang yang harus dikelola dengan baik itu! Haha. Sekian.

Sukabumi, 16 Januari 2020

Rabu, 15 Januari 2020

Pendendam

Januari 15, 2020 0 Comments

Setiap manusia dilahirkan dengan berbagai kelebihan dan banyak kekurangan. Nobody's perfect! Exactly. Dalam tulisan kali ini, aku ingin bercerita bagaimana aku mencoba berdamai dengan salah satu sifat buruk yang terkadang membuatku merasa seperti orang jahat. Memang dasarnya aku tidak sebaik ibu peri, sih. Haha..

Entah sejak kapan dan apa yang membuatku seperti ini, aku sungguh benci dengan toxic people. Saking tidak sukanya, aku akan terus membenci dan menyimpan rasa dendam pada orang yang telah menyakiti hatiku dan orang-orang terdekatku (dalam hal ini keluargaku). Selain kurang bersabar, pendendam menjadi salah satu sifat burukku yang tampak nyata. Bagi sebagian orang, menjauhi kaum toxic dan tidak mengindahkan cercaan mereka sudah cukup membebaskan pikiran mereka dari orang-orang toxic. Berbeda denganku yang akan terus merasa sakit hati dan benci jika harus bertemu dan berhadapan dengan mereka yang pernah menyakiti aku atau keluargaku. Aku mencoba memaafkan tapi untuk melupakan perlakuan atau perkataan mereka ku rasa tidak akan pernah bisa, forgiven but not forgotten.

Emang mereka ngapain hidup lo sih, Ma? Kok sampe segitunya amat?

Well, tentunya manusia punya ambang batasnya masing-masing sehingga tidak ada tolak ukur perkataan atau perlakuan seperti apa yang membuatku sebegitu benci pada seseorang hingga menyimpan dendam padanya. Random aja, sih. Sebagian besar ketika aku merasa terkhianati setelah memberikan kepercayaan pada mereka. Bisa juga karena memang tidak suka aja sama salah satu sifat mereka yang tak tersampaikan hingga akhirnya menumpuk dan melebar menjadi dendam.

Sadar bahwa sifat pendendam adalah salah satu sifat yang sungguh tidak baik, aku mencoba bernegosiasi dengannya. Tidak ada satu agama pun yang membolehkan kita memiliki sifat dendam, this is so wrongAyolah, gitu doang nggak usah sebal. Dia nggak bermaksud ngomong gitu, kok. Udah nggak usah dipikirin terus. Banyak sekali percakapan yang terjadi antara otak dan perasaanku saat those toxic people mulai menebar racunnya. Akhirnya aku mencoba membuat kesepakatan dengan diri sendiri untuk meminimalisir perasaan dendam ini, diantaranya :

1. Stay Away From Toxic People
Nggak ada jalan lain, semakin sering berhubungan dengan orang-orang itu semakin besar rasa benciku pada mereka. Jadi, jauh-jauh dari mereka adalah koentji. Kalau tidak ada urusan, tidak usahlah cari-cari urusan sama mereka. Sebisa mungkin menghindarinya bahkan bila harus lewat jalan memutar yang lebih jauh, jalan itu yang akan ku ambil daripada harus berpapasan dengan mereka.

2. Jauhi Rasa Ingin Membalas Dendam
Aku memang tidak bisa menyukai atau menaruh respect lagi pada orang-orang yang sudah pernah menyakiti hatiku sampai level tertinggi, namun aku juga tidak pernah ingin membalas perlakuan mereka atas dasar dendam. Ngapain lah, wasting time banget! Urusanku yang lain jauh lebih berharga daripada mengurusi rencana pembalasan dendam. Meski pun demikian, tidak jarang aku mendo'akan agar mereka mendapatkan balasan yang setimpal atau segera menerima karma. I know this is wrong, too. Haha..

3. Tetap Bersikap Profesional
Meski pun sebisa mungkin menghindar dari toxic people, terkadang ada saja yang membuat kita harus berurusan dengan mereka. Entah karena pekerjaan, hubungan pertemanan atau saudara. Disaat seperti ini, aku tidak berpura-pura baik dan tidak juga mencoba bersikap baik beneran pada mereka. Keep being me, aja. Sebisa mungkin secepat kilat menyelesaikan urusan dengan mereka dengan mempersingkat percakapan yang memang tidak ingin kulakukan. Kadang aku tidak bisa lagi menutupi rasa jengkelku pada orang tertentu yang sudah benar-benar aku benci hingga melihatnya saja muak tapi masih berusaha profesional didepannya. Ya Tuhan, maafkan hambaMu yang seperti ini, ya.. T_T

4. Tidak Membicarakan Mereka
Dimana-mana membicarakan orang lain dibelakang memang tidak boleh. Haha. Tapi, terkadang saking berapi-apinya kita ingin sekali berkeluh kesah tentang betapa menyebalkannya orang-orang toxic tersebut, betapa kata-katanya melukai hati hingga begitu dalam, betapa perbuatannya terlihat sangat tidak termaafkan (oleh diri kita). Nyatanya, membicarakan keburukan mereka tidak membuat kita lebih baik, guys! Yang ada kita semakin menanamkan rasa benci dan dendam pada orang tersebut. Another wasting time, masih banyak yang harus dipikirkan selain mereka.

Sekiranya itulah cara-cara yang kulakukan untuk meminimalisir rasa dendam yang telah terlanjur kutanam pada beberapa orang yang menurutku toxic dalam kehidupanku. Masih jauh dari sempurna memang, ku harap aku bisa semakin berdamai dengan sifat buruk ini dan mengurangi porsinya lebih banyak lagi.

Adios!

Sukabumi, 15 Januari 2020

Selasa, 14 Januari 2020

Pilih Mana : High Chair atau Booster Seat

Januari 14, 2020 0 Comments

Saat ide menulis sedang tumpul, seorang sahabat meminta pendapatku apakah sebaiknya ia membeli booster seat atau high chair untuk bayinya yang sebentar lagi memasuki masa MPASI. Wah! Langsung terpikir untuk membahas ini karena aku pernah menggunakan keduanya. Hehe.. Inspirasi memang bisa datang dari mana pun ya?!

Salah satu kado lahiran yang kuterima dari sahabat-sahabatku adalah booster seat. For Your Information (FYI), booster seat ini merupakan kursi yang biasa digunakan bayi untuk duduk saat makan dan biasa diletakkan dilantai atau bisa juga ditempatkan diatas dudukan kursi. Senang sekali mendapat kado itu, aku sudah membayangkan anakku akan duduk manis sambil menikmati makanannya diatas kursi tersebut.

Beberapa hari sebelum MPASI, aku mencoba mendudukan anakku diatas booster seat. Awalnya dia tampak tenang, namun lama-lama oleng miring-miring hingga akhirnya menangis karena merasa tidak nyaman. Memang saat itu ia masih dalam proses belajar duduk mandiri, sehingga kontrol dirinya saat posisi duduk belum sempurna. Tak apalah, aku berharap saat mulai makan ia mau duduk dikursi itu tanpa menangis. Memang sejak awal aku berniat untuk mengajarkan makan sambil duduk pada anakku, agar ia terbiasa dan tidak makan sambil jalan-jalan atau main kesana-kemari. Selain mencoba menerapkan teori, malas juga rasanya ngejar anak kesana-kemari sambil menyuapinya.

Kenyataannya beberapa kali ku dudukan dibooster seat saat waktu makan tiba, anakku seperti tidak nyaman dengan posisi duduknya. Mulanya ku ganjal bantal, menangis. Kursinya ku letakkan dilantai, menangis. Lalu kucoba meletakkan kursinya diatas kursi makan dewasa, oleng hingga hampir terjatuh. Haduuh, kayaknya failed deh pake ini kursi! Pikirku saat itu dan memilih mendudukan anakku distrollernya saat ia makan.

Suatu ketika aku dan suami pergi ke sebuah rumah makan dan mendudukkan anak kami dihigh chair yang disediakan oleh rumah makan tersebut. Amazingly, si bocah duduk anteng disitu dan makan dengan tenang. Aku dan suami langsung mengambil kesimpulan bahwa anak kami lebih cocok duduk dihigh chair daripada dibooster seat, sampai terpikir untuk membeli high chair, tapi niat tersebut kami urungkan karena merasa boros dan masih berharap anak kami suatu saat mau duduk dibooster seatnya. Saat aku mudik ke Jogja, aku menyewa high chair untuk dipakai anakku makan disana agar ia bisa belajar makan sungguhan tanpa harus duduk distroller lagi. Hari-hari pertama makan menggunakan high chair berjalan dengan mulus, namun beberapa minggu kemudian saat usianya menginjak 10 bulan ia mulai tidak bisa diam, tidak betah saat dipakaikan sabuk dan sibuk memanjat hingga berdiri diatas high chairnya. Meleng dikit bisa jadi bahaya yang serius! Akhirnya, balik lagi deh makan distroller.

Sekembalinya dari Jogja, aku kembali menggunakan booster seat untuk anakku duduk saat makan. Ternyata, ia sudah terlihat lebih nyaman duduk disana. Semakin hari, terlihat kebiasaan makan sambil duduk 'dikursinya' mulai terbentuk. Mulanya ia mulai mencoba untuk duduk dikursinya sendiri, pada awalnya sering (hampir) jatuh hingga akhirnya ia mahir duduk sendiri dibooster seatnya. Saat mulai berjalan dan sudah bisa mengikuti instruksi, ia akan menurut ketika aku memintanya untuk duduk dikursi karena waktu makan telah tiba. Yes! Dia berjalan menuju kursinya dan duduk sendiri, mencoba memakai sabuk pengamannya. Wah! Bermanfaat sekali ini booster seat, jadi tidak menyesal tidak menyerah mengajarkan anak makan dikursinya.

Mana yang lebih cocok ya?
Jadi, dari pengalamanku diatas kira-kira beginilah poin-poin perbandingan positif dan negatif menggunakan High Chair dan Booster Seat :

High Chair
Poin Positif :
1. Kaki kursinya yang tinggi membuat si kecil bisa ikut belajar makan bersama keluarga dimeja makan.
2. Menurut berbagai sumber, menggunakan bahan yang cukup kokoh sehingga jangka waktu penggunaan lebih lama.
3. Memiliki tray/meja yang lebar.
4. Beberapa merk memiliki safety belt berupa pengaman badan dan pinggang sehingga lebih aman untuk bayi.
5. Beberapa merk memiliki dudukan yang nyaman untuk digunakan bayi yang baru belajar duduk.

Poin Negatif :
1. Ukurannya besar dan berat sehingga tidak mudah dibawa kemana-mana.
2. Bayi harus digendong untuk bisa duduk diatas high chair.
3. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merakit high chair dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi (lebih ribet) saat memasang kaki-kaki high chair dengan sempurna. Ya, harus perfect masangnya supaya aman saat digunakan.
4. Memakan tempat/ruang yang cukup banyak, tidak cocok untuk rumah dengan ruang yang sempit.
5. Menurutku lebih berbahaya saat anak sudah tidak bisa diam karena khawatir jatuh dari kursinya dengan ketinggian yang sedemikian rupa sehingga anak harus selalu dipasangi safety belt dan tidak boleh luput dari pengawasan orang tua.
6. Harganya relatif lebih mahal (dari booster seat).

Booster Seat
Poin Positif :
1. Mudah dilipat dan dibawa kemana-mana.
2. Bisa diletakkan dilantai, bisa juga diletakkan diatas kursi dewasa untuk mengajarkan anak makan bersama dimeja makan.
3. Ukurannya relatif kecil sehingga tidak memakan banyak ruang/tempat.
4. Anak bisa duduk sendiri dibooster seat tanpa harus digendong.
5. Harga relatif lebih murah (dibandingkan dengan high chair)

Poin Negatif :
1. Ukuran meja relatif lebih kecil.
2. Pilihan modelnya terbatas.
3. Dudukan kursinya tidak begitu empuk dan sabuk pengaman hanya untuk perut dan kaki (badan tidak termasuk).
4. Bahan tidak sekokoh high chair.

Setelah dijabarkan seperti diatas, masing-masing memiliki poin plusnya tersendiri ya. Kalau aku pribadi lebih memilih menggunakan booster seat, karena area makan keluarga kami dirumah saat ini lesehan (belum punya meja makan. Haha!), selain itu ukuran ruangan yang tidak terlalu luas sehingga kalau pakai high chair pasti makin sempit, ditambah kemudahan booster seat untuk dibawa-bawa terutama saat mudik ke Bandung.

Ku rasa cukup untuk tulisan kali ini, semoga bisa membantu para orangtua dalam memilih kursi yang cocok untuk anak-anaknya makan. Terima kasih sudah membaca!

Sukabumi, 14 Januari 2020

Selasa, 07 Januari 2020

Mempertanyakan Keyakinan

Januari 07, 2020 0 Comments

Menjelang 2 tahun usia pernikahanku dan suami, banyak teman-temanku yang masih menanti dan mencari pasangan hidupnya bertanya, "Kok bisa sih lo yakin sama dia?", "Dulu gimana ceritanya bisa yakin sama dia?", "Pernah ragu-ragu nggak sebelum memilih dia?". Pertanyaan tipikal orang yang belum menikah dan memiliki tambatan hati, aku juga dulu suka nanya-nanya begitu sama teman-teman yang sudah menikah.

Ternyata, pertanyaan itu datangnya bukan hanya dari teman-teman dan sahabat, tapi juga dari suamiku sendiri. Haha.. Setelah hampir 2 tahun, ngapa deh beliau baru nanya sekarang?! Beberapa hari lalu kami membicarakan tentang perjalanan pernikahan kami yang mencapai 730 hari saja belum, flashback tentang kelakuan kami berdua dijaman masih satu kantor dulu, apa yang sering membuatku kesal padanya dan apa yang membuatku tidak ingin pergi darinya. Sampai pertanyaan itu dilontarkannya, "Kenapa dulu kamu mau nikahnya sama Mas? Kamu gak menyesal nikah sama aku yang kerjanya cuma diperusahaan kecil, asalnya dari keluarga menengah kebawah? Padahal bisa aja kamu nikah sama cowok lulusan luar negeri, universitas bagus, duitnya banyak..." auto mencelos sebenarnya hatiku saat itu. "Nggak nyesel lah, seneng banget malahan!" jawabku saat itu disertai candaan lain-lain. Memang susah sekali ngobrol serius kalau sama dia, tapi setelah itu aku kepikiran dengan kalimatnya dan bertanya, "Kenapa kamu mikir aku menyesal nikah sama kamu?" dia menjawab singkat, "Soalnya kalo kamu cerita tentang temen-temen kamu yang nikah sama anak orang kaya, nikah sama cowok ganteng kerja diluar negeri uangnya banyak, kamu kelihatan senang. Aku kan nggak gitu." Haha.. Hei! Dia nggak bisa bedain antara iri sama ikut euforia kebahagiaan teman apa ya?! Ya jelas aku ikut happy kalau ada temanku yang senang karena dia bernasib baik.

"Terus kenapa kamu mau nikah sama Mas?" pertanyaan itu ditanyakan beberapa kali belakangan ini. Awalnya aku memang meragukannya, sangat! Kami berteman dekat cukup lama, selama hampir 3 tahun. Kerja bareng, main bareng, travelling bareng. Sampai akhirnya sering bertukar cerita, kadang kalau dia lagi kerja shift 3 dia meneleponku tengah malam buat cerita ngalor ngidul tentang permasalahan hidupnya. Sebagai junior yang tertindas nurut-nurut aja "diterror" tengah malam begitu. Tidak jarang pula dia curhat tentang wanita-wanita yang disukainya saat itu, jadi tau dong aku kelakuannya seperti apa. Lambat laun, baper juga hatiku padahal sudah membuat benteng yang menurutku cukup kokoh. Kalau dipikir-pikir kalimat pertemanan antara cewek-cowok itu nggak mungkin ada, ada benarnya juga. Setidaknya berlaku untukku, padahal dulu aku dengan percaya diri menentang kalimat tersebut mengingat aku punya banyak teman dekat laki-laki dan memang tidak ada apa-apa diantara kami selain persahabatan.

Akhirnya aku mulai menjaga jarak darinya, selain karena dia tertarik pada yang lain, aku juga memilih sibuk fokus pada cita-citaku daripada memikirkan masalah percintaan yang ku yakin akan ada waktunya tersendiri nanti. Kemudian, Allah yang Maha Membolak-balikan Hati manusia menunjukkan kekuasaannya, disaat aku mulai malas menanggapinya, dirinya justru mengutarakan niatnya untuk membawa hubungan kami kearah yang lebih serius. Jujur aku tidak langsung yakin padanya, melihat kilas balik perlakuannya padaku yang cenderung cuek dan "semena-mena", mana mau aku digituin juga setelah menikah?! Aku meminta petunjuk dan jawaban dari keraguanku diatas sajadah, setiap hari, setiap malam, selama berminggu-minggu.

Bagi yang belum mengalami sendiri, mungkin ini terdengar absurd. Lambat laun Allah seperti menuntunku dengan mengerucutkan pilihan-pilihan menjadi hanya tertuju padanya (suamiku) dan aku menjadi yakin padanya, keraguan-keraguan pun hilang hingga akhirnya aku memberi lampu hijau agar ia datang ke rumah dan melamarku. Alhamdulillah, sampai saat ini dan insha Allah seterusnya aku tidak menyesal dengan pilihanku. Sesungguhnya banyak sekali pelajaran dan bisa aku ambil dari karakter suamiku yang tidak kusangka ia memiliki sifat-sifat tersebut.

Jadi menurutku, mempertanyakan keyakinan seseorang untuk menikahi seseorang itu tidak bisa dijawab hanya lewat kata-kata melainkan harus merasakan keyakinan tersebut lewat peristiwa yang dialami sendiri. Apa yang kualami ini belum tentu merefleksikan keyakinan orang lain untuk menikah dengan pasangannya. Ada yang yakin bahwa seseorang ditakdirkan sebagai jodohnya karena pasangannya sesuai kriteria atau karena pasangannya memiliki materi yang banyak atau karena penampilan fisik pasangannya yang susah bikin move on, dan lainnya. Untuk kalian yang masih berikhtiar dalam mencari pasangan, bersabarlah karena waktu kalian pasti akan datang dan pada saat itu pertanyakanlah keyakinan kalian hanya pada Tuhan yang Maha Membolak-balikan Hati ciptaanNya sehingga kalian yakin bahwa pasangan yang kalian sebut namanya didalam do'a adalah 'the special one' yang sudah disiapkan untuk kalian.

Setelah pembicaraan tersebut, giliranku yang bertanya, "Kenapa Mas jadi yakin mau nikah sama aku?" Hehe.. Dasar wanita, sudah pernah diungkapkan tetap minta penjelasan agar lebih meyakinkan :P Sekian.

Sukabumi, 7 Januari 2020